You are on page 1of 27

III.

LENGAS TANAH (AIR)

Sifat-sifat dan Fungsi dari Air


Di dalam kisaran temperatur yang sempit, air mungkin berada sebagai zat padat (es), zat
cair, atau gas (uap). Sebagai zat cair, (1) air rnempunyai panas spesifik yang tinggi, ini
mengandung pengertian bahwa air mernpunyai kapasitas untuk rnenyerap sejumlah besar panas
dengan perubahan temperatur yang relatit kecil. (2) Air mernpunyai panas laten penguapan yang
tinggi, ini mengandung arti bahwa sejumlah besar panas diperlukan untuk mengubah air dari
keadaan cair menjadi uap. Jadi, pada saat air menguap dari suatu permukaan tertentu dari
tanaman, memberikan pengaruh yang nyata terhadap pendinginan permukaan tersebut. (3) Air
mernpunyai panas peleburan es yang tinggi, ini mengandung arti bahwa sejumlah besar panas
dilepaskan pada saat air berubah dari keadaan cair menjadi zat padat (es). (4) Selanjutnya, air
mernpunyai kerapatan maksimum sebagai zat cair pada 4°C (40°F). Ini memberi jawaban
mengapa es mengapung di dalam air. (5) Air mernpunyai konstanta dielektrik yang tinggi. Ini
mengandung arti bahwa sejumlah banyak senyawa berubah menjadi larutan dengan air dan
beberapa molekulnya memisahkan diri rnenjadi ion-ion yang mempercepat reaksi kimia. (6)
Suatu hal yang menakjubkan adalah susunan dari masing-masing kedua atom hidrogen dengan
atom oksigen. Seperti yang diperlihatkan pada Gambar 7 bahwa kedua atom hidrogen
menyimpang (melepaskan diri) dari atom oksigen pada temperatur sekitar 105 0C. Hasilnya,
oksigen dari molekul air mengikat hidrogen dan molekul yang berdekatan dengan suatu
fenomena yang dinamakan ikatan hidrogen, ikatan ini memberikan sifat kohesif dari air, suatu
fenomena penting di dalam gerakan air dalam pembuluh xilem. (7) Lebih lanjut, gabungan
senyawa yang unik dengan CO2 dalam pembentukan bahan awal (gula), suatu senyawa yang
mengandung energi potensial, dan (8) penggabungan di dalam reaksi hidrolik pada dekomposisi
bahan yang terbentuk tersebut dan pelepasan energi bebas.
Gambar 7. Susunan atom-atom hidrogen dan oxygen, dan muatan positif negatif dalam
molekul air.

Penyerapan Air dan Aliran Transpirasi


Penyerapan air dan aliran transpirasi berhubungan dengan alur dimana air bergerak. Pada
umumnya, air masuk ke dalam tubuh tanaman melalui bagian yang halus dari akar tanaman, pada
kebanyakan tanaman, melalui rambut akar dan bergerak secara lateral di dalam dinding korteks,
melewati protoplasma dari endodermis, dan masuk ke dalam pembuluh xilem (lihat gambar 8).
Dari xilem di dalam sistem akar, air bergerak secara vertikal masuk ke dalam xilem dari sistem
batang dan akhirnya masuk ke dalam xilem dari daun. Dari xilem daun, air mengalir secara
lateral melalui khlorenkim dan akhimya ke ruang stomata. Di dalam ruang stomata, air berubah
bentuk menjadi uap, dan jika stomata terbuka, molekul-molekul uap pergi ke udara luar. Karena
sejumlah besar panas diperlukan untuk mengubah air ke bentuk uap, transpirasi membantu
menjaga daun tetap dingin. Ini kelihatan menjadi masalah khusus selama periode intensitas
penyinaran yang berlebihan.
Gambar 8. Aliran air dari rambut akar ke endodermis.

Ciri-ciri Utama dari Aliran Transpirasi


Aliran transpirasi terjadi secara kontinyu diseluruh tubuh tanaman dari daerah
penyerapan sampai ke daerah penguapan, dan laju gerakan melalui tubuh tanaman kelihatannya
terutama diatur oleh laju transpirasi. Hal ini dimungkinkan dalam kedua hal tersebut oleh tenaga
kohesi yang sangat besar diantara molekul air yang berdekatan. Seperti yang telah dikemukakan,
tenaga yang sangat besar ini disebabkan adanya ikatan atom-atom hidrogen oleh atom oksigen
yang berdekatan dari molekul air.

Keperluan untuk Mengatur Keseimbangan antara Laju Penyerapan dan Transpirasi Air.
Di dalam tanaman sebagian besar air hilang lewat daun. Untuk ini ada beberapa alasan:
(1) kebanyakan daun tanaman adalah datar dan lebar, dengan demikian menyediakan permukaan
luar yang lebar untuk mendukung terjadinya evaporasi; (2) untuk terjadinya fotosintesis maka
stomata daun harus terbuka; (3) ketika stomata terbuka, sel-sel yang lembab di dalam daun
dipaksa untuk melakukan evaporasi; dan (4) luas dari permukaan internal daun adalah beberapa
kali daripada permukaan external (lihat Gambar 4.3.). Jadi, jika fotosintesis berlangsung di
bawah kondisi laju evaporasi yang tinggi, laju transpirasi yang tinggi tidak dapat dielakkan; dan
jika transpirasi berlangsung dengan laju yang tinggi, maka laju penyerapan air harus tinggi pula.
Dengan kata lain, jumlah air yang masuk ke dalam tanaman per satuan waktu harus sama dengan
jumlah air yang keluar. Jika laju penyerapan lebih rendah daripada laju transpirasi , sel-sel
penjaga akan kehilangan turgor dan menjadi lembek dan stomata akan tertutup sebagian atau
seluruhnya. Hal ini akan menyebabkan terjadinya penurunan laju difusi CO2 ke dalam sel-sel
berkhlorofil yang mengakibatkan penurunan pembentukan bahan makanan (fotosintat) dan
akhirnya mengakibatkan terjadinya penyusunan pertumbuhan dan hasil. Untuk lebih memahami
bagaimana defisit air terjadi di dalam tanaman dan bagaimana hal ini mengakibatkan
pertumbuhan yang kurang sempurna dan biasanya menyebabkan hasil yang rendah, perlu adanya
pemahaman faktor-faktor yang berpengaruh terhadap laju penyerapan atau pemasukan air, dan
faktor-faktor yang berpengaruh terhadap laju transpirasi atau keluarnya air.

Pengambilan atau Penyerapan Air


Pengambilan atau penyerapan air meliputi gerakan atau difusi air dari tanah disekitar akar
tanaman ke xilem dari sistem akar. Pada umumnya, meliputi difusi air dengan gradien (landaian)
tekanan dan difusi air melawan gradien tekanan. Pada kedua kasus tersebut, suatu sumber energi
bebas diperlukan. Energi bebas ini datang dari dekomposisi gula sederhana, yaitu glukosa. Di
dalam difusi air dengan gradien tekanan, gula diperlukan untuk memelihara konsentrasi air di
dalam tanah tetap relatif tinggi, dan di dalam difusi air melawan gradien tekanan, gula diperlukan
untuk menyediakan tenaga untuk mendorong molekul-molekul air melawan tekanan difusinya
sendiri. Dari sudut pandang termodinamika dan perbedaan dalam potensial air, hubungan ini
mungkin dapat digambarkan sebagai berikut. Energi bebas dari air di dalam tanah adalah lebih
besar daripada energi bebas air di dalam rambut akar, korteks, endodermis, dan perisikel; yang
energi bebasnya lebih besar daripada energi bebas di dalam xilem.
Perlu selalu diingat bahwa gula diperlukan untuk penyerapan air. Karena fotosintesis
menghasilkan gula, suatu bahan yang mengandung energi bebas potensial dan karena respirasi
menguraikan gula tersebut, dengan melepaskan energi kinetik. Faktor lingkungan yang
berpengaruh terhadap laju reaksi-reaksi dasar baik secara langsung maupun tidak langsung
berpengaruh terhadap penyerapan air oleh tanaman.

Faktor Tanah
►Macam dan Jumlah Air di dalam Tanah
Apabila tanah berdrainase baik di jenuhi air, contohnya sehabis hujan deras, sejumlah air
bergerak melalui ruang pori dan mengalir menjauh sebab adanya gaya grafitasi. Air yang masih
tertinggal diikat dengan melawan gaya grafitasi, dan apabila diukur keadaan ini dinamakan
kapasitas lapang. Jadi, kapasitas lapang dari tanah didefinisikan sebagai banyaknya air yang
diikat melawan gaya grafitasi, dan apabila diukur keadaan ini dinamakan kapasitas lapang. Jadi,
kapasitas lapang dari tanah didefinisikan sebagai banyaknya air yang diikat melawan gaya
grafitasi. Kapasitas lapang bervariasi sesuai dengan jenis tanah. Hasil penyelidikan kapasitas
lapang tanah ditampilkan pada Tabel 1. Tanah pasir dan lempung berpasir memiliki kapasitas
lapang lebih rendah daripada tanah liat atau lempung liat. Secara umum tanah bertekstur kasar
memiliki kapasitas lapang lebih rendah daripada tanah bertekstur halus.
Tidak semua air yang diikat tanah melawan gaya grafitasi tersedia bagi tanaman.
Meskipun pada saat sel-sel penjaga kehilangan turgor dan daun gugur atau layu, tanah masih
mengandung sejumlah tertentu air; jadi tanaman diperlukan untuk menentukan jumlah air di
dalam tanah yang tidak dapat diserap. Pada umumnya, dilakukan dengan menempatkan contoh
tanah di dalam kaleng-kaleng berlapis seng, setiap kaleng mernpunyai lobang dibagian atasnya
untuk keluarnya batang tanaman, dengan menanam biji tanaman herbaceous, biasanya tanaman
bunga matahari, pada masing-masing kaleng; dan mengatur atau menjaga tanah berada disekitar
kapasitas lapang sampai tanaman mempunyai tiga atau empat helai daun dan kernudian
membiarkan daun tanaman menjadi layu; dan akhirnya dengan menempatkan tanaman di ruang
gelap dengan kelembaban relatif yang tinggi. Apabila daun tidak pulih dari layu, jumlah air di
dalam tanah diukur untuk menentukan persentase layu permanen. Perlu diperhatikan bahwa
tanaman ditempatkan di ruang gelap dan lembab, suatu kondisi yang memungkinkan laju
transpirasi rendah. Jadi persentase layu permanen dapat didefinisikan sebagai sejumlah air di
dalam tanah apabila tanaman yang tumbuh dengan cepat gagal untuk pulih kembali dari layu di
bawah kondisi transpirasi rendah.
Seperti halnya kapasitas lapang, persentase layu permanen adalah tidak sama untuk
semua jenis tanah. Penelitian tentang persentase layu permanen hasilnya diperlihatkan pada
Tabel 1. Perhatikan persentase layu permanen rendah dari pasir halus dan ketidakjelasan
hubungan antara tekstur dengan persentase layu permanen dan tipe-tipe tanah yang lain.
Data menunjukkan bahwa tanah bertekstur kasar mernpunyai persentase layu permanen
rendah. Sebagai contoh, lempung berpasir halus Yolo memiliki persentase layu permanen lebih
tinggi daripada lempung liat Wooster dan lempung liat Dunkirk. Jadi data memperlihatkan
bahwa tanah bertekstur kasar memiliki persentase layu permanen rendah, dan tidak ada
hubungan yang pasti antara tekstur dengan persentase layu permanen yang terjadi pada tipe-tipe
tanah lain.
Tabel 1. Kandungan air dari beberapa jenis tanah
Kapas. Layu Air
Jenis Tanah Lokasi Lapang permanen tersedia
% % %
Pasir halus plainfield Ohio 2,4 1,4 1,0
Pasir Yuma Arizona 4,8 3,2 1,6
Lempung berpasir Delano California 9,1 4,2 4,9
Lempung berpasir Redman Oregon 18,8 6,6 12,2
Lempung berpasir halus Yolo California 16,8 8,9 7,9
Lempung liat Wooster Ohio 23,4 6,1 17,3
Lempung liat Dunkirk New York 21,7 5,0 16,7
Lempung liat Aiken California 31,1 25,7 5,4
Sumber. Edmond et al., 1977.

Perbedaan antara kapasitas lapang dan persentase layu permanen dinamakan air tersedia,
yaitu air yang dapat diserap tanaman. Narnun demikian, seperti yang telah dikatakan, persentase
layu permanen ditentukan dengan menempatkan tanaman diruang gelap dan lembab, suatu
kondisi yang disertai laju transpirasi relatif tinggi dalam kondisi terang dan udara kering,
persentase layu permanen, seperti yang ditentukan dengan metode ini, kemungkinan akan terlalu
rendah untuk tanaman yang ditumbuhkan di bawah kondisi transpirasi tinggi. Jadi, tanah dengan
kapasitas lapang rendah tentu mempunyai jumlah air tersedia rendah pula, tetapi tanah dengan
kapasitas lapang tinggi mungkin mempunyai atau tidak mempunyai air tersedia yang tinggi.

►Tegangan pada Lapisan Kapiler


Pada umumnya, air kapiler bergerak di bawah tenaga kapiler, dan ini selalu di bawah
keadaan tegang. Namun demikian, derajat ketegangan sangat bervariasi antara ketegangan pada
kapasitas lapang dan pada persentase layu permanen. Pada umumnya ketegangan bervariasi dari
0,3 sampai 0,4 atmosfer pada kapasitas lapang hingga 15 atmosfer pada persentase layu
permanen dan meningkat secara cepat sebesar satu atmosfer untuk lempung berpasir ringan dan
tiga atmosfer atau lebih untuk liat dan lempung liat. Energi bebas dari lapisan kapiler menurun
sesuai dengan hal tersebut. Pada umumnya ini menjelaskan mengapa jumlah air tersedia adalah
rendah di dekat persentase layu permanen, mengapa dalam tindakan irigasi tanah di sekitar
daerah pekarangan harus dibasahi sampai kapasitas lapang, dan mengapa irigasi harus lebih
sering pada kondisi transpirasi tinggi daripada di bawah kondisi transpirasi rendah.

►Laju Gerakan dari Air Tersedia

Faktor-faktor penting yang berpengaruh terhadap gerakan air tersedia adalah temperatur
tanah dan konsentrasi dari larutan tanah. Temperatur berpengaruh terhadap gerakan air tersedia
melalui tiga cara. Ia mempengaruhi tenaga kinetik dan viskositas dari molekul-molekul dan
tegangan permukaan dari lapisan kapiler. Pada umumnya peningkatan temperatur meningkatkan
tenaga kinetik dan menurunkan viskositas dan tegangan permukaan, dan pengaruh temperatur
tersebut terjadi pada kisaran 0 dan 35°C. Jadi air bergerak lebih lambat pada tanah dingin
daripada pada tanah hangat (lihat Gambar 9). Pengaruh temperatur ini antara lain menjelaskan,
mengapa growers (pengusaha tanaman) menggunakan pemanas pada alas meja untuk
penggandaan tanaman, mengapa mereka menggunakan air hangat untuk mengairi tanamannya
yang diusahakan di dalam greenhouse pada musim dingin, mengapa tanaman herbaceous yang
tumbuh cepat di dalam greenhouse akan layu jika diairi dengan air dingin pada saat cuaca sangat
cerah (banyak sinar matahari), dan mengapa tanaman berdaun lebar yang tidak menggugurkan
daun (evergreen) layu pada musim dingin, khususnya pada saat ada cahaya matahari banyak.
Konsentrasi dari larutan tanah berkaitan dengan partikel-partikei terlarut per satuan
volume dari larutan. Air mernpunyai sifat pelarut yang besar. Oleh karena itu, air di dalam tanah
mengandung banyak aneka bahan-bahan yang terlarut. Bahan-bahan terlarut di dalam larutan
biasanya menghambat gerakan molekul-molekul air di dalam larutan, jadi semakin besar jumlah
partikel-partikel terlarut per unit volume larutan, semakin besar hambatan gerakan molekul-
molekul air. Biasanya, air tanah mengandung konsentrasi relatif rendah zat terlarut dan air
tersedia bergerak secara bebas ke daerah penyerapan air. Namun demikian, kadang-kadang
konsentrasi zat terlarut menjadi tinggi sehingga gerakan air masuk ke dalam tanaman menjadi
lambat atau bahkan terjadi arah gerakan yang sebaliknya yaitu dari tanaman ke tanah. Hal ini
terjadi apabila petani memberikan pupuk dalam jumlah yang berlebihan dekat dengan akar
tanaman atau biji.
Gambar 9. Hubungan antara temperatur tanah dengan laju penyerapan air
Catatan: bahwa temperatur tanah rendah menghambat laju peyerapan pada
kedua jenis tanaman.

►Kedalaman Air Tanah


Air tanah berhubungan dengan permukaan dari daerah di dalam tanah yang dijenuhi
dengan air. Pada daerah ini, ruang pori-pori seluruhnya terisi air, hasilnya jumlah oksigen tidak
mencukupi untuk kebutuhan pertumbuhan dan pernafasan dari sistem perakaran. Dalam
kenyataan, sebab gerakan kapilaritas, ketersediaan oksigen yang tidak mencukupi berada pada
jarak 30 hingga 46 cm dari air tanah. Jadi, dengan faktor lain yang menguntungkan, kedalaman
penetrasi akar terbatas pada jarak yang berkembang dari premukaan atas tanah sampai sekitar 30
cm di atas permukaan air tanah. Sebagai contoh, apabila air tanah berada 1,8 m di bawah
permukaan tanah, kedalaman penetrasi akar terbatas sampai 1,5 m. Suatu pertanyaan muncul:
Berapa kedalaman optimum dari air tanah untuk produksi tanaman ? Pada umumnya, tanah
dengan air tanah dekat permukaan selama seluruh periode pertumbuhan tanaman adalah tidak
baik untuk produksi tanaman. Sebagai contoh, penelitian tentang hubungan antara ketinggian air
tanah dan produktifitas dari tanaman rasberi di suatu kebun di Michigan menunjukkan bahwa
tanaman dengan sistem perakaran mencapai kedalaman 18 cm dari permukaan tanah,
mempunyai vigor yang lemah dan tidak berproduksi karena keadaan air tanah yang sedikit. Di
lain pihak, tanaman dengan sistem akar yang berpenetrasi sampai kedalaman 35,6 cm mampu
berproduksi dan mernpunyai vigor yang cukup baik. Penelitian yang serupa menunjukkan bahwa
blueberry jenis “highbush” menghendaki kedalaman air tanah 30-61 cm dari permukaan tanah,
dan bawang bombai memerlukan kedalaman air tanah 61-91 cm dari permukaan tanah. Pada
umumnya, tanah memiliki air tanah dekat dengan permukaan, biasanya berkisar 0,3-1,2 in,
tergantung dari permukaan transpirasi dari tanaman dan tipe dari tanah, kelihatannya menjadi
pembatas yang serius terhadap pertumbuhan dari sistem akar dan pertumbuhan dan hasil dari
tanaman.

Faktor Tanaman
►Laju Fotosintesis
Seperti yang disebutkan terdahulu, daerah penyerapan air tepat berada dibalik titik
tumbuh dari sistem akar, yang mernpunyai fungsi menyerap air dan zat yang terlarut. Pada
umumnya, tenaga penyerapan air dari daerah ini terutama diatur oleh tekanan osmotiknya.
Dalam hal ini ditentukan oleh perbedaan konsentrasi air pada setiap sisi membran sitoplasma
dari sel-sel penyerap. Membran hidup tersebut bersifat semipermeabel, mereka mengijinkan
beberapa zat tertentu untuk melewatinya tetapi tidak mengijinkan untuk zat yang lainnya.
Biasanya, membran tersebut permeabel untuk larutan mineral dan air dan impermeabel untuk
bahan-bahan organik, seperti gula dan protein dalam larutan. Gula dan protein tersebut berada
dalam bentuk larutan bersama dengan air di dalam daerah penyerapan dan dalam konsentrasi
lebih tinggi daripada mineral-mineral yang terlarut dengan air dalam tanah. Karena konsentrasi
air yang lebih rendah di dalam sel-sel penyerapan, air berdifusi dari tanah ke dalam akar.
Konsentrasi air yang relatif rendah di daerah penyerapan adalah karena adanya gula di dalam sel-
sel di daerah penyerapan. Fotosintesis membentuk gula. Gula tersebut turun melalui phloem
batang ke sistem akar. Akibatnya, apabila faktor-faktor lain mendukung, tanaman dengan laju
fotosintesis yang tinggi dapat menyerap lebih banyak air per satuan waktu daripata tanaman
dengan laju fotosintesis yang rendah. Jadi tanaman daun hijau tua atau berdaun sehat mempunyai
kemampuan menyerap air lebih banyak daripada tanaman dengan daun liijau muda atau yang
mempunyai daun berpenyakit.

►Laju Respirasi
Seperti yang telah dinyatakan terdahulu, bahwa daerah penyerapan air mengandung sel-
sel hidup. Sel-sel tersebut melakukan respirasi secara terus-menerus. Jadi mereka secara
kontinyu melepaskan CO2 dan mengambil O2. Percobaan menunjukkan bahwa apabila oksigen
dari udara tanah diganti dengan nitrogen atau karbon dioksida, penyerapan air akan menurun
atau berhenti sama sekali. Kebutuhan akan oksigen untuk penyerapan air menekankan
pentingnya drainase yang cukup (baik). Jika ruang pori tanah dijenuhi air, oksigen untuk
respirasi dari sel-sel hidup menjadi terbatas. Menghasilkan akibat, protoplasma mati dan
penyerapan air berhenti. Untuk mengeluarkan air dari tanah dan memasukkan udara yang
mengandung oksigen ke dalam tanah, drainase diperlukan. Kebanyakan tanaman buah, sayuran
dan bunga menghendaki tanah berdrainase baik.

►Kedalaman dan Kerapatan Permukaan Penyerapan


Kedalaman permukaan penyerapan berkaitan dengan kedalaman dari penetrasi akar ke
dalam tanah. Pada umumnya kedalaman penetrasi bervariasi dengan stadia pertumbuhan, jenis
tanaman dan jenis tanah. Di dalam tanah berdrainase baik beberapa tanaman memiliki sistem
perakaran yang dangkal, yang lain memiliki sistem perakaran yang dangkal, yang lain memiliki
sistem perakaran yang agak dalam, dan sebagian tanaman yang lain lagi memiliki sistem
perakaran yang dalam. Secara alamiah, tanaman dengan sistem perakaran yang dalam dapat
memperoleh air lebih banyak daripada tanaman yang mempunyai sistem perakaran dangkal. Hal
ini terutama berlaku selama keadaan transpirasi tinggi. Perbedaan kedaiaman penetrasi akar dari
tanaman diperlihatkan pada tabel 2.
Tabei 4.2. Luas dan kedalaman sistem perakaran dari beberapa tanaman yang ditanam pada tanah
berdrainase baik

Dangkal dan sempit Agak dalam dan luas Dalam dan luas
Seledri, selada, bawang Bit gula, kobis, wortel. Asparagus, belewah,
ketimun, buncis, jagung ketela rambat tomat,
manis semangka

Kerapatan dari permukaan penyerapan berkaitan dengan jumlah dari rambut akar dan akar-akar
halus yang dimiliki setiap satuan volume dari tanah. Misal, ambil dua contoh tanaman A dan B.
Sistem perakaran tanaman A memiliki satu juta akar rambuat setiap kaki kubik dari tanah dengan
kedalaman, lebar dan panjang 10 kaki (3 meter) dan akar dari tanaman B hanya memiliki 10.000
akar rambuat untuk setiap kaki kubik dari tanah yang dikuasai perakaran. Oleh karena air kapiler
bergerak untuk jarak yang sangat pendek, tanaman A, karena memiliki kerapatan perakaran yang
tinggi, akan memperoleh jumlah air yang lebih besar daripada tanaman B. Jadi baik kedalaman
penetrasi akar maupun keadaan percabangan akar adalah penting, khususnya selama periode
transpirasi tinggi. Sifat utama dari tanaman yang tahan kekeringan adalah bahwa mereka
memiliki sistem perakaran yang dalam, luas dan percabangan yang banyak.

► Laju transpirasi
Pada umumnya, dengan faktor-faktor lain seimbang, jumlah air yang ditranspirasikan
oleh suatu tanaman lebih kurang sebanding secara langsung dengan luas permukaan transpirasi
yang dimilikinya. Jadi, tanaman tanpa daun melakukan transpirasi lebih sedikit daripada tanaman
berdaun. Dalam kenyataan, kehilangan air dari tanaman-tanaman yang menggugurkan daun pada
akhir musim gugur, dingin dan awal musim semi, adalah sangat kecil bila dibandingkan tanaman
yang mempunyai daun penuh. Ini penting untuk diterapkan pada pemindahan tanaman semak
dan tanaman yang mudah menggugurkan daun. Pemindahan pohon atau semak merusak
beberapa akar penyerap. Suatu sistem penyerapan baru harus dibentuk sebelum penyerapan dapat
mencukupi permintaan transpirasi. Ini menjelaskan mengapa pohon semak muda dan pohon yang
mudah menggugurkan daun dipindahkan pada musin (saat) tidak aktif tumbuh. Selama musim
ini tanaman tersebut tidak memiliki daun penuh sehingga jumlah air yang ditranspirasikan relatif
sedikit.
► Struktur Internal dari Daun
Struktur internal daun dari tumbuhan dapat sangat bervariasi, baik mengenai jumlah
ruang interselular dan kepadatan dari khlorenkim, jaringan yang mengandung khloroplas, jumlah
lapisan epidermis, serta susunan dan posisi dari sel-sel penjaga. Sebagai contoh, pada umumnya,
daun apel hanya mempunyai permukaan luar, khlorenkhimnya mempunyai ruang interseluler
yang besar dan epidermisnya hanya terdiri dari satu lapisan sel. Sedangkann, daun pinus putih
mempunyai baik permukaan dalam maupun permukaan luar. Khlrorenkhimnya padat dengan
sangat sedikit ruang interseluler dan epidermisnya mengandung dua atau lebih lapisan dari sel-
sel yang sangat rapat. Di bawah keadaan transpirasi tinggi lapisan dalam dari daun-daun yang
berdekat saling merapatkan diri sehingga disana terjadi pengurangan transpirasi dengan atau
tanpa adanya gangguan difusi CO2 ke dalam daun dan laju fotosintesis.

Faktor Lingkungan
Seperti yang telah dinyatakan, transpirasi adalah difusi dari uap air dari suatu permukaan
tanaman ke udara sekitar. Kebanyakan air ini hilang melalui daun atau batang fotosintetik. Uap
air datang dari lapisan tipis atau larutan air pada permukaan sel-sel yang mengandung
khloroplas. Seperti gas-gas lainnya, molekul-molekul uap air tersebut ketika meninggalkan
permukaan tanaman menghasilkan tekanan. Udara sekitar juga mengandung molekul-molekul
uap air, oleh sebab itu juga menghasilkan tekanan. Jadi laju transpirasi berbanding langsung
dengan perbedaan tekanan uap antara permukaan transpirasi dan udara luar. Perbedaan ini
dinamakan defisit tekanan uap (vapor pressure deficit, VPD). Hubungan antara laju transpirasi
(rate of transpiration) dengan VPD secara matematik dapat dinyatakan sebagai berikut:
1. Laju transpirasi = VP (permukaan transpirasi) - (VP (udara sekitar)
2. VP (permukaan transpirasi) - VP (udara sekitar) = VPD
3. Laju transpirasi = VPD
VP = vapor pressure = tekanan uap.

►Intensitas Cahaya, Temperatur Permukaan Transpirasi dan Udara Sekitar


Dari total energi cahaya yang menimpa jaringan yang mengandung khlorofil, sekitar 10
persen dipantulkan, 10 persen diteruskan dan sekitar 80 persen diserap. Dari energi yang diserap
ini hanya satu sampai dua persen diubah menjadi bentuk potensial di dalam bahan-bahan yang
terbentuk, dan sisanya diubah menjadi panas. Konversi dari energi cahaya menjadi energi panas
menaikkan temperatur dari daun lebih tinggi daripada temperatur udara sekitar dan juga
meningkatkan tekanan uap dari permukaan transpirasi lebih tinggi daripada tekanan uap udara
sekitar.

► Kelembaban dari Permukaan Transpirasi dan Udara Sekitar


Seperti yang telah diketahui bahwa atmosfer mempunyai kemampuan untuk mengikat
uap air. Pada umumnya, udara lembab mengandung relatif banyak uap air per satuan volume,
sedangkan udara kering mengandung sedikit uap air. Kemampuan udara untuk mengikat air
dalam bentuk uap ini bervariasi secara langsung dengan temperatur. Jadi, udara hangat mengikat
lebih banyak air sebagai uap daripada udara dingin.
Jumlah uap air di dalam udara dibandingkan dengan jumlah uap air apabila udara dalam
keadaan jenuh pada suatu temperatur tertentu dikenal sebagai kelembaban relatif. Jadi apabila
kelembaban relatif tinggi, jumlah molekul uap per satuan volume udara adalah tinggi, dan
apabila kelembaban relatif rendah, jumlah molekul uap per satuan volume udara juga rendah.
Karena dinding sel dari sel-sel yang terbentuk biasanya diselubungi oleh lapisan tipis air,
kelembaban relatif tinggi muncul di dalam masing-masing ruang stomata, dan karena biasanya
udara di luar stomata mernpunyai kelembaban relatif lebih rendah, molekul-molekul uap air
berdifusi dari ruang stomata ke udara luar. Jadi, dengan temperatur daun dan temperatur udara
sekitar sama, laju transpirasi adalah berbanding langsung dengan perbedaan tekanan uap dari
permukaan transpirasi dan udara sekitar, dan berbanding terbalik dengan kelembaban relatif dari
udara.

► Gerakan Udara
Apabila gerakan udara cepat, molekul-molekul uap air tepat di atas permukaan air bebas
di bawa pergi secara cepat dan laju difusi meningkat secara nyata. Sebaliknya, apabila gerakan
udara lambat, molekul-molekul digantikan secara perlahan-lahan dan laju evaporasi relatif
lambat. Jadi, dengan keadaan faktor lain tetap, laju evaporasi air diatur oleh kecepatan angin.
Namun demikian, perlu diingat bahwa transpirasi secara biofisik terjadi di alam dan oleh karena
itu laju penyerapan air dan turgor dari sel-sel penjaga harus diperhatikan. Apabila laju
penyerapan menjadi lebih lambat daripada laju transpirasi, sel-sel penjaga diharap kehilangan
turgor dan berubah bentuk. Hal ini akan menghasilkan penutupan sebagian atau seluruh stomata
dan akan menurunkan laju transpirasi. Dalam kenyataan, per jam menyebabkan penutupan
sebagian dari stomata yang menyebabkan penurunan difusi CO 2 ke dalam daun dan laju
fotosintesis, pertumbuhan dan hasil. Ini menjelaskan mengapa tanaman kobis dan tomat yang
tidak ternaungi dan tidak terlindung tumbuh lebih cepat daripada tanaman yang ternaungi.

► Kerjasama berbagai faktor


Perlu diingat bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi penyerapan air bekerja secara
bersama. Tanah yang hangat dan lembab yang memiliki tekanan osmotik rendah dan yang
dipenuhi percabangan akar tanaman memungkinkan penyerapan air dalam jumlah banyak.
Temperatur hangat menyebabkan gerakan cepat dari air kapiler, kondisi lembab menyediakan
jumlah yang banyak dari air tersedia dan aerasi yang cukup untuk CO 2 dan oksigen mengubah
respirasi dan pertumbuhan akar, air tanah dengan konsentrasi zat terlarut rendah memungkinkan
difusi cepat dari air ke dalam tanaman. Sebaliknya, tanah dingin atau kering atau tanah jenuh air
atau dengan konsentrasi garam terlarut tinggi menghambat penyerapan air.
Seperti dengan faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan air, faktor-faktor yang
mempengaruhi hilangnya air bekerja bersama-sama. Jadi, intensitas cahaya dan temperatur tinggi
digabungkan dengan kelembaban relatif rendah menyebabkan laju transpirasi tinggi, sedangkan
intensitas cahaya dan temperatur rendah digabungkan dengan kelembaban relatif tinggi
menyebabkan laju transpirasi rendah. Angin berkecepatan, sedang menyebabkan laju transpirasi
lebih tinggi daripada udara tenang. Hal tersebut menjelaskan mengapa laju transpirasi lebih
tinggi pada siang hari daripada malam hari, atau pada keadaan terang dibandingkan keadaan
berawan, atau pada keadaan berawan dibandingkan keadaan hujan, atau pada keadaan berangin
dibandingkan dengan keadaan tenang.

► Evapotranspirasi
Evaporasi meliputi transpirasi dari tanaman dan evaporasi air dari tanah dimana tanaman
tumbuh. Pada dasamya kedua proses tersebut memiliki keasaman yaitu mereka memerlukan
energi bebas untuk mengubah air dari bentuk cairan menjadi bentuk gas. Pada umumnya,
percobaan-percobaan pada evapotranspirasi menyediakan informasi tentang kebutuhan air bagi
tanaman, seperti jumiah air yang diperlukan sampai tanaman dewasa, jumlah air yang diberikan
melalui irigasi atau hujan, banyaknya air yang hilang melalui aliran pada permukaan dan
drainase, jumlah air yang diperlukan untuk stadia pertumbuhan yang berbeda, dan pengaruh
penutupan tanah terhadap penyediaan air. Untuk mendapatkan data untuk menjawab pertanyaan-
pertanyaan tersebut, penggunaan jenis tanaman dan tipe wadah tanah yang khusus diperlukan.
Tipe wadah itu dinamakan Lysimeter. Pada umumnya, lysimeter mengandimg sejumlah tanah di
dalam kotak menyerupai tangki yang sisinya terbuat dari beton, bagian atasnya terbuka, dan
berlobang-lobang bagian dasarnya untuk keluarnya air drainase masuk ke dalam tabung, dan alat
ukur curah hujan untuk mengukur jumlah air yang diberikan baik sebagai air hujan maupun air
irigasi. Lebih lanjut, beberapa lysimeter mempunyai peralatan untuk menjaga suplai air di dalam
tangki pada tingkatan tertentu. Jadi, dengan mengetahui jumlah air yang diberikan, jumlah air
yang hilang lewat permukaan, dan yang hilang karena mengalir, ukuran efisiensi dari curah hujan
atau tindakan irigasi dapat ditentukan dan dievaluasi.

Suplai Air dan Pertumbuhan dan Perkembangan


Suplai air merupakan faktor pembatas. Dengan kata lain, semua faktor diasumsikan
menguntungkan untuk pertumbuhan dan perkembangan: temperatur siang dan malam dan
intensitas cahaya berada dalam kisaran optimum, panjang relatif dari periode penyinaran dan
periode gelap menguntungkan untuk tipe pertumbuhan tanaman harus dibuat, dan semua unsur
esensial berada dalam suplai yang menguntungkan. Dengan suplai air sebagai faktor pembatas,
pengaruhnya pada pertumbuhan dan perkembangan tanaman didiskusikan dari tiga sudut
pandang: (1) suplai yang menguntungkan, (2) defisit, dan (3) berlebihan.

► Suplai yang Menguntungkan


Pengaruh dari suplai yang menguntungkan dibawah keadaan transpirasi tinggi
diperlihatkan pada Gambar 4.5. Di dalam percobaan ini, tanaman muda bunga matahari di tanam
di dalam rumah kaca selama periode hari cerah dan di dalam pot yang berisi tanah lempung
berpasir yang subur, yang selalu dijaga berada pada kapasitas lapang. Jumlah air yang diserap
ditentukan dengan menggunakan cawan yang porous yang di tanam di dalam tanah dan melalui
pengisian cawan dengan interval waktu setiap dua jam, dan air yang hilang ditentukan dengan
menimbang baik tanah maupun tanaman juga pada interval setiap dua jam.
Pada umumnya, laju transpirasi melebihi laju penyerapan pada awal pagi hari sampai
tengah siang hari; laju penyerapan menyusul laju transpirasi pada sore hari, dan laju penyerapan
melebihi laju transpirasi pada malam hari.

Gambar 10. Perubahan harian dari laju penyerapan air dan laju transpirasi dari
tanaman bunga matahari.

Percobaan-percobaan dengan tanaman lain menunjukkan perubahan harian laju


penyerapan dari laju transpirasi yang sama. Jadi, dengan tanaman yang ditumbuhkan pada tanah
yang dijaga pada kapasitas lapang dan keadaan hari cerah, laju penyerapan dapat diharapkan
lebih rendah daripada laju transpirasi pada waktu pagi hari, laju penyerapan akan menyamai laju
transpirasi pada waktu sore hari, dan laju penyerapan akan melebihi laju transpirasi pada waktu
malam hari. Suatu pertanyaan muncul, bagaimana keadaan turgor dari sel-sel hidup dibawah
kondisi tersebut ? Secara umumnya, pada awal pagi hari, sel-sel penjaga dalam keadaan turgor
penuh, stomata akan terbuka lebar, dan fotosintesis akan berlangsung dengan laju yang cepat;
pada sore hari, sel-sel penjaga akan kehilangan sejumlah turgornya dan stomata akan mulai
menutup, demikian juga laju fotosintesis juga menurun; sedangkan pada malam hari, dengan
stomata tertutup dan tidak ada cahaya untuk fotosintesis, khususnya sel-sel penjaga maupun sel-
sel hidup lainnya akan memperoleh turgor suatu keadaan yang diperlukan untuk perpanjangan
dari sel-sel yang sedang tumbuh.
► Defisit (kekurangan) air
Tanaman tidak selalu mendapatkan suplai air yang menguntungkan, secara tidak
menguntungkan defisit dapat terjadi. Bagaimanakah pengaruh segera atau lebih lanjut dari defisit
air pada tanaman? Pada mnumnya, pengaruh segera adalah penurunan ukuran dari sel-sel pada
daerah perpanjangan. Jadi sel-sel yang dibentuk kecil-kecil. Hal ini menjelaskan mengapa
tanaman yang ditumbuhkan dalam keadaan kekurangan air menghasilkan batang dengan ruas
yang pendek dan daun, bunga serta buahnya kecil.
Pengaruh lebih lanjut adalah penurunan laju fotosintesis bersih. Laju penyerapan jauh
lebih kecil daripada laju transpirasi, sel-sel penjaga kehilangan turgor dan menjadi lemah
(lembek), dan stomata tertutup sebagian atau seluruhya. Akibatnya laju difusi CO 2 ke dalam sel-
sel fotosintesis menjadi rendah, sehingga laju pembentukan fotosintat juga rendah. Pembentukan
karbohidrat, pigmen, lemak, protein dan bahan-bahan lain menjadi sedikit, pertumbuhan lambat,
dan hasil yang dapat dipasarkan juga rendah. Penelitian menunjukkan bahwa sel-sel penjaga
pada tanaman apel, pear, plum, kemiri dan buncis adalah sensitif terhadap defisit air. Segera
setelah kekurangan air terjadi pada tanaman, sel-sel penjaga kehilangan turgor dan stomata
menurut. Apabila laju transpirasi tinggi dan laju penyerapan rendah, stomata mulai menutup pada
awal sore hari. Pada keadaan ekstrim, laju penyerapan terlalu rendah yang disertai dengan laju
transpirasi tinggi, stomata menutup pada pagi hari dan tetap menutup pada sisa waktu berikutnya
pada hari itu. Akibat defisit air menjelaskan mengapa hasil tanaman menjadi rendah pada kondisi
kekeringan, mengapa pohon buahan dan pohon berkayu lainnya menjadi rendah terhadap
gangguan musim dingin, mengapa suplai air rendah selama musim panas pada perkebunan apel
biasanya menghasilkan buah yang kecil-kecil, dan mengapa kekurangan air selama musim panas
pada kemiri menghasilkan banyak buah yang hampa.
Akibat ekstrim dari defisit air pada tanaman adalah layu. Pada saat tanaman layu, sel-sel
penjaga mengkerut dan stomata menutup seluruhnya, akibatnya fotosintesis secara praktis
berhenti. Karena respirasi tetap berlangsung, tanaman mulai berkurang berat keringnya. Apabila
kelayuan terus berlanjut tanaman akan mati.
Karena kekurangan air menghambat pertumbuhan dan perkembangan tanaman,
pemahaman gejala kekurangan air akan membantu di dalam praktek produksi tanaman. Pada
umumnya, gejala pertama pada fase vegetatif adalah penurunan laju perpanjangan batang dan
ranting yang diikuti dengan pembentukan daun yang kecil dan berwarna hijau tua. Selanjutnya
diikuti dengan pembentukan batang dan ranting serta bunga yang kecil, dan buah yang jelek
warnanya. Untuk tanaman tertentu seperti jeruk dan tomat, pada keadaan layu penyerapan air
rendah dan laju transpirasi tinggi, daun-daunnya menarik air dari buah. Hal ini mengakibatkan
penurunan volume buah, dan pada tomat menghasilkan gejala yang dikenal dengan istilah busuk
pucuk buah (blossom end rot).
Bagaimana cara mengurangi atau menanggulangi defisit air? Pengaturan (pengurangan)
penyinaran, tindakan pemindahan tanaman, pengolahan tanah, serta irigasi yang hati-hati (baik)
adalah menjadi jawabannya.

► Kelebihan Air
Pada keadaan tertentu, pemberian air secara berlebihan pada tanaman menghasilkan
akibat yang tidak menguntungkan. Pada umumnya, pengaruhnya meliputi pembentukan bibit
berbatang panjang (leggy seedlings), dan terjadinya retakan pertumbuhan pada buah atau umbi.
Bibit berbatang panjang biasanya terbentuk pada keadaan sebagai berikut: apabila tanaman
ditanam pada jarak rapat, apabila tanah dalam keadaan lembab dan hangat, apabila temperatur
udara berada pada kisaran optimum dan apabila intensitas cahaya relatif rendah. Tanah yang
lembab dan hangat disertai sistem perakaran yang berkembang baik menjamin penyerapan air
secara berlebihan; tetapi jarak tanam yang rapat, keadaan temperatur yang menguntungkan,
peagurangan intensitas cahaya dan kecapaian angin rendah secara bersama-sama menghasilkan
laju transpirasi relatif rendah. Jadi dengan penyerapan air yang tinggi pada salah satu sisi,
sedangkan laju transpirasi rendah pada sisi lain, tekanan turgor pada daerah perpanjangan adalah
tinggi dan sel-sel terlalu merenggang. Hal ini sering terjadi di dalam rumah kaca pada awal
musim semi.
Retakan pertumbuhan sering terjadi pada kubis, buah tomat, umbi wortel dan ketela
rambat. Keadaan cuaca basah menyediakan banyak suplai air tersedia, sehingga untuk tanaman
yang mempunyai sistem perakaran yang luas memungkinkan terjadinya laju penyerapan air yang
tinggi, keadaan cuaca basah yang disertai dengan temperatur rendah, intensitas cahaya rendah
dan kelembaban relatif tinggi, menyebabkan laju transpirasi rendah. Penyerapan air yang tinggi
pada satu sisi dan transpirasi yang rendah pada sisi lain mernpunyai hubungan dengan terjadinya
retakan pertumbuhan pada tanaman tertentu.
Jumlah air yang terlibat pada proses yang terjadi di dalam tubuh tanaman, khususnya
dalam perkembangan sel, adalah kurang dari 5% dan jumlah air yang diserap selama periode
pertumbuhan tanaman. Sebagian besar air hilang rnelalui transpirasi.
Jumlah air yang dibutuhkan harus sebanding dengan jumlah air di dalam tubuh tanaman.
Misalnya dibutuhkan air sebanyak 60.000 1 ha-1 untuk memproduksi 15.000 kg bahan kering per
hektar (kandungan bahan kering tanaman adalah 20 %).
Transpirasi dan evaporasi dinyatakan dalam mm karena 1 kg H2O pada hamparan seluas
1 m2 membentuk lapisan air setebal 1 mm, maka konversi 1 mm sebanding dengan 10.000 l ha -1.
Contoh soal:
Tampilkan suatu dimensi analisis untuk menentukan kesamaan pernyataan suatu
kehilangan air, misal dalam kg H2O m-2, l H2O ha-1, dan mm H2O. Kerapatan air adalah 1000 kg
m-3.

Gambar 11. Aliran air dari tanah ke udara melalui tubuh tanaman.
(Daniel et al, 1987, oil. Sumeru, 1995).
Gambar 12. Aliran air dari tanah ke udara melalui tubuh tanaman
(Lovenstein et al., 1993).

► Kebutuhan air
Kebutuhan air merupakan kehilangan air dari tanaman dan tanah, yang dikenal sebagai
evapotranspirasi. Dalam proses evapotranspirasi air di dalam tanah atau permukaan daun diubah
menjadi uap dan dibutuhkan energi (matahari). Kemudian uap ini digerakkan menjauh dari
permukaan daun/tanah. Gerakan uap air ini dipengaruhi oleh kelembaban udara dan angin.
Kedua faktor ini merupakan tenaga pengering (drying force) dari udara.
Transpirasi dari permukaan daun dan evaporasi dari permukaan tanah merupakan proses
difusi yang secara fisika dapat dideskripsikan analog dengan hokum Ohm:

Laju difusi =

T =

T = laju difusi ( g H2O m-2 (daun) d-1 )


[H2O]inT = konsentrasi uap air di dalam stomata ( g H2O m-3 udara)
[H2O]ext = konsentrasi uap air di udara ( g H2O m-3 udara)
rs = tahanan stomata terhadap uap air ( d m-1)
rb = tahanan lapisan batas terhadap uap air ( d m-1 ) d- detik.
Jadi laju transpirasi adalah proporsional (berbanding lurus) dengan perbedaan konsentrasi
uap air antara ruang stomata dan udara sekitar dan berbanding terbalik (termodifikasi) oleh
tahanan stomata (stomata resistance) dan tahanan lapisan batas (boundary layer resistance).
Perbedaan konsentrasi uap air tergantung dari tenaga pengering dari udara, yang
ditentukan oleh kelembaban relatif dan angin atau gerakan udara.

Gambar 13. Hubungan antara temperatur dan tekanan uap maksimum pada
kondisi jenuh air (es) dan konsentrasi uap

Perbandingan antara tekanan uap aktuil (ea) dan tekanan uap jenuh (es) pada temperatur
tertentu merefleksikan kelembaban relatif udara. Sedangkan perbedaan antara kedua hal itu (es-
ea) menunjukkan defisit tekanan uap (VPD = vapour pressure deficit).
Catatan 1 hPa = 1 mbar
Contoh: pada 15°C, RH = ea / es = 1, VPD = 0 hPa.
Pada 30°C, RH - 18/42 = 0,43, VPD = 24 hPa.

► VPD = es - ea = [H2O]int - [H2O]ext ► RH = ea / es


► Keseimbangan lengas tanah

Keseimbangan lengas tanah dapat dijelaskan dengan rumus sebagai berikut:

∆S = P + 1 + C + R E-D

Dengan peningkatan lengas melalui:


P = Precipitasi (air hujan)
I = Irigasi
C = Gerakan kapiler keatas (capillary rise) dari lapisan tanah dibawah zone
perakaran, yang mungkin berhubungan dengan air tanah (ground water),
R = Lateral run-on (memiliki tanda positif) oleh aliran air permukaan dari
daerah sekitar.

Penurunan (kehilangan) lengas melalui:


R = Lateral run-off (memiliki tanda negatif) oleh aliran air permukaan ke
daerah sekitar (berasal dari air hujan atau irigasi).
T = Transpirasi dari kanopi.
E = Evaporasi dan permukaan tanah.
D = Drainase

Dan hasilnya:
∆S = Perubahan kandungan lengas pada zone perakaran.
(Semua lstilah diekspresikan di dalam kg H2O m-2 h-1 atau mm h-1, h = hari)
Gambar 14.Tampilan skematis dari factor yang terlibat dalam keseimbangan
air, yang menunjukkan penyimpanan air dan aliran dalam system
tanaman –tanah- atmosfer.
► Ketersediaan air bagi tanaman

Tanah terdiri dari tiga fase, yang berupa partikel padat dan rongga (pori-pori tanah) yang
dapat berisi air maupun udara. Oleh karena itu ketiga fase tersebut dapat dibedakan menjadi fase
padat, cair dan gas (Gambar 15).
Distribusi dari ketiga fase tersebut tergantung dari susunan fase padat, khususnya pada
distribusi ukuran partikel dari tanah, yang dinyatakan sebagai “tekstur”
Ada tiga klas ukuran partikel:
► < 0.002 mm : liat
► 0.002 - 0.05 mm : lempung
► 0.05 - 2 mm : pasir
Perbandingan antara ketiga fraksi menghasilkan klasifikasi tekstur dari tanah (lihat A
tekstur tanah).
Tekstur tanah secara langsung berpengaruh terhadap distribusi ukuran pori karena
susunan dari partikel tanah: partikel-partikei besar menghasilkan pori-pori besar.
Oleh karena itu pasir dicirikan oleh fraksi besar dan partikel kasar dan sistem pori
didominasi oleh pori-pori besar (makro), diklastfikasikan sebagai tekstur ringan. Sedangkan liat,
dengan partikel halus dan sistem pori didominasi oleh pori kecil (mikro) yang diklasifikasikan
sebagai tekstur berat.

► Apa yang dimaksud tekstur sedang?


Karena pori-pori mikro menghasilkan tahanan yang lebih besar terhadap gerakan air,
maka gerakan air ke arah bawah yang menghasiikan drainase (D) lebih kecil pada tanah liat;
sedangkan tingginya kontak permukaan antara partikel halus dengan air menyebabkan gerakan
air menuju ke atas (gerakan kapiler, C) lebih besar.
Lebih lanjut, tanah bertekstur berat, dengan kemampuan infiltrasi rendah, menyebabkan
kehilangan run-off (R) yang lebih besar pada lahan yang miring apabila terjadi hujan atau
mendapat irigasi siraman (sprinkle, irrigation). Oleh
Gambar 15. Hubungan antara kandungan lengas volumetric dan potensial
lengas tanah (nilai pF) untuk tanah pasir dan liat. NAM: non
available moisture. AWC: available water content, PWP: permanen
wilting point, FC: field capasity.

Karena fase padat merupakan bagian tetap dari total volume tanah, kandungan air tanah
berhubungan secara proporsional dengan fase cair di dalam system pori. Tanah jenuh air tidak
memiliki fase gas, sedangkan tanah kering oven tidak memiliki fase cair.
Tidak semua air yang berada pada zone perakaran tersedia bagi tanaman karena sebagian
diikat kuat oleh fase padat sehingga tanaman tidak memiliki tenaga yang cukup untuk
mengekstraknya. Sifatnya ditentukan oleh hubungan antara SMC (volumetric soil moisture
content = kandungan lengas tanah volumetric, dalam cm3 cm-3) yang menggambarkan fraksi cair
di dalam volume tanah, dan SMP (soil water potential = potensial air tanah, dalam h Pa). SWP
mempunyai nilai negatif sebab ia menggambarkan tenaga matrik yang mengikat air di dalam
tanah.
SWP secara umum dikonversikan ke dalam bentuk logaritma, yaitu 10log (-SWP) yang
dikenal sebagai nilai pF, Contoh: SWP dari -1000 hPa menghasilkan pF=3. SWP merupakan
fungsi dari SMC dan tekstur tanah. Tanah bertekstur berat mengikat lebih banyak air pada
kondisi SWP yang sama daripada tanah bertekstur ringan. Oleh karena itu, suatu kurve retensi
lengas tanah yang menggambarkan SWP sebagai fungsi dari SMC, juga berhubungan dengan
kurve pF, dapat dibuat untuk berbagai tipe tanah (lihat gambar 16).

► Jenuh air
Di dalam tanah yang jenuh air SWP = 0 hPa, dan SMC, jika tidak ada udara dijerap,
melengkapi volume fraksi padat (0,40 cm3 cm-3 untuk pasir dan 0,50 cm3 cm-3 untuk liat). Pada
kondisi demikian pertumbuhan tanaman pada umumnya terganggu secara serius karena proses
respirasi terhambat sebagai akibat kekurangan oksigen, sehingga penyerapan air dan nutrisi
terganggu.

► Kapasitas lapang
Jika tanah jenuh air dibiarkan terjadi drainase bebas selama dua hari, tenaga grafitasi
akan menyebabkan pori-pori makro kering terlebih dulu, dan (pF = 2 - 2,1). SMC pada tahap ini
dikenal sebagai kapasitas lapang, dan dapat ditentukan secara grafimetri mencapai sejumiah 0,15
cm3 cm-3 untuk pasir dan 0,45 cm3 cm-3 untuk liat (lihat gambar 15).

► Titik layu permanen


Jika secara bertahap semakin banyak air yang hilang melalui proses evaporasi dan
transpirasi, terjadi peningkatan pengosongan pori-pori mikro, yang menyebabkan penurunan
SWP secara drastis. Pada saat SWP mendekati -16.000 hPa (pF= 4,2), akar tidak dapat mengisap
cukup air, menyebabkan dehidrasi jaringan tanaman, dan akhimya akan layu. Kondisi semacam
ini diistilahkan sebagai titik layu permanen (permanent wilting point : PWP). Pada keadaan ini
tanaman tidak dapat menyerap air (rehydrate) pada malam hari, pada keadaan evaporasi rendah
(tidak ada cahaya, temperatur rendah, kelembaban relatif tinggi).
Meskipun SWP pada layu permanen bervariasi pada berbagai spesies; pF=4,2 dapat
digunakan secara praktis. SMC pada titik itu berkisar antara 0,05 cm 3 cm-3 untuk pasir dan 0,20
cm3 cm-3 untuk liat (lihat gambar 15).