You are on page 1of 5

PENGARUH ANTARA INVESTOR DAN PENGEMBALIAN

PASAR MODAL TERHADAP PEREKONOMIAN DI


INDONESIA
Investasi dapat diartikan sebagai komitmen untuk menanamkan sejumlah dana pada
saat ini dengan tujuan memperoleh keuntungan di masa yang akan datang. Atau dapat diartikan
dengan kata lain, investasi merupakan komitmen untuk mengorbankan konsumsi sekarang
dengan tujuan memperbesar konsumsi di masa yang akan datang.

Investasi menurut Jones (2004) mendefinisikan investasi sebagai komitmen untuk


menanamkan sejumlah dana pada satu atau lebih aset selama beberapa periode pada masa
mendatang.

Lain lagi menurut Sharpe Et All (1993), Sharpe mendefinisikan investasi dengan
pengertian bahwa investasi adalah mengorbankan aset yang dimiliki sekarang ini guna
mendapatkan aset pada masa mendatang yang tentu saja dengan jumlah yang lebih besar.

Investasi dapat berkaitan dengan penanaman sejumlah dana pada aset riil seperti : tanah,
emas, rumah, dan aset riil lainnya atau pada aset finansial seperti : deposito, saham, obligasi,
dan surat berharga lainnya. Dan harapan keuntungan di masa mendatang merupakan
kompensasi atas waktu dan risiko yang terkait dengan investasi yang dilakukan. Di teori
investasi, harapan keuntungan tersebut sering disebut sebagai return.

Pada bahasan kali ini akan berfokus pada Pengembalian Pasar modal. Apakah pengaruh
pengembalian pasar modal terhadap perekonomian di Indonesia. Jika menurut Eduardus
Tandaliin (2001), return merupakan salah satu faktor yang memotivasi investor berinteraksi
dan juga merupakan imbalan atas keberanian investor dalam menanggung risiko atas investasi
yang dilakukannya. Atau bisa diartikan return adalah keuntungan yang diperoleh investor dari
dana yang ditanamkan pada suatu investasi. Lalu bagaimana bisa investor juga dapat
mempengaruhi pada pasar modal tersebut yang juga berdampak pada perekonomian di sebuah
negara.

Faktor-faktor penentu dari pengumuman di pasar memunginkan di satu sisi


menjelaskan perilaku investor terhadap lembaga rating dan di sisi lain mengharapkan reaksi
mereka terhadap rating yang diumumkan di sana. Penelitian sebelumnya menunjukan bahwa
investor cenderung bereaksi berlebihan terhadap peringkat yang buruk selama periode dan
mengabaikan yang baik dan netral (Griffin and Sanvicente, 1982; Tangan Holthausen and
Leftwich, 1992; Boudriga, Azouz, and Mamoghli, 2011). Secara khusus mereka bereaksi lebih
intensif terhadap yang buruk dan mengharapkan pengumuman yang netral. Sebaliknya, kabar
yang baik punya dampak yang lebih penting ketika pengumuman muncuk secara tak terduga.

Lalu sekarang kita melihat pada investor di Indonesia. Berapakah jumlah investor di
pasar modal? Menurut beberapa sumber disebutkan sebanyak 300.000, namun ada juga yang
menyebutkan sejumlah 500.000. Anggaplah kita ambil hasil pendataan yang terbanyak, yaitu
500.000 investor di Bursa Efek Indonesia (BEI), apakah jumlah tersebut banyak? Banyak dan
sedikit menjadi relatif, tergantung dari sudut pandang apa. Berapakah jumlah penduduk
Republik Indonesia? Jumlah penduduk menurut beberapa data berkisar antara 250-270 juta
penduduk. Artinya, jumlah investor pasar modal di BEI hanya sebesar kurang dari 1 persen
penduduk Indonesia!

Lalu, mengapa investor pasar modal di Indonesia sedikit dan sulit bertambah?
Sementara ironisnya, sebuah penawaran investasi fiktif mampu meraup hingga 1 juta korban!
Ya, pastinya Anda juga berpikir bahwa sosialisasi pemerintah atau pejabat yang berwenang
dalam memasarkan serta melakukan sosialisasi pasar modal tidak tepat sasaran. Saya juga saat
ini menyetujui pendapat itu.

Namun ada beberapa hal yang perlu kita ketahui. Pasar modal memberikan manfaat
sehingga barang siapa tidak mengenalnya sangat disayangkan.

1. Pasar modal membawa dampak yang baik

Berinvestasi pada emas dan berinvestasi pada pasar modal, yang mana yang lebih
membawa dampak baik bagi diri kita sendiri atau orang lain? Jelas, berinvestasi artinya
berharap akan keuntungan. Kedua instrumen tersebut memberikan potensi itu, namun
berinvestasi pada pasar modal akan berdampak positif pada perusahaan yang kita miliki
sahamnya atau surat hutangnya. Perusahaan tersebut dapat maju berkembang akibat
suntikan dana sehingga bisa menambah kapasitas produksi dan tempat, menambah
lapangan pekerjaan, dan bila perusahaan menghasilkan keuntungan, pemodal (kita)
mendapatkan keuntungannya (dividen).

2. Indonesia memiliki pasar modal yang menjanjikan

Pemodal asing di Indonesia masih mendominasi, artinya negara kita bekerja keras
mencari uang, hasilnya dinikmati pemodal asing. Mengapa pemodal asing mau berinvestasi
di perusahaan di Indonesia? Sederhana saja, negaranya tidak menjanjikan prospek lebih
baik dari negara kita! Investasi di atas 10 tahun di tahun berapapun, selama bursa di
Indonesia ada, belum pernah memberikan hasil yang negatif. Lambatnya pertumbuhan
investor di BEI disebabkan oleh beberapa hal:

a. Masyarakat instan

Bila ditawari investasi, maka masyarakat kita jauh lebih siap dengan iming-iming
untung besar dengan melupakan resiko yang bisa diderita. Keuntungan cepat adalah
sebuah pemikiran yang membuat masyarakat kita sulit diajak berinvestasi pada pasar
modal yang keuntungannya memerlukan waktu dan tidak dapat dipastikan nilainya saat
pertama berinvestasi

b. Masyarakat konsumtif

Membeli sesuatu yang pasti nilainya turun untuk membuat diri tampak lebih kaya
dan gaya adalah sebuah perbuatan konsumtif, dan masyarakat Indonesia juga menjadi
target penjualan barang-barang konsumtif yang ada di dunia. Dengan tidak
memilikinya pengendalian diri, masyarakat Indonesia lebih suka mengkonsumsi
daripada berinvestasi demi masa depannya. Pertumbuhan investor pasar modal di
Indonesia memang memerlukan waktu yang panjang karena proses terjadi bukan dari
luar melainkan dari diri kita sendiri masyarakat Indonesia.

Jika masyarakat memiliki sumber dana yang terbatas sebaiknya jangan


mengalokasikannya pada produk yang bisa mengurangi asset masyarakat. Alternatif lain bisa
dialokasikan pada pasar modal yang bisa memberikan keuntungan dalam waktu relatif singkat.
Apabila sejak awal kita berkarir dalam dunia pasar modal maka jika udah pensiun kita bisa
menjadi investor yang canggih karena udah mengetahui dengan jelas analisis-analisis dalam
pasar modal.

Dari hasil penelitian jumlah investor seluruh Indonesia belum mencapai 1 juta orang.
Hanya sekitar 40.000 investor yang ada yaitu sekitar 4% yang terdapat pada E-Traiding. Ada
sekitar 119 perusahaan yang terlibat dalam pasar modal. Bagi perusahaan yang go public maka
asset minimum yang harus dimiliki sekitar Rp. 5 milyar. Setiap investor yang terlibat dalam
pasar modal apabila ingin memperjualbelikan saham yang dimilikinya akan dikenakan biaya
transaksi. Untuk biaya transaksi penjualan saham sekitar 0.1% dan untuk biaya transaksi
pembelian saham sekitar 0.3%. Besarnya jumlah transaksi yang ada dari 119 perusahaan di
Indonesia sekitar Rp. 4.8 triliyun, sedangkan pajak yang harus disetor pada pemerintah yaitu
sebesar 0.1% dari Rp. 4.8 triliyun yang ada.

Bursa Efek Indonesia adalah perusahaan swasta yang dimiliki oleh 119 perusahaan
pialang/broker saham. Di mana BEI bukan perusahaan milik pemerintah. Saham yang disimpan
dalam BEI berupa rekening. Namun sekarang sekitar 60% saham di BEI pemiliknya
merupakan para investor asing.

Perkembangan pasar modal di indonesia di lihat dari beberapa indikator menunjukkan


perkembangan yang peasat dalam beberapa tahun terahir. Dari sudut pandang perusahaan,
keberadaan pasar modal membantu kebutuhan pendanaan jangka panjang melalui penerbitan
perdana baik saham maupun obligasi. Walaupun begitu, dalam 10 tahun trakhir pemanfaatan
pasar modal sebagai sumber pendapan bagi perusaan relatif tertinggal dibanding perbankan.

Kesimpulan

Pasar modal Indonesia perlu didukung investor lokal supaya ketika investor asing
keluar, investor lokal tetap bisa mengimbanginya. Tidak perlu berlebihan atau mendewakan
pergerakan / aktivitas dari para investor asing. Investasi di pasar modal merupakan bentuk
investasi portofolio yang memiliki karakter khusus. Salah satu karakter investasi pasar
modal adalah begitu cepat, berjangka pendek, dan mudah untuk sewaktu-waktu keluar masuk
pasar. Ketika investor asing masuk dengan volume besar, mungkin saja investor ritel (lokal)
akan menikmati keuntungan. Tapi jika investor asing melepas saham dengan volume besar
dengan cepat dan tanpa diduga, dapat beresiko bagi ritel.

Sebaiknya pelaku pasar baik trader ataupun investor jangan asal mengikuti pola
dari investor asing, namun gunakan analisis. Analisis teknikal wajib dipahami oleh trader dan
investor. Sedangkan analisis fundamental sebaiknya dipelajari oleh investor. Dengan
melakukan analisis teknikal secara mandiri, trader tidak perlu terjebak ketika terjadi jenuh beli.
Ketika analisis teknikal menunjukkan jenuh beli, biasanya juga investor asing mulai akan
melakukan distribusi / ambil untung. Prinsip analisis teknikal yang mengatakan price
discounts everything sangat penting dan bermanfaat untuk para trader.
DAFTAR PUSTAKA

Adrian, Tobias, and Hyun Song Shin. (2009), Prices and Quantities in the Monetary Policy
Transmission Mechanism, International Journal of Central Banking, 5(4).

Bank Indonesia, (2010), Response Kebijakan Moneter di Tengah Krisis Global, Laporan

Perekonomian Indonesia Tahun 2009, Bank Indonesia.

Bernanke, Ben. S dan Mark Gertler (1995), Inside the Black Box: The Credit Channel of
Monetary Transmission Mechanism, Journal of Economic Perspectives, Vol 9 No.4. American
EconomicAssociation.

Bernanke, Ben S, Mark Gertler dan Simon Gilchrist (1996), The Financial Accelerator and
Flight to Quality, The Review of Economics and Statistics, Vol 78.

Adrian, Tobias, and Hyun Song Shin. (2009), Prices and Quantities in the Monetary Policy
Transmission Mechanism, International Journal of Central Banking, 5(4).

Akim Van Stekelenburg, Georgios Georgakopoulos, Virginia Sotiropoulou, Konstantinos Z.


Vasileiou & Ilias Vlachos (2015), The relation between Sustainability Performance and and
Stock Market and Stock Market Returns: An Empirical Analysis of The Dow Jones
Sustainability Index Europe, International Journal of Economics and Finance, Vol 7(7)

Dorsaf Azouz Ghachem (2015), The Determinants of Rating Announcements Impact on Stock
Markets during Crisis Periods: The Case of the 2008 Worldwide Financial Crisis, International
Journal of Economics and Finance; Vol. 7(4)