You are on page 1of 4

FASTER THAN LIGHT

FARRAH FAUZIAH AUGUSTA (1306443274)


SALSABILA LUVARIDIAN (1306443040)
Pada pembelajaran mekanika kuantum, sering terjadi fenomena alam yang menjadi sebuah
tanda tanya. Contoh terbaru muncul dari studi tentang fenomena yang dikenal sebagai
Action at a distance. Action at a distance adalah suatu konsep di mana suatu benda
dapat bergerak atau berpindah tanpa dipengaruhi oleh pergerakan benda lain. Konsep ini
menjadi suatu pertanyaan bagi prinsip dasar fisika modern, yaitu persoalan tentang
Nothing travels faster than the speed of light.
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, akan dijelaskan dengan menggunakan
tiga eksperimen optikyang berhubungan dengan pembahasan kuantum nonlokal. Pada
eksperimen pertama akan melibatkan dua foton, di mana pada lintasan salah satunya akan
diberikan penghalang yang harus dilaluinya. Pada eksperimen kedua memperlihatkan
waktu setiap foton bergerak dengan lintasan yang berbeda secara bersamaan. Pada
eksperimen terakhir memperlihatkan tingkah laku yang dilakukan oleh foton kembar
secara bersamaan.
Pada eksperimen pertama melibatkan partikel foton. Foton adalah partikel dasar yang
dipancarkan oleh cahaya. Pada eksperimen ini digunakan sumber cahaya yang
memancarkan sepasang foton secara bersamaan. Setiap foton bergerak menuju sebuah
detektor yang berbeda. Sebuah penghalang ditempatkan pada lintasan salah satu foton dan
foton yang lainnya dibiarkan bergerak leluasa. Beberapa lama kemudian, salah satu foton
memantul keluar dari pengahalang dan menghilang, sehingga hanya kembarannya saja
yang dapat terdeteksi. Terkadang, salah satu foton menembus penghalangnya dan kedua
foton tersebut dapat mencapai detektor masing-masing. Pada situasi ini, kita dapat
membandingkan waktu kedatangan mereka dan dapat memperhitungkan proses untuk
menembus sebuah penghalang. Pada eksperimen ini, penghalang yang digunakan adalah
cermin yang dilapisi logam dan dapat menyerap 15 persen cahaya. Selama beberapa hari
pengambilan data, ternyata lebih dari jutaan foton telah menembus penghalang tersebut
satu per satu. Selain itu, kita dapat membandingkan waktu kedatangan foton yang
menembus penghalang dengan foton yang bergerak leluasa. Hasil yang diperoleh adalah

rata-rata foton yang menembus penghalang tiba sebelum foton yang bergerak melalui
udara tiba. Sehingga didapat kecepatan rata-rata penembusan penghalang (tunneling)
tersebut sekitar 1,7 kali dari kecepatan cahaya. Hasil tersebut bertentangan dengan teori
klasik kausalitas, karena sesuai dengan teori relativitas Einstein, tidak ada signal yang
dapat bergerak lebih cepat dari kecepatan cahaya. Jika suatu signal dapat bergerak lebih
cepat, efeknya dapat muncul terlebih dahulu disebabkan dari sudut pandang pengamat.
Sebagai

contoh,

lampu

bohlam

mungkin

mulai

bersinar

sebelum

saklarnya

dinyalakan.Tetapi kita tidak percaya bahwa ada paket gelombang yang dapat bergerak
lebih cepat dari cahaya walaupun paket gelombang tersebut mengalami perubahan bentuk
selama bergerak.
Pada tahun 1982, Steven Chu dan Stephen Wong melakukan percobaan (yang hampir sama
dengan interpretasi efek perubahan bentuk paket gelombang) dengan laser yang
mengandung banyak foton. Dari eksperimen tersebut terlihat bahwa beberapa foton yang
melewati rintangan lebih awal sampai pada detektor daripada foton yang bergerak secara
bebas. Tetapi interpretasi ini tidak sesuai dengan masalah ini, karena kita belajar satu foton
pada waktu yang bersamaan. Walaupun perubahan bentuk tersebut dapat diperhitungkan
sebagai pengamatan kita, tetap saja menimbulkan pertanyaan kenapa perubahan bentuk
pada paket gelombang dapat lebih cepat dari cahaya. Belum ada penjelasan fisik tentang
itu.
Akhirnya Leonard Mandel dan pegawainya mengembangkan sebuah teknik interferensi
yang dapat memperhitungkan waktu foton tersebut. Pada percobaan kedua ini, kuantum
Mandel menggunakan sebuah beam splitter yaitu sebuah perangkat yang dapat
menyebarkan sebagian foton dan memantulkan sebagiannya lagi. Kedua paket gelombang
foton tersebut dipancarkan pada waktu yang bersamaan dan menghampiri beam splitter
dari arah yang berlawanan. Untuk setiap pasangan foton, ada empat kemungkinan yang
terjadi, yaitu kedua foton mungkin melewati beam splitter, keduanya mungkin memantul
dari beam splitter, keduanya bergerak bersama pada satu sisi, atau keduanya bergerak
bersama ke sisi yang lain. Kemungkinan pertama dan kedua yaitu foton akan dipancarkan
atau dipantulkan merupakancoincidence detections. Untuk menentukan waktu pemancaran
sebuah foton secara tepat, panjang paket gelombang foton harus pendek. Menurut prinsip
ketidakpastian Heinsenberg, jika kita dapat menentukan waktu pemancaran sebuah foton
pada suatu keadaan, maka kita juga dapat mengetahui energinya (warna). Warna tersebut

terbentuk dari foton yang telah disebarkan. Fenomena dispersi ini seperti penyebaran
cahaya putih pada sebuah prisma menjadi berbagai warna. Jadi energi sebuah foton
tergantung pada warna yang terjadi.
Pada contoh kedua kuantum nonlokal ini, kedua foton kembar harus bergerak pada masingmasing lintasan secara bersamaan, Pada eksperimen ini ada keadaan yang disebut
cancellation effect. Proses tersebut terjadi ketika sebuah foton bergerak menuju sebuah
kristal yang dapat menyerap sebuah foton single dan memancarkan sepasang foton lain
dengan sekitar setengah energi foton asal yang disebut dengan down-conversion. Kedua
foton tersebut dipancarkan secara bersamaan di mana jumlah dari kedua energi foton
tersebut sama dengan energi foton asal. Oleh karena itu, warna dari pasangan foton
tersebut saling berhubungan, jika foton yang satu berwarna biru (bergerak lebih lambat),
maka foton yang satunya lagi berwarna merah (bergerak lebih cepat). Kunci utama dari
eksperimen ini adalah tidak ada detektor yang memiliki cara untuk mengidentifikasikan
foton yang mana yang mengambil jalur tertentu. Dengan dua atau lebih kemungkinan yang
ada, di mana hasil akhirnya sama akan membentuk sebuah efek interferensi. Jadi foton
yang bergerak melewati kaca dengan kecepatan yang lebih cepat (merah) akan bercampur
dengan foton yang lebih lambat (biru). Sehingga akan memberikan hasil yaitu perbedaan
kecepatan seimbang dan efek dari dispersi yang terhapuskan.
Pada eksperimen ketiga merupakan kombinasi antara eksperimen pertama dan kedua.
Singkatnya, sebuah foton seketika bereaksi seperti kembarannya walaupun dipisahkan oleh
jarak. Mungkin banyak orang yang akan mengklaim bahwa prinsip ketidakpastian
Heisenberg melarang spesifikasi kedua waktu dan energi pada foton. Mungkin mereka
benar jika untuk sebuah partikel. Untuk dua partikel, bagaimanapun, mekanika kuantum
membiarkan kita untuk menentukan secara bersamaan perbedaan waktu pancaran foton
dan jumlah energi foton tersebut. Kenyataan ini membuat Einstein, Boris Podolsky, dan
Nathan Rosen menyimpulkan bahwa mekanika kuantum adalah teori yang tidak lengkap.
Sebenarnya, mekanika kuantum tidak dapat menyelesaikan persoalan ini. Mekanika
kuantum hanya sebagai teori probabilitas.
Pada percobaan ini, foton kembar berasal dari down-conversion crystal dipisahkan dan
dipancarkan ke interferometers yang identik. Sebuah foton dapat mengambil lintasan
pendek, yaitu bergerak langsung dari sumbernya menuju tujuannya. Atau dapat mengambil

lintasan yang panjang yaitu lintasan yang memutar (di mana panjangnya dapat
diatur).Sekarang amati apa yang terjadi ketika foton yang melewati interferometer. Setiap
foton secara acak memilih rute yang akan dilewatinya. Setelah meninggalkan
interferometer, foton akan menuju dua arah yaitu up port dan down port. Teramati bahwa
setiap partikel yang menuju up-port sama besar dengan partikel yang menuju down-port.
Pada prinsipnya, suatu korelasi nonlokal ada jika kita atur panjang lintasan setelah foton
telah keluar dari sumbernya. Oleh karena itu, sebelum memasuki interferometer, tidak ada
foton yang tau jalur mana yang akan dilalui. Tetapi setelah meninggalkan interferometer,
foton kembarannya langsung mengetahui apa yang telah terjadi oleh kembarannya. Untuk
menganalisis korelasi ini, kita melihat seberapa sering foton muncul dari setiap
interferometer pada waktu yang bersamaandan menghasilkan perhitungan coincidence dari
setiap detektor yang berada pada up-port kedua interferometer. Dengan merubah panjang
lintasan tidak merubah kecepatan deteksi pada tiap detektor. Perubahan tersebut
menghasilkan fringes yang mengingatkan kita tentang garis terang dan gelap pada dua
celah interferometer yang memperlihatkan gelombang partikel. Pada eksperimen ini,
dengan dua atau lebih kemungkinan yang ada, di mana hasil akhirnya sama akan
membentuk sebuah efek interferensi (nonlokal).
Teori Einstein tidak salah, karena memang tidak ada cara yang dapat digunakan untuk
menunjukkan partikel yang bergerak lebih cepat dari cahaya. Alasannya adalah antara
foton yang berhasil mencapai detektor dengan menggunakan jalur down-exit menghasilkan
hasil yang tidak sesuai. Kita telah melihat contoh nonlokal yang berbeda. Pertama, proses
penembusan. Sebuah foton dapat menembus dan melewati penghalang pada waktu yang
bersamaan tanpa bergantung pada ketebalan penghalang tersebut. Kedua, pada eksperimen
ini terlihat pembatalan dispersi tergantung pada masing-masing foton yang bergerak pada
lintasan di interferometer. Terakhir, pada eksperimen terakhir inimendiskusikan tentang
korelasi nonlokal antara energi dan waktu antara dua foton sebagai bukti tingkah laku
pasangan foton setelah meninggalkan interferometer. Oleh karena itu, dari ketiga
eksperimen tersebut tidak ada yang bisa mengirim signal lebih cepat dari kecepatan
cahaya.