You are on page 1of 3

BAB I PENDAHULUAN

Dalam upaya revitalisasi kebijakan mendukung diversifikasi pangan dan transformasi


pertanian jangka panjang dijumpai keterkaitan yang sangat erat antara kebijakan dan dasar
hukum yang diterbitkan oleh berbagai kelembagaan terkait upaya peningkatan ketahanan
pangan nasional, khususnya dalam tubuh internal Kementerian Pertanian, dengan
implementasi yang bersifat teknis di lapangan.Keterkaitan tersebut mencakup keterkaitan
secara politis dan secara teknis implementatif.Salah satu target yang dicanangkan pemerintah
dan sangat bermakna dalam kaitannya dengan penyusunan kebijakan revitalisasi pertanian
adalah target pencapaian sasaran diversifikasi produksi dan konsumsi komoditas
pertanian.Amanah undang-undang yang sangat bersifat politis sebagai payung pengembangan
kebijakan, harus diimplementasikan dengan cara yang sebaik-baiknya, terutama yang
berkaitan dengan implementasi program dan kegiatan yang memerlukan dukungan teknis
yang didukung strategi implementasi terapan sesuai dengan kondisi setempat.
Kebijakan diversifikasi konsumsi pangan utama selain beras pada akhirnya akan
bermuara pada kondisi swa-sembada beras yang selama ini selalu diposisikan sebagai
pendorong utama dalam meningkatkan ketahanan dan kemandirian pangan nasional. Dalam
kondisi demikian, upaya diversifikasi komoditas dapat meningkatkan posisi dan daya saing
komoditas pertanian dengan penyediaan berbagai sumber pangan selain beras. Dalam jangka
menengah, strategi diversifikasi ini mampu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan
keluarga tani yang berimplikasi pada peningkatan kemandirian pangan, daya beli petani dan
masyarakat pedesaan.
Kebijakan diversifikasi komoditas pada hakekatnya adalah kebijakan yang
berseberangan dengan kebijakan yang terlalu berpihak kepada komoditas beras. Kebijakan
yang bias terhadap padi akan mendorong dan meningkatkan penerapan sistem usaha tani padi
monokultur. Konsekuensi sistem monokultur padi antara lain adalah menurunkan peran
komoditas pangan lain yang sebenarnya memiliki posisi dan status tidak berbeda dengan
beras, dan dapat juga menurunkan daya saing komoditas pertanian secara keseluruhan.
Konsep diversifikasi dalam kaitannya dengan sistem produksi pangan guna mendukung
ketahanan dan kemandirian pangan nasional mencakup aspek yang luas. Upaya diversifikasi
komoditas, dalam hal ini meningkatkan keragaman produksi dari komoditas pangan pokok
(padi) ke berbagai komoditas pangan, merupakan suatu upaya yang sangat strategis dan
mencakup aspek-aspek teknis dan teknologi, sosial- budaya, ekonomi, dan politis.
Upaya diversifikasi kegiatan produksi komoditas tanaman pangan dan diversifikasi pangan
secara lebih intensif telah dilaksanakan sejak beberapa dekade yang lalu. Upaya diversifikasi,
baik diversifikasi usaha, maupun diversifikasi pangan, diterapkan untuk mengurangi resiko
usaha dan resiko kekurangan pangan. Pada beberapa kelompok masyarakat, diversifikasi
usaha pertanian merupakan kearifan lokal yang telah dilakukan sejak beberapa abad. Pada
masa itu, peluang kegagalan bercocok tanam jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi
masa ini. Kondisi demikian berdampak sangat besar terhadap pola konsumsi keluarga.
Dengan pertimbangan tersebut, diversifikasi pangan dalam bentuk penyesuaian poia
konsumsi berkembang di berbagai komunitas petani dan masyarakat pedesaan.
Diversifikasi horizontal yang diterapkan di berbagai wilayah di Indonesia yang mampu
meningkatkan pendapatan keluarga tani sangat erat kaitannya dengan kondisi ekosistem lokal
dimana keluarga tani melaksanakan kegiatannya. Teknik-teknik budidaya tumpang sari,
tanaman sela di lahan perkebunan, surjan, dan Iain-lain, pada umumnya disesuaikan dengan
peluang pemasaran produk yang dihasilkan. Dalam kondisi ini, selain pertimbangan ekonomi
dan teknis, diperlukan pula dukungan kebijakan dari pemerintah daerah setempat. Dengan
demikian, pilihan atas komoditas yang akan dikembangkan dalam sistem usaha tani
diversifikasi wilayah harus memperhatikan minat dan tujuan pembangunan wilayah otonom
setempat.
Sejarah pembangunan pertanian nasional mencatat bahwa program diversifikasi pangan,
termasuk program diversifikasi usaha tani, secara politis telah diawali sejak dekade 1960-an
ketika program pembangunan limatahun (Pelita-1) dicanangkan. Dekade 2001-2010
menempatkan program diversifikasi secara politis dalam rencana strategis KemeNterian
Pertanian. Upaya diversifikasi pangan saat ini dikembangkan sebagai suatu program
berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 68/2002 yang mengamanatkan penganekaragaman
pangan tanpa mengabaikan sumber daya, kelembagaan, dan budaya lokal. Lebih jauh lagi
Perpres No. 22/2009 mengamanatkan percepatan pelaksanaan diversifikasi pangan terkait
dengan aspek konsumsi. Operasionalisasi dari Perpres tersebut kemudian ditindak lanjuti
dengan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 43/Permentan/OT. 140/10/2009 tentang gerakan
percepatan penganeka-ragaman konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal.
Dalam ranah operasional, alasan penganekaragaman pangan dan konsumsi pangan antara
lain adalah peningkatan konsumsi beras yang disebabkan oleh peningkatan populasi dan
tingkat konsumsi yang tinggi, fluktuasi produksi komoditas pangan yang disebabkan oleh
perubahan iklim, kebijakan yang tidak mendukung (antara lain kebijakan Raskin), dan
pemanfaatan sumber pangan lokal masih sangat rendah. Pengembangan diversifikasi
membutuhkan pendekatan simultan implementasi kebijakan pemerintah sebagai dorongan
politis (political will), infrastruktur fisik dan kelembagaan petani serta stakeholder
pembangunan pertanian lainnya, partisipasi stakeholder pembangunan, dan inovasi teknologi
yang sesuai dengan kondisi tekno-sosio-ekonomi spesifik lokasi. Keempat prakondisi ini
merupakan faktor kunci keberhasilan program revitalisasi dan diversifikasi pangan nasional.
Pergeseran konsumsi beras ke pangan non-beras diharapkan mampu mendorong daya serap
pasar terhadap produksi pangan non-beras, yang selanjutnya akan meningkatkan minat petani
untuk mengembangkan komoditas pangan non-beras, khususnya pangan lokal.