You are on page 1of 3

EVOLUSI TEORI FRAUD

Teori Segitiga Fraud/ Triangle fraud (Klasik)


Penelitian fraud klasik yang dilakukan oleh Donald Cressey di tahun 1953 memberikan
informasi mengapa seseorang kelakukan kecurangan. Hasil dari penelitian ini adalah paling
sering dan penting, disajikan dalam apa yang dikenal sebagai Segitiga Fraud. Cressey
memutuskan untuk mewawancarai fraudster yang didakwa melakukan fraud dan melakukan
wawancara sekitar 200 pelaku fraud di penjara. Salah satu kesimpulan utama dari usahanya
adalah bahwa setiap penipuan memiliki tiga kesamaan: (1) tekanan (kadang-kadang disebut
sebagai motivasi, dan biasanya "unshareable kebutuhan"); (2) rasionalisasi (etika pribadi); dan
(3) pengetahuan dan kesempatan untuk melakukan kejahatan. Ketiga poin sudut-sudut segitiga
fraud
Pressure

Opportunity Rasionalization

Dari penelitian triangle fraud klasik, banyak timbul perkembangan yang disesuaikan dengan
perkembangan fraud. Banyak perkembangan fraud yang bermunculan dan berkembang. Mulai
dari teori :
1. Teori C = N + K
Teori yang dikenal di jajaran Kepolisian. Yang mana merupakan formula dari
keperilakuan kriminal, yang dapat dijabarkan C adalah Kriminal, N adalah Niat, dan K
adalah Kesempatan. Dimana Tindakan Kriminal dapat terjadi dikarenakan adanya
kesempatan yang menimbulkan suatu niat.
2. Klinggard Theory C = M + D - A
Teori yang diperkenalkan oleh Robert Klinggard dalam Cleanning Up and
Invigorating the Civil Service dalam Karyono (2013) menjelaskan factor terjadinya fraud
dapat dijabarkan C adalah Criminal, M adalah Monopoly, D adalah Decretism/
Kebijakan, dan A adalah Accountability / Pertanggungjawaban. Dimana Kriminal dapat
terjadi karena adanya Monopoli dalam hal ini dapat diartikan kekuasaan, apabila
dibarengi dengan adanya otoritas terhadap kebijakan akan membentuk perilaku fraud.
Hal ini akan terus berkembang menjadi sebuah kecurangan apabila tidak dibarengi
dengan akuntabilitas atau tanggung jawab yang jelas. Mengakibatkan fraudster lebih
leluasa didalam melakukan kecurangan.
Teori GONE
Teori GONE dikemukan oleh Bologna yang diungkapkan dalam buku Strategi
Pemberantasan Korupsi Nasional oleh BPKP tahun 1999 (Karyono, 2013). Ada beberapa faktor
yang mendorong terjadinya fraud adalah :

Greed (keserakahan)
Berkaitan dengan keserakahan potensial.

Opportunity (Kesempatan)
Berkaitan dengan keadaan dalam organisasi yang sedemikian rupa terbuka
membuka peluang untuk kecurangan.

Need (Kebutuhan)
Suatu tuntutan kebutuhan indivisu yang harus terpenuhi.

Exposure (Pengungkapan)
Berkaitan dengan keungkinan diungkapkannya serta sanksi hukum yang menjerat.
Fraud Diamond
Fraud Diamond berisi mengenai perkembangan triangle fraud ke dalam elemen lain yang
masih berhubungan. Model ini menunjukkan hubungan antara empat elemen pengembangan dari
triangle fraud. Meskipun triangle fraud hadir dan masih relevan dipergunakan didalam
penjabaran faktor faktor yang mempengaruhi terjadinya fraud, fraud diamond diharapkan
mampu menambah referensi dalam pengembangan kasus fraud. Adapun nilai nilai yang
dikembangkan didalam fraud Diamond antara lain :
1. Adanya posisi atau fungsi otoritas didalam organisasi
2. Kapasitas untuk memahami sistem akuntansi dan mengeksploitasi kelemahan intern dan
memungkinkan untuk meningkatkan tanggung jawab dan wewenang penyalahgunaan.
3. Keyakinan mengenai pendeteksian kecurangan, serta kemampuan untuk memecahkan
permasalahan fraud serta tindak lanjutnya.
4. Kemampuan untuk menangani stress yang timbul didalam kasus fraud.

Predator vs. Accidental Fraudster Diamond


Dikemukakan oleh Hendersen (2014) berisis tentang fenomena seorang predator
dibandingkan dengan pelaku Fraud Diamond. Tindakan kecurangan yang disengaja sama hal nya
sebagai predator yang siap untuk memangsa buruannya. Predator dapat didefinisikan sebagai
suatu komponen yang dapat memakan secara buas mangsa yang menjadi buruannya. Didalam
fraud, predator dapat diartikan sebagai suatu pelaku kecurangan/fraudster yaitu suatu tindakan
ilegal yang cenderung diikuti oleh tindakan ilegal lainnya dengan menghalalkan berbagai cara.