You are on page 1of 35

PANDANGAN ISLAM TERHADAP BAYI TABUNG

KARYA ILMIAH
Diajukan Sebagai Tugas
Mata Kuliah Dasar Umum Agama Islam
Dosen: Drs. Abdurrahman

Oleh
Zhazha Savira Herprananda
NIM: 04111001081
Kelas: PDU Reguler 2011
Grup 2

FAKULTAS KEDOKTERAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER UMUM
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2014

1
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum wr.wb

Pertama-tama marilah penulis mengucapkan puji dan syukur kepada Allah


Swt. karena atas berkat, rahmat, dan karunia-Nya lah penulis dapat menyusun
karya ilmiah ini sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
Karya ilmiah ini berisikan tentang materi mengenai manfaat “Pandangan
Islam terhadap Bayi Tabung/inseminasi”. Di sini kami membahas apa saja
manfaat dan bagaimana manfaat shalat bagi kesehatan.
Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih kepada Allah Swt., orang
tua, dan dosen pembimbing yang telah mendukung baik moril maupun materil
dalam pembuatan karya ilmiah ini. Penulis mengakui dalam penulisan karya
ilmiah ini terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu, penulis memohon maaf
dan mengharapkan kritik serta saran dari pembaca demi kesempurnaan karya
ilmiah penulis dikesempatan mendatang. Semoga karya ilmiah ini dapat
bermanfaat.

Wa’alaikumsalam wr.wb.

Palembang, April 2014

Zhazha Savira

2
DAFTAR ISI

Halaman Judul 1
Kata Pengantar 2
Daftar Isi 3
BAB I PENDAHULUAN 5
1.1 Latar Belakang 5
1.2 Tujuan 6
1.3 Manfaat 6
1.4 Metodologi Penulisan 7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 8
2.1 Transfusi Darah 8
2.1.1 Sejarah Transfusi Darah 3
2.1.2 Risiko Transfusi Darah 7
2.1.3 Indikasi Transfusi Darah 7
2.1.4 Manfaat Transfusi Darah 7
2.1.5 Donasi Darah 7
2.1.5 Macam-macam Transfusi Darah 8
2.1.6 Cara Transfusi Darah 10
2.2 Hukum Islam Mengenai Transfusi Darah 11
2.2.1 Hakekat Darah 11
2.2.2 Landasan Hukum Islam Mengenai Transfusi Darah 11
2.2.3 Pandangan Islam Mengenai Transfusi Darah 13
BAB III METODE PENULISAN 16
3.1 Jenis Penulisan 16
3.2 Tempat dan Waktu Penulisan 16
3.3 Metode Pengumpulan Data 16
3.4 Metode Analisis Data 16
BAB IV PEMBAHASAN 17
4.1 Hubungan Antara Donor dan Resipien dalam Transfusi Darah 17
4.2 Hukum Transfusi Darah dalam Islam 19

3
4.3 Hukum Menjualbelikan Darah dalam Islam 22
BAB V PENUTUP 25
5.1 Kesimpulan 25
5.2 Saran 25
Daftar Pustaka 2

4
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Segala yang telah diciptakan oleh sang pencipta (Allah) memiliki pasangannya
masing-masing, begitupun juga dengan manusia. Manusia telah ditakdirkan untuk
hidup saling berpasang-pasangan antara laki-laki dan perempuan yang disatukan
dalam satu ikatan yang disebut dengan pernikahan. Dalam hubungan pernikahan
keinginan terbesar oleh sepasang suami-istri adalah mempunyai keturunan (anak).
Sebagai mana diketahui bahwa anak bagi orang tua merupakan harta yang sangat
berharga. Karena anak dapat diibaratkan sebagai penenang, penyemangat,
pelengkap hidup dan dapat mengantikan orang tuanya sebagai pencari nafka bagi
keluarganya ketika dewasa kelak. Oleh karena itu bagi pasangan yang belum
dikaruniahi anak akan berupaya untuk dapat mempunyai keturunan (anak).
Pasangan suami-istri yang sudah bertahun-tahun menikah tetapi belum dapat
dikaruniai anak. Mereka pun gelisah. Usia sudah semakin tua, tetapi belum
mempunyai anak. Ajaran syariat Islam mengajarkan kita untuk tidak boleh
berputus asa dan menganjurkan untuk senantiasa berikhtiar (usaha) serta
bertawakkal dalam menggapai karunia Allah SWT. Allah telah menjanjikan setiap
kesulitan ada solusi. Termasuk kesulitan dalam mempunyai keturunan (anak).
Pada dasarnya pembuahan yang alami terjadi dalam rahim melalui cara yang
alami pula (hubungan seksual), sesuai dengan fitrah yang telah ditetapkan Allah
untuk manusia. Akan tetapi pembuahan alami ini terkadang sulit terwujud,
misalnya karena rusaknya atau tertutupnya saluran indung telur (tuba Fallopii)
yang membawa sel telur ke rahim, serta tidak dapat diatasi dengan cara
membukanya atau mengobatinya. Atau karena sel sperma suami lemah atau tidak
mampu menjangkau rahim isteri untuk bertemu dengan sel telur, serta tidak dapat
diatasi dengan cara memperkuat sel sperma tersebut, atau mengupayakan
sampainya sel sperma ke rahim isteri agar bertemu dengan sel telur di sana.
Semua ini akan meniadakan kelahiran dan menghambat suami isteri untuk

5
mempunyai anak. Padahal Islam telah menganjurkan dan mendorong hal
tersebut dan kaum muslimin pun telah disunnahkan melakukannya.1
Namun dengan teknologi Sekarang ini sudah muncul berbagai kecanggihan
yang dapat di gunakan untuk mengatasi kendala-kendala kehidupan terkhusus
pada kesulitan mempunyai anak dengan berbagai faktor penyebab, baik penyebab
yang telah dipaparkan sebelumnya ataupun yang dipengaru oleh faktor usia
ataupun faktor-faktor penyebab lainnya. Dengan kemajuan teknologi yang telah
diciptakan oleh manusia itu sendiri pada bidang kedokteran dan ilmu biologi
moderen yang telah berhasil menciptakan teknologi yang disebut bayi
tabung/inseminasi buatan. Dengan cara inseminasi butan inilah pasangan yang
telah menikah bertahun-tahun dapat menggunakan inseminasi sebagai solusi
untuk mendapatkan keturunan (anak).
Pada dasarnya orang-orang memuji pada bidang teknologi tersebut. Namum
mereka belum tahu pasti apakah produk-produk teknologi yang dipergunakan
tersebut dapat dibenarkan menurut pandangan islam. Oleh karena hal tersebut
diatas, untuk mengetahui lebih banyak mengenai bayi tabung/inseminasi menurut
pandangan islam. Maka akan disajikan pembahasan bayi tabung tersebut dalam
bentuk karya tulis ilmiah (makalah) yang di beri judul Pandangan Islam terhadap
Bayi Tabung.

1.2 Tujuan
1. Menjelaskan pengertian dari bayi tabung/inseminasi buatan
2. Menjelaskan pandangan islam mengenai bayi tabung/inseminasi
buatan
3. Menjelaskan hukum bayi tabung menurut pandangan islam
4. Menjelaskan status bayi hasil bayi tabung menurut Islam

1.3 Manfaat

1
Dikutip dari Ali, Muhammad Daud. 1984. Kedudukan Islam dan Sistem Hukum Islam. Jakarta:
Yayasan Risalah

6
Penulisan karya ilmiah ini dapat bermanfaat bagi mahasiswa,
klinisi, dosen, dan masyarakat.
1) Bagi mahasiswa, karya ilmiah ini dapat menjadi referensi ilmu dalam
menyikapi kemajuan teknologi terutama di bidang kedokteran agar tetap
berpegang teguh pada keimanan dan hukum-hukum islam.
2) Bagi klinisi, adalah mereka dapat mengetahui pandangan islam terhadap
kemajuan teknologi terutama di bidang kedokteran tentang bayi tabung
3) Bagi dosen, adalah menjadi referensi ilmu dalam meningkatkan kualitas
pengajaran yang berbasis islam terutama di bidang kedokteran dengan
segala norma dan kaidah-kaidah islam.
4) Bagi masyarakat, adalah agar mengetahui pandangan islam terhadap
kemajuan teknologi kedokteran yaitu bayi tabung/inseminasi buatan
sehingga masyarakat mampu mempertimbangkan segala resikonya terkait
norma dan kaidah islam dalam melakukan segala sesuatu yang berkaitan
dengan rekayasa genetika.

1.4 Metodologi Penulisan


1.4.1 Metode
Metode yang digunakan adalah deskriptif analisis, yaitu metode
yang digunakan untuk mengetahui metode dan mendeskripsikan perspektif
islam terhadap rekayasa genetika yang dijabarkan secara mendalam.
1.4.2 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data pada karya tulis ini menggunakan


sumber-sumber yang didapat dari internet, buku-buku, serta sumber-
sumber tertulis lainnya yang membantu dalam penulisan karya tulis ini.

1.4.3 Analisis Data


Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis kualitatif.
Analisis kualitatif dilihat dari pernyataan yang dipaparkan oleh sumber-
sumber.

7
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Bayi Tabung/Inseminasi buatan


2.1.1 Pengertian dan Proses Bayi Tabung/Inseminasi buatan

Teknologi kedokteran modern semakin canggih. Salah satu tren yang


berkembang saat ini adalah fenomena bayi tabung. Bayi tabung dikenal dengan
istilah pembuahan in vitro atau dalam bahasa Inggris dikenal sebagai in vitro
fertilisation. Ini adalah sebuah teknik pembuahan sel telur (ovum) di luar tubuh
wanita.
Bayi tabung adalah suatu istilah teknis. Istilah ini tidak berarti bayi yang
terbentuk di dalam tabung, melainkan dimaksudkan sebagai metode untuk
membantu pasangan subur yang mengalami kesulitan di bidang pembuahan sel
telur wanita oleh sel sperma pria. Secara teknis, dokter mengambil sel telur dari
indung telur wanita dengan alat yang disebut “laparoscop” (temuan dr. Patrick C.
Steptoe dari Inggris).
Bayi tabung merupakan terjemahan dari artificial insemination. Artificial
artinya buatan atau tiruan secara teknologi bukan secara alamiah, sedangkan
insemination berasal dari kata latin “inseminatus” artinya pemasukan atau
penyimpanan. Kata talqih yang sama pengertiannya dengan inseminasi, diambil
oleh dokter ahli kandungan bangsa Arab, dalam upaya pembuahan terhadap
wanita yang menginginkan kehamilan. Jadi dapat di katakan bahwa bayi tabung
merupakan bayi hasil konsepsinya (dari pertemuan antara sel telur dan sperma)
yang dilakukan dalam sebuah tabung yang dipersiapkan sedemikian rupa di
laboratorium. Didalam laboratorium tabung tersebut dibuat sedemikian rupa
sehingga menyerupai dengan tempat pembuahannya yang asli yaitu rahim ibu
atau wanita. Dibuat sedemikian rupa sehingga temperatur dan situasinya persis
sama dengan aslinya. Prosesnya mula-mula dengan suatu alat khusus semacam

8
alat untuk laparoskopi dilakukan pengambilan sel telur dari wanita yang baru saja
mengalami ovulasi. Kemudian sel telur yang diambil tadi dibuahi dengan sperma
yang sudah dipersiapkan dalam tabung yang suasananya dibuat persis seperti
dalam rahim. Setelah pembuahan hasil konsepsi tersebut dipelihara beberapa saat
dalam tabung tadi sampai pada suatu saat tertentu akan dicangkokan ke dalam
rahim wanita tersebut. Selanjutnya diharapkan embrio itu akan tumbuh
sebagaimana layaknya di dalam rahim wanita. Sudah tentu wanita tersebut akan
mengalami kehamilan ,perkembangan selama kehamilan seperti biasa.

2.1.2 Sejarah Bayi Tabung


Bayi tabung pertama lahir ke dunia ialah Louise Brown. Ia lahir di
Manchester, Inggris, 25 Juli 1978 atas pertolongan Dr. Robert G. Edwards dan
Patrick C. Steptoe. Sejak itu, klinik untuk bayi tabung berkembang pesat. Teknik
bayi tabung ini telah menjadi metode yang membantu pasangan subur yang tidak
mempunyai anak akibat kelainan pada organ reproduksi anak pada wanita.

2.1.3 Jenis-jenis Bayi Tabung


1. Pembuahan Dipisahkan dari Hubungan Suami-Isteri.

Teknik bayi tabung memisahkan persetubuhan suami-istri dari pembuahan


bakal anak. Dengan teknik tersebut, pembuahan dapat dilakukan tanpa
persetubuhan. Keterarahan perkawinan kepada kelahiran baru sebagaimana
diajarkan oleh Gereja tidak berlaku lagi. Dengan demikian teknik kedokteran
telah mengatur dan menguasai hukum alam yang terdapat dalam tubuh
manusia pria dan wanita. Dengan pemisahan antara persetubuhan dan
pembuahan ini, maka bisa muncul banyak kemungkinan lain yang menjadi
akibat dari kemajuan ilmu kedokteran di bidang pro-kreasi manusia.

2. Wanita Sewaan untuk Mengandung Anak.

Ada kemungkinan bahwa benih dari suami-istri tidak bisa dipindahkan ke


dalam rahim sang istri, oleh karena ada gangguan kesehatan atau alasan-alasan
lain. Dalam kasus ini, maka diperlukan seorang wanita lain yang disewa untuk

9
mengandung anak bagi pasangan tadi. Dalam perjanjian sewa rahim ini
ditentukan banyak persyaratan untuk melindungi kepentingan semua pihak
yang terkait. Wanita yang rahimnya disewa biasanya meminta imbalan uang
yang sangat besar. Suami-istri bisa memilih wanita sewaan yang masih muda,
sehat dan punya kebiasaan hidup yang sehat dan baik. praktik seperti ini
biasanya belum ada ketentuan hukumnya, sehingga kalau muncul kasus bahwa
wanita sewaan ingin mempertahankan bayi itu dan menolak uang pembayaran,
maka pastilah sulit dipecahkan.

3. Sel Telur atau Sperma dari Seorang Donor.

Masalah ini dihadapi kalau salah satu dari suami atau istri mandul; dalam
arti bahwa sel telur istri atau sperma suami tidak mengandung benih untuk
pembuahan. Itu berarti bahwa benih yang mandul itu harus dicarikan
penggantinya melalui seorang donor.

Masalah ini akan menjadi lebih sulit karena sudah masuk unsur baru, yaitu
benih dari orang lain. Pertama, apakah pembuahan yang dilakukan antara sel
telur istri dan sel sperma dari orang lain sebagai pendonor itu perlu diketahui
atau disembunyikan identitasnya. Kalau wanita tahu orangnya, mungkin ada
bahaya untuk mencari hubungan pribadi dengan orang itu. Ketiga, apakah pria
pendonor itu perlu tahu kepada siapa benihnya telah didonorkan. Masih
banyak masalah lain lagi yang bisa muncul.

4. Munculnya Bank Sperma

Praktik bayi tabung membuka peluang pula bagi didirikannya bank-bank


sperma. Pasangan yang mandul bisa mencari benih yang subur dari bank-bank
tersebut. Bahkan orang bisa menjual-belikan benih-benih itu dengan harga
yang sangat mahal misalnya karena benih dari seorang pemenang Nobel di
bidang kedokteran, matematika, dan lain-lain. Praktek bank sperma adalah
akibat lebih jauh dari teknik bayi tabung. Kini bank sperma malah
menyimpannya dan memperdagangkannya seolah-olah benih manusia itu
suatu benda ekonomis.

10
Tahun 1980 di Amerika sudah ada 9 bank sperma non-komersial.
Sementara itu bank-bank sperma yang komersil bertumbuh dengan cepat.
Wanita yang menginginkan pembuahan artifisial bisa memilih sperma itu dari
banyak kemungkinan yang tersedia lengkap dengan data mutu intelektual dari
pemiliknya. Identitas donor dirahasiakan dengan rapi dan tidak diberitahukan
kepada wanita yang mengambilnya, kepada penguasa atau siapapun.2

2.1.4 Proses Bayi Tabung


1. Konsultasi
Sebelum memulai proses bayi tabung pasien diharuskan konsultasi
terlebih dahulu kedokter. Hal ini perlu dilakukan untuk menyiapkan
mental si pasien untuk menghadapi kejadian apapun yang mungkin
saja terjadi apakah berhasil ataupun tidak, karena tingkat keberhasilan
bayi tabung masih rendah, dan juga tergantung dari usia si calon ibu.

2. Cek Kesehatan
Pada proses bayi tabung tingkat kesehatan dan kesuburan wanita
sangatlah penting. Pada tahap ini tingkat kesehatan dan kesuburan
anda dan pasangan anda akan dicek. Si wanita harus memastikan
kondisi apakah berada dalam kondisi yang prima da tidak terserang
penyakit rahim atau penyakit menular.

3. Perangsangan Indung Telur


Dalam proses bayi tabung, dibutuhkan banyak sel telur untuk bisa
dibuahi oleh sperma sehingga nantinya dokter bisa memilih embrio

2
Dikutip dari Pandangan Islam terhadap Bayi tabung (
http://mihwanuddin.wordpress.com/2011/05/13/pandangan-islam-terhadap-bayi-tabung/) , diakses
pada Kamis, 17 April 2014

11
yang paling bagus dan berkualitas untuk dimasukkan ke dalam rahim
sang ibu.

4. Pemantauan, pematangan dan pengambilan sel telur


Pada proses ini akan dilakukan pemantauan pertumbuhan folikel
melalui alat bernama ultrasonografi untuk melihat kematangan sel
telur. Setelah sel telur dianggap matang dan bagus, selanjutnya akan
dilakukan proses pengambilan sel telur.

5. Pengambilan Sperma Suami


Proses pengambilan sperma ini dilakukan secara manual oleh sang
suami dengan melakukan masturbasi. Nah dari sperma yang diperoleh,
akan dipilih sperma yang berkualitas dimana memiliki ciri khas
bergerak gesit dan juga berjalan lurus.

6. Pembuahan dan Pengembangan Embrio


Inilah hal terpenting dalam Proses Bayi Tabung. Setelah didapat
sel telur dan sperma yang berkualitas, berikut akan dilakukan proses
pembuahan di laboratorium oleh dokter ahli. Dari pembuahan jika
berhasil maka akan berkembang menjadi embrio. Nah embrio yang
terbaiklah yang akan dimasukkan kembali ke dalam rahim sang ibu.
Sementara embrio yang tersisa akan disimpan untuk digunakan sebagai
cadangan jika kehamilan gagal atau juga bisa digunakan untuk
kehamilan berikutnya.

2.2 Hukum serta Pandangan Islam mengenai Bayi Tabung

2.2.1 Landasan Hukum Islam Mengenai Bayi Tabung

Masalah inseminasi buatan ini menurut pandangan islam termasuk


masalah kontemporer ijtihadiah, karena tidak terdapat hukumnya

12
secara spesifik di dalam Al-Qur’an dan As-sunnah bahkan dalam
kajian Fiqih klasik sekalipun.

Kalau kita hendak mengkaji masalah bayi tabung dari segi


hukum Islam, maka harus dikaji dengan memakai metode
ijtihad lajim dipakai oleh para ahli ijtihad,agar ijtihadnya sesuai
dengan prinsip-prinsip dan jiwa Al-Qur’an dan Sunah yang menjadi
pegangan umat Islam. Sudah tentu ulama yang melaksanakan
ijtihad tentang masalah ini, memerlukan informasi yang cukup
tentang teknik dan proses terjadinya bayi tabung dari cendekiawan
Muslim yang ahli dalam bidang studi yang relevan dengan masalah
ini, misalnya ahli kedokteran dan ahli biologi. Dengan
pengkajian secara multidisipliner ini, dapat ditemukan hukumnya yang
proporsional dan mendasar.
Bayi tabung / inseminasi buatan apabila dilakukan dengan sel
sperma dan ovum s u a m i i s t r i s e n d i r i d a n t i d a k d i t r a n s f e r
e m b r i o n y a k e d a l a m r a h i m w a n i t a l a i n termasuk istrinya
sendiri yang lain (bagi suami yang berpoligami), maka Islam
membenarkan, baik dengan cara mengambil sperma suami, kemudian
disuntikkan ke dalam vagina atau uterus istri, maupun dengan cara
pembuahan dilakukan diluar rahim, kemudian buahnya (vertilized
ovum) ditanam di dalam rahim istri, asal keadaan kondisi suami
istri yang bersangkutan benar-benar memerlukan cara
inseminasi buatan untuk memperoleh anak, karena dengan
cara pembuahan alami, suami istri tidak berhasil memperoleh anak.
Hal ini sesuai dengan hukum Fiqih Islam“.
Bayi tabung / inseminasi buatan apabila dilakukan dengan sel
sperma dan ovum s u a m i i s t r i s e n d i r i d a n t i d a k d i t r a n s f e r
e m b r i o n y a k e d a l a m r a h i m w a n i t a l a i n termasuk istrinya
sendiri yang lain (bagi suami yang berpoligami), maka Islam
membenarkan, baik dengan cara mengambil sperma suami, kemudian
disuntikkan ke dalam vagina atau uterus istri, maupun dengan cara

13
pembuahan dilakukan diluar rahim, kemudian buahnya (vertilized
ovum) ditanam di dalam rahim istri, asal keadaan kondisi suami
istri yang bersangkutan benar-benar memerlukan cara
inseminasi buatan untuk memperoleh anak, karena dengan
cara pembuahan alami, suami istri tidak berhasil memperoleh anak.
Hal ini sesuai dengan hukum Fiqih Islam“
Hajat (kebutuhan yang sangat penting itu) diperlukan
seperti dalam keadaant e r p a k s a (emergency). Padahal
k e a d a a n d a r u r a t / t e r p a k s a i t u m e m b o l e h k a n melakukan
hal-hal terlarang ”3
Sebaliknya, kalau inseminasi buatan itu dilakukan dengan
bantuan donor spermadan atau ovum, maka diharamkan, dan
hukumnya sama dengan zina (prostitusi).D a n s e b a g a i a k i b a t
hukumnya, anak hasil inseminasi tersebut tidak sah
d a n nasabnya hanya berhubungan dengan ibu yang melahirkannya. Menurut
hemat penulis, dalil-dalil syar’i yang dapat menjadi landasan hukum
untukmengharamkan inseminasi buatan dengan donor, ialah sebagai
berikut :

1) A l - Q u r ’ a n
Surat Al-Isra ayat 70 :
“Dan sesungguhnya telah Kami meliakan anak-anak
A d a m , K a m i a n g k a t mereka di daratan dan di lautan, Kami beri
mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan
kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami
ciptakan”.

Surat At-Tin ayat 4 :

3
Dikutip dari Bayi Tabung dalam Pandangan Islam (http://putraelhilal.blogspot.com/2013/10/bayi-
tabung-dalam-pandangan-islam.html). Diakses pada Jumat, 25 April 2014

14
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk
yang sebaik-baiknya”.

Kedua ayat tersebut menunjukkan bahwa manusia


diciptakan oleh Tuhansebagai makhluk yang mempunyai
kelebihan/keistimewaan sehingga melebihimakhluk-makhluk
Tuhan lainnya. Dan Tuhan sendiri berkenan
memuliakanmanusia, maka sudah seharusnya manusia bisa
menghormati martabatnyas e n d i r i dan juga
menghormati martabat sesama manusia.
S e b a l i k n y a inseminasi buatan dengan donor itu pada
hakikatnya merendahkan harkatmanusia (human dignity) sejajar
dengan hewan yang diinseminasi. 4

2) A l - H a d i t s
“Tidak halal bagi seseorang yang beriman
p a d a A l l a h d a n h a r i a k h i r menyiramkan airnya (sperma) pada
tanaman orang lain (vagina istriorang lain)’’.
(Hadits riwayat Abu Daud, Al-Tirmidzi, dan Hadits ini dipandang
sahih oleh Ibnu Hibban)

2.2.2 Pandangan Ulama-Ulama dari berbagai Negara mengenai status


hukum bayi tabung

1. Indonesia
Menurut Fatwa MUI (hasil komisi fatwa tanggal 13 Juni 1979), Dewan
Pimpinan Majelis Ulama Indonesia memfatwakan sebagai berikut :

4
Dikutip dari Abdul Rahman, Roli. Khamza H. 2007. Menjaga Akidah dan Akhlak. Solo: PT Tiga
Serangkai Pustaka Mandiri.

15
a. Bayi tabung dengan sperma clan ovum dari pasangan suami
isteri yang sah hukumnya mubah (boleh), sebab hak ini termasuk
ikhiar berdasarkan kaidahkaidah agama.
b. Bayi tabung dari pasangan suami-isteri dengan titipan rahim
isteri yang lain (misalnya dari isteri kedua dititipkan pada isteri
pertama) hukumnya haram berdasarkan kaidah Sadd az-zari’ah,
sebab hal ini akan menimbulkan masalah yang rumit dalam
kaitannya dengan masalah warisan (khususnya antara anak yang
dilahirkan dengan ibu yang mempunyai ovum dan ibu yang
mengandung kemudian melahirkannya, dan sebaliknya).

c. Bayi tabung dari sperma yang dibekukan dari suami yang


telah meninggal dunia hukumnya haram berdasarkan kaidah Sadd
az-zari’ah, sebab hal ini akan menimbulkan masala~ yang pelik,
baik dalam kaitannya dengan penentuan nasab maupun dalam
kaitannya dengan hal kewarisan.
d. Bayi tabung yang sperma dan ovumnya diambil dari selain
pasangna suami isteri yang sah hukumnya haram, karena itu
statusnya sama dengan hubungan kelamin antar lawan jenis di luar
pernikahan yang sah (zina), dan berdasarkan kaidah Sadd az-
zari’ah, yaitu untuk menghindarkan terjadinya perbuatan zina
sesungguhnya.

Nahdlatul Ulama (NU) juga telah menetapkan fatwa terkait


masalah ini dalam forum Munas Alim Ulama di Kaliurang, Yogyakarta
pada 1981. Ada tiga keputusan yang ditetapkan ulama NU terkait masalah
bayi tabung:
 Apabila mani yang ditabung dan dimasukan ke dalam rahim wanita
tersebut ternyata bukan mani suami-istri yang sah, maka bayi
tabung hukumnya haram.

16
 Hal itu didasarkan pada sebuah hadis yang diriwayatkan Ibnu
Abbas RA, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada dosa yang lebih
besar setelah syirik dalam pandangan Allah SWT, dibandingkan
perbuatan seorang lelaki yang meletakkan spermanya (berzina) di
dalam rahim perempuan yang tidak halal baginya.”
 Apabila sperma yang ditabung tersebut milik suami-istri, tetapi
cara mengeluarkannya tidak muhtaram, maka hukumnya juga
haram. “Mani muhtaram adalah mani yang keluar/dikeluarkan
dengan cara yang tidak dilarang oleh syara’,” papar ulama NU
dalam fatwa itu.
 Terkait mani yang dikeluarkan secara muhtaram, para ulama NU
mengutip dasar hukum dari Kifayatul Akhyar II/113. “Seandainya
seorang lelaki berusaha mengeluarkan spermanya (dengan
beronani) dengan tangan istrinya, maka hal tersebut
diperbolehkan, karena istri memang tempat atau wahana yang
diperbolehkan untuk bersenang-senang.”
 Apabila mani yang ditabung itu mani suami-istri dan cara
mengeluarkannya termasuk muhtaram, serta dimasukan ke dalam
rahim istri sendiri, maka hukum bayi tabung menjadi mubah
(boleh).

2. Malaysia
Ulama di Malaysia yang tergabung dalam Jabatan Kemajuan Islam
Malaysia memberi fatwa tentang bayi tabung yang menghasilkan
keputusan sebagai berikut:
Keputusan 1 :
 Bayi Tabung Uji dari benih suami isteri yang dicantumkan secara
“terhormat” adalah sah di sisi Islam. Sebaliknya benih yang
diambil dari bukan suami isteri yang sah bayi tabung itu adalah
tidak sah.

17
 Bayi yang dilahirkan melalui tabung uji itu boleh menjadi wali dan
berhak menerima harta pesaka dari keluarga yang berhak.
 Sekiranya benih dari suami atau isteri yang dikeluarkan dengan
cara yang tidak bertentangan dengan Islam, maka ianya dikira
sebagai cara terhormat.
Keputusan 2 :
 Bayi Tabung Uji dari benih suami isteri yang dicantumkan secara
“terhormat” adalah sah di sisi Islam. Sebaliknya benih yang
diambil dari bukan suami isteri yang sah bayi tabung itu adalah
tidak sah.
 Bayi yang dilahirkan melalui tabung uji itu boleh menjadi wali dan
berhak menerima harta pesaka dari keluarga yang berhak.
 Sekiranya benih dari suami atau isteri yang dikeluarkan dengan
cara yang tidak bertentangan dengan Islam, maka ianya dikira
sebagai cara terhormat.

3. Arab Saudi
Menurut salah satu putusan Fatwa Ulama Saudi Arabia, disebutkan bahwa
Alim ulama di lembaga riset pembahasan ilmiyah, fatwa, dakwah dan
bimbingan Islam di Kerajaan Saudi Arabia telah mengeluarkan fatwa
pelarangan praktek bayi tabung. Karena praktek tersebut akan
menyebabkan terbukanya aurat, tersentuhnya kemaluan dan terjamahnya
rahim. Kendatipun mani yang disuntikkan ke rahim wanita tersebut adalah
mani suaminya. Menurut pendapat saya, hendaknya seseorang ridha
dengan keputusan Allah Ta’ala, sebab Dia-lah yang berfirman dalam
kitab-Nya:
Dia menjadikan mandul siapa yang Dia dikehendaki. (QS. 42:50)
Namun demikian ada fatwa lain yang dikeluarkan oleh Majelis Mujamma’
Fiqih Islami. Majelis ini menetapkan sebagai berikut:

18
Pertama: Lima perkara berikut ini diharamkan dan terlarang sama sekali,
karena dapat mengakibatkan percampuran nasab dan hilangnya hak orang
tua serta perkara-perkara lain yang dikecam oleh syariat :
1) Sperma yang diambil dari pihak lelaki disemaikan kepada indung telur
pihak wanita yang bukan istrinya kemudian dicangkokkan ke dalam
rahim istrinya.
2) Indung telur yang diambil dari pihak wanita disemaikan kepada
sperma yang diambil dari pihak lelaki yang bukan suaminya kemudian
dicangkokkan ke dalam rahim si wanita.
3) Sperma dan indung telur yang disemaikan tersebut diambil dari
sepasang suami istri, kemudian dicangkokkan ke dalam rahim wanita
lain yang bersedia mengandung persemaian benih mereka tersebut.
4) Sperma dan indung telur yang disemaikan berasal dari lelaki dan
wanita lain kemudian dicangkokkan ke dalam rahim si istri.
5) Sperma dan indung telur yang disemaikan tersebut diambil dari
seorang suami dan istrinya, kemudian dicangkokkan ke dalam rahim
istrinya yang lain
kedua: Dua perkara berikut ini boleh dilakukan jika memang sangat
dibutuhkan dan setelah memastikan keamanan dan keselamatan yang
harus dilakukan, sebagai berikut:
1) Sperma tersebut diambil dari si suami dan indung telurnya diambil
dari istrinya kemudian disemaikan dan dicangkokkan ke dalam
rahim istrinya.
2) Sperma si suami diambil kemudian di suntikkan ke dalam saluran
rahim istrinya atau langsung ke dalam rahim istrinya untuk
disemaikan.

Secara umum beberapa perkara yang sangat perlu diperhatikan dalam


masalah ini adalah aurat vital si wanita harus tetap terjaga (tertutup)
demikian juga kemungkinan kegagalan proses operasi persemaian sperma
dan indung telur itu sangat perlu diperhitungkan. Demikian pula perlu

19
diantisipasi kemungkinan terjadinya pelanggaran amanah dari orang-orang
yang lemah iman di rumah-rumah sakit yang dengan sengaja mengganti
sperma ataupun indung telur supaya operasi tersebut berhasil demi
mendapatkan materi dunia. Oleh sebab itu dalam melakukannya perlu
kewaspadaan yang ekstra ketat.
Sementara itu Syaikh Nashiruddin Al-Albani sebagai tokoh ahli sunnah
wal jamaah berpendapat lain, beliau berpendapat sebagai berikut : “Tidak
boleh, karena proses pengambilan mani (sel telur wanita) tersebut
berkonsekuensi minimalnya sang dokter (laki-laki) akan melihat aurat
wanita lain. Dan melihat aurat wanita lain (bukan istri sendiri) hukumnya
adalah haram menurut pandangan syariat, sehingga tidak boleh dilakukan
kecuali dalam keadaan darurat.
Sementara tidak terbayangkan sama sekali keadaan darurat yang
mengharuskan seorang lelaki memindahkan maninya ke istrinya dengan
cara yang haram ini. Bahkan terkadang berkonsekuensi sang dokter
melihat aurat suami wanita tersebut, dan ini pun tidak boleh.
Lebih dari itu, menempuh cara ini merupakan sikap taklid terhadap
peradaban orang-orang Barat (kaum kuffar) dalam perkara yang mereka
minati atau (sebaliknya) mereka hindari. Seseorang yang menempuh cara
ini untuk mendapatkan keturunan dikarenakan tidak diberi rizki oleh Allah
berupa anak dengan cara alami (yang dianjurkan syariat), berarti dia tidak
ridha dengan takdir dan ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala atasnya.
Jikalau saja Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan dan
membimbing kaum muslimin untuk mencari rizki berupa usaha dan harta
dengan cara yang halal, maka lebih-lebih lagi tentunya Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan dan membimbing mereka
untuk menempuh cara yang sesuai dengan syariat (halal) dalam
mendapatkan anak.” (Fatawa Al-Mar`ah Al-Muslimah hal. 288).5

5
Dikutip dari Ibrahim, Tatang. 1994. Fiqih. Bandung: CV. ARMICO.

20
A. Dalil-dalil tentang Bayi Tabung
Ajaran syariat Islam mengajarkan kita untuk tidak boleh berputus
asa dan menganjurkan untuk senantiasa berikhtiar (usaha) dalam
menggapai karunia Allah SWT. Demikian halnya di ntara
pancamaslahat yang diayomi oleh maqashid asy-syari’ah (tujuan
filosofis syariah Islam) adalah hifdz an-nasl (memelihara fungsi dan
kesucian reproduksi) bagi kelangsungan dan kesinambungan generasi
umat manusia. Allah telah menjanjikan setiap kesulitan ada solusi
(QS.Al-Insyirah:5-6) termasuk kesulitan reproduksi manusia dengan
adanya kemajuan teknologi kedokteran dan ilmu biologi modern yang
Allah karuniakan kepada umat manusia agar mereka bersyukur dengan
menggunakannya sesuai kaedah ajaran-Nya.
Masalah inseminasi buatan ini menurut pandangan Islam termasuk
masalah kontemporer ijtihadiah, karena tidak terdapat hukumnya seara
spesifik di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah bahkan dalam kajian fiqih
klasik sekalipun. Karena itu, kalau masalah ini hendak dikaji menurut
Hukum Islam, maka harus dikaji dengan memakai metode ijtihad yang
lazimnya dipakai oleh para ahli ijtihad (mujtahidin), agar dapat
ditemukan hukumnya yang sesuai dengan prinsip dan jiwa Al-Qur’an
dan As-Sunnah yang merupakan sumber pokok hukum Islam. Namun,
kajian masalah inseminasi buatan ini seyogyanya menggunakan
pendekatan multi disipliner oleh para ulama dan cendikiawan muslim
dari berbagai disiplin ilmu yang relevan, agar dapat diperoleh
kesimpulan hukum yang benar-benar proporsional dan mendasar.
Misalnya ahli kedokteran, peternakan, biologi, hukum, agama dan
etika.
Bayi tabung pada manusia harus diklasifikasikan persoalannya
secara jelas. Bila dilakukan dengan sperma atau ovum suami isteri
sendiri, baik dengan cara mengambil sperma suami kemudian
disuntikkan ke dalam vagina, tuba palupi atau uterus isteri, maupun
dengan cara pembuahannya di luar rahim, kemudian buahnya

21
(vertilized ovum) ditanam di dalam rahim istri; maka hal ini
dibolehkan, asal keadaan suami isteri tersebut benar-benar
memerlukan inseminasi buatan untuk membantu pasangan suami isteri
tersebut memperoleh keturunan. Hal ini sesuai dengan kaidah ‘al
hajatu tanzilu manzilah al dharurat’ (hajat atau kebutuhan yang
sangat mendesak diperlakukan seperti keadaan darurat).
Sebaliknya, kalau inseminasi buatan itu dilakukan dengan bantuan
donor sperma dan ovum, maka diharamkan dan hukumnya sama
dengan zina. Sebagai akibat hukumnya, anak hasil inseminasi itu tidak
sah dan nasabnya hanya berhubungan dengan ibu yang melahirkannya.
Menurut hemat penulis, dalil-dalil syar’i yang dapat dijadikan landasan
menetapkan hukum haram inseminasi buatan dengan donor ialah:
1) Firman Allah

“Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak Adam, kami


angkut mereka di daratan dan di lautan, kami beri mereka rezeki
dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan
yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah kami
ciptakan.” (QS Al-Israa’:70).

“Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk


yang sebaik-baiknya.” (QS At-tiin:4).

22
Kedua ayat tersebut menunjukkan bahwa manusia
diciptakan oleh Tuhan sebagai makhluk yang mempunyai
kelebihan/keistimewaan sehingga melebihi makhluk-makhluk
Tuhan lainnya. Dan Tuhan sendiri berkenan memuliakan manusia,
maka sudah seharusnya manusia bisa menghormati martabatnya
sendiri serta menghormati martabat sesama manusia. Dalam hal ini
inseminasi buatan dengan donor itu pada hakikatnya dapat
merendahkan harkat manusia sejajar dengan tumbuh-tumbuhan dan
hewan yang diinseminasi.

2) Hadits Nabi

Hadist Nabi SAW yang mengatakan : ” tidak halal bagi seseorang


yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir menyiramkan airnya
(sperma) pada tanaman orang lain (istri orang lain).” (HR. Abu
Daud, Tirmidzi dan dipandang shahih oleh Ibnu Hibban).

Berdasarkan hadits tersebut para ulama sepakat


mengharamkan seseorang melakukan hubungan seksual dengan
wanita hamil dari istri orang lain. Tetapi mereka berbeda pendapat
apakah sah atau tidak mengawini wanita hamil. Menurut Abu
Hanifah boleh, asalkan tidak melakukan senggama sebelum
kandungannya lahir. Sedangkan Zufar tidak membolehkan. Pada
saat para imam mazhab masih hidup, masalah inseminasi buatan
belum timbul. Karena itu, kita tidak bisa memperoleh fatwa
hukumnya dari mereka.

Hadits ini juga dapat dijadikan dalil untuk mengharamkan


inseminasi buatan pada manusia dengan donor sperma dan/atau
ovum, karena kata maa’ dalam bahasa Arab bisa berarti air hujan
atau air secara umum, seperti dalam At-Thaha:53. Juga bisa
berarti benda cair atau sperma seperti dalamAn-Nur:45 dan Al-
Thariq:6.6

23
6
Dikutip dari Bayi Tabung Menurut Pandangan Islam
(http://keperawatanreligionnovihermawati.wordpress.com/ ) , diakses pada Kamis, 17 April 2014

24
BAB III
PERMASALAHAN

Bayi tabung merupakan produk kemajuan teknologi kedokteran yg


demikian canggih yg ditemukan oleh pakar kedokteran Barat yg notabene mereka
adalah kaum kafir . Bayi tabung adalah proses pembuahan sperma dgn ovum
dipertemukan di luar kandungan pada satu tabung yg dirancang secara khusus.
Setelah terjadi pembuahan lalu menjadi zygot kemudian dimasukkan ke dlm
rahim sampai dilahirkan. Jadi proses tanpa melalui jima’ .

Tidak boleh karena proses pengambilan mani tersebut berkonsekuensi


minimal sang dokter akan melihat aurat wanita lain. Dan melihat aurat wanita lain
hukumnya adalah haram menurut pandangan syariat sehingga tdk boleh dilakukan
kecuali dlm keadaan darurat. Sementara tidak terbayangkan sama sekali keadaan
darurat yg mengharuskan seorang lelaki memindahkan mani ke istri dgn cara yg
haram ini. Bahkan terkadang berkonsekuensi sang dokter melihat aurat suami
wanita tersebut dan ini pun tidak boleh.

Seseorang yg menempuh cara ini utk mendapatkan keturunan dikarenakan


tdk diberi rizki oleh Allah berupa anak dgn cara alami berarti dia tdk ridha dgn
takdir dan ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala atasnya.
Jikalau saja Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan dan
membimbing kaum muslimin utk mencari rizki berupa usaha dan harta dgn cara
yg halal maka lebih lagi tentu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
menganjurkan dan membimbing mereka utk menempuh cara yg sesuai dgn syariat
dlm mendapatkan anak.”

Bayi tabung ini mencuat ke permukaan karena adanya keinginan dari


banyak pasangan suami istri karena satu hal dan yang lainnya yang tidak bisa
mempunyai keturunan, sedang mereka sangat merindukannya, dan bayi tabung ini
adalah salah satu alternatif yang bisa ditempuh untuk mewujdkan impian mereka
tersebut.

Inseminasi buatan adalah: proses yang dilakukan oleh para dokter untuk
menggabungkan antara sperma dengan sel telur, seperti dengan cara menaruh
keduanya di dalam sebuah tabung, karena rahim yang dimiliki seorang perempuan
tidak bisa berfungsi sebagaimana biasanya. Yang perlu diperhatikan terlebih
dahulu bagi yang ingin mempunyai anak lewat bayi tabung, bahwa cara ini tidak

25
boleh ditempuh kecuali dalam keadaan darurat, yaitu ketika salah satu atau kedua
suami istri telah divonis tidak bisa mempunyai keturunan secara normal

Perlu menjadi catatan di sini bahwa bayi tabung telah berkembang pesat di
Barat, tetapi bukan untuk mencari jalan keluar bagi pasangan suami istri yang
tidak bisa mempunyai anak secara normal, tetapi mereka mengembangkannya
untuk proyek-proyek maksiat yang diharamkan di dalam Islam, bahkan mereka
benar-benar telah menghidupkan kembali pernikahan yang pernah dilakukan
orang-orang jahiliyah Arab sebelum kedatangan Islam, yaitu para suami
menyuruh para istri untuk datang kepada orang-orang yang mereka anggap cerdas
dan pintar atau pemberani agar mereka mau menggauli para istri tersebut dengan
tujuan anak mereka ikut menjadi cerdas dan pemberani. Hal sama telah dilakukan
di Amerika dimana mereka mengumpulkan sperma orang-orang pintar dalam
bank sperma, kemudian dijual kepada siapa yang menginginkan anaknya pintar
dengan cara enseminasi buatan dan bayi tabung.

Sedangkan menurut Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam fatwanya


menyatakan bahwa bayi tabung dengan sperma dan ovum dari pasangan suami-
istri yang sah hukumnya mubah (boleh). Sebab, ini termasuk ikhtiar yang
berdasarkan kaidah-kaidah agama.

Namun, para ulama melarang penggunaan teknologi bayi tabung dari


pasangan suami-istri yang dititipkan di rahim perempuan lain. “Itu hukumnya
HARAM”. Para ulama menegaskan, di kemudian hari hal itu akan menimbulkan
masalah yang rumit dalam kaitannya dengan warisan.

Para ulama MUI dalam fatwanya juga memutuskan, bayi tabung dari
sperma yang dibekukan dari suami yang telah meninggal dunia hukumnya
HARAM”. Sebab, hal ini akan menimbulkan masalah yang pelik, baik dalam
kaitannya dengan penentuan nasab maupun dalam hal kewarisan.

Lalu bagaimana dengan proses bayi tabung yang sperma dan ovumnya tak
berasal dari pasangan suami-istri yang sah? MUI dalam fatwanya secara tegas
menyatakan hal tersebut hukumnya haram. Alasannya, statusnya sama dengan
hubungan kelamin antarlawan jenis di luar penikahan yang sah alias zina.

Hal itu didasarkan pada sebuah hadis yang diriwayatkan Ibnu Abbas RA,
Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada dosa yang lebih besar setelah syirik dalam
pandangan Allah SWT, dibandingkan perbuatan seorang lelaki yang meletakkan
spermanya (berzina) di dalam rahim perempuan yang tidak halal baginya.”

26
Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah yang akan saya kaji adalah
sebagai berikut:
1 Apakah yang dimaksud dengan bayi tabung/inseminasi buatan?
2 Bagaimanakah pandangan islam mengenai bayi tabung/inseminasi
buatan?
3 Apakah hukum bayi tabung menurut pandangan islam?
4 Bagaimanakah status anak yang dilahirkan melalui bayi tabung?

27
BAB IV

HASIL PEMBAHASAN

4.1 Pengertian Bayi Tabung/inseminasi buatan


Bayi tabung adalah suatu istilah teknis. Istilah ini tidak berarti bayi yang
terbentuk di dalam tabung, melainkan dimaksudkan sebagai metode untuk
membantu pasangan subur yang mengalami kesulitan di bidang” pembuahan “
sel telur wanita oleh sel sperma pria. Secara teknis, dokter mengambil sel telur
dari indung telur wanita dengan alat yang disebut “laparoscop” yang
ditemuan dr. Patrick C. Steptoe dari Inggris. Sel telur itu kemudian diletakkan
dalam suatu mangkuk kecil dari kaca dan dipertemukan dengan sperma dari
suami wanita tadi. Setelah terjadi pembuahan di dalam mangkuk kaca itu
tersebut, kemudian hasil pembuahan itu dimasukkan lagi ke dalam rahim sang
ibu untuk kemudian mengalami masa kehamilan dan melahirkan anak seperti
biasa.
Ada beberapa teknik inseminasi buatan yang telah dikembangkan di dunia
kedokteran, antara lain ialah :
1. Fertilazation in Vitro (FIV) dengan cara mengambil sperma suami dan
ovum istri kemudian diproses di vitro (tabung), dan setelah terjadi pembuahan,
lalu ditransfer di rahim istri.
2. Gamet Intra Felopian Tuba (GIFT) dengan cara mengambil sperma
suami dan ovum istri, dan setelah dicampur terjadi pembuahan, maka segera
ditanam di saluran telur (tuba palupi).
Teknik kedua ini lebih alamiah dari pada teknik pertama, sebab sperma hanya
bisa membuahi ovum di tuba palupi setelah terjadi ejakulasi (pancaran mani)
melalui hubungan seksual.

4.2 Pandangan Islam Mengenai Bayi Tabung / Inseminasi Buatan


4.2.1 Landasan Diharamkannya Bayi Tabung

28
a. Q.S Al-Isra ayat 70
‫وَﻟَﻘَﺪْ ﻛَﺮﱠﻣْﻨَﺎ ﺑَﻨِﻲ آدَمَ وَﺣَﻤَﻠْﻨَﺎھُﻢْ ﻓِﻲ اﻟْﺒَﺮﱢ وَاﻟْﺒَﺤْﺮِ وَرَزَﻗْﻨَﺎھُﻢْ ﻣِﻦَ اﻟﻄﱠﯿﱢﺒَﺎتِ وَﻓَﻀﱠﻠْﻨَﺎھُﻢْ ﻋَﻠَﻰ ﻛَﺜِﯿﺮٍ ﻣِﻤﱠﻦْ ﺧَﻠَﻘْﻨَﺎ‬
‫ﺗَﻔْﻀِﯿﻞ‬
Artinya : “Dan Sesungguhnya Telah kami muliakan anak-anak Adam, kami
angkut mereka di daratan dan di lautan, kami beri mereka rezki dari yang
baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang Sempurna atas
kebanyakan makhluk yang Telah kami ciptakan.”(QS. Al-Isra: 70)
b. Q.S At-Tin ayat 4

ْ‫ﺗَﻘْﻮِﯾﻢٍ أَﺣْﺴَﻦِ ﻓِﻲ اﻹِْﻧْﺴَﺎنَ ﺧَﻠَﻘْﻨَﺎ ﻟَﻘَﺪ‬


Artinya: “Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang
sebaik-baiknya .”(QS. At-Tin: 4)
Hadits Nabi :
َ‫ﻏَﯿْﺮِهِ زَرْعَ ﻣَﺎءَهُ ﯾَﺴْﻘِﻲَ أَنْ اﻷَْﺧِﺮِ وَاﻟْﯿَﻮْمِ ﺑِﺎ ِ ﯾُﺆْﻣِﻦُ ﻻِﻣِْﺮئٍ ﯾَﺤِﻞﱡ ﻻ‬
Artinya: “Tidak halal bagi seseorang yang beriman kepada Allash dan hari
akhir menyiramkan airnya (sperma) pada tanaman orang lain (vagina istri
orang lain). (Hadits Riwayat Abu Daud, Al-Tirmidzi, dan hadits ini dipandang
shahih oleh Ibnu Hibban)”
Kedua ayat dan Hadits di atas menerangkan bahwa bayi tabung dengan
sperma donor itu haram. Karena pada hakikatnya dapat merendahkan
harkat dan martabat manusia. Dalam hal itu manusia sejajar dengan tumbuh-
tumbuhan dan hewan. Selain itu, diharamkannya bayi tabung dengan sperma
donor karena akan menimbulkan percampuradukkan dan penghilangan nasab,
yang telah diharamkan oleh ajaran Islam. Oleh karena itu, proses bayi tabung
hendaknya dilakukan dengan memperhatikan nilai moral Islami dan tetap
harus menjunjung tinggi etika dan kaidah-kaidah syari’ah.

4.2.2 Landasan Diperbolehkannya Bayi Tabung


Firman Allah SWT:
‫اِنﱠ ﻣَﻊَ اﻟﻌُﺸْﺮِ ﯾُﺸْﺮَا‬
Artinya: “Setiap ada kesulitan, ada kemudahan” (QS. Al-Insyirah: 5).

29
Hadits Nabi yang diriwayatkan dari Anas Ra bahwa Nabi SAW telah
bersabda: “Menikahlah kalian dengan wanita-wanita yang subur (peranak),
sebab sesungguhnya aku akan berbangga di hadapan para Nabi dengan
banyaknya jumlah kalian pada hari kiamat nanti.” (HR. Ahmad)
Dari ayat tersebut, dapat diketahui bahwa syariat Islam mengajarkan kita
untuk tidak berputus asa dan menganjurkan untuk senantiasa berusaha dalam
menggapai karunia Allah. Termasuk dalam kesulitan reproduksi manusia.
Dengan adanya kemajuan teknologi kedokteran dan ilmu biologi modern yang
Allah karuniakan kepada umat manusia agar mereka bersyukur dan
menggunakannya sesuai dengan kaidah-kaidah ajaran-Nya.
Kesulitan reproduksi tersebut dapat di atasi dengan upaya medis agar
pembuahan antara sel sperma suami dengan sel telur istri dapat terjadi di luar
tempatnya yang alami. Hal ini diperbolehkan dengan syarat jika upaya
pengobatan untuk mengusahakan pembuahan dan kelahiran alami telah
dilakukan dan tidak berhasil. Dalam proses pembuahan di luar tempat yang
alami tersebut, setelah sel sperma suami dapat sampai dan membuahi sel telur
istri dalam suatu wadah yang mempunyai kondisi mirip dengan kondisi alami
rahim, maka sel telur yang telah terbuahi diletakkan pada tempatnya yang
alami (rahim istri). Dengan demikian, kehamilan alami diharapkan dapat
terjadi dan selanjutnya akan dapat dilahirkan bayi secara normal. Proses
seperti itu merupakan upaya manusia melalui medis untuk mengatasi
kesulitannya dalam reproduksi dan hukumnya boleh menurut syara’. Sebab
upaya tersebut merupakan upaya untuk mewujudkan apa yang disunnahkan
oleh Islam yaitu kelahiran dan perbanyak anak, yang merupakan salah satu
tujuan dasar dari suatu pernikahan sebagaimana hadits di atas.
Dengan demikian, hukum bagi tabung itu mubah (boleh) dengan syarat
sperma dan sel telur suami-istri itu sendiri bukan dari donor.7

7
Dikutip dari Fauziyah R.A, lilis. Setyawan, Andi. 2007. Kebenaran Al-qur’an dan hadis. Solo: PT Tiga
Serangkai Pustaka Mandiri.

30
4.3 Hukum Bayi Tabung Menurut Pandangan Islam
Perkembangan ilmu dan teknologi memberikan dampak yang
signifikan terhadap pola dan prilaku kehidupan manusia. Perkembangan ilmu
dan teknologi bayi tabung dapat dipandang sebagai solusi atas masalah
kelanjutan keturunan namun juga dapat dipandang sebagai masalah yang
berkaitan dengan etika dan sebagainya.

4.3.1 Mudharat

Sebagaimana kita ketahui bahwa inseminasi buatan pada manusia


dengan donor sperma dan/atau ovum lebih banyak mendatangkan mudharat
daripada maslahah. Maslahah yang dibawa inseminasi buatan ialah membantu
suami-isteri yang mandul, baik keduanya maupun salah satunya, untuk
mendapatkan keturunan atau yang mengalami gangguan pembuahan normal.
Namun mudharat dan mafsadahnya jauh lebih besar, antara lain berupa:

1. Percampuran nasab, padahal Islam sangat menjada kesucian/kehormatan


kelamin dan kemurnian nasab, karena nasab itu ada kaitannya dengan
kemahraman dan kewarisan.

2. Bertentangan dengan sunnatullah atau hukum alam.

3. Inseminasi pada hakikatnya sama dengan prostitusi, karena terjadi


percampuran sperma pria dengan ovum wanita tanpa perkawinan yang sah.

4. Kehadiran anak hasil inseminasi bisa menjadi sumber konflik dalam


rumah tanggal.

5. Anak hasil inseminasi lebih banyak unsur negatifnya daripada anak


adopsi.

6. Bayi tabung lahir tanpa melalui proses kasih sayang yang alami,
terutama bagi bayi tabung lewat ibu titipan yang menyerahkan bayinya kepada
pasangan suami-isteri yang punya benihnya sesuai dengan kontrak, tidak
terjalin hubungan keibuan secara alami. (QS. Luqman:14 dan Al-Ahqaf:14).

7. Munculnya persewaan rahim dan permasalahannya.

8. Bertentangan dengan kodrat dan fitrah manusia sebagai mahluk tuhan.

31
9. Kemajuan teknologi telah memperbudak manusia.

10. Memerlukan biaya yang besar sehingga hanya dapat dijangkau oleh
kalangan tertentu.

4.3.2 Maslahah

Adapun maslahah dari teknik bayi tabung, antara lain :

1. Memberi harapan kepada pasangan suami istri yang lambat punya anak
atau mandul.

2. Memberikan harapan bagi kesejahteraan umat manusia.

3. Menghindari penyakit (seperti penyakit menurun/genetis, sehingga untuk


kedepan akan terlahir manusia yang sehat dan bebas dari penyakit keturunan.

4. Menuntut manusia untuk menciptakan sesuatu yang baru.

4.4 Status Anak Hasil Bayi Tabung menurut Islam


Status anak hasil inseminasi dengan donor sperma atau ovum menurut hukum
islam adalah tidak sah dan statusnya sama dengan anak hasil prostitusi. UU
Perkawinan pasal 42 No.1/1974: ”Anak yang sah adalah anak yang dilahirkan
dalam atau sebagai akibat perkawinan yang sah.” maka memberikan
pengertian bahwa bayi tabung dengan bantuan donor dapat dipandang sah
karena ia terlahir dari perkawinan yang sah. Tetapi inseminasi buatan dengan
sperma atau ovum donor tidak di izinkan karena tidak sesuai dengan
Pancasila, UUD 1945 pasal 29 ayat 1.
Pasal dan ayat lain dalam UU Perkawinan ini, terlihat bagaimana
peranan agama yang cukup dominan dalam pengesahan sesuatu yang
berkaitan dengan perkawinan. Misalnya pasal 2 ayat 1 (sahnya perkawinan),
pasal 8 (f) tentang larangan perkawinan antara dua orang karena agama
melarangnya, dll. lagi pula negara kita tidak mengizinkan inseminasi buatan
dengan donor sperma dan/atau ovum, karena tidak sesuai dengan konstitusi
dan hukum yang berlaku.

32
Asumsi Menteri Kesehatan bahwa masyarakat Indonesia termasuk
kalangan agama nantinya bisa menerima bayi tabung seperti halnya KB.
Namun harus diingat bahwa kalangan agama bias menerima KB karena
pemerintah tidak memaksakan alat/cara KB yang bertentangan dengan agama.
Contohnya : Sterilisasi, Abortus. Oleh karena itu pemerintah diharapkan
mengizinkan praktek bayi tabung yang tidak bertentangan dengan agama.

33
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Inseminasi adalah teknik pembuahan (fertilisasi) antara sperma suami dan


sel telur isteri yang masing-masing diambil kemudian disatukan di luar kandungan
(in vitro) – sebagai lawan “di dalam kandungan” (in vivo).
Secara hukum, bayi yang dihasilkan dari inseminasi ini memiliki dua macam
yakni diperbolehkan dengan catatan sperma yang diambil merupakan sperma yang
berasal dari suami istri yang sah, dan ditanam dalam rahim istri tersebut (bukan
rahim orang lain) dan tidak diperbolehkan, jika seperma yang diambil berasal dari
laki-laki lain begitu pula dari wanita lain.

5.2 Saran

Pemerintah hendaknya melarang berdirinya Bank Nuthfah / Sperma dan Bank


Ovum untuk pembuatan bayi tabung, karena selain bertentangan
denganPancasila dan UUD 1945, juga bertentangan dengan norma agama dan
moral,serta merendahkan harkat manusia sejajar dengan hewan yang
diinseminasitanpa perlu adanya perkawinan.
Pemerintah hendaknya hanya mengizinkan dan melayani
p e r m i n t a a n b a y i tabung dengan sel sperma dan ovum suami istri yang
bersangkutan tanpa ditransfer ke dalam rahim wanita lain (ibu titipan), dan
pemerintah hendaknya juga melarang keras dengan sanksi-sanksi
hukumannya kepada dokter dan s i a p a y a n g m e l a k u k a n i n s e m i n a s i
b u a t a n p a d a m a n u s i a d e n g a n s p e r m a dan/atau ovum donor yang tidak
bertentangan dengan hukum islam.

34
DAFTAR PUSTAKA

Abdul Rahman, Roli. Khamza H. 2007. Menjaga Akidah dan Akhlak. Solo: PT Tiga
Serangkai Pustaka Mandiri.

Ali, Muhammad Daud. 1984. Kedudukan Islam dan Sistem Hukum Islam. Jakarta:
Yayasan Risalah

Bayi Tabung dalam Pandangan Islam (Athfaalul Anaabib )


(http://keperawatanreligionnovihermawati.wordpress.com/) , diakses pada Kamis,
17 April 2014

Bayi Tabung dalam Pandangan Islam (http://putraelhilal.blogspot.com/2013/10/bayi-


tabung-dalam-pandangan-islam.html). Diakses pada Jumat, 25 April 2014

Fauziyah R.A, lilis. Setyawan, Andi. 2007. Kebenaran Al-qur’an dan hadis. Solo: PT
Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.

Ibrahim, Tatang. 1994. Fiqih. Bandung: CV. ARMICO.

Pandangan Islam Terhadap Bayi Tabung


(http://mihwanuddin.wordpress.com/2011/05/13/pandangan-islam-terhadap-bayi-
tabung/ ) , diakses pada Kamis, 17 April 2014

35