You are on page 1of 13

Forum Komunikasi Yang Dibangun

Berdasarkan forum komunikasi yang dibangun, alternatif kebhinekaan


yang bisa terjadi adalah:
1. Membangun DKT pada Dawawisma
Model ini dikembangkan oleh proyek KKG, dimana setiap 10 KK
sasaran bergabung menjadi satu Dasawisma yang melakukan DKT sebulan
sekali. Topik yang dibahas berasal dan isian K3 (Kartu Kesehatan
keluarga) masing-masing keluarga DKT dipandu oleh BDO, TPM atau
anggota Tim PKMD desa lainnya.
2. Memanfaatkan UKBM.
Model lain yang bida dikembangkan adalah memanfaatkan UKBM
di daerah tersebut, misalnya posyandu. Jumlah keluarga pada lingkup
posyandu cukup besar (80 100 KK), sehingga tidak mungkin
mengembangkan DKT seperti pada Dasawisma. Topik yang dibahas harus
dipersiapkan terlebih dahulu, berupa masalah kesehatan yang banyak
ditemui di wilayah posyandu tersebut. Sebagai contoh, pendataan IPKS di
desa tersebut bisa dianalisis lebih dahulu, sehingga diketahui, indikator
apa yang membuat IPKS mereka jelek.
Hasil analis inilah yang bisa diangkat sebagai topik pembahasan di
posyandu. waktu pembahasan bisa dilakukan setelah pelayanan selesai,
melibatkan kader dan tokoh masyarakat setempat.
3. Memanfaatkan forum masyarakat setempat. Forum komunikasi yang
sudah berkembang di desa bisa digunakan untuk pemberdayaan keluarga,
misalnya majelis taklim, yasinan, arisan PKK, rembug desa, selapanan,
dll. Topik yang dibahas sudah dipersiapkan lebih dahulu, misalnya IPKS
desa tersebut. Topik tersebut harus dibungkus dengan bahasa yang sesuai,
misalnya bila dibahas di majelis taklim, kemasan dengan bahasa agama
akan terasa lebih menarik bagi peserta pengajian tersebut.
Keterlibatan Tenaga
Dari aspek keterlibatan sumberdaya manusla, alternatif kebhinekaan yang
bisa dikembangkan adalah sebagai berikut:
1. Menggunakan Tenaga Penggerak Masyarakat(TPM) tingkat desa Proyek
KKG ini memperkenalkan TPM desa sebagai fasalitator proses
pemberdayaan keluarga. Mereka diberi biaya operasional yang sebenarnya
tidak besar (sekitar 80-100 ribu rupah per bulan). TPM desa sangat
bervariasi kemampuannya. Ada yang terbatas tetapi ada pula yang sangat
hebat. Kelestarian TPM Desa masih dipertanyakan setelah proyek selesai
nanti. Namun paling tidak kita telah mencoba mengembangkan alternatir
ketenagaan yang bisa membantu jajaran kesehatan memberdayakan
keluarga dan masyarakat.
2. Menggunakan Kader Alternatif lain adalah menggunakan kader,
khususnya kader posyandu. ini berlaku bila forum komunikasi yang kita
gunakan adalah posyandu, sehingga pasca pelayanan posyandu, kita bisa
membahas IPKS bersama kader dan tokoh masyarakat setempat.
3. Menggunakan pengurus organisasi local Aftematif ini dipilih bila kita
memanfaatkan organisasi / perkumpulan masyarakat seternpat seperti
majelis taklim, yasinan, arisan PICK, rembug desa, dsb. Topik bahasan
kita sampaikan kepada mereka melalui para pengurus
organisasi/perkumpulan tersebut. Mereka yang menyampaikan kepada
para anggota perkumpulan, sedangkan kita sebagai petugas, akan
menyampaikan masukan terhadap solusinya.
Bila dikaji dari ketiga hal diatas, alternatif kebhinekaan yang
berkembang cukup banyak, seperti tertera pada tabel berikut:
Instrumen Forum Tenaga
Model
Buku Kartu Form DKT UKMB OL TPM Kader Peng
KKG v v v
Pasca KKG v v v
Non-KKG-1 v v v
Non-KKG-2 v v v
Kota v v v
Dll
Tabel di atas hanyalah contoh alternatif kebhinekaan yang bisa
berkembang di lapangan pada penerapan model Puskesmas Peduli Keluarga
ditinjau dari aspek instrumen, forum dan tenaga yang teilibat. Variasi ini
akan semakin besar bila dikaji pula aspek-aspek lainnya misalnya:
a. Kebhinekaan kiat-kiat pemberdayaan keluarga
b. Kebhinekaan model KIE yang diterapkan, misalnya menggunakan
PKBM (Pendidikan Kesehatan Berbasis Masyarakat)
c. Kebhinekaan pengembangan media KIE di bngkat keluarga
d. Kebhinekaan aspek Iainnya.

Indikator 'Hulu Untuk Pemberdayaan


Memberdayakan keluarga dan masyarakat memang bukan barang mudah.
Diperlukan pendampingan yang terus-menerus dan konsisten sehingga keluarga
dan masyarakat secara terus-menerus didorong untuk berperilaku sehat dan
memperbaiki lingkungan agar lebih sehat pula. Untuk dapat menggalang
partisipasi masyarakat dengan baik dan dikaitkan dengan era paradigma sehat,
maka diperlukan indikator sederhana yang bisa menggambarkan kesehatan
keluarga dan masyarakat, serta mudah dipahami dan dikaji oeh masyarakat.
Status kesehatan masyarakat selama ini yang digunakan antara lain
adalah :
1. Prevalensi kesakitan yang menimpa keluarga
2. Prevalensi penyakit menular yang menimpa keluarga
3. Morbiditas anak dan ibu (sebagai kelompok yang paling rentan)
4. Anemia pada ibu
5. Status gizi anak balita
6. Mortalitas bayi dan ibu
7. Umur harapan hidup waktu lahir.
Secara skematis berdasarkan konsep Blum dan kaitannya dengan status
kesehatan masyarakat, bisa digambarkan pada bagan berikut:

Determinan
Lingkungan Penyakit Kematian
Perilaku Angka Kesakitan Angka Kematian
Pelayanan Kesehatan
Keturunan

Bila kita ingin memberdayakan keluarga dan masyarakat, perlu indikator


sederhana yang besa menggambarkan sampai dimana tingkat kesehatan keluarga
dan mnasyarakat setempat. Indikator angka kematian dan angka kesakitan Iebih
cocok untuk petugas kesehatan. Masyarakat tidak akan tahu tentang istilah teknis
kesehatan apalagi cara pengukurannya.
Oleh karena itu perlu dicari indikator yang lebih hulu yaitu pada
diterminan atau faktor predisposis, tetap yang bisa digunakan sebagai prediksi
status kesehatan keluarga dan status kesehatan masyarakat. Atas dasar pemikiran
inilah diperkenalkan indeks potensi keluarga sehat (TPKS) pada proyek
Kesehatan Keluarga dan Gizi (KKG).
Penggunaan indeks untuk keluarga juga merupakan cross checking
terhadap cakupan progaam yang facility based. Dengan demikian IPKS sekaligus
merupakan cara untuk mengukur keberhasilan dan sisi 'beneficiaries atau orang
yang mendapat manfaat dari suatu program dan bukan dari pemegang program.

Indeks Potensi Keluarga Sehat


Gagasan untuk merumuskan indeks potensi keluarga sehat dimunculkan
mielalui proyek kesehatan keluarga dan gizi (KKG), berdasarkan keinginan untuk
merumuskan indikator bagi keluarga yang sehat Indikator tersebut diharapkan
amat sederhana, mudah didapat, tetapi bisa dipakai sebagai prediksi status
kesehatan keluarga yang bersangkutan dan status kesehatan masyarakat setempat.
Pada tahun 1999 dilakukan studi operasional yang terutama didasarkan
pada penyederthanaan terhadap indikator keluarga sehat yang telah dikembangkan
oleh program-program di Iingkungan Departemen Kesehatan. Dar 87 indikator
yang telah dikembangkan, ada 27 indikator yang mudah didapat dan 22 indikator
yang ada catatannya. Dan sejumlah indikator tersebut dipilih yang paling dasar,
yang layak dijadikan sebagai indeks keluarga sehat.
Lokakarya indeks keluarga sehat yang dihadiri unsur pusat dan daerah
(propinsi, kabupaten dan kecamatan) telah merangkum sejumlah indikator (23
indikator) yang mudah diamati dan mudah didapat, seperti tampak pada lampiran
1. Pada Semiloka Puskesmas Peduli Keluarga, diusulkan agar istilahnya diganti
bukan indeks keluarga sehat tetapi indeks potensi keluarga sehat (IPKS).
Mengingat tingkat kesehatan masyarakat antar wilayah tidak sama, maka
tidaklah mungkin digunakan indikator potensi keluarga sehat yang seragam.
Meskipun demikian, diperlukan indikator dasar yang bisa digunakan sebagai
petunjuk sudah sejauh mana tingkat kesehatan keluarga dan masyarakat di suatu
wilayah. Ini penting di era desentralisasi, sehingga diambil kebijakan:
1. Daerah bisa mengembangkan indikator potensi keluarga sehat sesuai dengan
tingkat kesehatan masyarakat dan keluarga di wilayah masing-masing.
Indikator potensi keluarga sehat dapat dikembangkan oleh daerah sendiri.
Mereka bebas memiih jumlah dan jenis indikator potensi keluarga sehat sesuai
dengan situasi, kondisi dan tingkat kesehatan masyarakat setempat.
2. Pusat tetap bisa memantau kemajuan wilayah dan membandingkan kemajuan
antar wilayah dengan menggunakan indeks potensi keluarga sehat (IPKS).
Indeks potensi keluarga sehat, berisi indikator inti/dasar, indikator yang bila
jelek akan sangat mempengaruhi kesehatan keluarga. IPKS berisi indikator
inti/dasar yang sama dan berlaku untuk seluruh Indonesia. Indeks potensi
keluarga sehat didasarkan atas batasan sebagai berikut:

Keluarga berpotensi ,sehat adalah keluarga yang hidup di lingkungan yang


sehat berperilaku sehar dan mempunyai akses yang mudah pada pelayanan
kesehatan

Batasan ini mengacu pada teori Blume yang menyatakan bahwa kesehatan
itu ditentukan oleh Iingkungan, perilaku dan pelayanan kesehatan disamping
keturunan
Berdasarkan pengertian di atas, maka indikator yang digunakan untuk
menentukan indeks potensi keluarga sehat pada proyek KKG adalah:
1. Tersedianya sarana air bersih
2. Tersedianya jamban keluarga
3. Lantai rumah bukan dan tanah
4. Peserta KB (bagi keluarga dengan PUS)
5. Memantau tumbuh-kembang anak (bagi yang punya balita)
6. Tidak ada anggota keluarga yang merokok
7. Menjadi peserta Dana Amal Sehat (DAS)/ Dana Sehat/Askes/JPKM
Tiga indikator pertama (nomer 1, 2 dan 3) merupakan indikator
lingkungan, yang semuanya berada di sekitar tempat tinggal. Rumah
dipandang merupakan lingkungan yang paling dekat dan paling lama dihuni
keluarga. Lingkungan diluar rumah sementara tidak disinggung, akan tetapi
bisa dimasukkan kepada indeks desa sehat atau kecamatan sehat, dst.
Untuk perilaku dipilih 3 indikator (nomer 4, 5 dan 6) dengan alasan:
a. Peserta KB, karena banyak bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa
menjadi peserta KB akan membuat tingkat kesehatan ibu, anak dan
keluarganya meningkat.
b. Memantau tumbuh-kembang anak, karena bisa menggambarkan keadaan
kesehatan, gizi dan perkembangan anak. Disamping itu bila anak dipantau
tumbuh-kembangnya, biasanya diantar ibu atau bapaknya. Artinya terjadi
interkasi antara keluarga dengan petugas kesehatan.
c. Tidak ada anggota keluarga yang merokok, karena terbukti bahwa ada
satu saja anggota keluarga yang merokok, berarti satu keluarga merokok
(yang Iainnya sebagai perokok pasif, yang mempunyai risiko serupa
dengan perokoknya). Disamping itu rokok sering menjadi entry point
terhadap gangguan napza (narkotik, psikotropika dan zat adiktif lainnya).
Indikator terakhir mewakili pelayanan kesehatan, karena bila keluarga
tersebut telah menjadi peserta Dana Amal Sehat/Dana Sehat/Askes/JPKM,
praktis akses terhadap pelayanan kesehatan telah terjamin.
Suatu studi komparatif antara peserta Dana Sehat Semesta di Kabupaten
wonogiri dibandingkan dengan tetangganya Kabupaten Karanganyar,
menunjukkan bahwa peserta Dana Sehat dengan premi Rp.750,-/orang/tahun
telah secara bermakna meningkatkan frekuensi pemeriksaan kehamilan dan
proporsi persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan, seperti tampak pada
tabel berikut.
Jenis Pelayanan Maternal Wonogiri Karanganyar
Frekuensi ANC Trisemester I 2,05 1,63
Frekuensi ANC Trisemester II 2,91 2,47
Frekuensi ANC Trisemester III 4,14 3,41
Rerata Frekunsi ANC 9,14 7,48
Persalinan oleh tenaga kesehatan 96,7% 78,3%
Tampak bahwa di Kabupaten wonogiri penduduk mendapatikan
pelayanan matemnal yang lebih baik (walaupun iuran Dana Sehat hanya
Rp.750' /orang/tahun) dibandingkan penduduk Kabupaten Karanganyar.

Perhitungan besarnya IPKS


Cara menghitung IPKS dibedakan antara penentuan indeks untuk tiap
keluarga dan IPKS untuk wilayah. Secara rind cara perhitungannya adalah sebagai
berikut:
1. IPKS untuk keluarga yang bersangkutan
IPKS untuk keluarga ditentukan oleh proporsi indikator yang bagus dari
yang seharusnya ada. Contohnya keadaan 3 keluarga sbb.:
Indikator Kel.A Kel.B Kel.C
Tersedianya sarana air bersih V V V
Tersedianya jamban keluarga V V V
Lantai rumah bukan dan tanah V - V
Peserta KB V - bukan-PUS
Memantau tumbuh-kembang anak V V tak punya balita
Tidak ada anggota keluarga yang merokok V - -
Menjadi peserta DAS/ DS/ JPKM V - -
IPKS 7/7=1,0 3/7=0,43 3/5=0,60

2. IPKS Untuk Wllayah (Desa, Kecamatan, dst)

IPKS untuk wilayah (desa, kecamatan, kabupaten, propensi dan nasional)


cara perhitungannya di sederhanakan, yaitu merupakan propors dar keluarga
yang berindeks sempuma (1,0). Sebaga contoh, gambaran IPKS pada 3 desa
adalah sebagai berikut:

Uraian Desa X Desa Y Desa Z

Jumlah keluarga dgn indeks sempurna (1,0) 72 165 37

Jumlah seluruh keluarga 265 498 251

Proporsi keluarga dengan indeks 1,0 27,2% 33,1% 14,7%

IPKS tingkat desa 0,272 0,331 0,147

Model Yang Ideal Untuk Pemberdayaan Keluarga


Model yang Ideal dalam implementas pemberdayaan keluarga adalah
sebagai berikut:
1. Instrumen yang dgunakan adalah buku (misalnya buku KIA) yang didalamnya
mengandung instrumen untuk monitoring sekaligus paket KIE (komunikasi,
informasi dan edukasi) berupa nasihat apa yang harus dilakukan bla
ditemukan kondisi tertentu.
2. Forum komunikasinya adalah kunjungan rumah dan konseling karena
kunjungan rumah adalah intervensi yang bisa bersifat sangat spesirik untuk
keluarga yang bersangkutan dan terbukti paling berpengaruh terhadap
perubahan perilaku keluarga.
3. Sumberdaya tenaganya adalah tenaga kesehatan yang telah latih untuk
melakukan konseling.
Bentuk ideal ini amatlah sulit dilaksanakan secara menyeluruh, karena
jumlah keluarga dalam satu wilayah kerja Puskesmas adalah sangat banyak dan
jumlah tenaga terampil Puskesmas yang relatif sedikit. Tidaklah mungkin
Puskesmas dengan berbagai keterbatasan tersebut dapat menjangkau seluruh
keluarga. Namun demikian, ada baiknya staf Puskesmas melakukan hal ini pada
beberapa keluarga yang relatif bandel.

Model yang paling sederhana untuk pemberdayaan keluarga Bagi


Puskesmas yang sumberdaya tenaga, dana dan sarana terbatas, sebaiknya memilih
model yang paling sederhana, yaitu: instrumennya berupa format IPKS Keluarga,
tenaga lapangannya adalah kader dan anak sekolah sementara forum yang
digunakan adalah posyandu atau forum komunikasi rutin setempat (yasinan,
pengajian, dIl).

Format IPKS Keluarga adalah sebagai berikut :


Format ini dibagikan ke semua keluarga untuk diisi, kemudian
dikumpulkan pada satu desa dengan menggunakan Format IPKS Desa seperti
tampak pada tabel berikut (tabel 4.9.):

Data IPKS desa dapat dikumpulkan di tingkat kecamatan dan


direkapitulasi dengan menggunakan Format IPKS Kecamatan seperti tampak pada
tabel berikut (tabel 4.10.):

Meskipun data IPKS itu sedikit, namun mengumpulkan data IPKS untuk
seluruh keluarga di wilayah kerja Puskesmas tentu cukup berat. Oleh karena tiu
berikut ini disampaikan beberapa cara yang murah, antara lain:

1. Lakukan pendataan ini secara bertahap, misalnya tahun pertama 2 desa dulu,
tahun ke dua 4 desa lagi dan seterusnya, sampel akhimya terkumpul data IPKS
seluruh keluarga. Pendataan ini bisa dilakukan melalui bidan di desa dan
dibantu para kader posyandu.
2. Gunakan murid SD sebagai pengumpul data. Dibuat formulir IPKS untuk tiap
keluarga, lalu tiap murid diminta unituk mengisi dengan data keluarganya
sendiri. Sang murid tentu akan membicarakan dulu dengan orang tuanya agar
dapat mengisi Format IPKS Keluarga tersebut dengan benar. Kegiatan ini
akan menggugah kesadaran anak akan faktor penting bagi kesehatan
keluarganya, sekaligus berinteraksi positif dengan orang tuanya. Dengan
demikian puskesmas telah memiliki data IPKS seluruh keluarga yang anaknya
bersekolah, tinggal melengkapi data dan sisa keluarga lainnya.
Atas dasar data IPKS ini bisa diketahui
1. Desa mana yang menjadi prioritas utama, yaitu desa dengan IPKS paling
rendah.
2. Program apa yang menjadi priortas utama di desa tersebut, yaitu indikator
yang paling kecil proporsinya.
3. Keluarga mana yang menjadi prioritas utama, yaltu keluarga dengan IPKS
paling rendah.
Dengan demikian, meski sumberdaya Puskesmas terbatas, intervensi
program bisa terarah, balk untuk lokasi desa, jenis program maupun sasaran
keluarganya.