You are on page 1of 114

Buku Ajar Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)

MATERI AJAR

ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN


(AMDAL) SEBAGAI KELAYAKAN LINGKUNGAN
DARI SUATU KEGIATAN BERDAMPAK

Materi disiapkan dari berbagai rujukan dan hasil pelatihan untuk mahasiswa
Teknik Sipil dan Teknik Lingkungan
Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Disiapkan dan dikumpulkan


Oleh :
SYAFRUDIN

JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO
2013

1
Buku Ajar Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) telah berkembang di Indonesia


hampir selama dua dekade, namun dalam rentang waktu yang panjang itu AMDAL masih
belum memberi kontribusi yang tinggi bagi perlindungan lingkungan hidup. Mutu
dokumen AMDAL yang dihasilkan dari waktu ke waktu memang mengalami perbaikan
namun berlangsung dalam kecepatan yang amat lambat.

Salah satu faktor yang dipandang turut memberi kontribusi terhadap hal tersebut adalah
mutu kajian aspek AMDAL ( aspek sosial budaya kesehatan masyarakat, aspek fisik-
kimia, serta aspek biologi. Dalam studi AMDAL, aspek tersebut cenderung belum dikaji
sebagai satu kesatuan dan belum diarahkan secara sistematis. Bahkan berkembang
persepsi bahwa kajian aspek AMDAL akan semakin bermutu bila jumlah sampel yang
diukur semakin besar. Berkembangnya persepsi semacam ini jelas memprihatinkan.
Oleh karena pembelajaraan akan AMDAL tidak hanya akan mempengaruhi kondisi
pengelolaan lingkungan secara keseluruhan tapi juga akan memperparah keberadaa
sumber daya alam yang ada.

Mendasari situasi tersebut maka dirasa perlu dikembangkan pembelajaran AMDAL yang
di dalamnya memuat tentang pendekatan, metode dan praktek-praktek kajian aspek yang
relevan untuk penyusunan AMDAL didalam matakuliah rekayasa ilmu lingkungan .

1.2. TAHAPAN KELAYAKAN PEMBANGUNAN

Pembangunan suatu rencana kegiatan/usaha, atau lazimnya disebut proyek pembangunan,


pada dasarnya menempuh serangkaian tahapan tertentu sebelum rencana kegiatan/usaha
tersebut beroperasi secara penuh. Sehubungan dengan itu perencanaan pembangunan

2
Buku Ajar Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)

proyek yang dilakukan secara matang dan seksama diyakini akan memperkecil peluang
resiko kegagalan, baik dari segi teknis maupun ekonomi.

Tahap-tahap pembangunan proyek, sejak perencanaan hingga tahap pasca operasi, pada
dasarnya membentuk suatu siklus kegiatan yang satu sama lain saling terpaut. Tahapan
dimaksud adalah:
a. Tahap Perencanaan
 Tahap Rencana Umum (Master Plan)
 Tahap Pra Studi Kelayakan (Pre Feasibility Study)
 Tahap Studi Kelayakan (Feasibility Study)
 Tahap Rencana Tapak (Site Plan)
 Tahap Rencana Rinci Rekayasa (Engineering Design)
b. Tahap Konstruksi
c. Tahap Operasi
d. Tahap Audit dan Pasca Operasi.

Ad.a Tahap Studi Kelayakan


Tahap studi kelayakan merupakan tahap kritis karena pada tahap ini diputuskan
kelayakan teknis dan ekonomis dari rencana kegiatan/usaha yang akan dibangun. Bila
layak, maka perencanaan kegiatan/usaha dapat dilanjutkan ke tahap yang lebih rinci
untuk kemudian direalisasikan. Bila sebaliknya, proyek dibatalkan atau dimodifikasi, atau
ditunda untuk sementara waktu guna mencegah timbulnya kerugian finansial.

Studi Kelayakan umumnya menelaah beberapa alternatif aspek teknis dari proyek yang
akan dibangun, seperti:
 Alternatif lokasi proyek, misal: berlokasi dekat bahan baku atau berlokasi dekat
konsumen/kota. Alternatif lokasi juga bisa berupa alternatif ruas jalan yang akan
dibangun, misal: melalui daerah berbukit dengan jarak tempuh lebih singkat, atau
melalui daerah datar dengan jarak tempuh lebih lama.
 Alternatif teknologi yang akan digunakan, misal: menggunakan teknologi hemat air
namun biaya investasi tinggi atau teknologi konsumtif air namun biaya investasi
rendah.

3
Buku Ajar Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)

Alternatif yang paling layak dari segi teknis dan finansial adalah alternatif yang layak
untuk diteruskan ke tahap perencanaan berikutnya.

Ad.b Tahap Rencana Tapak dan Rencana Rinci Rekayasa


Setelah melalui tahap studi kelayakan, secara bertahap proyek menempuh tahap
perencanaan yang lebih rinci guna meletakkan landasan yang kokoh bagi tahap
konstruksi dan tahapan selanjutnya, yakni penyusunan rencana tapak kegiatan (site plan)
dan rencana rinci rekayasa (engineering design).

Pada tahap ini informasi tentang rona lingkungan hidup, seperti luas lahan milik
penduduk yang akan diganti rugi, volume tanah yang akan di gusur-timbun, atau aliran
sungai yang akan dialihkan, telah diperoleh dan mencapai tahap yang lebih rinci
dibanding sebelumnya.

Ad.c Tahap Konstruksi


Pada tahap ini rencana rinci rekayasa yang telah disusun direalisasikan secara penuh.
Kegiatan yang tergolong dalam tahap konstruksi antara lain adalah pembukaan lahan,
pematangan lahan, pembangunan infra struktur (jalan, jembatan, jaringan listrik, telepon
dan air), pembangunan gedung, fasilitas umum, dan lain sebagainya

Ad.d Tahap Operasi


Pada tahap ini proyek mulai dioperasikan atau diimplementasikan sesuai rencana.
Beberapa proyek pembangunan ada yang menempuh tahap uji coba terlebih dahulu
sebelum sampai pada tahap operasi penuh.

Ad.e Tahap Audit dan Pasca Operasi


Pada tahap ini kinerja teknis dan finansial dari kegiatan/usaha diaudit secara berkala
untuk keperluan koreksi dan perbaikan manajemen. Kegiatan penting yang dilakukan saat
kegiatan/usaha berakhir atau ditutup antara lain adalah pembersihan lokasi, penataan
lansekap, dan perlindungan terhadap ancaman keselamatan manusia

4
Buku Ajar Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)

BAB II
PENGERTIAN, LINGKUP & SIFAT KAJIAN
ASPEK – ASPEK AMDAL

2.1. ASPEK FISIK-KIMIA

2.1.1. Pengertian Aspek Fisik-Kimia

Pengertian aspek fisik – kimia adalah Kajian aspek fisik- kimia AMDAL adalah analisis
secara sistematik atas dampak atau konsekuensi perubahan fisik kimia dari lokasi rencana
kegiatan dan sekitarnya akibat adanya kegiatan tersebut. Dalam penyusunan AMDAL,
aspek fisik kimia adalah merupakan salah satu aspek yang dikaji disamping aspek sosial.
Dalam AMDAL, dampak fisik-kimia dikaji dengan cara mengukur perbedaan kondisi
fisik-kimia dengan dan tanpa rencana usaha/kegiatan (pendekatan with and without
project).

2.1.2. Lingkup Aspek Fisik-Kimia

Komponen fisik-kimia yang ditelaah berkaitan dengan adanya kegiatan pembangunan


misalnya meliputi :

1. Iklim; mencakup tipe iklim, curah hujan, suhu udara, arah angin dominan, kecepatan
angin, dan kelembaban.

2. Fisiografi, mencakup morfologi, ketinggian dan kemiringan lahan.

3. Geologi dan tanah, mencakup uraian tentang morfologi/batuan mineral, jenis dan sifat
tanah, profil dan tingkat erosi, tingkat kelongsoran dan stabilitasnya.

4. Hidrologi dan kualitas air, mencakup pola aliran air permukaan, debit air, debit banjir,
tinggi muka air, genangan air, erosi dan sedimentasi serta kualitas air.

5
Buku Ajar Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)

5. Transportasi mencakup pengangkutan material dari quarry dan borrow area yang
melewati lokasi suatu jaringan jalan.

6. Kualitas udara dan kebisingan, mencakup kadar CO, NO2, SO2, debu, dan tingkat
bising.

7. Perubahan Ruang, lahan dan tanah, sesuai dengan arahan konsep tata ruang yang ada..

2.2. ASPEK BIOLOGI

2.2.1. Pengertian Aspek Biologi

Pengertian aspek biologi adalah Kajian aspek biologi AMDAL adalah analisis secara
sistematik atas dampak atau konsekuensi perubahan biologi dari lokasi rencana kegiatan
dan sekitarnya akibat adanya kegiatan tersebut. Dalam penyusunan AMDAL, aspek
biologi adalah merupakan salah satu aspek yang dikaji disamping aspek social dan fisik-
kimia..
Dalam AMDAL, dampak biologi dikaji dengan cara mengukur perbedaan kondisi
biologi dengan dan tanpa rencana usaha/kegiatan (pendekatan with and without project).

2.2.2. Lingkup Aspek Fisik-Kimia

Data primer aspek biologi yang dikumpulkan adalah biota darat (flora darat dan fauna
darat) dan biota air (plankton dan benthos). Daerah studi biologi ditetapkan berdasarkan
luas tapak proyek dan sekitarnya yang diperkirakan akan terkena dampak kegiatan.
Lokasi pengambilan sampel biota air disesuaikan dengan lokasi pengambilan sampel air
fisik-kimia, sedangkan lokasi pengambilan biota darat disesuaikan dengan lokasi studi
sosial-ekonomi-budaya dan kesehatan masyarakat. Pengumpulan data dilakukan melalui
pengukuran, pengambilan sampel, wawancara dengan metoda purposive random
sampling yang ditentukan berdasarkan komunitas atau habitat yang berbeda.

1. Biota darat meliputi flora dan fauna yang akan terkena proyek.
2. Jenis tanaman dan hewan langka/dilindungi.

6
Buku Ajar Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)

3. Biota air (plankton dan benthos).

Cara pelaksanaan pengambilan sampel/pengamatan komponen biotis adalah:

Pengambilan Sampel Vegetasi/Flora Darat


Lokasi pengambilan sampel vegetasi di 3 titik. Pengambilan sampel vegetasi dilakukan
memakai sampling plot dengan transek utama mengikuti kondisi lapangan. Untuk jenis
pohon, diambil petak sampel 10 m x 10 m, sedangkan herba dan rumput menggunakan
ukuran 1 m x 1 m.

Pengambilan Sampel Fauna


Pengambilan sampel fauna dilakukan dengan metoda Index Point of Abundance (IPA)
untuk mencatat populasi hewan. Biasanya digunakan untuk burung secara semi
kuantitatif yaitu dengan menentukan tempat tertentu untuk keperluan perhitungan
populasi hewan dan dilengkapi data informasi penduduk serta data monografi desa untuk
hewan piaraan. Analisis data meliputi jumlah jenis, dominansi atau frekuensi keberadaan
fauna. Lokasi pengambilan sampel fauna di 3 titik.

Pengambilan Sampel Plankton


Pengambilan sampel plankton dengan penyaringan air memakai plankton net No. 25,
kemudian air yang tersaring dimasukkan botol dan ditambahkan larutan MAF 4% sebagai
bahan pengawet. Lokasi pengambilan sampel plankton di 3 titik, yaitu di hulu Embung,
lokasi Embung dan di hilir Embung (daerah irigasi).

Pengambilan Sampel Benthos


Pengambilan sampel mikrobenthos dengan memakai penyaringan lumpur di dasar
perairan yang diambil dengan eijkman dredge/bottom sampler. Diameter saringannya 1
mm. Mikrobenthos yang telah dipisahkan dari lumpur lalu dimasukkan dalam botol
sampel, ditambahkan larutan MAF 10% dan rose bengal 20%. Lokasi pengambilan
sampel benthos sama dengan lokasi pengambilan sampel plankton.

7
Buku Ajar Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)

2.3. ASPEK SOSIAL


2.3.1. Pengertian Aspek Sosial
Kajian aspek sosial AMDAL adalah analisis secara sistematik atas dampak atau
konsekuensi sosial dari rencana kegiatan atau usaha terhadap masyarakat sekitar dan
sebaliknya. Dalam penyusunan AMDAL, aspek sosial merupakan salah satu aspek yang
dikaji disamping aspek fisik, kimia, biologi dan kesehatan.
Dalam AMDAL, dampak sosial dikaji dengan cara mengukur perbedaan kondisi sosial
dengan dan tanpa rencana usaha/kegiatan (pendekatan with and without project).

2.3.2. Lingkup Aspek Social

Secara garis besar lingkup aspek sosial yang dikaji dalam AMDAL meliputi komponen-
komponen sebagai berikut:
a. komponen demografi,
b. komponen ekonomi,
c. komponen sosial dan budaya.
Dalam batasan ini aspek kesehatan tidak termasuk dalam kajian aspek sosial AMDAL.

Komponen sosial tersebut diidentifikasi lebih rinci, dideskripsikan, diprakirakan


perubahannya, dan dievaluasi secara sistematis dalam dokumen Kerangka Acuan (KA),
Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL), Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL), dan
Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL).

Kajian aspek sosial AMDAL pada dasarnya dianalisis dengan melibatkan pakar ilmu
sosial dengan menggunakan metode AMDAL dan metode-metode ilmu sosial.
Perbedaannya, dengan penelitian ilmu-ilmu sosial konvensional, terletak pada sifat kajian
aspek sosial AMDAL sebagai berikut ini.

2.3.3. Sifat Kajian Sosial

1) Berorientasi pada keputusan

8
Buku Ajar Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)

Dalam penelitian ilmu-ilmu sosial, peneliti sosial umumnya berkepentingan untuk


menambah pengetahuan dan meningkatkan pema-haman tentang gejala-gejala atau
dinamika sosial yang berkembang di masyarakat, tanpa memandang apakah pengetahuan
tersebut akan bermanfaat bagi pengambilan keputusan atau tidak.

Adapun AMDAL, dengan muatan kajian aspek sosial di dalamnya, disusun dengan
maksud untuk digunakan sebagai bahan masukan untuk pengambilan keputusan atas
kelayakan lingkungan suatu rencana kegiatan atau usaha. Keputusan dimaksud adalah
keputusan tentang dapat tidaknya suatu rencana kegiatan/usaha disetujui untuk dibangun
dan dioperasikan berdasarkan kelayakannya dari sudut lingkungan hidup.

Sehubungan dengan itu maka kajian aspek sosial (bersama dengan aspek lingkungan
yang lain) secara umum diarahkan untuk dapat menjawab :

 Apakah dampak lingkungan yang bersifat negatif penting yang diakibatkan oleh
proyek melampaui dampak positif penting yang dapat diterima oleh masyarakat?
 Alternatif kegiatan manakah dari rencana kegiatan/usaha tersebut yang lebih layak
diterima dari segi lingkungan, termasuk dalam hal ini masyarakat sekitar?
 Adakah rencana kegiatan atau usaha yang akan dibangun mengubah secara
fundamental sendi-sendi utama kehidupan masyarakat?
 Apakah perubahan fundamental tersebut dapat diterima oleh masyarakat?

Secara lebih spesifik, kajian aspek sosial juga diarahkan untuk menjawab :

 Adakah kondisi-kondisi atau alternatif tertentu yang harus dimodifikasi dalam


proyek agar dapat dipetik manfaat yang lebih besar bagi masyarakat? Semisal
proyek membawa manfaat yang lebih besar kepada masyarakat karena proyek
membangkitkan partisipasi seimbang dan adail antara laki-laki dan perempuan
dalam pembangunan termasuk proses pengambilan keputusan.
 Dampak lingkungan yang bersifat negatif penting dapat dicegah, dikurangi dan
dikendalikan?

Sehubungan dengan itu, tingkat kedalaman dan keakurasian data dan informasi yang
diperlukan untuk kajian aspek sosial AMDAL berbeda dengan penelitian ilmu-ilmu sosial

9
Buku Ajar Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)

umumnya. Dalam penelitian ilmu-ilmu sosial, aspek-aspek sosiologis yang tercipta


karena jalinan hubungan sosial antara individu dengan kelompok dan antara kelompok
dengan kelompok, dikaji tanpa mengikut-sertakan faktor lingkungan hidup manusia
seperti lingkungan fisik, kimia dan biologi.

Sementara dalam kajian aspek sosial AMDAL, keterkaitan kajian antara aspek sosial
dengan aspek fisik, kimia, biologi dan kesehatan merupakan hal yang mutlak untuk
dibangun agar keputusan kelayakan lingkungan suatu proyek benar-benar telah
mempertimbangkan berbagai aspek lingkungan hidup. Oleh karena itu tingkat kedalaman
dan keakurasian data yang dibutuhkan oleh kajian aspek sosial AMDAL banyak
ditentukan oleh tiga faktor berikut ini:

 Karakter dampak lingkungan yang diduga akan timbul (dampak sosial, fisik, kimia,
biologi, kesehatan);
 Relevansi dan kecukupan data dan informasi untuk pengambilan keputusan atas
kelayakan lingkungan dari proyek.

2) Kajian yang bersifat antisipatori

Mengingat AMDAL ditujukan untuk pengambilan keputusan atas layak tidaknya rencana
kegiatan atau usaha yang akan dibangun dari segi lingkungan hidup, maka kajian aspek
sosial AMDAL bersifat antisipatori, yakni mengantisipasi dampak atau konsekuensi
sosial yang akan timbul sebagai akibat dari rencana kegiatan atau usaha.

Bagi pakar ilmu-ilmu sosial kajian semacam ini merupakan suatu tantangan karena pada
saat kajian dilakukan rencana kegiatan atau usaha masih berada pada tahap rancangan.
Sehingga belum dapat diukur dampak sosial yang timbul sebagai akibat dari operasi
proyek.

3) Menggunakan pendekatan yang bersifat praktis

10
Buku Ajar Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)

Dalam penelitian ilmu-ilmu sosial, metode penelitian ditetapkan berdasarkan relevansi


terhadap masalah yang dikaji (research questions), keahlian dan kepentingan peneliti.
Faktor waktu dan kepentingan pihak lain relatif kurang mendapat perhatian.

Lain halnya dengan kajian aspek sosial AMDAL, metode yang digunakan dipilih
berdasarkan relevansinya dengan lingkup dan karakter dampak sosial yang diteliti, serta
ketersediaan waktu dan dana. Sehingga metode yang digunakan dalam kajian aspek
sosial AMDAL mungkin tidak seelegan seperti yang digunakan dalam penelitian ilmu-
ilmu sosial.

Khusus mengenai faktor waktu, faktor ini merupakan pembatas utama bagi kajian aspek
sosial AMDAL. Pihak pemrakarsa rencana kegiatan/usaha umumnya sangat
berkepentingan memperoleh persetujuan atas proyek yang diajukannya sesegera
mungkin. Sementara instansi yang berwenang, berdasarkan peraturan perundangan yang
berlaku, juga mempunyai masa kerja yang terbatas untuk menilai kelayakan lingkungan
suatu rencana kegiatan atau usaha.

Oleh karena itu unsur kepraktisan dan waktu merupakan dua faktor penting yang
senantiasa diperhitungkan dalam merancang dan menyelenggarakan kajian aspek sosial
AMDAL.

4) Sebagai bagian integral dari studi (AMDAL) yang bersifat holistik dan ekologis

Dalam penyusunan AMDAL, dampak lingkungan suatu rencana kegiatan atau usaha
dikaji dari berbagai aspek, seperti aspek fisik, kimia, biologi, sosial, maupun kesehatan.
Berbagai aspek tersebut dikaji keterkaitan dan pola hubungannya satu sama lain sehingga
diperoleh suatu hasil yang bersifat komprehensif atau holistik.

Dalam studi AMDAL, salah satu alat analisis yang dipandang efektif untuk
mengintegrasikan berbagai aspek atau dampak lingkungan yang saling ter-kait tersebut
adalah dengan menggunakan pendekatan ekologi. Perspektif ekologi yang digunakan
untuk ini adalah jalinan hubungan “memangsa dan dimangsa” sehingga membentuk
jaring pangan (food web). Dalam studi AMDAL fenomena yang analog dengan jaring

11
Buku Ajar Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)

pangan tersebut adalah pola aliran dampak primer, sekunder, tersier dan selanjutnya
sehingga membentuk suatu jaringan aliran dampak lingkungan (impacts web).

Makna penting yang terkandung dalam hal ini adalah bahwa, dalam konteks studi
AMDAL kajian aspek sosial tidak boleh berdiri sendiri atau dikaji tanpa memperhatikan
keterkaitannya dengan dengan aspek yang lain. Sehingga dalam kajian aspek sosial
AMDAL, penting untuk diketahui terlebih dahulu dimana saja posisi dan apa saja aspek-
aspek sosial yang terlibat di dalam jaringan aliran dampak (impacts web) yang terbentuk
akibat rencana kegiatan atau usaha. Posisi dan aspek sosial yang dikaji ini dapat berbeda-
beda dari suatu lokasi ke lokasi lain, atau dari suatu jenis proyek ke proyek yang lain.

Digunakan pendekatan ekologis dalam studi AMDAL membawa implikasi bahwa anlisis
jender ini akan dapat diketahui apkah laki-laki dan perempuan memperoleh manfaat
yang adil dari hail pembangunn serta sejauh mana laki-laki dan perempuan berpartisipasi
secara seimbang dan adil dalam proses pembangunan termasuk pengambilankeputusan.
Sehingga dengan dengan adanya analisis jender ini dapt dihindari pengambilan yang
kurang tepat berkenaan dengan kelayakan lingkungan proyek pembangunan khususnya
dalam pengelolaan lingkungan.

5) Menggunakan multi metode

Mengingat pendekatan holistik dan ekologis merupakan ciri utama penyusunan AMDAL,
maka peneliti aspek sosial AMDAL harus mampu melakukan dua hal berikut ini
sekaligus:

a. Sejauh mungkin hindari penggunaan satu metode untuk pengumpulan atau analisa
data. Sebaiknya gunakan secara simultan berbagai metode ilmu-ilmu sosial agar
diperoleh data dan informasi yang sahih. Sebagai contoh, untuk mengumpulkan
data sikap penduduk asli terhadap pendatang, digunakan 3 metode sekaligus, yakni:
wawancara, observasi secara visual, serta mendengar riwayat dan pandangan
komunitas. Kombinasi metode semacam ini, atau yang dikenal pula sebagai metode
triangulasi, penting untuk diterapkan mengingat terbatasnya waktu studi AMDAL.

b. Peneliti harus mampu ’’memanfaatkan’’ beragam data dan informasi lingkungan


yang diperoleh dari pakar lain (aspek fisik, kimia, biologi, kesehatan). Untuk

12
Buku Ajar Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)

selanjutnya diintegrasikan ke dalam analisis sehingga melengkapi dan memperkaya


hasil kajian aspek sosial AMDAL. Pendekatan semacam ini tidak digunakan dalam
penelitian ilmu-ilmu sosial konvensional, dimana para peneliti cenderung bekerja
sendiri-sendiri atau bekerja dalam tim yang monodisiplin.

6) Evaluator kajian aspek AMDAL berasal dari berbagai profesi dan bidang
keilmuan

Dokumen AMDAL dievaluasi atau ditelaah oleh Komisi Pusat atau Daerah, yang
anggotanya terdiri dari instansi yang berwenang, pakar bidang keahlian tertentu dan
wakil masyarakat yang ditunjuk atau diangkat untuk keperluan itu. Mereka ini berasal
dari berbagai disiplin ilmu dan turut mengevaluasi kecukupan dan kualitas dari kajian
aspek AMDAL. Bahkan sering dijumpai Tim Teknis Komisi Pusat atau Daerah yang
bertugas mengevaluasi dokumen AMDAL, termasuk kajian aspek sosial AMDAL di
dalamnya, berasal dari luar disiplin sosial misalnya..

Lampiran 1. Keputusan Kepala Bapedal No. Nomor 299 Tahun 1996 tentang
Pedoman Teknis Kajian Aspek Sosial dalam AMDAL.
Daftar komponen, sub-komponen dan parameter sosial
Komponen Parameter
1. Demografi 1. Struktur penduduk
a. Komposisi penduduk berdasarkan kelompok umur, jender,
pekerjaan, pendidikan, agama.
b. Kepadatan penduduk
2. Perkembangan penduduk
2.1. Pertumbuhan penduduk
a. Angka kelahiran
b. Angka kematian anak/balita
c. Angka kematian
d. Pola pertumbuhan
2.2. Mobilitas penduduk
a. Jumlah penduduk yang datang
b. Jumlah penduduk yang keluar
c. Pola perpindahan penduduk (sirkuler, permanen, komuter)
3. Angkatan kerja
a. Tingkat partisipasi tenaga kerja

13
Buku Ajar Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)

b. Angka/tingkat pengangguran

2. Ekonomi 1. Ekonomi rumah tangga


a. Tingkat pendapatan
b. Pola pendapatan yang diperoleh dari berbagai sumber
2. Sumber daya alam yang bernilai ekonomi
a. Pola pemilikan dan penguasaan sumber daya alam
b. Pola pemanfaatan sumber daya alam
c. Pola penggunaan lahan
d. Nilai lahan dan sumberdaya alam lain
e. Sumber daya alam yang dimiliki bersama/ umum
3. Ekonomi lokal dan regional
a. Kesempatan kerja dan usaha
b. Nilai tambah hasil pengolahan
c. Jenis dan jumlah kegiatan ekonomi non formal
d. Distribusi pendapatan
e. Efek ganda ekonomi (multiplier effect)
f. Produk Domestik Bruto
g. Pendapatan asli daerah
h. Pusat pertumbuhan ekonomi
i. Fasilitas umum dan fasilitas sosial

14
Buku Ajar Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)

3. Budaya/adat 1. Adat istiadat/budaya


istiadat a. Adat-istiadat
b. Normal dan nilai budaya
2. Proses sosial
a. Proses asosiatif (kerjasama)
b. Proses disosiatif (konflik sosial)
c. Akulturisasi
d. Asimilasi dan integrasi
e. Kohesi sosial
3. Pranata sosial/kelembagaan masyarakat, dibidang:
a. Ekonomi, misal hak ulayat
b. Pendidikan
c. Agama
d. Sosial
e. Keluarga
4. Warisan budaya
a. Situs purbakala
b. Cagar budaya
5. Pelapisan sosial berdasarkan
a. Pendidikan
b. Ekonomi
c. Kekuasaan
6. Kekuasaan dan wewenang
a. Kepemimpinan formal dan non-formal
b. Kewenangan formal dan non-formal
c. Mekanisme pengambilan keputusan dikalangan masyarakat
d. Kelompok atau individu yang dominan
e. Pergeseran nilai kepemimpinan
7. Sikap dan persepsi masyarakat terhadap rencana kegiatan atau usaha
8. Adaptasi ekologi.

Sumber:
Keputusan Kepala Bapedal No. Nomor 299 Tahun 1996 tentang Pedoman Teknis Kajian Aspek Sosial
dalam AMDAL.

15
Buku Ajar Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)

BAB III
PELINGKUPAN

PENGERTIAN, TUJUAN & MANFAAT PELINGKUPAN

3.1. PENGERTIAN
Armour (1986:31) berpendapat bahwa pelingkupan merupakan proses konsultasi dengan
semua pihak terkait seperti penduduk yang akan terkena dampak, pemrakarsa proyek,
ahli teknis, dan perencana untuk mengiden-tifikasi concerns dan issues. Couch
(1982:12) menambahkan bahwa pelingkupan memberikan masukan tentang aspek mana
yang harus dikaji dengan mendalam dan aspek mana yang tidak perlu memperoleh
perhatian seksama. Menurut Wolf (1983) pertanyaan yang harus dijawab dalam
pelingkupan adalah seberapa besar masalahnya?

Wolf, selanjutnya mengatakan bahwa ruang lingkup studi, yang dirumuskan melalui
pelingkupan adalah:
a) Mengidentifikasi isu utama atau main issues
b) Menentukan wilayah studi
c) Waktu berlangsungnya dampak (time boundary).

Penentuan wilayah studi merupakan proses pengambilan daerah sampel. Isu utama
menjadi dasar untuk menentukan komponen-komponen yang akan distudi. Sedang time
boundary akan dipergunakan untuk memprakirakan berapa lama dampak akan
berlangsung. Menurut Burdge et al (1998) tujuan dari pelingkupan adalah
mengidentifikasi :
a) Pengaruh wilayah primer dan sekunder
b) Dampak sosial yang signifikan
c) Pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders)

16
Buku Ajar Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)

d) Metode penelitian, pengukuran dan sumber data


e) Rencana kerja.

Pendapat Burdge ini telah menyangkut isi Kerangka Acuan (K.A). Memang hasil
pelingkupan dipergunakan sebagai dasar penyusunan ANDAL. Dari pendapat-pendapat
diatas bisa dirangkum bahwa terdapat tiga aspek pelingkupan yakni: mengidentifikasi
issues dan concerns, menentukan wilayah studi, dan menetapkan jangka waktu untuk
memprakirakan berlangsungnya dampak (time frame).

Menurut Keputusan Kepala Bapedal No. KEP-229/11/1996, pelingkupan adalah proses


awal untuk menentukan lingkup permasalahan dan mengidentifikasi dampak penting
potensial yang timbul sebagai akibat rencana usaha atau kegiatan.

3.2. TUJUAN PELINGKUPAN


Tujuan pelingkupan adalah untuk :

a) Menetapkan batas wilayah studi dan batas/horison waktu prakiraan dampak.


b) Mengidentifikasi dampak penting dengan meniadakan hal-hal yang tidak/kurang
penting, berdasarkan hasil diskusi dengan pemrakarsa, pakar, instansi pemerintah dan
masyarakat.
c) Menetapkan kedalaman studi ANDAL.
d) Menetapkan lingkup dan rancangan studi ANDAL secara sistematis.
e) Menelaah kegiatan atau usaha lain yang terkait dan berlokasi dekat dengan rencana
usaha atau kegiatan untuk menghindari pembahasan yang landung (redundant).

3.3. MANFAAT PELINGKUPAN


Pelingkupan merupakan proses penting dalam penyusunan Kerangka Acuan. Bahkan
dengan terbitnya Kepka Bapedal No. 08/2000 tentang Keterbukaan AMDAL dan
Keterlibatan Masyarakat, kegiatan pelingkupan menjadi semakin penting untuk dilakukan
karena aspirasi, pandangan dan sikap masyarakat setempat secara resmi mendapat tempat
untuk diwadahi.

Melalui proses pelingkupan dapat dihasilkan :

a) Dampak penting terhadap lingkungan yang dipandang relevan untuk ditelaah secara

17
Buku Ajar Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)

mendalam dalam studi ANDAL dengan meniadakan hal-hal atau komponen


lingkungan yang dipandang kurang atau penting ditelaah;
b) Lingkup wilayah studi ANDAL berdasarkan beberapa pertimbangan: batas proyek,
batas ekologis, batas sosial, dan batas administratif.
c) Kedalaman studi ANDAL yang antara lain mencakup metoda yang digunakan,
jumlah sampel yang diukur, dan tenaga ahli yang dibutuhkan sesuai dengan
sumberdaya yang tersedia (dana dan waktu).

Semakin baik hasil pelingkupan semakin tegas dan jelas arah studi ANDAL yang akan
dilakukan.
a) Penyusunan ANDAL dapat langsung diarahkan pada hal-hal yang menjadi pokok
bahasan.
b) Kemungkinan timbulnya konflik atau tertundanya kegiatan proyek dapat dihindari.
c) Biaya, tenaga dan waktu untuk penyusunan ANDAL dapat dicurahkan lebih efektif
dan efisien.
d) Penyusunan ANDAL dapat lebih terarah.

3.4. PROSES DAN METODE PELINGKUPAN

Di Indonesia dikenal dua macam proses pelingkupan dalam rangka penyusunan dokumen
KA ANDAL, yakni:
a) Proses pelingkupan untuk menentukan komponen dampak penting dan isu-isu
pokok lingkungan yang perlu ditelaah dalam ANDAL, RKL dan RPL (atau yang dikenal
sebagai pelingkupan dampak penting)
b) Proses pelingkupan untuk menetapkan wilayah studi yang akan digunakan untuk
keperluan penyusunan ANDAL, RKL dan RPL (atau yang dikenal sebagai pelingkupan
wilayah studi).

Selain melalui literatur, kedua macam proses pelingkupan tersebut juga dapat dipelajari
dalam Pedoman Umum Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL sebagaimana terdapat
dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 14 Tahun 1994, Lampiran I.

18
Buku Ajar Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)

Pelingkupan dampak penting dilakukan melalui serangkaian proses dengan tahapan


sebagai berikut:
a) Tahap identifikasi dampak potensial
b) Tahap evaluasi dampak potensial
c) Tahap pemusatan dampak penting
Ad.a Tahap Identifikasi Dampak Potensial .

Pada tahap ini kegiatan pelingkupan dimaksudkan untuk mengidentifikasi segenap


dampak lingkungan (primer, sekunder, dan seterusnya) yang secara potensial akan timbul
sebagai akibat adanya rencana usaha atau kegiatan.
Pada tahapan ini hanya diinventarisasi dampak potensial yang mungkin akan timbul
tanpa memperhatikan besar/kecilnya dampak, atau penting tidaknya dampak. Dengan
demikian pada tahap ini belum ada upaya untuk menilai apakah dampak potensial
tersebut merupakan dampak penting.
Identifikasi dampak potensial dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai metode
sebagai berikut (lihat pula Lampiran 1 sampai 5 yang terdapat pada Lembar Acuan
Pembelajaran):
a) Metode identifikasi dampak, yang meliputi:
 Daftar uji (sederhana, kuesioner, deskriptif)
 Matrik interaksi sederhana
 Bagan alir (flowchart)

b) Penelaahan pustaka (buku teks, dokumen AMDAL sejenis, dan laporan penelitian
yang berhubungan dengan studi ANDAL yang dilakukan)
c) Pengamatan lapangan. Metode ini dilaksanakan dalam bentuk: pengamatan ke calon
lokasi proyek, diskusi dengan pemrakarsa kegiatan, pengamatan secara umum
terhadap kondisi lingkungan, wawancara singkat dengan tokoh masyarakat dan
aparat pemerintah.
d) Analisis isi (content analysis). Metode ini digunakan untuk menangkap atau
mengukur secara tidak langsung persepsi masyarakat terhadap kehadiran proyek,
melalui media massa: koran, majalah, televisi, radio.

19
Buku Ajar Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)

e) Interaksi kelompok (rapat, lokakarya, brain storming, dan lain-lain). Metode ini
banyak digunakan dalam proses pelingkupan terutama sejak diterbitkannya
Keputusan Kepala Bapedal Nomor 08 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat
dan Keterbukaan Informasi dalam Proses AMDAL. Pada Lembar Informasi 3
dikemukakan lebih lanjut tentang hal ini.

Ad.b Tahap Evaluasi Dampak Potensial Penting

Pelingkupan pada tahap ini bertujuan untuk menghilangkan atau meniadakan dampak
potensial yang dianggap tidak relevan atau tidak penting, sehingga diperoleh daftar
dampak penting hipotesis yang dipandang perlu dan relevan untuk ditelaah secara
mendalam dalam studi ANDAL. Daftar dampak penting ini disusun berdasarkan
pertimbangan atas hal-hal yang dianggap penting oleh masyarakat di sekitar rencana
usaha atau kegiatan, instansi yang bertanggung jawab, dan para pakar. Pada tahap ini
daftar dampak penting hipotesis yang dihasilkan belum tertata secara sistematis.

Tahap ini merupakan tahap yang kritis dalam proses pelingkupan karena untuk memilah
dan menetapkan mana komponen lingkungan yang tergolong terkena dampak penting
atau tidak --dari sederetan daftar dampak potensial yang telah teridentifikasi-- lebih
bersifat subyektif. Sifat subyektif ini menjadi tidak terelakkan karena apa yang
dipandang penting oleh suatu kelompok masyarakat di suatu daerah bisa berbeda dengan
kelompok lain di daerah yang sama. Demikian pula apa yang dipandang penting oleh
masyarakat bisa jadi berbeda dengan yang ada di benak pemerintah.

Untuk mengurangi subyektivitas tentang ukuran penting tidaknya dampak, di Indonesia


telah ditetapkan Keputusan Kepala BAPEDAL No. KEP-056/1994 tentang Pedoman
Mengenai Ukuran Dampak Penting. Pedoman ini memuat serangkaian kriteria tentang
pada kondisi apa dan bagaimana suatu komponen lingkungan akan mengalami perubahan
mendasar (dampak penting) akibat adanya rencana kegiatan/usaha.

Selain itu dengan diterbitkannya Keputusan Kepala BAPEDAL No. 08 Tahun 2000, yang
antara lain mengatur tentang keterlibatan masyarakat dalam proses penyusunan dan
penilaian dokumen Kerangka Acuan, penetapan atas penting tidaknya suatu komponen

20
Buku Ajar Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)

lingkungan terkena dampak tidak hanya menjadi lebih tajam dan relevan, tetapi juga
mempunyai legitimasi.

ad. c. Tahap Pemusatan Dampak Penting /Isu Pokok

Pelingkupan yang dilakukan pada tahap ini bertujuan untuk


mengelompokkan/mengorganisir dampak penting yang telah dirumuskan dari tahap
sebelumnya dengan maksud agar diperoleh isu-isu pokok lingkungan yang dapat
mencerminkan atau menggambarkan secara utuh dan lengkap perihal:
a) Keterkaitan antara rencana usaha atau kegiatan dengan komponen lingkungan yang
mengalami perubahan mendasar (dampak penting);
b) Keterkaitan antara berbagai komponen dampak penting yang telah dirumuskan.

Isu-isu pokok lingkungan tersebut dirumuskan melalui 2 (dua) tahapan. Pertama,


segenap dampak penting dikelompokkan menjadi beberapa kelompok menurut
keterkaitannya satu sama lain. Kedua, dampak penting yang berkelompok tersebut
selanjutnya diurut berdasarkan kepentingannya, baik dari ekonomi, sosial, maupun
ekologis.

Dari hasil pengamatan, cukup banyak dokumen KA yang tidak memuat dengan jelas apa
sesungguhnya yang menjadi isu pokok lingkungan dari suatu rencana kegiatan/usaha
yang tergolong wajib AMDAL. Padahal seperti telah diutarakan pada Lembar Informasi
1 (Pengertian Pelingkupan), proses pelingkupan dimaksudkan untuk menggali concerns
dan issues lingkungan yang potensial akan timbul di kemudian hari.

Hasil evaluasi dampak potensial dan pemusatan ini selanjutnya digunakan untuk
menetapkan:
a) Batas wilayah dan horison waktu
b) Ruang lingkup dan kedalaman ANDAL, yang antara lain mencakup:
 Jenis data yang dikumpulkan
 Metode pengumpulan data

21
Buku Ajar Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)

 Lokasi pengukuran.

3.5. PELINGKUPAN WILAYAH STUDI

Penetapan lingkup wilayah studi dimaksudkan untuk membatasi luas wilayah studi
ANDAL dengan mempertimbangkan: hasil pelingkupan dampak penting, keterbatasan
sumberdaya, waktu dan tenaga.

Dalam membatasi wilayah studi, peneliti harus mampu menentukan batas geografis studi
sehingga ia bisa mengkonsentrasikan pada wilayah yang paling penting. Wilayah studi
dapat berupa dukuh, desa, kecamatan atau kabupaten; atau dapat pula suatu Daerah
Aliran Sungai, tergantung pada fenomena dampak lingkungan yang akan timbul.

Untuk menentukan wilayah dampak diatas, beberapa informasi yang diperlukan antara
lain:
a) Lokasi dimana aktivitas rencana kegiatan/usaha akan dilakukan. Peta rencana lokasi
kegiatan yang secara tematik menggambarkan pula situasi kondisi lingkungan fisik
dan sosial penduduk akan merupakan informasi yang berharga untuk penetapan
batas wilayah studi.
b) Sebaran dampak misalnya seberapa jauh bising terdengar, kemana limbah cair
dibuang. Informasi ini menggambarkan sejauh mana limbah atau emisi
tertransportasi atau terbawa oleh media lingkungan ke sekitar rencana
usaha/kegiatan. Informasi ini dapat diperoleh dari anggota tim fisik kimia yang
didukung dengan review literatur.
c) Batas komunitas sosial dari sudut pandang masyarakat yang bersangkutan. Batas
komunitas sosial ini terutama diverifikasi oleh orang-orang yang dianggap
mengenali dengan baik tatanan dan kehidupan sosial setempat (knowledgeable
people). Adakalanya batas administratif tidak sama dengan batas sosiologis.
Sebuah contoh, masyarakat di suatu dukuh secara administratif menjadi bagian dari

22
Buku Ajar Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)

kelurahan A, tetapi dalam kegiatan sehari-hari, penduduk di dukuh tersebut lebih


banyak melakukan kontak (interaksi sosial) dengan penduduk dari kelurahan lain
karena mempunyai ikatan kekerabatan.
d) Waktu, tenaga dan dana yang tersedia. Tersedianya waktu, dana dan tenaga akan
mempengaruhi cakupan studi baik dalam artian banyaknya komponen yang akan
dikaji dan luasnya wilayah studi.

Lingkup wilayah studi ANDAL ditetapkan berdasarkan pertimbangan atas batas-batas


ruang sebagai berikut:
a) Batas proyek
b) Batas ekologis
c) Batas sosial
d) Batas administrative

Ad. a. Batas Proyek

Yang dimaksud dengan batas proyek adalah ruang dimana suatu rencana usaha atau
kegiatan akan melakukan kegiatan prakonstruksi, konstruksi dan operasi. Dari ruang
rencana usaha atau kegiatan inilah bersumber dampak terhadap lingkungan disekitarnya,
termasuk dalam hal ini alternatif lokasi rencana usaha atau kegiatan. Pada saat
menentukan batas proyek ada beberapa aspek sosial yang perlu dipertimbangkan, yakni:

a) Apakah di dalam batas proyek terdapat komunitas atau warga masyarakat yang
mata pencaharian dan/atau pendapatan rumah tangganya berpotensi berubah secara
mendasar akibat adanya rencana kegiatan/usaha?
b) Apakah di dalam batas proyek ada komunitas atau warga masyarakat yang struktur
sosial dan atau nilai-nilai sosial budaya yang dikandungnya berpotensi berubah
secara mendasar akibat adanya rencana kegiatan/usaha? Struktur sosial yang
dimaksud disini dapat berupa :
 Struktur perekonomian masyarakat setempat (pertanian, perkebunan,
perikanan jasa dan sebagainya);
 Struktur kekerabatan;

23
Buku Ajar Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)

 Struktur pemilikan atau penguasaan sumber daya alam baik yang bersifat
formal maupun yang diakui/diatur oleh adat setempat (hak ulayat);
 Interaksi sosial yang terjalin dikalangan masyarakat setempat.

c) Apakah didalam batas proyek tersebut terdapat situs purbakala atau hal-hal lain
yang berkaitan dengan kehidupan religi masyarakat setempat?

Bila hal-hal tersebut dijumpai di dalam batas proyek, maka lokasi pemukiman atau lokasi
kegiatan terpola dari komunitas atau kelompok masyarakat tersebut dapat dipandang
sebagai batas sosial.

ad. b. Batas Ekologi

Yang dimaksud dengan batas ekologis adalah ruang persebaran dampak dari suatu
rencana usaha atau kegiatan menurut media transportasi limbah atau emisi (air, udara,
organisma), sehingga proses alami yang berlangsung didalam ruang tersebut berpotensi
mengalami perubahan mendasar. Termasuk dalam ruang ini adalah ruang disekitar
rencana usaha atau kegiatan yang secara ekologis memberi dampak terhadap aktivitas
usaha atau kegiatan.

Setelah batas ekologis ditetapkan, selanjutnya perlu diidentifikasi apakah di dalam batas
ekologis tersebut terdapat potensi timbulnya dampak sosial dengan menelaah, antara lain:

a) Apakah dalam batas ekologis tersebut terdapat komunitas atau warga masyarakat
yang kebutuhan domestiknya (rumah-tangga) seperti kebutuhan air bersih untuk
konsumsi, mandi, cuci dan kakus, berpotensi terkena dampak penting akibat
rencana kegiatan/usahal?
b) Apakah dalam batas ekologis tersebut terdapat komunitas atau warga masyarakat
yang mata pencahariannya atau aktivitas sosial-ekonominya menjadi terhambat atau
terganggu sebagai akibat pencemaran atau kerusakan yang akan timbul?
c) Apakah dalam batas ekologis tersebut terdapat komunitas atau warga masyarakat
yang struktur sosial dan nilai-nilai sosial-budayanya berpotensi terkena dampak
penting akibat rencana usaha atau kegiatan?

24
Buku Ajar Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)

Bila hal-hal tersebut dijumpai di dalam batas ekologi, maka ruang atau lokasi kegiatan
terpola dari komunitas atau warga masyarakat tersebut dapat dipandang sebagai batas
sosial.

Ad.c. Batas Sosial


Yang dimaksud dengan batas sosial adalah ruang dimana secara langsung maupun tidak
langsung kegiatan terpola atau kepentingan sosial, ekonomi dan budaya dari kelompok
atau warga masyarakat sekitar proyek dan warga masyarakat pemerhati lingkungan,

Pengertian tersebut merupakan perluasan atas pengertian batas sosial yang tercantum
dalam Keputusan Kepala Bapedal No. 299/1996 tentang Pedoman Teknis Kajian Aspek
Sosial dalam Penyusunan AMDAL. Dalam Keputusan tersebut dikemukakan bahwa batas
sosial mengandung pengertian ruang disekitar rencana usaha atau kegiatan yang
merupakan tempat berlangsungnya berbagai interaksi sosial yang mengandung norma
dan nilai tertentu yang sudah mapan (termasuk sistem dan struktur sosial), sesuai dengan
proses dinamika sosial atau kelompok masyarakat, yang diperkirakan akan mengalami
perubahan mendasar akibat suatu rencana usaha atau kegiatan.

Secara garis besar ada dua komunitas atau kelompok masyarakat yang yang dapat
dijadikan dasar untuk penetapan batas sosial, yakni:

a) Kelompok atau warga masyarakat yang terkena dampak


proyek akibat:
 Pencemaran lingkungan yang tersebar melalui media air, udara, tanah atau
biologi (organisma), dan/atau
 Proses sosial, kepentingan, manfaat sosial, ekonomi dan budaya yang telah
ada sebelumnya mengalami perubahan.
b) Kelompok atau warga masyarakat pemerhati lingkungan yang secara geografis
tidak terkena pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh proyek, namun
berkepentingan dengan timbulnya perubahan ekologi atau lingkungan hidup yang
diakibatkan oleh proyek. Sebagai misal adalah organisasi-organisasi LSM yang

25
Buku Ajar Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)

bergerak di bidang lingkungan hidup yang bermukim jauh dari proyek namun
melakukan protes sosial terhadap kegiatan proyek.

Batas sosial untuk warga masyarakat yang terkena dampak umumnya dapat digambarkan
secara spasial dalam peta dengan batas proyek dan batas ekologis, namun batas sosial
bagi warga masyarakat pemerhati lingkungan umumnya tak dapat digambarkan di dalam
peta batas wilayah studi. Walau tak dapat digambar di peta, kelompok atau warga
masyarakat pemerhati lingkungan ini tetap harus dipandang sebagai batas sosial yang
ditelaah dalam studi ANDAL.

Skema di halaman berikut ini membantu mempermudah cara penetapan batas sosial
dimaksud.

Warga yang Berkepentingan

Warga masyarakat yang terkena Warga masyarakat


dampak pemerhati lingkungan

Bermukim di sekitar proyek Bermukim di sekitar proyek Bermukim jauh dari proyek
Terkena pencemaran lingkungan yang Tidak terkena pencemaran lingkungan Tidak terkena pencemaran
tersebar melalui media air, udara dan yang tersebar melalui media air, udara lingkungan
biologi, dan/atau dan biologi Tidak punya kepentingan sosial dan
Proses sosial, kehidupan budaya/ adat Proses sosial, kehidupan budaya/adat ekonomi dengan wilayah sekitar
istiadat dan kepentingan sosial istiadat dan kepentingan sosial ekonomi proyek tetapi berkepen-tingan
ekonomi masyarakat berpotensi masyarakat berpotensi terkena dampak dengan perubahan ekologi atau
terkena dampak penting penting lingkungan hidup yg terjadi

Komunitas/kelompok/lapisan sosial Komunitas/kelompok/lapisan sosial Komunitas atau kelompok pemerhati


yang terkena dampak proyek yang terkena dampak proyek lingkungan

Batas sosial dapat divisualisasikan Batas sosial tak dapat divisualisasikan


di peta di peta

Tetapkan unit
analisis variabel
yang hendak
diteliti
Tinjau ulang aspek
26
sosial yang akan
ditelaah (dokumen
KA)
yang perlu
dikumpulkan &
dianalisis
Buku Ajar Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)
Langkah
Penyusunan
slide no: 6
slide no: 4 - 5

Gambar : Diagaram alir Batas Sosial

Ad.d. Batas administrasi

Yang dimaksud dengan batas administrasi adalah ruang dimana masyarakat dapat secara
leluasa melakukan kegiatan sosial ekonomi dan sosial budaya sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku di dalam ruang tersebut. Batas ruang tersebut dapat
berupa batas administrasi pemerintahan atau batas konsesi pengelolaan sumber daya
alam. Dengan memahami batas administrasi ini akan dapat diidentifikasi apa saja
peraturan perundangan daerah atau sektor yang harus ditaati berkenaan dengan
pengelolaan lingkungan hidup.

Mengingat dampak lingkungan tersebar secara ekologis melalui media air atau udara,
maka ada kemungkinan batas ekologi menyebar di dua atau lebih daerah administratif
dan masing-masing memiliki peraturan perundangan pengelolaan lingkungan hidup yang
berbeda.

Batas wilayah studi ANDAL selanjutnya ditetapkan sebagai batas terluar dari
“himpunan’’ batas proyek, batas ekologi, batas sosial dan batas administratif --atau
dengan kata lain merupakan amalgamasi dari empat batas wilayah dimaksud-- plus
ketersediaan dana, waktu dan tenaga.

27
Buku Ajar Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)

Lampiran 1. Contoh Daftar Uji Sederhana Dampak Potensial yang


Diakibatkan oleh Proyek Perhubungan (Carter, 1977)
I. Tahap Perencanaan dan Desain
1. Dampak dan tata guna tanah
2. Dampak pada ketidakpastian kegiatan ekonomi
3. Dampak pada perencanaan sektor lain
4. Kecaman terhadap proyek

II. Tahap Perancangan dan Desain


1. Pemindahan penduduk
2. Bising
3. Erosi tanah dan kerusakan pada saluran drainase alam
4. Pencemaran air
5. Pencemaran udara (sebu, asap)
6. Kerusakan pada habitat satwa lira
7. Kerusakan pada taman, rekreasi dan obyek wisata
8. Estetika

III. Tahap Operasi


A. Langsung
1. Kebisingan
2. Pencemaran udara
3. Pencemaran air
4. Sosial ekonomi
5. Estetika

B. Tidak Langsung
1. Pola pengembangan wilayah
2. Permintaan atas rumah dan fasilitas umum
3. Dampak pemanfaatan ruang sekitar permukiman
4. Dampak perbaikan/penambahan sarana pengangkutan
5. Dampak pada gaya hidup

28
Buku Ajar Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)

Lampiran 2. Contoh Daftar Uji Kuesioner yang Dikembangkan oleh Bank Dunia,
1974 (dalam Soemarwoto, 1997)

PARIWISATA

A. Lingkungan/kaitan dengan sumberdaya

1. Konsekuensi lingkungan apakah yang diperkirakan akan terjadi karena


perubahan pola tataguna lahan dan perpindahan penduduk sebagai akibat adanya
atau/dan operasi proyek?
2. Apakah proyek akan menyebabkan kedatangan banyak orang untuk mencari
pekerjaan? Jika ya, masalah lingkungan/sosial apa yang diprakirakan akan
terjadi?
3. Apakah para wisatawan akan menciptakan kondisi yang membahayakan
perlindungan atau pengelolaan aspek lingkungan alamiah yang penting?
4. Apakah akan timbul kegiatan dan fasilitas yang tidak diingini di sekitar proyek?
Bagaimana kegiatan ini akan ditangani?
5. Peraturan apa yang berlaku, antara lain, perencanaan tataguna lahan, zonasi dan
undang-undang, peraturan pemerintah, dan lain sebagainya, yang dapat
menjamin tidak rusaknya nilai pariwisata?

B. Rancangbangun proyek dan konstruksi

1. Apakah rancangbangun proyek cocok dengan lingkungan alamiah? Apakah


rancangbangun serasi dengan pemandangan dan sifat bentang alam?
2. Apakah sifat khas daerah tersebut diperhatikan dalam rancangbangun proyek?
3. Apakah akan terjadi kerusakan minimal pada lingkungan alamiah? Jika
kerusakan tidak dapat dihindari, apakah tindakan akan diambil untuk
memulihkannya lagi dan menanaminya kembali?
4. Apakah akan terjadi masalah bau busuk, pencemaran udara dan/atau
pembuangan limbah dari daerah perkotaan atau industri di dekatnya?

29
Buku Ajar Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)

C. Operasi

1. Apakah ada kegiatan operasi yang akan menyebabkan kerusakan


lingkungan atau sosial?
2. Apakah rancangbangun pemasokan air dan pengelolaan limbah mencukupi
persyaratan?
3. Kemanakah limbah manusia akan dibuang dan apakah semua alternatif telah
dipelajari?
4. Jika direncanakan pembuangan ke laut, apakah penelitian biologi laut dan
penelitian laut lainnya telah dilakukan untuk menjamin perlindungan biota laut
dan garis pantai?
5. Apakah akan terjadi masalah gangguan kesehatan dari insekta dan bagaimana
insekta akan dikendalikan?
6. Apakah sarana penyajian makanan dan para karyawannya akan diperiksa secara
periodis untuk menjamin dipenuhinya persyaratan sanitasi dan kesehatan?
7. Apakah ada penyakit endemis (misalnya malaria) di daerah tersebut yang akan
memerlukan pengawasan dan pengendalian khusus?
8. Apakah papan dan lampu nenon iklan, kebisingan, dan seterusnya diawasi dan
dikendalikan?
9. Apakah pesawat jet akan terbang di atas atau di dekat daerah proyek dan
menyebabkan masalah kebisingan ?
10. Apakah pantai akan terancam pencemaran oleh minyak dari kapal yang lewat
atau pencemaran oleh limbah industri dan domestik?

D. Faktor Sosial-Budaya

4.1 Sudahkah dampak proyek dan kegiatan lain yang berkaitan dengan proyek terhadap
kebudayaan dan pola hidup lokal dievaluasi?
4.1 Apakah dengan adanya operasi proyek akan menimbulkan kendala pada
penduduk lokal dan disharmoni?

30
Buku Ajar Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)

4.1 Apakah wisatawan/penduduk lokal akan diikutsertakan dalam proyek ataukah


mereka akan dilarang untuk datang di daerah rekreasi yang semula mereka
gunakan?
4.1 Jika tapak atau bangunan bersejarah, geologik atau arkeologik merupakan
sebagian atau seluruh daya tarik proyek, apakah perlindungan atau
pengelolaannya telah dikembangkan secukupnya?

E. Aspek Kesehatan

1. Apakah sarana dan tenaga pelayanan kesehatan yang sudah ada cukup untuk
melayanikebutuhan yang meningkat?
2. Apakah sarana dan tenaga tersebut memenuhi standar untuk melayani para
wisatawan?
3. Apakah sarana keadaan darurat (pemadam kebakaran, ambulans, SAR)
mencukupi syarat?

F. Pertimbangan jangka panjang

1. Proyek lain apakah yang direncanakan di kemudian hari dan bagaimana interaksi
proyek tersebut dengan proyek yang diusulkan?
2. Apakah nilai pariwisata akan tetap penting di daerah tersebut ataukah ada
keraguan nilai tersebut akan hilang atau dikorbankan untuk keperluan lain?

31
Buku Ajar Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)

Lampiran 3. Contoh Sebagian Daftar Uji Deskriptif untuk Analisis Pembangunan


Lahan, Zonasi atau Rezonasi. (Schaeman, 1976 dalam Soemarwoto, 1977)

Keterangan: Tabel ini hanya mencantumkan sebagian dari daftar uji Schaeman, yang dalam
daftar aslinya dimuat 47 faktor.

Bidang dan Sub-bidang


Sumber informasi/teknik prakiraan
Ukuran yang disarankan Alternatif ukuran

I. EKONOMI LOKAL
Neraca fiskal
1. Perubahan netto dalam arus fiskal Pendapatan : pendapatan keluarga yang
(pendapatan dikurangi diperkirakan menurut jenis perumahan;
pengeluaran) nilai tambah pemilikan.
Pengeluaran : analisis permintaan
pelayanan baru; biaya yang dikeluarkan;
kapasita yang ada menurut jenis
pelayanan.

Lapangan pekerjaan
2. Perubahan dalam persen dan 2a. Jumlah bersih lapangan Langsung dari perusahaan baru; atau
jumlah orang yang bekerja, pekerjaan baru jangka pendek diperkirakan dari luas bangunan, pola
menganggur, tidak bekerja dan jangka panjang yang penduduk lokal, imigrasi yang
penuh, menurut tingkat tersedia untuk daerah setempat diperkirakan, profil pengangguran yang
keterampilan. ada.

Kekayaan
3. Perubahan dalam nilai lahan Pemasokan dan permintaan lahan dengan
zone serupa, perubahan lingkungan dekat
pemilikan.

II LINGKUNGAN ALAM
Kualitas udara
Kesehatan
4. Perubahan dalam kadar zat 4a. Perubahan dalam kadar zat Kadar ambien yang ada, emisi yang ada
pencemar menurut frekuensi pencemar relatif terhadap mutu dan diprakirakan di kemudian hari, model
kejadian dan jumlah orang yang baku. dispensi, peta populasi.
terkena risiko. 4b. Perubahan dalam emisi zat
pencemar relatif terhadap neraca
emisi atau sasaran.

Gangguan
5. Perubahan dalam kejadian 5a. Perubahan dalam kementakan Garis dasar bagi penduduk, proses
gangguan visual (asap, kabut) terjadinya atau perubahan dalam industri yang diperkirakan akan terjadi,
atau gangguan alfaktoris (bau) intensitas gangguan kualitas volume lalulintas.
dan jumlah orang yang terkena. udara (penilaian kualitatif).

32
Buku Ajar Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)

Lampiran 4. Contoh Matrik Identifikasi Dampak Lingkungan Rencana Kegiatan


Penambangan Ganda di Perairan Pulau Bangka (PT. Timah Tbk, 1996)

Kegiatan penambangan timah dan pasir laut


Pengu- Pemisah- Pemeliha- Perbaikan
Penge- Pemuatan Mobilisasi
No. Komponen Lingkungan pasan an tanah & raan &
rukan pasir & demo-
tanah/ pasir & kebersih- perawatan
tanah/pasir tailing ke bilisasi
pasir pencucian an kapal kapal
& timah tongkang personil
penutup timah keruk keruk
A. FISIK – KIMIA
1. Arus perairan
 
2. Pasang surut
 
3. Gelombang
 
4. Salinitas perairan

5. Suhu perairan

6. Batimetri
 
7. Dinamika garis pantai
 
8. Kualitas air laut
    
B. BIOTA
19. Vegetasi pantai/ mangrove

10. Biota perairan
   
11. Ekosistem perairan pantai
 
C. SOSIAL EKONOMI DAN
BUDAYA
12. Kepadatan dan
pertumbuhan penduduk
13. Persebaran penduduk
14. Peluang bekerja &

berusaha
15. Obyek wisata
   
16. Kunjungan wisata
  
17. Prasarana perhubungan
  
18. Pemukiman penduduk
19. Fasilitas umum

20. Kesehatan masyarakat
21. Adat istiadat
22. Kelembagaan tradisional
23. Akulturisasi dan asimilasi
24. Perekonomian daerah

33
Buku Ajar Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)

25. Sikap terhadap PT. Timah


    

Keterangan :  ada dampak

34
Buku Ajar Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)

Lampiran 5. Contoh aplikasi Metode Bagan Alir Dampak pada Proyek Pengembangan Minyak Lepas Pantai

Pembangunan Lapangan Minyak Lepas Pantai

Kualitas Udara
dan Kebisingan Bentang Alam Arus Kesempatan Kerja Hak Ulayat

Vegetasi Vegetasi Kualitas Air Struktur dan


Darat Laut Laut Interaksi Sosial

Pendapatan setara beras Perekonomian Lokal


(kg/jiwa/thn) Biota Laut

Sikap Masyarakat terhadap


Proyek Pengembangan Lapangan
Minyak Lepas Pantai

35
3.5. KETERLIBATAN MASYARAKAT DALAM PROSES PELINGKUPAN

Keterlibatan masyarakat dalam proses AMDAL --termasuk dalam hal ini proses
pelingkupan-- menurut Keputusan Kepala Bapedal Nomor 08 Tahun 2000 diatur sebagai
berikut.

Tahap Bentuk Keterlibatan Masyarakat

Penyusunan KA 1) Warga masyarakat yang berkepentingan berhak


memberikan saran, pendapat dan/atau tanggapan
terhadap dokumen KA ANDAL dalam forum
konsultasi yang diselenggarakan oleh pemrakarsa.
2) Hasil dari konsultasi kepada masyarakat wajib
digunakan pemrakarsa sebagai bahan pertim-bangan
dalam pelingkupan.

Penilaian KA 1) Warga masyarakat terkena dampak berhak duduk


sebagai anggota Komisi Penilai AMDAL melalui
wakil yang telah ditetapkan.
2) Warga masyarakat yang berkepentingan dapat
menyampaikan saran, pendapat, dan tang-gapannya
kepada instansi yang bertanggung jawab dan/ atau
pemrakarsa dalam bentuk yang mudah
didokumentasikan dan/atau tertulis, selambat-
lambatnya 3 hari kerja sebelum rapat Komisi Penilai
AMDAL.

Penilaian ANDAL, 1) Warga masyarakat terkena dampak berhak duduk


RKL dan RPL sebagai anggota Komisi Penilai AMDAL melalui
wakil yang telah ditetapkan.
2) Warga masyarakat yang berkepentingan dapat
menyampaikan saran, pendapat, dan tang-gapannya
kepada instansi yang bertanggung jawab dan/atau
pemrakarsa dalam bentuk yang mudah
didokumentasikan dan/atau tertulis, selambat-
lambatnya 45 hari kerja setelah informasi jadwal
rencana penilaian oleh Komisi Penilai AMDAL
disebar-luaskan secara resmi.
BAB IV

PENGERTIAN & LANGKAH PENYUSUNAN RONA LINGKUNGAN

4.1. PENGERTIAN
Penyusunan rona lingkungan merupakan upaya menggambarkan kondisi lingkungan di
wilayah studi ANDAL, terutama aspek-aspek terkait yang menurut dokumen Kerangka
Acuan (KA) terkena dampak penting dari rencana usaha atau kegiatan. Berkenaan
dengan pengertian tersebut maka dalam penyusunan rona lingkungan perlu diperhatikan
hal-hal berikut ini:
a. Rona lingkungan yang disusun merupakan penjabaran dari “komponen lingkungan
yang ditelaah” sebagaimana diamanatkan dalam dokumen KA.
b. Contoh untuk komponen lingkungan sosial yang diteliti harus bersifat spesifik
lokasi, sehingga tidak selalu seluruh komponen aspek sosial yang terdapat dalam
Pedoman Umum Penyusunan AMDAL (Keputusan Menteri Negara LH Nomor 09
Tahun 2000), dan yang terdapat dalam Pedoman Teknis Kajian Aspek Sosial
AMDAL (Keputusan Kepala Bapedal Nomor 299 Tahun 1994), diteliti untuk setiap
usaha atau kegiatan wajib AMDAL.
c. Rona lingkungan yang dikonstruksikan dalam ANDAL harus berkaitan dengan
komponen lingkungannya yang diperkirakan akan terkena dampak penting. Hanya
komponen yang berpotensi terkena dampak penting yang menjadi fokus dalam
studi ANDAL. Contoh misalnya : dalam dokumen KA-ANDAL Kawasan Industri,
teridentifikasi bahwa tingkat pendapatan, kesempatan kerja, tingkat kenyamanan,
kesehatan masyarakat dan pola hubungan sosial berpotensi terkena dampak
penting, maka hanya data yang berkaitan dengan komponen aspek sosial tersebut
tersebut yang perlu dihimpun dan dianalisis.
d. Rona lingkungan yang dikonstruksikan dalam ANDAL adalah yang terletak dalam
lingkup wilayah studi sebagaimana diamanatkan dalam dokumen Kerangka Acuan
(KA);
e. Komponen lingkungan yang tertera pada dokumen KA dapat mengalami
penambahan atau pengurangan sepanjang relevan dengan potensi dampak penting
yang akan timbul dan terkait dengan dampak rencana kegiatan/usaha.
f. Pedoman Teknis, dokumen ANDAL kegiatan sejenis (untuk keperluan analogi),
referensi (data statistik, peta, rujukan), dan pustaka lainnya, dapat digunakan
sebagai alat bantu untuk penyusunan rona lingkungan.

4.2. METODE PENGUMPULAN & METODE ANALISIS DATA

4.2.1. METODE PENGUMPULAN DATA.

Dampak penting aspek sosial dari suatu rencana usaha atau kegiatan pada umumnya tidak
menyebar secara merata di seluruh kelompok dan lapisan masyarakat. Dengan demikian
dalam menetapkan/memilih metode pengumpulan dan analisis data yang relevan, baik
yang bersifat kuantitatif atau kualitatif, perlu dipertimbangkan hal-hal berikut ini:
a. Satuan analisis (rumah tangga, desa, kabupaten, propinsi) yang akan diukur.
b. Ukuran-ukuran yang bersifat penting menurut pandangan masyarakat (emic)
disekitar rencana usaha atau kegiatan;
c. Ketersediaan dana, tenaga, waktu dan keahlian juga merupakan pertimbangan
dalam memilih teknik pengumpulan data.
d. Karakteristik sumber data. Ciri-ciri responden misalnya tingkat pendidikan, tingkat
sosial ekonomi, jenis pekerjaan, homogen atau heterogen akan menentukan
teknik pengumpulan data. Responden dengan tingkat pendidikan rendah dengan
jenis pekerjaan petani atau nelayan akan cocok menggunakan wawancara
langsung yang disertai pedoman pertanyaan atau kuesioner dari pada dengan
kelompok diskusi terfokus.

Beberapa metode pengumpulan data yang dapat digunakan dalam penyusunan aspek
sosial AMDAL diantaranya adalah:
a. Wawancara
b. Observasi/pengamatan lapangan
c. Pengumpulan data sekunder
d. Diskusi kelompok terarah
e. Penilaian cepat pedesaan (rapid rural appraisal, RRA)
Ad.a. Metoda Wawancara
Ada dua macam metode wawancara, yakni, wawancara dengan kuesioner dan wawancara
mendalam.

Wawancara dengan kuesioner dapat dilakukan dengan beberapa cara:


a. Wawancara bebas tanpa daftar atau pedoman pertanyaan
Dalam studi dampak sosial, wawancara bebas bisa dilakukan pada waktu
peninjauan dilapangan (pra survai) dimana peran peneliti menginventarisir issues
dan concerns. Wawancara bebas demikian ini disebut pula sebagai metode walk
and talk.

b. Wawancara dengan menggunakan pedoman pertanyaan


Pedoman pertanyaan hanya digunakan sebagai panduan, sehingga jawaban dari
responden atau nara sumber bersifat terbuka. Dalam studi aspek sosial AMDAL,
wawancara dengan menggunakan pedoman pertanyaaan digunakan untuk
menghimpun data dari para tokoh masyarakat atau pamong desa. Informasi yang
dihimpun dari nara sumber itu merupakan informasi yang bersifat umum tentang
lingkungan misalnya kondisi lingkungan (kondisi lingkungan fisik, bagaimana pola
hubungan sosial masyarakat, tanggapan terhadap ide-ide baru dan sebagainya).
Informasi tersebut biasanya lebih valid kalau dihimpun dari tokoh masyarakat dan
pamong desa. Ada kemungkinan informasi dari masing-masing nara sumber akan
berbeda, maka para peneliti yang harus pandai merekonsiliasi data.

c. Wawancara dengan menggunakan daftar pertanyaan


Jenis wawancara ini banyak digunakan oleh peneliti sosial termasuk peneliti
aspek sosial AMDAL yang menggunakan teknik kuesioner (survai). Menurut
Irawati Singarimbun (1978:1) ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam
wawancara dengan kuesioner ini, diantaranya adalah mutu daftar pertanyaan,
kepribadian pewawancara, kemampuan pelaksana atau koordinator survai.

Ketrampilan wawancara berkenaan dengan pendekatan yang dilakukan oleh


pewawancara kepada nara sumber atau responden. Pendekatan yang baik adalah yang
menggunakan bahasa responden. Pewawancara juga diharapkan mampu membawa diri
yang tercermin dalam tutur kata, penampilan dan cara berpakaian. Penampilan
pewawancara sebaiknya tidak menyolok. Hendaknya sesuai dengan tugasnya sebagai
petugas lapangan penelitian.

Penggunaan kuesioner didasari oleh suatu keyakinan bahwa responden atau nara
sumber adalah orang yang paling mengetahui tentang dirinya sendiri sendiri.

Kuesioner dibagi dalam dua kategori :


a. Tidak langsung di mana kuesioner dibagikan pada responden. jika telah diisi
lengkap, kuesioner dikirim kembali kepada peneliti atau si peneliti yang
mengambilnya dari responden.
b. Langsung dimana peneliti menggunakan kuesioner dan langsung mewawancari
responden.

Menurut jenis pertanyaannya, kuesioner dibagi kedalam kuesioner tertutup dan


terbuka. Tertutup jika jawaban atas pertanyaan dalam kuesioner telah disiapkan dengan
beberapa pilihan. Disebut terbuka, jika setiap butir pertanyaan belum disediakan
jawaban. Responden dapat menyatakan pen-dapat sesuai dengan keyakinanya, lalu
peneliti membuat kategori kemudian.

Beberapa prinsip dalam menyusun pertanyaan dalam kuesioner:


a. Pertanyaan harus jelas artinya mudah dipahami oleh responden dan tidak
mengandung arti ganda,
b. Pertanyaan harus pendek. Panjangnya pertanyaan akan membuat kesulitan
mencerna dan mengingat tentang apa yang dimaksud,
c. Jangan mengulang pertanyaan. Jika suatu pertanyaan telah diajukan pada satu
bagian, sebaiknya tidak ditanyanyan pada bagian lain,
d. Hindari istilah-istilah "bias" dalam pertanyaan. Sebaiknya disusun istilah-istilah
baku yang banyak digunakan,
e. Pertanyaan yang positif,
f. Pertanyaan yang kongkrit, artinya tidak berbunga-bunga,
g. Menempatkan pertanyaan-pertanyaan yang sensitif di akhir kuesioner. Hal ini
dimaksudkan untuk membina rapport. Rapport adalah hubungan baik antara
pewawancara dengan sumber data (responden).
Dengan tetap menjaga rapport dan kesopanan, pewawancara yang baik adalah yang bisa
mengungkap lebih dalam tentang informasi yang disampaikan responden, melalui :
 menggali terus pertanyaan untuk memperoleh data yang detail.
 pertanyaan yang tepat
 susun pertanyaan secara efektif tetapi juga estetik.

Keunggulan dari metode wawancara yang dipandu dengan kuesioner ini antara adalah:

a. Pewawancara dapat mengetahui apakah pertanyaan dapat


dipahami oleh responden dan apakah jawaban yang diberikan responden
relevan dengan pertanyaan,
b. Pewawancara dapat menanyakan lebih lanjut tentang jawaban
yang diberikan responden dalam rangka melakukan further investigation,
c. Kehadiran pewawancara akan mempercepat penyelesaian
jawaban atas kuesioner.

Kelemahan wawancara langsung: responden cenderung menjawab seperti apa yang


diinginkan oleh pewawancara. Contohnya, jika responden memiliki kesulitan menjawab
pertanyaan tentang besarnya pendapatan, mereka cenderung menyerahkan saja
jawabanya kepada pewawancara. Atau juga pertanyaan tentang seberapa besar tingkat
kegotong-royongan masyarakat, responden akan menjawab sesuatu yang
menyenangkan artinya responden tidak ingin diketahui tentang sesuatu yang kurang
baik tentang lingkunganya.

Wawancara mendalam dengan tokoh-tokoh masyarakat atau orang-orang yang dianggap


mengetahui tentang kondisi masyarakat setempat, dengan menggunakan pedoman
pertanyaan. Dalam konteks aspek sosial AMDAL metode ini digunakan untuk menelaah
secara mendalam suatu issu atau masalah tertentu di suatu kelompok atau golongan
masyarakat tertentu secara mendalam. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan senantiasa
diarahkan untuk menggali dan mendalami seputar issu atau masalah tertentu yang akan
ditelaah. Sehingga dalam metode ini pertanyaan yang diajukan dapat terus berkembang
dan pihak yang diwawancara dapat berkembang sesuai data dan informasi yang telah
terkumpul, sampai pada tahap dipandang cukup oleh peneliti. Teknik ini disebut juga
sebagai teknik bola saju bergelinding (snow balling techniques). Metode ini umumnya
digunakan bersamaan dengan metode observasi-partisipasi.

Ad.b. Observasi atau Pengamatan Langsung


Observasi adalah pengamatan dan pencatatan dengan sistematik tentang gejala-gejala
yang diamati. Observasi yang dilakukan dalam studi aspek sosial AMDAL biasanya
adalah observasi langsung dimana para peneliti, sembari mengadakan wawancara
melakukan pengamatan tentang lingkungan secara umum dan lingkungan dari responden
yang diwawancarai. Pengamatan juga dilakukan ketika peneliti melakukan pra-survai
dalam rangka pelingkupan. Observasi sebagai teknik menghimpun data, sangat efektif
digunakan dalam memahami pola hubungan sosial. Misalnya melalui media temu warga
yang diselenggarakan sebulan sekali. Peneliti hadir dalam temu warga tersebut dan
melakukan observasi bagaimana para warga berinteraksi satu dengan yang lain,
bagaimana pola hubungan sosialnya sehingga bisa disimpulkan tentang tingkat kohesi

masyarakat. Bentuk-bentuk observasi dapat dikategorikan sebagai berikut:

Outsider  Marginal Participant 


(Pihak Luar) (Partisipan Terbatas)

Recognized Outsider Full Participant


 (Pihak Luar yang Dikenal)  (Partisipan Penuh)

Gambar: Bentuk-bentuk Observasi

Outsider (pihak luar) adalah bentuk pengamatan dimana peneliti tidak melakukan kontak
dengan kelompok atau masyarakat yang diteliti. Peneliti berada diluar social setting dari
kelompok yang diteliti. Ia mengamati, mencatat dan menyusun interpretasi. Tingkat
presisi interpretasi sangat tergantung pada pemahaman awal peneliti terhadap subyek
yang diteliti. Makin tinggi tingkat pemahamanya makin dekat interpretasinya dengan
makna yang ditafsirkan oleh masyarakat. Peran outsider (pihak luar) mengandung resiko
berupa bias interpretasi oleh peneliti.
Observasi yang dilakukan oleh Recognized Outsider (pihak luar yang dikenal)
mengandung pengertian bahwa antara peneliti dengan masyarakat telah terjalin
kontak/komunikasi tetapi intensitasnya rendah. Masyarakat sebagai sumber data atau
responden telah mengenali (recognize) bahwa yang mewawancarai adalah peneliti.
Hubungan antara peneliti dengan masyarakat bersifat formal dan temporer. Peneliti
berada dilapangan dalam waktu sangat pendek, sekedar menghimpun data. Dalam
kondisi seperti ini, data yang diperoleh peneliti tidak optimal. Karena hubunganya
bersifat formal dan dalam waktu yang pendek, masyarakat kadang-kadang
menyampaikan informasi sekedarnya. Kondisi ini lebih parah lagi jika kehadiran
peneliti dianggap sebagai petugas Pemerintah yang akan memungut pajak.

Dalam penelitian observasi dimana peneliti berperan sebagai marginal participant


(partisipan terbatas), peneliti melakukan kontak dengan masyarakat secara intensif. Ia
telah mengambil bagian (berpartisipasi) dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh
masyarakat seperti kerja bakti, temu warga dan sebagainya. Partisipasi ini merupakan
upaya dari peneliti agar memperoleh informasi yang lebih akurat. Karena masyarakat
telah menganggap peneliti sebagai bagian dari padanya, maka mereka tidak enggan
menyampaikan informasi yang diperlukan. Dalam pada itu, melalui proses partisipasi,
peneliti secara otomatis mengetahui benar apa yang terjadi didalam masyarakat.

Dalam penelitian observasi secara full participant (partisipan penuh), kontak peneliti
dengan masyarakat sangat intensif. Bahkan masyarakat sampai tidak mengetahui kalau
ada peneliti yang sedang menghimpun data. Peneliti benar-benar menjadi bagian dari
masyarakat. Beberapa contoh peran full participant misalnya ketika seorang Antropolog
UI meneliti gelandangan di Kota Jakarta. Ia benar-benar memerankan diri sebagai
gelandangan berada ditengah-tengah komunitas tersebut untuk waktu yang cukup lama.

Pada umumnya dalam studi dampak sosial, peneliti berperan sebagai pengamat yang
melakukan partisipasi (berada diantara peran sebagai outsider atau recognized outsider).
Peneliti melakukan observasi ketika mereka mengumpulkan data, atau ketika
melakukan prasurvai.

Pengumpulan data primer dimaksudkan untuk mengetahui rona lingkungan awal saat
studi dilakukan. Data primer dikumpulkan dari hasil wawancara, survai/ observasi,
pengukuran, dan pengambilan sampel di lokasi yang telah ditetapkan berdasarkan lokasi
tapak proyek dan radius atau arah sebaran dampak sesuai dengan batas wilayah studi.
Metoda pengumpulan data primer untuk masing-masing aspek adalah sebagai berikut.
1. Aspek Fisik-Kimia
Jenis data primer aspek fisik-kimia yang dikumpulkan meliputi: morfologi, gejala erosi,
air, udara, dan kebisingan. Data morfologi dan gejala erosi dikumpulkan dengan cara
inventarisasi secara visual. Sampel air diambil dengan menggunakan “water sampler”.
Sampel udara menggunakan multiple impinger, sedangkan sampel kebisingan dilakukan
dengan cara pengukuran memakai sound level meter. Contoh Metoda pengumpulan data
primer pada aspek fisik-kimia secara lebih rinci disajikan pada Tabel 3.1 dengan kasus
ANDAL Waduk misalnya :.

Tabel 3.1. Metoda Pengumpulan Data Primer Aspek Fisik-Kimia


No Jenis Data Jumlah Lokasi Metoda
. yang Sampel Sampling Pengumpulan
Dikumpulkan Data
1 Morfologi 6 titik DTA, rencana Inventarisasi
lokasi bendung, (visual)
DI
2 Gejala Erosi 6 titik DTA, rencana Inventarisasi
lokasi bendung, (visual)
DI
3 Kualitas Air 3 titik Hulu, as bendung Pengukuran,
dan hillir sampling, dan
analisis
laboratorium
4. Kualitas Udara 2 titik As bendung dan Pengukuran,
dan hulu / hillir sampling, dan
Kebisingan analisis
laboratorium

2. Aspek Biologi

Data primer aspek biologi yang dikumpulkan adalah biota darat (flora darat dan fauna
darat) dan biota air (plankton dan benthos). Daerah studi biologi ditetapkan berdasarkan
luas tapak proyek dan sekitarnya yang diperkirakan akan terkena dampak kegiatan.
Lokasi pengambilan sampel biota air disesuaikan dengan lokasi pengambilan sampel air
fisik-kimia, sedangkan lokasi pengambilan biota darat disesuaikan dengan lokasi studi
sosial-ekonomi-budaya dan kesehatan masyarakat. Pengumpulan data dilakukan melalui
pengukuran, pengambilan sampel, wawancara dengan metoda purposive random
sampling yang ditentukan berdasarkan komunitas atau habitat yang berbeda. Cara pe-
laksanaan pengambilan sampel/pengamatan komponen biotis adalah:
Pengambilan Sampel Vegetasi/Flora Darat

Lokasi pengambilan sampel vegetasi di 3 titik. Pengambilan sampel vegetasi dilakukan


memakai sampling plot dengan transek utama mengikuti kondisi lapangan. Untuk jenis
pohon, diambil petak sampel 10 m x 10 m, sedangkan herba dan rumput menggunakan
ukuran 1 m x 1 m.

Pengambilan Sampel Fauna

Pengambilan sampel fauna dilakukan dengan metoda Index Point of Abundance (IPA)
untuk mencatat populasi hewan. Biasanya digunakan untuk burung secara semi
kuantitatif yaitu dengan menentukan tempat tertentu untuk keperluan perhitungan
populasi hewan dan dilengkapi data informasi penduduk serta data monografi desa untuk
hewan piaraan. Analisis data meliputi jumlah jenis, dominansi atau frekuensi keberadaan
fauna. Lokasi pengambilan sampel fauna di 3 titik.

Pengambilan Sampel Plankton

Pengambilan sampel plankton dengan penyaringan air memakai plankton net No. 25,
kemudian air yang tersaring dimasukkan botol dan ditambahkan larutan MAF 4%
sebagai bahan pengawet. Lokasi pengambilan sampel plankton di 3 titik, yaitu di hulu
Embung, lokasi Embung dan di hilir Embung (daerah irigasi).

Pengambilan Sampel Benthos

Pengambilan sampel mikrobenthos dengan memakai penyaringan lumpur di dasar


perairan yang diambil dengan eijkman dredge/bottom sampler. Diameter saringannya 1
mm. Mikrobenthos yang telah dipisahkan dari lumpur lalu dimasukkan dalam botol
sampel, ditambahkan larutan MAF 10% dan rose bengal 20%. Lokasi pengambilan
sampel benthos sama dengan lokasi pengambilan sampel plankton.

Metoda pengumpulan data primer pada aspek biologi pada contoh ANDAL Waduk
meliputi: jenis data, jumlah sampel, lokasi sampel, dan metoda pengumpulan data secara
lebih rinci disajikan pada Tabel 3.2 misalnya :
Tabel 3.2. Metoda Pengumpulan Data Primer Aspek Biologi
No Jenis Data yang Jumlah Lokasi Metoda
. Dikumpulkan Sampel Sampling Pengumpulan
Data
1 Vegetasi/Flora 3 titik Tapak proyek Inventarisasi
Darat dan sekitarnya menggunakan
- kerapatan relatif sesuai batas metoda sampling
- frekuensi relatif wilayah studi plot dengan transek
- dominansi utama mengikuti
relatif kondisi lapangan
- indeks nilai
penting
- jenis langka
2 Fauna Darat 3 titik Tapak proyek Inventalisasi
(Hewan Liar dan dan sekitarnya dengan metoda
Peliharaan) sesuai batas Index Point of
- pola migrasi wilayah studi Abundance (IPA)
- kerapatan untuk mencatat
- nilai penting populasi hewan
- jenis langka
3 Biota Air : 3 titik Hulu Embung, Penyaringan air
Plankton rencana lokasi memakai plankton
- indeks keaneka- Embung dan net No. 25
ragaman jenis daerah
- indeks Irigasinya
keseraga-man
jenis
4. Biota Air : 3 titik Hulu Embung, Penyaringan
Benthos rencana lokasi lumpur di dasar
- indeks keaneka- Embung dan perairan yang
ragaman jenis daerah diambil dengan
- indeks Irigasinya eijkman
keseraga-man dredge/bottom
jenis sampler
Tabel 3.3. Metoda Pengumpulan Data Primer Aspek Sosekbudkesmas

No. Jenis Data yang Sumber Data Jumla Lokasi Metoda Pengumpulan
Dikumpulkan h Sampling Data
Sampel
1 Kependudukan Kab. Grobogan 125 Tapak proyek Observasi dan
- jumlah penduduk Dalam Angka dan sekitarnya wawancara dengan
sesuai batas penduduk
- kepadatan pddk Monografi Desa
wilayah studi (formal leader, informal
- pertumbuhan pddk dan Kecamatan
leader dan masyarakat
- pendidikan biasa)
Data primer
- ketenagakerjaan
- mobilitas

2 Sosial-Ekonomi Kab. Grobogan 125 Tapak proyek Observasi dan


- matapencaharian Dalam Angka dan sekitarnya wawancara dengan
sesuai batas penduduk
- pemilikan lahan Monografi Desa
wilayah studi (formal leader, informal
- pendapatan dan Kecamatan
leader dan masyarakat
- pengeluaran biasa)
Data primer
- pusat kegiatan
- infrastruktur

3 Sosial-Budaya Data primer 125 Tapak proyek Observasi dan


- adat-istiadat dan sekitarnya wawancara dengan
sesuai batas penduduk
- pola pemilikan
wilayah studi (formal leader, informal
lahan
leader dan masyarakat
- interaksi sosial
biasa)
- peninggalan sejarah

4. Kesehatan Masy. Kab. Grobogan 125 Tapak proyek Observasi dan


- kondisi fisik rumah Dalam Angka dan sekitarnya wawancara dengan
sesuai batas penduduk
- pemenuhan air Monografi Desa
wilayah studi (formal leader, informal
bersih dan MCK dan Kecamatan
leader dan masyarakat
- pola penyakit Puskesmas Kec. biasa)
- jenis penyakit Pulokulon
- fasilitas kesehatan
Data primer

5. Persepsi Masy. Data primer 125 Tapak proyek Observasi dan


- persepsi terhadap dan wawancara dengan
rencana kegiatan sekitarnya penduduk
Embung sesuai batas (formal leader, informal
wilayah studi leader dan masyarakat
- persepsi terhadap
perubahan dan biasa)
inovasi
Ad.c. Pengumpulan Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh tidak secara langsung oleh peneliti dari sumber
data. Peneliti memperoleh data tersebut dari pihak lain yang melakukan pengumpulan,
analisis dan publikasi atas data tersebut. Hasil-hasil penelitian, buku referensi (antara lain
data statistik), laporan-laporan teknis instansi pemerintah dan bahan-bahan pustaka yang
datanya ditulis dan dipublikasikan oleh pihak lain, merupakan jenis data sekunder yang
dapat dimanfaatkan oleh peneliti.

Data statistik seperti Sensus Penduduk, Survey Penduduk antar Sensus (Supas), Survey
Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) hingga data statistik seperti Monografi Desa,
Kecamatan dalam Angka, Kabupaten dalam Angka atau Propinsi dalam Angka;
merupakan data sekunder yang dapat digunakan dan bermanfaat untuk kajian aspek
sosial AMDAL. Bila data statistik semacam itu akan digunakan dalam aspek sosial
AMDAL, maka ada 2 faktor penting yang perlu diketahui berkenaan dengan hal tersebut.
Pertama, satuan analisis yang digunakan dalam data statistik tersebut umumnya adalah
unit pemerintahan daerah seperti desa, kecamatan, dan propinsi. Kedua, persoalan
reliabilitas data yang dipublikasikan. Peneliti aspek sosial AMDAL perlu kritis benar
terhadap mutu data statistik yang ingin digunakan sehingga bila perlu lakukan “uji
reliabilitas” data sekunder yang diperoleh. Contoh data sekunder untuk ANDAL Waduk
misalnya :

Tabel 3.4. Jenis dan Sumber Data Sekunder


No Jenis Data yang Dikumpulkan Sumber Data /Referensi
1. Data Rencana kegiatan 1. a. Pemrakarsa
b. UU-11/74 tentang pengairan,PP 22/82
tentang tata pengaturan air dan PP. 35/91
tentang Sungai
c. Konsultan Detail Desain, dan Laporan
Studi terdahulu
2. Metoda Konstruksi 2. a. Ditjen. Pengairan
b. Buku Referensi ( buku panduan)
3. Metoda Pengadaan tanah dan 3. a. Kepres 55/93 tentang pedoman pelaksanaan
pemindahan penduduk pengadaan tanah
4. Transportasi 4. DLLAJR Kab. Grobogan
5. Pola Topografi dan Geologi 5. a. Direktorat Geologi dan Tata Lingkungan
Bandung
b. Bakorsurtanal – Bogor
c. Laporan Studi terdahulu (Detail Desain)
6. Klimatologi (suhu, curah hujan, 6. a. Badan Meteorologi dan Geofisika
kelembaban, arah dan kecepatan b. Dinas Pertanian Setempat
angin, dll) c. Studi-studi terdahulu yang terkait
7. Data kependudukan, sosial- 7. a. Kabupaten Dalam Angka
ekonomi, sosial-budaya, dll. b. Monografi Desa/Kecamatan.
8. Profil Kesehatan 8. Puskesmas kecamatan setempat
9. RUTRD - Kabupaten 9. Bappeda Kabupaten Grobogan
10 Jalan Negara dan Kabupaten 10. Dinas PU Bina Marga Prop. Jateng
11 Hasil Proyek Penelitian Sejenis 11. a. Bapedalda Propinsi Jateng
b. PPLH Lemlit Undip
12 Hidrologi 12. a. DPU Pengairan Propinsi Jateng
b. Konsultan detail desain
13 Status Tanah 13. BPN Propinsi Jateng.
14 Flora Darat 14. a. Dinas/Kanwil Kehutanan
b. Dinas Pertanian
c. survai lapangan
15 Flora Air 15. a. Dinas Perikanan
b. Penduduk setempat
c. survai lapangan
16 Fauna Darat 16. Penduduk setempat

Ad.d. Diskusi Kelompok Terarah


Diskusi ini dilakukan dalam kelompok kecil (5 – 7 orang) untuk menghimpun pendapat,
pandangan dan aspirasi mereka terhadap suatu masalah atau isu tertentu. Dalam metode
ini peneliti harus berada dalam posisi menghimpun dan mengartikulasikan pendapat,
pandangan dan aspirasi yang berkembang dalam diskusi. Peneliti harus handal dalam
menggali aspirasi dan pendapat para anggota diskusi dan tidak boleh memberi penilaian
baik-buruk, salah-benar, atau berpihak pada pandangan-pandangan yang diajukan oleh
sekelompok atau seorang peserta diskusi.

Metode pengambilan sampel merupakan metode yang digunakan untuk memilih dan
menetapkan sejumlah responden yang akan diwawancara melalui kuesioner. Metode ini
umumnya digunakan untuk melengkapi metode survai.

Sampel (responden) yang dipilih harus dapat mewakili populasi suatu kelompok (misal:
berdasarkan jender, kelompok kepentingan) dan lapisan masyarakat tertentu yang
berpotensi terkena dampak (misal: lapisan petani lahan sempit, lahan luas). Beberapa
teknik pengambilan sampel yang dapat dipergunakan antara lain adalah:

 Teknik pengambilan sampel secara proporsional;


 Teknik pengambilan sampel secara purposive;
 Teknik pengambilan sampel secara acak (random).
Teknik pengambilan sampel yang dipilih harus mempertimbangkan karakteristik dampak
penting yang akan timbul dan kondisi sosial masyarakat.

Jumlah sampel ditetapkan berdasarkan kriteria berikut ini:


a. Derajat keseragaman (homogenitas) dari populasi. Makin seragam populasi yang
diteliti makin kecil jumlah sampel yang akan diambil.
b. Presisi (ketepatan/akurasi) yang dikehendaki. Makin tinggi tingkat presisi yang
dikehendaki, makin besar jumlah sampel yang harus diambil.
c. Kedalaman analisis yang ingin diperoleh, semakin dalam analisis yang diinginkan
semakin besar jumlah sampel yang dibutuhkan.

Ad.e. Metode Penilaian Cepat Pedesaan.

Metode Penilaian Cepat Pedesaan (rapid rural appraisal) –selanjutnya disingkat PCP--
diperkenalkan oleh Chambers (1985). Metode ini ditawarkan oleh Chambers sebagai
alternatif atas penelitian-penelitian sosial yang umumnya dilakukan di dua kutub ekstrim,
yakni penelitian yang bersifat “wisata” (research tourism) dan -di sisi lain- penelitian
yang menelan waktu panjang.
Chambers memberi julukan “wisata penelitian” kepada penelitian yang dilakukan secara
singkat atau cepat (biasanya dengan mobil). Catatan penelitian dibuat berdasarkan
pengamatan di sepanjang jalan yang dilalui dan wawancara dilakukan dengan orang atau
responden yang kebetulan berjumpa di jalan. Penelitian semacam ini menurut Chambers
mempunyai kelemahan:
a. Lemah mengungkapkan yang sebenarnya terjadi.
Responden cenderung menghindari topik yang sensitif seperti masalah
kemiskinan, dan lebih suka menyatakan apa yang sebaiknya (das sollen)
ketimbang apa yang ada (das sein).
b. Peneliti tidak mendengarkan dan belajar dari responden,
malahan lebih banyak berbicara dan menggurui (menganggap lebih tahu dari
responden).
c. Lebih mengangkat atau mengungkapkan yang nampak
secara fisik. Hal-hal seperti norma-norma sosial, lembaga-lembaga informal dan
penguasaan sumber daya sering tak tertangkap oleh peneliti.
d. Penelitian hanya menangkap potret sesaat (snapshot) dari
kehidupan masyarakat desa.

Kelemahan “wisata penelitian” ini timbul karena penelitian dilakukan secara:


a. Bias Lokasi. Peneliti cenderung mengunjungi kota,
terminal dan sepanjang jalan besar ketimbang mengunjungi lokasi yang jauh di
pedalaman dan tidak bisa diakses dengan baik oleh kendaraan roda empat.
Padahal penduduk miskin banyak yang tinggal di tempat terpencil jauh dari kota,
terminal dan jalan besar.
b. Bias Proyek. Peneliti umumnya hanya memfokuskan diri
di daerah yang ada proyek pembangunan dimana sehingga hanya orang-orang
atau pihak-pihak yang terlibat atau terkait dengan proyek yang diwawancara.
c. Bias Hubungan Pribadi. Mereka yang ditemui peneliti
umumnya mereka yang mampu berbahasa Indonesia dengan baik ketimbang yang
tidak, lebih banyak responden laki-laki ketimbang perempuan, lebih banyak
ditujukan kepada responden yang hidup cukup ketimbang yang miskin, dan yang
kepada orang lebih berkuasa ketimbang rakyat biasa.
d. Bias Musim. Penelitian lebih banyak dilakukan pada
musim kemarau ketimbang musim hujan sebab jalan sulit dilalui (longsor, becek)
dan tidak senang terkena hujan dan kedinginan. Padahal di musim hujan justru
banyak dapat dijumpai kondisi sebenarnya dari kehidupan desa (paceklik, banjir,
banyak penyakit).
e. Bias Protokoler. Karena peneliti ingin sopan, tidak ingin
menyinggung tata krama (protokoler) dan waktu terbatas, maka peneliti enggan
menanyakan hal-hal yang sensitif seperti kemiskinan atau berkunjung ke orang-
orang miskin.

Sehingga penelitian yang dilakukan dengan pola “wisata” ini sering menghasilkan
kesimpulan yang salah tentang kehidupan masyarakat desa (rapid is often wrong).
Chambers menjuluki “wisata penelitian” ini sebagai penelitian yang bersifat quick and
dirty. Walau tidak diketahui secara pasti, namun diduga cukup banyak penelitian aspek
sosial AMDAL yang dijalankan dengan cara “wisata penelitian” semacam ini.
Kutub lainnya adalah penelitian yang dilakukan dalam kurun waktu yang relatif lama.
Kelemahan yang dijumpai dalam penelitian semacam ini adalah:
a. Penelitian berlangsung dalam waktu yang lama dan
menelan biaya yang besar, namun hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan
curahan waktu, biaya dan tenaga yang diberikan.
b. Penelitian dilakukan dengan metode survei yang penyakit
umumnya adalah:
 Kuesioner berhalaman tebal karena peneliti ingin
mengumpulkan berbagai macam variabel melalui wawancara dengan
kuesioner.
 Responden yang diwawancarai berjumlah banyak.

Akibat dari penelitian yang dijalankan dengan cara semacam itu adalah banyak data
yang tidak diolah ketika memasuki tahap pengolahan data. Kalaupun diolah, data
tersebut tidak dianalisa. Kalaupun data tersebut dianalisa, hasilnya tidak ditulis.
Kalaupun kemudian ditulis, hasil itu tidak dibaca. Kalaupun dibaca, tidak dimengerti.
Kalaupun dimengerti, ternyata tidak berguna karena hasil penelitian ternyata tidak
mempengaruhi pengambilan keputusan. Dengan kata lain long is often lost!

Mengingat kelemahan-kelemahan penelitian sosial tersebut, maka Chambers


menawarkan metode Penilaian Cepat Pedesaan (rapid rural appraisal, atau PCP) untuk
penelitian-penelitian yang menggunakan pedesaan sebagai subyek atau obyek penelitian.
Dalam PCP pengumpulan data di lapangan dilakukan dengan mengkombinasikan
berbagai metode penelitian (wawancara, grup diskusi, observasi, dan data sekunder).
Sehingga data yang diperoleh dapat lebih dipertanggung-jawabkan dan menyorot
berbagai sisi kehidupan pedesaan secara komprehensif. Berikut ini adalah teknik
pengumpulan data yang digunakan dalam PCP:
a. Manfaatkan semaksimal mungkin informasi yang telah
tersedia, baik dalam bentuk data sekunder, hasil-hasil penelitian sebelumnya,
maupun informasi yang diperoleh dari media massa (koran, radio)
b. Belajar dan banyak mendengar pandangan serta pendapat
dari masyarakat setempat, atau dalam hal ini responden dan tokoh-tokoh
masyarakat setempat.
c. Identifikasi dan manfaatkan indikator-indikator sosial atau
ekonomi setempat. Misal, masyarakat desa umumnya mempunyai ukuran sendiri
tentang siapa dan apa yang disebut sebagai miskin.
d. Gunakan tenaga lokal atau setempat sebagai peneliti
setelah mereka terlebih dahulu memperoleh pembekalan. Tenaga lokal yang
digunakan sebagai asisten di lapangan haruslah mereka yang tidak mempunyai
cacat hukum, asusila atau buruk perangai di mata masyarakat.
e. Lakukan observasi dan sejauh mungkin, bila dapat, lakukan
pula partispasi langsung dengan kegiatan masyarakat setempat dalam posisi
paling tidak sebagai recoqnized outsider (pihak luar yang dikenali oleh masarakat,
lihat penjelasan di muka tentang hal ini).
f. Gunakan informan kunci, yakni orang yang memahami
benar seluk beluk kehidupan sosial, ekonomi, budaya dan riwayat daerah yang
diteliti.
g. Lakukan wawancara grup dengan cara menyelenggarakan
berbagai diskusi kelompok/grup secara terarah pada topik-topik tertentu.
h. Kembangkan wawancara secara informal. Sejauh mungkin
hindari pertanyaan-pertanyaan yang banyak bersifat tertutup (ya/tidak, atau
pilihan berganda)
i. Bila memungkinkan, gunakan survey dan pengamatan dari
udara, atau memanfaatkan potret udara, untuk melengkapi informasi tentang
kondisi daerah yang diteliti.

Dengan teknik pengumpulan data semacam itu -menurut Chambers- penelitian akan
berlangsung secara fairly-quick dan hasilnya fairly-clean.

4.4.2. METODE ANALISA DATA


Data yang terkumpul dapat dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. Perlu diketahui
bahwa metode analisis kuantitatif terutama ditujukan untuk data yang bersifat kuantitatif.
Demikian pula untuk analisis data kualitatif. Dengan demikian sejak awal proses
pengumpulan data sesungguhnya sudah harus ditetapkan terlebih dahulu apakah data
yang hendak dikumpulkan bersifat kualitatif atau kuantitatif. Data kuantitatif menuntut
metode pengumpulan data yang berbeda dengan metode yang bersifat kualitatif. Berikut
diutarakan metoda analisis data dimaksud.

Metode kuantitatif dapat digunakan untuk berbagai kajian aspek sosial AMDAL.
Dalam ilmu-ilmu sosial analisa kuantitatif umumnya dilakukan melalui analisa tabulasi
silang (cross tabulation) atau melalui analisa statistika.
Analisa tabulasi silang dibangun untuk menggambarkan hubungan antara peubah bebas
(independent variables) dengan peubah tak bebas (dependent variables). Tabel silang
yang dibangun umumnya tidak berukuran besar untuk memudahkan analisa. Kolom
tabel menunjukkan peubah bebas (atau peubah sebab) dan baris tabel menunjukkan
peubah tak bebas (atau peubah akibat).
Alat analisis yang lebih handal untuk data yang lebih kompleks adalah analisis statistika.
Data demografi, kependudukan dan ekonomi merupakan jenis-jenis data yang dapat
dianalisis dengan kaedah-kaedah statistika. Disamping itu analisis statistik juga dapat
dilakukan untuk aspek sosial budaya yang bersifat deskriptif. Analisis yang relevan
untuk data sosial budaya semacam ini adalah analisis statistika non-parametrik. Namun
perlu diketahui bahwa bila akan dilakukan analisis statistika non parametrik, maka sejak
awal penelitian (pengumpulan data) data sosial tersebut harus didisain berukuran ordinal
agar dapat dianalisis dengan model-model statistika non parametrik. Analisa statistika
non parametrik ini sangat bermanfaat untuk keperluan kajian aspek sosial AMDAL. Bagi
yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut analisa statistika non parametrik dapat
mempelajari pustaka terlampir.
Analisis kuantitatif lainnya adalah metode valuasi (valuation) ekonomi sumber daya
alam.

Sumberdaya alam yang tak dapat dinilai secara moneter (intangible) dinilai dengan
berbagai metode teknik pendekatan, yakni:
1) Penggunaan secara langsung berdasarkan harga pasar atau produktivitas (market-
based methods). Ada tiga jenis metode dengan pendekatan ini:
 Pendekatan perubahan produktivitas (change of productivity).
 Pendekatan hilangnya mata pencaharian/penghasilan (loss of earning
approach).
 Pendekatan pembatasan pengeluaran (defensive expenditures approach).
2) Penggunaan pengganti harga pasar (surrogate market value). Metode ini ada empat
jenis, yakni :
 Pendekatan nilai kepemilikan (proverty value approach).
 Pendekatan pembedaan upah (wage differences approach).
 Pendekatan biaya perjalanan (travel cost approach).
 Pendekatan yang dikaitkan dengan nilai barang/komoditi tertentu sebagai
penduga (hedonic pricing).
3) Metode pasar buatan (constructed market) yang berdasar pada
potensi pengeluaran atau kesediaan untuk membayar atau menerima (potential
expenditures willingness to pay or to accept). Ada tiga macam metode dengan
pendekatan ini:
 Pendekatan biaya pengganti (replacement cost approach).
 Pendekatan harga bayangan (shadow project approach).
 Pendekatan nilai kontingensi (contingent valuation approach).
Untuk indikator ekonomi yang nilai moneternya tidak bisa dianalisis dengan akurat,
diperlukan value judgement dari penyusunan AMDAL. Caranya antara lain dengan
menggunakan analogi terhadap fenomena-fenomena dampak penting yang timbul
menurut dokumen AMDAL sejenis.

Perlu diketahui: penetapan penggunaan metode valuasi ekonomi ini harus dilakukan sejak dini, yakni sejak
disusunnya dokumen Kerangka Acuan. Sehingga peneliti dapat memper-siapkan sejak dini apa saja
variabel yang harus dikumpulkan, ukuran-ukuran dan teknik analisis yang akan digunakan.

Metode kualitatif memiliki keunggulan dalam menggambarkan secara rinci dan utuh
deskripsi suatu peristiwa, proses, fenomena atau hubungan-hubungan sosial yang
dilandasi oleh persepsi, sikap, etika, sistem nilai dan norma yang dianut oleh suatu
komunitas masyarakat. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang metode analisa kualitatif
ini dapat diambil contoh metode analisa yang digunakan untuk studi ANDAL Waduk
sebagai berikut :

1. Aspek Fisik- Kimia


Metoda analisis dan peralatan yang digunakan untuk sampel air dan udara mengacu
kepada Keputusan Gubernur KDH Propinsi Jawa Tengah Nomor 660.1/26/1990
(Lampiran I) tanggal 1 Juni 1990. Parameter-parameter air seperti pH, suhu, DO dan
sulfida diukur secara langsung di lapangan, sedangkan parameter air lainnya dianalisis di
dalam laboratorium setelah sebelumnya diberi bahan pengawet (seperti H2SO4, HNO3

atau HgCl2). Parameter yang lain dianalisis di laboratorium rujukan yang telah
ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Propinsi Jawa Tengah
Nomor 660.1/29/1990 tanggal 27 Juni 1990 tentang Penunjukan Laboratorium Penguji
Kualitas Air, Udara dan Bising. Metoda dan peralatan analisis udara dan bising serta air
disajikan pada Tabel 3.5 dan Tabel 3.6.

Tabel 3.5. Metode Analisis Udara dan Bising


No Parameter Satuan Metoda Peralatan
1 SO2 3 Pararosanilin Spektrofotometer
gr/m
2 NO2 3 Saltzman Spektrofotometer
gr/m
3 O3 3 Kemiluminens Spektrofotometer
gr/m
5 CO 3 NDIR Spektrofotometer
gr/m
6 Bising dBA L eq Sound Level Meter
7 Debu 3 Gravimetri Hi-Vol
gr/m

Tabel 3.6. Metode Analisis Air


No Parameter Satuan Metoda Peralatan
1 Temperatur o Pemuaian Termometer
C
2 Residu terlarut mg/l Gravimetri Timbangan analitik
3 Daya hantar mhos/cm Potensiometri Conductivity meter
listrik
4 pH - - pH meter
5 Ca mg/l Titrimetri EDTA Buret
6 Mg mg/l Titrimetri EDTA Buret
7 Fe mg/l Spektrofotometri Spektrofotometer
8 Mn mg/l Spektrofotometri Spektrofotometer
9 Cd mg/l Spektrofotometri AAS
10 Cu mg/l Spektrofotometri AAS
11 Pb mg/l Spektrofotometri AAS
12 Cr mg/l Spektrofotometri AAS
13 Hg mg/l Spektrofotometri AAS
14 Sulfida mg/l Titrimetri Buret
15 Amonia Bebas mg/l Spektrofotometri Spektrofotometer
16 Nitrat mg/l Spektrofotometri Spektrofotometer
17 Nitrit mg/l Spektrofotometri Spektrofotometer
18 DO mg/l Titrimetri Buret
19 BOD mg/l Titrimetri Buret
20 COD mg/l Titrimetri Buret
21 Fosfat mg/l Titrimetri Buret
22 Sulfat mg/l Gravimetri Spektrofotometer

2. Aspek Biologi

Analisis Sampel Vegetasi

Analisis sampel vegetasi dilakukan dengan jalan menghitung besarnya Nilai penting
dengan menjumlahkan kerapatan relatif, frekuensi relatif dan dominansi relatif. Frekuensi
relatif (FR), kerapatan relatif (KR) dan dominansi relatif (DR) dinyatakan dengan luas
bidang dasar memakai rumus Cox (1967):

Frekuensi = Jumlah titik pengambilan sampel dimana species terdapat


dibagi jumlah plot pada tiap transek.

Nilai frekuensi tiap jenis


FR = ------------------------------------- x 100%
Nilai frekuensi semua jenis

Kerapatan = Jumlah dari species yang terdapat dalam titik pengambilan


sampel dibagi dengan luas pengambilan sampel.

Jumlah individu tiap jenis


KR = ------------------------------------------ x 100%
Jumlah individu semua jenis
Dominasi = Total basal area dari suatu species yang dihitung dari diameter
pohon.

Total basal area tiap jenis


DR = -------------------------------------------- x 100%
Jumlah basal area semua jenis

Indek Nilai Penting (INP) = KR + FR + DR

Analisis Sampel Fauna


Analisis data fauna dilakukan dengan menghitung jumlah jenis, dominansi atau frekuensi
keberadaan fauna.

Analisis Sampel Plankton dan Benthos


Analisis sampel plankton dilakukan dengan jalan identifikasi di laboratorium sampai
tingkat genus dengan menggunakan buku acuan Davis (1965) dan APHA (1981).
Perhitungan untuk kelimpahan plankton memakai rumus konversi Lackey Drop Micro-
transect Counting dari APHA (1992) :

N = T/L x P/p x V/v x 1/w

keterangan:
N = Jumlah plankton per liter
2
T = Luas gelas penutup, (mm )
P = Jumlah plankton tercacah
2
L = Luas lapang pandang (mm )
p = Jumlah lapang pandang yang diamati
V = Volume sampel yang diamati (ml)
v = Volume sampel di bawah gelas penutup (ml)
w = Volume air yang disaring (ml).

Analisis sampel mikrobenthos dilakukan dengan identifikasi di laboratorium dengan


acuan APHA (1981) dan Juffing (1956). Perhitungan jumlah individu dilakukan dengan
mikrokoskop untuk seluruh sampel.
Analisis Plankton dan Benthos meliputi:

Indeks keragaman dengan formulasi Shannon-Wienner (Poole, 1974).


n
H' = - S Pi ln Pi
i=1
keterangan:
H' = nilai indeks keanekaragaman jenis
Pi = ni/N
ni = jumlah individu jenis ke i
N = jumlah total individu

Indeks Keseragaman

E = H' / H'maks.
keterangan:
E = nilai indeks keseragaman jenis
H'maks = ln S
S = jumlah jenis

BAB V
PENGERTIAN, PRINSIP DASAR & LINGKUP KAJIAN
PRAKIRAAN DAMPAK LINGKUNGAN

5.1. PENGERTIAN

Dampak lingkungan dapat diartikan sebagai perubahan yang dialami oleh suatu
komponen lingkungan tertentu pada ruang dan waktu tertentu sebagai akibat adanya
kegiatan tertentu. Kegiatan ini dapat bersifat alami, seperti letusan gunung merapi,
gempa bumi, semburan gas beracun dari kawah dan lain sebagainya, yang pada dasarnya
mengakibatkan perubahan yang cukup mendasar pada lingkungan disekitarnya.
Kegiatan yang menimbulkan dampak juga dapat disebabkan oleh kegiatan manusia,
seperti misalnya pembangunan industri pupuk, pembangunan waduk, atau pembangunan
pemukiman transmigrasi. Dalam proses AMDAL dampak lingkungan yang dikaji adalah
dampak lingkungan yang akan timbul akibat adanya kegiatan yang direncanakan oleh
manusia, yang dalam hal ini sering diistilahkan sebagai (proyek) pembangunan.
Di dalam analisis dampak lingkungan dikenal dua jenis pengertian atau batasan tentang
dampak lingkungan, yakni (Soemarwoto, 1988):
a. Dampak (proyek) pembangunan terhadap lingkungan adalah perbedaan antara
kondisi lingkungan sebelum ada proyek dan yang diprakirakan akan terjadi setelah
ada (proyek) pembangunan,
b. Dampak pembangunan terhadap lingkungan adalah perbedaan antara kondisi
lingkungan yang diprakirakan akan terjadi tanpa adanya (proyek) pembangunan
dan yang diprakirakan akan terjadi dengan adanya (proyek) pembangunan tersebut.
Dalam proses penyusunan AMDAL, batasan yang digunakan adalah yang batasan kedua
(batasan b). Untuk mudahnya, batasan yang kedua tersebut dapat disederhanakan sebagai
berikut:

Kondisi lingkungan Kondisi lingkungan


Dampak lingkungan = dgn proyek di masa tanpa proyek di
mendatang masa mendatang

5.2. MACAM DAN PRINSIP DAMPAK

Secara umum dampak lingkungan dikategorikan atas dampak primer dan dampak
sekunder. Dampak primer umumnya timbul sebagai akibat adanya pengunaan bahan
baku/input produksi dan atau kegiatan konstruksi suatu proyek. Sedang dampak
sekunder umumnya timbul sebagai akibat adanya proses atau produk (product) dari
rencana kegiatan. Dampak primer umumnya relatif lebih mudah diukur, sedang dampak
sekunder lebih sulit. padahal umumnya dampak sekunder inilah yang sering lebih nyata
(significant) dibandingkan dengan dampak primer. Sebagai contoh, dampak primer suatu
kegiatan adalah perubahan komposisi jenis vegetasi, namun dampak sekundernya jenis
satwa liar.
Dalam studi ANDAL, prakiraan dampak merupakan suatu proses untuk
menduga/mengantisipasi respon atau perubahan suatu kondisi lingkungan tertentu akibat
adanya rencana kegiatan tertentu, yang berlangsung pada ruang dan waktu tertentu.
Sebagai contoh dampak penambangan batubara terhadap vegetasi, erosi, kualitas air, dan
pendapatan masyarakat. Terhadap kegiatan penambangan batubara tersebut masing-
masing komponen lingkungan tersebut (vegetasi, erosi, kualitas air, pendapatan
masyarakat) pada ruang dan waktu tertentu, memberi respon/perubahan yang berbeda-
beda. Tampak bahwa dalam memprakirakan dampak lingkungan terkandung makna
analisis prakiraan atas besaran dampak lingkungan (magnitude of impact).
Dapat dikatakan prakiraan dampak merupakan salah satu titik kritis dalam proses
penyusunan ANDAL. Sehingga prakiraan dampak merupakan "trade mark" dalam
dokumen ANDAL, dan merupakan ciri pembeda dengan dokumen-dokumen riset
lainnya. Dapat dipahami bila Beanlands dan Duinker (1983) menjuluki prakiraan
dampak ini sebagai "urat Achilles" dari studi ANDAL.
Ada 3 (tiga) prinsip dasar yang perlu diketahui dalam melakukan prakiraan dampak
lingkungan, termasuk dalam hal ini prakiraan dampak aspek sosial, yakni:

Prinsip 1, Merujuk pada batasan tentang dampak lingkungan yang digunakan dalam
AMDAL, maka prakiraan dampak lingkungan harus dilakukan dengan
pendekatan "Dengan dan Tanpa Proyek". Dengan pendekatan ini pakar ilmu
sosial yang terlibat dalam penyusunan AMDAL tidak hanya memprakirakan
kondisi sosial/ekonomi/budaya yang akan terjadi bila ada proyek
pembangunan, tetapi juga harus memprakirakan kondisi
sosial/ekonomi/budaya bila tanpa ada proyek pembangunan. Ini sungguh
merupakan suatu tantangan karena umumnya pakar ilmu sosial relatif lebih
mengetahui perilaku perubahan sosial akibat adanya proyek pembangunan,
ketimbang memprakirakan perubahan yang akan terjadi bila tanpa ada proyek
pembangunan.
Prinsip 2, Keterkaitan dengan dokumen Kerangka Acuan (KA). Prakiraan dampak
lingkungan yang tertuang di dalam dokumen ANDAL harus difokuskan pada
setiap komponen lingkungan yang menurut dokumen KA berpotensi
mengalami perubahan mendasar. Sebagai misal, dalam dokumen KA
teridentifikasi bahwa 5 komponen aspek fisik-kimia, 3 komponen aspek biota,
dan 6 komponen aspek sosial diduga akan terkena dampak penting (berubah
mendasar); maka prakiraan dampak harus difokuskan ke setiap komponen
dari 14 komponen lingkungan yang tercantum di dalam dokumen KA.
Apabila dalam studi ANDAL ternyata dijumpai bahwa hanya 12 komponen
lingkungan yang berpotensi terkena dampak penting, sehingga berbeda
dengan yang tercantum dalam dokumen KA, maka perbedaan tersebut perlu
diutarakan/dibahas di dalam dokumen ANDAL.
Prinsip 3, Keterkaitan antar komponen lingkungan yang terkena dampak. Mengingat
dampak lingkungan pada dasarnya saling terkait dan pengaruh mempengaruhi
satu sama lain (lihat Lembar Informasi 3 dari Modul 1, tentang Karakteristik
Dampak Sosial); maka dalam melakukan prakiraan dampak hal ini harus
diperhatikan benar karena analisa dilakukan oleh tenaga ahli yang bidangnya
berbeda-beda. Disinilah peranan Ketua Tim Studi AMDAL: senantiasa
menjaga keterkaitan antar dampak lingkungan yang ditelaah.
Dalam prakiraan dampak lingkungan terkandung dua macam kajian, yakni:
c. Prakiraan atas seberapa besar perubahan atau dampak lingkungan (magnitude of
impact) yang akan timbul sebagai akibat adanya proyek.
d. Evaluasi atas mendasar tidaknya atau penting tidaknya dampak lingkungan yang
akan timbul bagi kehidupan sosial, ekonomi, budaya, kesehatan dan ekologi.

Kajian yang pertama pada dasarnya bertujuan untuk menjawab pertanyaan: apakah
dampak yang akan timbul berskala besar atau kecil (big or little magnitude of impact),
dan bersifat positif atau negatif? Sedangkan kajian yang kedua berkenaan dengan
seberapa jauh perubahan atau dampak lingkungan yang akan timbul itu bersifat penting
atau mengubah secara mendasar aspek-aspek tertentu dari kehidupan sosial, ekonomi,
budaya, kesehatan dan ekologi. Dengan perkataan lain kajian tentang penting dampak
berkenaan dengan sejauh mana kepentingan manusia dan kepentingan kehidupan ekologi
berubah mendasar sebagai akibat adanya proyek.

Berdasarkan Prinsip Pertama tersebut, maka untuk mengetahui seberapa besar dampak
lingkungan yang akan timbul pada dasarnya harus diukur selisih antara:
a. Kondisi lingkungan sosial tertentu yang diprakirakan akan
terjadi di waktu mendatang sebagai akibat adanya proyek (sebagai misal, tingkat
pendapatan penduduk sekitar proyek tujuh tahun setelah proyek beroperasi)
b. Kondisi lingkungan yang diprakirakan akan terjadi di
ruang dan waktu tertentu tanpa adanya kegiatan proyek (sebagai misal, tingkat
pendapatan penduduk pada tujuh tahun mendatang bila tidak ada proyek).
Pada Gambar 1 secara grafis diilustrasikan (besar) dampak Proyek A dan Proyek B
terhadap pendapatan penduduk sekitarnya yang diukur dalam bentuk pendapatan setara
beras per jiwa per tahun. Kedua proyek didirikan pada tahun T1 di dua lokasi yang
berbeda. Berdasarkan konsep dampak lingkungan yang telah diutarakan, besar dampak
lingkungan ketika Proyek A memasuki tahun T2 adalah selisih antara O1 dan O2 dan
sebesar O4 - O5 ketika memasuki tahun T3. Adapun pada Proyek B, dampak yang timbul
pada tahun T2 adalah sebesar O1 - O2 dan ketika memasuki tahun T3 sebesar O4 - O5.
Bedanya, sepanjang tahun T1 hingga T2 dan T3 Proyek A menimbulkan dampak positif,
yang ditunjukkan oleh meningkatnya pendapatan setara beras per jiwa per tahun,
dibandingkan bila tanpa proyek. Adapun Proyek B sebaliknya, pada tahun T2 proyek
menimbulkan dampak positif sebesar O1 - O2 namun pada tahun T3 mengakibatkan
dampak negatif sebesar O4 - O5. Dengan kata lain Proyek B membangkitkan dampak
positif pada awal dimulainya proyek, namun pada tahun-tahun selanjutnya
mengakibatkan dampak negatif terhadap kesejahteraan penduduk sekitarnya.
Untuk memudahkan prakiraan kondisi lingkungan tanpa proyek di masa mendatang,
umumnya para penyusun AMDAL mengasumsikan kondisi lingkungan di masa
mendatang dipandang sama atau konstan dengan situasi sebelum ada proyek (batasan
dampak lingkungan butir a, di halaman 1). Asumsi ini bila digunakan akan berpengaruh
besar terhadap kesahihan hasil prakiraan dampak. Dari Proyek A dan Proyek B yang
telah dipaparkan dapat dilihat kelemahan asumsi ini.
Bila kondisi lingkungan tanpa proyek diasumsikan konstan sepanjang tahun, maka pada
saat Proyek A memasuki tahun T2 timbul dampak positif sebesar O1 – O3 (seharusnya O1
- O2). Dan ketika Proyek A memasuki tahun T3, timbul dampak positif sebesar O 4 – O6
(seharusnya O4 - O5). Tampak bahwa bila asumsi ini dipakai, dampak positif yang
dibangkitkan oleh Proyek A lebih besar dibandingkan sebelumnya.
Kondisi
dengan
proyek

A
350 O4
Area
besar
320- B O1 dampak
O5
Kondisi
tanpa
C O2 proyek
250
O3 O6

Umur
0 T1 T2 T3 proyek
Proyek A
mulai

(Proyek A)

Pendapatan Kondisi
setara beras dengan Kondisi
(kg/jiwa/thn) proyek tanpa
proyek

350 A O4
O1

320- B
Area
O2 besar
dampak
C
250 O3 O5

Umur
0 T1 T2 T3 proyek
Proyek B
mulai

(Proyek B)
Gambar 1. Prakiraan Dampak Proyek A dan Proyek B terhadap
Pendapatan Penduduk Sekitar

Dengan asumsi ini pula ketika Proyek B memasuki tahun T2 diprakirakan timbul dampak
positif sebesar O1 – O3 (seharusnya O1 - O2), dan ketika memasuki tahun T3 timbul
dampak positif sebesar O4 – O5. Padahal ketika memasuki T3 Proyek B sesungguhnya
menimbulkan dampak negatif sebesar O4 – O5.
Hal lain yang perlu diketahui adalah, prakiraan dampak sangat terkait dengan dimensi
ruang dan waktu berlangsungnya dampak. Sehingga dapat dikatakan dampak lingkungan
suatu rencana usaha/kegiatan bersifat unik dan khas, yakni hanya berlaku untuk ruang
dan waktu tertentu akibat aktivitas tertentu dari rencana usaha/kegiatan.
Sehingga dalam konteks prakiraan dampak aspek sosial harus dapat dianalisis:
a. Siapa yang terkena dampak (who are going to be
affected). Siapa menunjuk pada berapa orang yang terkena, ciri-ciri mereka
bagaimana (umur, pekerjaan, tingkat kerentanan dan sebagainya). Siapa disini juga
bisa menunjukkan satuan analisa: individu, keluarga atau masyarakat.
b. Dalam bentuk apa (in what way) mereka terkena dampak.
Misalnya, penduduk yang tinggal disepanjang rute menuju ke proyek, akan terkena
dampak dari aktivitas transportasi peralatan. Aktivitas ini akan menimbulkan bising
dan debu.
c. Berapa lama dampak itu berlangsung. Dampak bising dan
debu akan berlangsung selama masa konstruksi. Penyusun studi bisa menghitung
berapa lama masa konstruksi itu berjalan.
Langkah prakiraan atau “proyeksi” sangat dekat dengan pelingkupan dan identifikasi
rona lingkungan. Dalam pelingkupan, para peneliti menentukan ruang lingkup studi
(space and time boundaries, key topics dan unit of analysis) melalui pengkajian kegiatan
proyek dan kondisi masyarakat. Jika para peneliti telah melakukan dua proses ini dengan
baik, tahap prakiraan dampak akan mudah dilakukan.
Prakiraan dampak lingkungan memiliki perbedaan yang mendasar dengan evaluasi
dampak lingkungan. Bila dalam prakiraan dampak lingkungan yang diteliti adalah:
respon atau perubahan setiap komponen lingkungan lingkungan yang berpotensi terkena
dampak, maka dalam evaluasi dampak lingkungan yang dikaji adalah totalitas respon
dari berbagai komponen lingkungan yang pada ruang dan waktu tertentu terkena dampak
dari proyek.
Dari Gambar 1 tersebut tampak bahwa dalam prakiraan dampak yang diukur adalah
seberapa besar dampak lingkungan (magnitude of impact) yang akan timbul sebagai
akibat adanya proyek. Berdasarkan konsep ini besar dampak lingkungan dapat
berukuran besar/tinggi (big/high magnitude of impact), atau kecil/rendah (little/low
magnitude of impact); dan bersifat positif (positive magnitude of impact) atau negatif
(negative magnitude of impact).
Sehingga menjadi penting untuk diketahui perbedaan konsepsional antara besar dampak
(magnitude of impact) dengan dampak besar (big magnitude of impact). Besar dampak
atau magnitude of impact adalah konsep prakiraan dampak sebagaimana dimaksud oleh
Munn (1979). Adapun dampak besar atau big magnitude of impact adalah ukuran
besarnya dampak. Berkenaan dengan hal ini maka perlu dikritisi benar istilah “dampak
besar dan penting” yang digunakan di dalam UU Nomor 23 Tahun 1997, dan yang
kemudian dijabarkan lebih lanjut dalam PP Nomor 27 Tahun 1999 tentang AMDAL dan
Keputusan Kepala Bapedal Nomor 09 Tahun 2000 tentang Pedoman Penyusunan
AMDAL. Dalam peraturan perundangan tersebut istilah dampak besar yang digunakan
dalam “dampak besar dan penting” sebenarnya adalah big magnitude of impact dan
bukannya magnitude of impact atau besar dampak.
Perbedaan ini perlu diketahui dan dikuasai benar sebab peraturan perundangan tentang
AMDAL yang ada saat ini menggunakan istilah dampak besar, bukan besar dampak.

Evaluasi terhadap sifat penting dampak merupakan hal yang lebih subyektif dibanding
prakiraan (besar) dampak. Sebab dampak lingkungan yang berskala besar (big magnitude
of impact), belum tentu mengakibatkan perubahan yang mendasar atau penting
(importance) pada aspek-aspek tertentu dari kehidupan. Sebaliknya, dampak lingkungan
yang berskala kecil (little magnitude of impact) dapat saja merubah secara mendasar
kehidupan sosial, ekonomi, budaya dan ekologi di sekitarnya.
Hal tersebut idak lain karena penilaian atas pentingnya dampak merujuk pada pengertian
sejauh mana dampak lingkungan yang timbul bersifat mendasar atau penting bagi
stabilitas dan kepulihan ekosistem (ecological importance), serta bagi kehidupan sosial
ekonomi dan budaya masyarakat (social importance). Setiap kelompok masyarakat
memberi nilai penting yang berbeda-beda terhadap perubahan stabilitas dan kepulihan
ekosistem, serta kehidupan sosial ekonominya. Perbedaan ini muncul karena adanya
perbedaan dalam latar belakang budaya, serta perbedaan ruang dan waktu. Dengan
demikian "nilai penting" ini bersifat dinamis, sesuatu yang dipandang penting saat ini
oleh suatu kelompok masyarakat dapat berubah menjadi tidak penting pada beberapa
tahun mendatang, demikian pula sebaliknya.
Disamping faktor budaya, penting tidaknya dampak pada kehidupan sosial juga dapat
berbeda-beda tergantung pada lapisan sosial (misal kaya, menengah atau miskin), dan
golongan sosial yang terkena dampak (misal, kalangan pemerintah, masyarakat sekitar
proyek, kalangan pakar, kalangan LSM). Misalnya, suatu rencana usaha/kegiatan diduga
akan menimbulkan dampak penting positif terhadap pendapatan dikalangan penduduk
yang memiliki ketrampilan yang menunjang kegiatan proyek, namun dampak penting
positif ini tidak berlaku bagi lapisan sosial masyarakat yang tidak memiliki ketrampilan.

CONTOH PENGGUNAAN METODA PRAKIRAAN DAMPAK PADA KASUS


ANDAL WADUK MISALNYA

Langkah awal dalam memprakirakan dampak adalah dengan mengidentifikasi dampak


kegiatan proyek terhadap komponen lingkungan. Proses identifikasi dampak dilakukan
dengan menggunakan metoda cheklist yang dituangkan dalam matriks interaksi antara
komponen kegiatan dan komponen lingkungan. Proses selanjutnya adalah melakukan
pelingkupan untuk menentukan jenis kegiatan dan komponen lingkungan yang benar-
benar mempunyai kaitan yang sangat kuat yang nantinya akan diprediksi dan dievaluasi
dampaknya. Selain identifikasi, dalam memprediksi dampak juga dibuat diagram alir
dampak untuk memperlihatkan alur dampak, sehingga akan terlihat gradasi dampak
yang meliputi dampak primer, sekunder, dan tersier.

Untuk melakukan prakiraan dampak digunakan metoda formal dengan menggunakan


model matematik secara kuntitatif dan metoda informal dengan uraian deskriptif secara
kualitatif sesuai masing-masing aspek lingkungan. Prakiraan dampak ini akan tetap
memperhatikan lingkup waktu dan tahapan kegiatan. Pendekatan yang digunakan adalah
sebagai berikut.

Metoda Formal
Metoda formal yang digunakan dalam prakiraan ini adalah pendekatan dengan
perhitungan matematik. Dengan metoda ini, hubungan sebab akibat yang
menggambarkan dampak kegiatan proyek terhadap komponen/sub komponen/ parameter
lingkungan akan dirumuskan secara kuantitatif misalnya dalam bentuk rasio-rasio
kuantitatif dan model-model matematik. Contoh-contoh model matematik adalah sebagai
berikut :

1. Kualitas Udara
Besarnya emisi sumber bergerak dapat dihitung berdasarkan faktor emisi dari WHO
Offset Publication No.62, 1982. Besarnya emisi (polutan) bahan bakar solar untuk
masing-masing parameter kualitas udara secara lebih jelas disajikan pada Tabel 3.7.

3
Tabel 3.7. Emisi Polutan per m Bahan Bakar
No Polutan Faktor Emisi
(kg/satuan waktu)
1. SO2 7,9544
2. NO2 9,2103
3. CO 36,4226
4. Partikulat/Debu 2,0095

Besarnya Emisi = Faktor Emisi x Jumlah Bahan Bakar

2. Kebisingan
Perkiraan sebaran bising sebagai akibat aktivitas transportasi material maupun
operasional pekerjaan sipil terhadap lingkungan di sekitarnya menggunakan rumus
pendekatan sebagai berikut :

L2 = L1 - 10 log R2/R1 - Ae, dBA (bising bergerak)

L2 = L1 - 20 log R2/R1 - Ae, dBA (bising diam)

Keterangan
L2 = Tingkat bising pada jarak R2 dari tapak proyek, sumber bising, dBA

L1 = Tingkat bising sumber bising pada jarak R1, dBA

R1,R2 = Jarak dari sumber bising, m


Ae = Atenuasi bising karena kelembaban udara, dBA (kecil, diabaikan)

3. Sedimentasi
Volume sedimentasi lebih banyak diakibatkan oleh adanya erosi permukaan (sheet
erossion). Dengan adanya Waduk, bahan erosi yang terangkut oleh sungai (angkutan
sedimen) akan tertahan dan terendapkan di kolam Waduk

Peningkatan volume sedimentasi di kolam Embung :

Vol. Sedimen (di Embung) = (laju erosi x luas DTA) x Trap-efficiency

Besarnya angkutan sediment di hilir bendungan adalah :


Vol. Sedimen (di hilir) = (laju erosi x luas DTA) x (100% - Trap-efficiency)

Pada saat pelaksanaan konstruksi, peningkatan angkutan bahan sedimen dapat dilakukan
pengamatan. Persamaan untuk menghitung angkutan sedimen berdasarkan pengamatan
ini adalah :

n 0,0864 Ci.Qwi
Qs = S ---------------------------- Dt
i=1 24

Keterangan
Qs = Rata-rata debit sedimen harian (ton/hari)

Ci = Konsentrasi sedimen pada saat ti

Qwi = Debit aliran air pada saat ti

Dt = Interval waktu pengukuran aliran (jam)


n = Jumlah pengukuran aliran

4. Erosi
Dengan adanya perubahan coverage lahan, maka akan menyebabkan perubahan laju erosi
permukaan. Besarnya erosi permukaan dihitung dengan menggunakan rumus USLE :

E= RLKSP

Keterangan :
E = laju erosi permukaan
R = erosivity hujan
L = panjang ekuivalen lereng
K = erodibility tanah/ lahan
S = kemiringan lahan
P = pola penanaman (cropping practice).

5. Banjir
Aspek banjir akibat adanya Embung dapat dilihat mengenai pengurangan debit puncak
banjir, perlambatan waktu terjadinya debit puncak, dan pengurangan daerah genangan.

Pengurangan debit Puncak banjir ( dalam %) =

(Debit puncak awal – Debit puncak setelah adanya Struktur) x 100


(Debit puncak awal)

Perlambatan Datangnya debit Puncak banjir ( dalam %) =


(T puncak awal – T puncak setelah adanya Struktur) x 100
(T puncak awal)

6. Aliran Sungai
Kestabilan aliran sungai dapat dilihat dari perubahan ‘flow regime’ (DQr) rumus berikut :

 Debit _ Maksimum   Debit _ Maksimum 


DQr =     
 Debit _ min imum  awal  Debit _ min imum  setelah _ adanya _ struktur

3.3.2. Metoda Informal

Prakiraan dampak rencana kegiatan pembangunan Embung Coyo terhadap


komponen lingkungan ditetapkan berdasarkan pengetahuan dan pengalaman
profesional para ahli yang tergabung dalam tim studi ini, studi analogi, nara
sumber lain dan/atau sumber lain. Pendekatan ini digunakan terutama bila studi
ini terbentur pada keterbatasan data dan informasi dalam penerapan metoda
formal. Beberapa komponen/parameter lingkungan yang diprakirakan dengan
pendekatan informal disajikan pada Tabel 3.8.

Tabel 3.8. Metoda Pendekatan Informal

No Komponen/Parameter Pendekatan Informal


Lingkungan
1. Tingkat Bising Analogi kegiatan sejenis maupun literatur
2. Debu Analogi kegiatan sejenis maupun literatur
3. Kuantitas Air Penilaian Profesional
4. Flora-fauna darat Literatur
5. Persepsi Masyarakat Penilaian Profesional dan Analogi
6. Kesempatan Kerja Penilaian Profesional
7. Pendapatan Penilaian Profesional
8. Kesehatan Masyarakat Literatur/ Analogi
9. Kenyamanan/ keamanan Penilaian Profesional
10. Tataguna Lahan RUTRD

5.3. EVALUASI DAMPAK


Dalam evaluasi sifat penting, besar dampak lingkungan yang akan timbul --termasuk
dalam hal ini aspek sosial-- dievaluasi secara cermat sejauh mana perubahan tersebut
membawa pengaruh yang mendasar terhadap tatanan kehidupan sosial dan ekologi.
Evaluasi dilakukan dengan menggunakan seperangkat kriteria tertentu yang bersifat
legal, yakni Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting, yang dikukuhkan melalui
Keputusan Kepala Bapedal. Dalam Pedoman tersebut secara formal ditetapkan batasan
dan kriteria dampak yang bersifat penting yang berlaku untuk aspek fisik kimia, biologi,
dan sosial.
Agar pihak-pihak yang berkepentingan mempunyai persepsi dan kriteria yang sama
tentang dampak penting, beberapa peraturan perundang-undangan yang diterbitkan telah
memuat beberapa ketentuan tentang faktor-faktor penentu dan tolok ukur dampak
penting. Dalam UU No. 23 tahun 1993 dan PP No. 27 Tahun 1997 dimuat enam faktor
yang menentukan dampak lingkungan dapat bersifat penting, yakni :
1. Jumlah manusia yang terkena dampak
2. Luas wilayah persebaran dampak
3. Intensitas dan lamanya dampak berlangsung
4. Banyaknya komponen lingkungan lain yang terkena dampak
5. Sifat kumulatif dampak
6. Berbalik atau tidak berbaliknya dampak.
Untuk mengukur sejauh mana perubahan lingkungan bersifat mendasar, telah diterbitkan
ketentuan tentang tolok ukur dampak penting, yakni Keputusan Kepala BAPEDAL No.
KEP-056 Tahun 1994 tentang Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting. Keputusan
tersebut menyatakan bahwa ukuran dampak penting terhadap lingkungan ditetapkan
dengan mempertimbangkan hal-hal berikut:
1. Bahwa penilaian pentingnya dampak terhadap lingkungan
berkaitan secara relatif dengan skala usaha (besar kecilnya), hasil guna, dan daya
guna dari rencana usaha atau kegiatan.
2. Bahwa penilaian pentingnya dampak terhadap lingkungan
dapat pula didasarkan pada dampak usaha atau kegiatan tersebut terhadap salah
satu aspek lingkungan, atau juga terhadap kesatuan dan kaitannya dengan aspek-
aspek lingkungan lain dalam wilayah studi yang telah ditentukan.
3. Bahwa penilaian pentingnya dampak terhadap lingkungan,
baik yang bersifat positif atau negatif, tidak boleh dipandang sebagai faktor yang
berdiri sendiri-sendiri, melainkan harus diperhitungkan keseluruhannya sebagai
satu kesatuan untuk keperluan pengambilan keputusan.

Di dalam KEP-056 Tahun 1994 tersebut untuk setiap faktor penentu dampak (jumlah
manusia terkena dampak, luas wilayah persebaran dampak, dan 4 faktor lainnya), dimuat
tolok ukur atau standar dampak penting. Setiap pihak dengan demikian dapat
menggunakan Keputusan tersebut sebagai rujukan formal untuk menetapkan penting
tidaknya suatu dampak lingkungan.
Dalam hal Proyek A dan B yang telah dicontohkan di muka, evaluasi sifat penting
terhadap dampak lingkungan yang terjadi dilakukan dengan menggunakan Garis
Kemiskinan sebagai kriteria sifat penting. Menurut kriteria ini, seseorang tergolong
miskin bila pendapatannya dalam setahun kurang dari setara beras 320 kg. Berdasarkan
kriteria ini tampak bahwa dampak positif Proyek A bersifat penting terhadap pendapatan
penduduk ketika menginjak tahun T2n dan seterusnya (lihat Gambar 2). Merujuk pada
KEP-056 Tahun 1994, dampak ini tergolong sebagai penting dari segi intensitas dampak.
Pada tahun T1 sampai T2n, Proyek A memang menimbulkan dampak positif terhadap
pendapatan penduduk tetapi perubahan tersebut belum mendasar, atau dengan kata lain
penduduk masih tetap di bawah garis kemiskinan.
Berbeda halnya dengan Proyek B, dampak positif yang bersifat penting diprakirakan
timbul pada pasca tahun T1 hingga tahun T2n. Namun setelah tahun T2n Proyek B
menimbulkan dampak negatif yang bersifat penting terhadap pendapatan penduduk
sekitar. Dalam kasus Proyek B ini tampak bahwa mula-mula Proyek B mengentaskan
kemiskinan penduduk di sekitarnya namun selanjutnya B justru menjadi penyebab
turunnya pendapatan penduduk hingga di bawah Garis Kemiskinan (lihat Gambar 2).
Dampak ini --merujuk pada KEP-056 Tahun 1994-- tergolong sebagai dampak penting
dari segi intensitas dampak.

Pendapatan Kondisi Area


setara beras Garis dengan dampak
(kg/jiwa/thn) kemiskinan proyek penting

A O4
350
Area besar
B dampak
320
O1 O5

Kondisi
C O2 tanpa
250
proyek
O3 O6

Umur
0 T1 T2 T2n T3 proyek
Proyek A
mulai

(Proyek A)
Pendapatan Garis Area Kondisi
setara beras kemiskinan dampak tanpa
(kg/jiwa/thn) penting proyek

350 A O4
O1

320 B Area besar


dampak
O2
C
250
O3 O5
Kondisi
dengan
proyek

Umur
0 T1
Proyek B
T2 T2n T3
proyek
mulai

(Proyek B)

Gambar 2. Prakiraan Besar Dampak dan Evaluasi Sifat Penting Proyek A dan Proyek
B terhadap Pendap
5.4. METODE PRAKIRAAN DAMPAK

Secara garis besar terdapat dua metode prakiraan besar dampak lingkungan, yakni:
a. Metode prakiraan dampak secara formal
b. Metode prakiraan dampak secara non-formal.
Dua metode ini dapat digunakan untuk memprakirakan besar dampak sosial, termasuk
aspek sosial yang memiliki nilai moneter. Berikut diutarakan macam metode formal dan
non-formal untuk memprakiraan dampak sosial.

Ad.a. Metoda Formal

Metode formal adalah metode untuk memprakirakan (besar) dampak dengan


menggunakan formula, rumus atau model-model kuantitatif yang telah tersedia (hasil
pengembangan/temuan pakar lain) atau dikembangkan sendiri oleh pakar aspek sosial
AMDAL. Hasil prakiraan dampak ini bersifat kuantitatif dan umumnya didukung oleh
tabulasi data, grafik atau referensi spasial/geografis.
Oleh karena sifatnya yang kuantitatif, akuntabilitas metode ini umumnya lebih tinggi
ketimbang metode non-formal. Namun demikian, metode ini harus hati-hati digunakan
karena sering terdapat asumsi atau koefisien teknis yg tidak relevan dgn kondisi
Indonesia.
Macam metode formal ini adalah:
a. Metode fisik (physical model)
b. Eksperimen (experimental method)
c. Model matematik (mathematical model)
d. Model analisis statistika (statistical analysis model)
Tidak semua jenis metode formal yang diutarakan di atas dapat digunakan atau sesuai
untuk keperluan prakiraan dampak aspek sosial. Dari empat macam Metode Formal di
atas, hanya model matematik dan model analisis statistika yang disinggung dalam modul
ini karena kedua model lainnya lebih relevan untuk aspek fisik-kimia dan atau biologi.

Prakiraan dengan model matematik dilakukan dengan menggunakan model yang sudah
tersedia atau mengembangkan/membuat model sendiri yang khusus dibuat oleh pakar
bersangkutan. Asumsi dasar dari model matematik ini adalah, model yang kita gunakan
disusun/diformulasikan berdasarkan pengetahuan a priori yang kita miliki tentang
bagaimana dinamika atau gerak tatanan atau kehidupan sosial yang kita telaah.
Berdasarkan asumsi atas pengetahuan tersebut selanjutnya secara induktif dikembangkan
model hubungan antar variabel dalam bentuk persamaan matematik. Pengembangan
model, formula dan perhitungan matematik ini kini menjadi lebih leluasa dilakukan oleh
para ahli berkat adanya dukungan komputer. Dalam aspek sosial, model matematik ini
banyak digunakan untuk prakiraan dampak di bidang ekonomi dan demografi. Dua
bidang dimana aspek sosial banyak berkenaan dengan hal-hal yang bersifat kuantitatif.
Model matematik tersebut antara lain adalah:
 Model simulasi
 Model analisa input–output (input-output analysis)
 Model proyeksi
 model empiris (black box)
Adapun prakiraan dampak dengan analisis statistika umumnya dilakukan dengan
menggunakan model-model statistika yang sudah tersedia. Pada model statistik
persamaan atau formula dikembangkan secara deduktif dari fenomena yang atau karakter
kehidupan aspek sosial tertentu yang telah diketahui. Model statistik ini dapat digunakan
untuk memprakirakan dampak proyek terhadap ekonomi, kependudukan dan juga
bidang-bidang sosial seperti nilai budaya, sikap dan persepsi. Model-model statistik
tersebut antara lain adalah:
 Model analisis faktor (factor analysis)
 Model regresi berganda (multiple regression)
 Model analisis kecenderungan (trend analysis)
 Model analisis deret waktu (time series analysis).
 Model statistika non-parametrik (non-parametric statistic).
Berikut selanjutnya diutarakan beberapa contoh prakiraan dampak aspek sosial dengan
menggunakan metode formal.

Pemindahan penduduk adalah dampak langsung dari suatu proyek pembangunan.


Pembangunan suatu dam akan membebaskan tanah pada gilirannya akan memindahkan
penduduk. Beberapa dampak lanjutan yang akan timbul diantaranya kehilangan
pekerjaan, menurunnya keterikatan sosial, keterikatan keluarga dan juga stress,
kecemasan akan adanya perubahan cara hidup (disruption of way of life). Menurut
Armour (1986) tingkat kesulitan (hardship) yang dialami penduduk karena perpindahan
ini sangat tergantung pada karakteristik penduduk (tingkat pendidikan, tingkat sosial-
ekonomi, jenis pekerjaan, kerentanan sosial) dan juga karakteristik individu seperti usia,
keterikatan terhadap tempat tinggal, lama tinggal di daerah yang bersangkutan. Intensitas
dampak tidak akan segera dapat diprediksi. Hal ini sangat dipengaruhi oleh seberapa jauh
penduduk akan pindah (apakah penduduk bisa pindah disekitar daerah proyek atau
daerah lain yang tidak jauh atau harus transmigrasi), kecukupan kompensasi (fairness
and equity) dan ketepatan waktu relokasi dan pemberian kompensasi.
Potensi dampak yang berhubungan dengan pemindahan penduduk dapat berupa:
a. Waktu, tenaga dan uang yang dikeluarkan untuk mencari pemukiman baru.
b. Disrupsi (gangguan) keterikatan sosial (tetangga, keluarga dan masyarakat).
c. Disrupsi pola hubungan sosial, karena harus berpindah ketempat lain dan
memulai lagi dengan ikatan sosial yang baru.
d. Stress psikologis, karena merasa “insecured” atau rasa tidak aman.
e. Perubahan dalam akses ketempat kerja, tempat perbelanjaan, rekreasi,
transportasi.
f. Perubahan kondisi rumah.
g. Merasa teraliniasi di pemukiman baru.
h. Kesulitan ekonomi (hilangnya pekerjaan utama, menurunnya pendapatan,
dsb.).
Di kota-kota besar, masyarakat lapisan bawah merasa enggan untuk pindah ke tempat
lain karena merasa takut kehilangan akses ke tempat kerja. Di pemukiman baru yang jauh
dari tempat kerja, mereka harus membayar biaya transport untuk ke tempat kerja.
Pengalaman seperti ini terjadi pada pemindahan penduduk dari bantaran Kaligarang
Semarang ke Sadeng, wilayah pinggiran barat daya kota. Juga terjadi pada penduduk
disekitar Kali Banger, Semarang yang akan terkena proyek normalisasi sungai tersebut.
Untuk bisa memprakirakan dampak yang akan terjadi, peneliti harus memiliki data dari
penduduk yang akan dipindahkan. Data ini diambil dari rona lingkungan sosial
(profiling). Data dimaksud diantaranya adalah:
a. Berapa jumlah yang akan dipindahkan (jumlah Kepala Keluarga, komposisi
menurut umur, jenis pekerjaan).
b. Tingkat kepuasan penduduk terhadap tempat tinggalnya sekarang (people’s
satisfaction with place), berkaitan dengan tingkat kepuasan terhadap lingkungan
(bersih, bebas polusi, air mudah didapat, sekolah, pasar, transportasi, dsb.).
c. Keterikatan sosial penduduk yang tercermin dalam kegiatan sosial penduduk seperti
kebiasaan saling membantu antar tetangga, gotong royong, sambatan, temu warga,
arisan, dsb.).
d. Rencana pemukiman baru (di pemukiman pengganti disekitar tempat tinggal lama,
transmigrasi, dsb.).

Contoh 1: Model Prakiraan Kenaikan Kepadatan Penduduk


Contoh 1 ini dimodifikasi dari contoh prakiraan dampak terhadap kenaikan
kepadatan penduduk yang diutarakan oleh Soemarwoto (1988).
Kepadatan penduduk desa dihitung dengan jumlah penduduk perluas daerah
(orang/km2). Angka jumlah penduduk dan luas daerah dapat didapatkan dari
catatan di kantor desa atau kecamatan. Garis dasar (base line) untuk kepadatan
penduduk dihitung dengan rumus:
Po (1 + rtp)t
Dtp = ------------------
Ltot

dimana,
Dtp = kepadatan penduduk “tanpa proyek” pada waktu ti;
Po = jumlah penduduk pada waktu acuan (to)
rtp = laju tahunan pertumbuhan penduduk “tanpa proyek”;
t = periode waktu perhitungan ti – to (tahun);
Ltot = luas total daerah desa atau kecamatan (km2).
Nilai r dapat didapatkan dari laporan statistik. Jika ini tidak ada, r dapat dihitung
dari pencatatan jumlah penduduk pada waktu yang berbeda. Walaupun r dapat
dihitung dari pencatatan jumlah penduduk dalam dua tahun yang berurutan, tetapi
seyogyanya perhitungan itu dilakukan untuk periode yang lebih panjang, misalnya
10 tahun.
Kepadatan penduduk desa “dengan proyek” dihitung dari rumus:

Po (1 + rdp)t
Ddp = -----------------
Ltot - Li

dimana,
Ddp = kepadatan penduduk “dengan proyek” pada waktu t
Po = jumlah penduduk pada waktu acuan (to)
rdp = laju tahunan pertumbuhan penduduk “dengan proyek”
t = periode waktu perhitungan ti – to (tahun)
Li = luas lahan yang dipakai oleh industri, termasuk lahan untuk
kompleks industri, prasarana perumahan dan prasarana jalan, dengan
anggapan daerah ini dikeluarkan dari daerah administrasi desa (km2).
Ltot = luas total daerah desa atau kecamatan (km2).
Dapat diprakirakan pembangunan industri akan menarik imigrasi penduduk dan
mengurangi emigrasi, karena bertambahnya lapangan pekerjaan. Oleh karena itu
laju pertumbuhan penduduk “dengan proyek” rdp akan menjadi lebih besar
daripada rtp. Dengan penelitian kasus-kasus industri yang sejenis dengan skala
yang serupa dan lokasi yang serupa pula diprakirakan besarnya rdp.
Dampak industri terhadap kepadatan penduduk dengan demikian dapat diukur
sebagai berikut:
∆D = Ddp - Dtp
Aplikasi Contoh 1
 Perhitungan Besar Bampak
Suatu pabrik akan dibangun pada tahun 1995. Luas desa tempat pabrik kertas akan
dibangun ialah 1.000 ha. Luas pabrik dan prasarananya direncanakan 150 ha.
Catatan desa menunjukkan jumlah penduduk tahun 1975 sebanyak 6.000 orang dan
1985 sebanyak 7.680 orang. Seorang pakar ilmu sosial akan memprakirakan
dampak berdirinya industri pada tahun 1995 terhadap kepadatan penduduk desa.

Laju pertumbuhan penduduk per tahun antara 1975 dan 1985 dihitung dari rumus
pertumbuhan penduduk, yaitu:
Pt = Po (1 + r)t
log Pt – log Po
Log (1 + r) = ------------------
t

log 7.680 – log 6.000


Log (1 + r) = --------------------------
10

r = 2,5 % per tahun

Dengan demikian kepadatan penduduk desa tersebut “tanpa proyek” pada tahun
1995 ialah:
Po (1 + rtp)t
Dtp = --------------- orang/km2
Ltot
9381
= ----------- orang/km2
10
= 983 orang/km2

Data historis proyek-proyek yang sejenis di daerah lain menunjukkan laju


pertumbuhan penduduk mula-mula meningkat perlahan-lahan kemudian naik
dengan pesat. Laju pertumbuhan penduduk bervariasi antara 3,5 % per tahun
sampai 6,0 % per tahun dengan nilai rata-rata 4,5 % per tahun. Angka rata-rata ini
digunakan sebagai prakiraan laju pertumbuhan penduduk “dengan proyek”, sehingga
kepadatan penduduk “dengan proyek” ialah:

Po (1 + rdp)t
Ddp = --------------- orang/km2
Ltot - Li

11.927
Ddp = ------------- orang/km2
8,5
= 1.403 orang/km2

Besar dampak proyek industri terhadap kepadatan penduduk desa dengan demikian
adalah sebesar:

Ddp – Dtp = (1.403 – 983) orang/km2


= 420 orang/km2

 Sifat Penting Dampak


Dampak tergolong penting dari segi intensitas karena kenaikan kepadatan penduduk
akibat proyek tergolong besar (sekitar 50%). Dampak juga bersifat penting dari
segi tidak terbalikkannya dampak (irreversible).

Contoh 2: Prakiraan Dampak Penggusuran Penduduk


Contoh 2 ini dipetik dari contoh prakiraan dampak terhadap penggusuran penduduk
yang telah sedikit diubah dari Soemarwoto (1988).
Jumlah kepala keluarga (KK) dan jiwa yang tergusur oleh proyek dapat dihitung
dengan melakukan survei di dalam batas daerah proyek. Akan tetapi yang terkena
proyek sebenarnya tidak terbatas pada keluarga yang tinggal di dalam daerah
proyek saja, melainkan juga sejumlah keluarga diluar daerah tersebut. Contoh ialah
buruh tani, pedagang hasil bumi dan buruh pengangkut hasil bumi yang tinggal di
luar daerah proyek, tetapi bekerja di dalam daerah proyek. Mereka tidak tergusur
secara fisik, melainkan secara ekonomi. Mengingat hal tersebut orang yang terkena
dampak ialah:
y = Pf + Pe
dimana,
y = jumlah total orang yang tergusur,
Pf = jumlah orang yang tergusur secara fisik dari daerah proyek,
Pe = jumlah orang yang tergusur secara ekonimi, keduanya pada waktu ti.
Pf dan Pe dapat dihitung dari rumus umum pertumbuhan penduduk:
Pt = Po (1 + r)t
Untuk mengetahui jumlah orang yang akan tergusur digunakan metode survai
dengan wawancara. Sebagai catatan dapat ditambahkan, penetapan KK yang
terkena dampak suatu proyek yang luas dan batasnya tidak teratur (misal, batas
proyek waduk mengikuti garis kontur), dapat dilakukan dengan peta udara skala
besar yang memuat garis kontur (orthophoto map). Batas proyek diidentifikasi dari
potret udara tersebut. Jumlah rumah di dalam daerah proyek juga dihitung dari
potret udara dan jumlah jiwa dihitung dari jumlah rumah kali rata-rata jiwa per
rumah.

Aplikasi Contoh 2
 Perhitungan Besar Bampak
Dengan menelaah peta proyek dan melakukan survei lapang diketahui, pada tahun
1985 penduduk yang tinggal di dalam daerah proyek berjumlah 200 KK yang
terdiri atas 1.000 jiwa. Di samping itu dari survei diketahui 150 KK –terdiri atas
750 jiwa- yang berada di luar daerah proyek menggantungkan kehidupannya dari
lahan pertanian yang terkena proyek.
Karena pengambil-alihan lahan oleh industri dilakukan pada tahun 1990 pada
waktu konstruksi akan dimulai, maka dampak dihitung untuk tahun 1990.
Walaupun konstruksi baru akan dimulai, namun kegiatan survei dan perencanaan
proyek diprakirakan telah meningkatkan laju pertumbuhan penduduk dari 2,5 %
menjadi 4,5 %.
Pt = Po (1 + r)5 = 1.000 (1 + 0,045)5 = 1.246 orang
Pt = Po (1 + r)5 = 750 (1 + 0,045)5 = 935 orang
Jumlah = 2.181 orang

 Sifat Penting Dampak


Dampak bersifat penting dari segi intensitas dan tak terbalikkan.
Hasil produksi pertanian di daerah pada umumnya dapat dilihat dari catatan desa,
kecamatan atau Dinas Pertanian (ton/ha/tahun), untuk masing-masing jenis (padi,
jagung, kedele, kepala, dan lain-lain). Sering catatan hanya memuat ton/ha, misalnya
untuk padi, jagung, dan kedele. Dalam hal ini angka ton/ha/tahun dapat dihitung dari
catatan intensitas penanaman dan pola pergiliran tanaman. Dengan melakukan survei
harga, nilai ton/ha/tahun dapat dihitung menjadi Rp/ha/tahun. Selanjutnya dari data
luas lahan dapat dihitung produksi dalam Rp/tahun.

Contoh 3: Prakiraan Dampak terhadap Produksi Pertanian


Contoh 3 ini dipetik dari contoh prakiraan dampak terhadap produksi pertanian yang
telah sedikit diubah dari Soemarwoto (1988).
Semisal, pada tahun 1995 akan dibangun industri di tengah-tengah daerah pertanian.
Dalam studi ANDAL ingin diketahui berapa besar dampak industri tersebut terhadap
produksi pertanian setempat. Dengan menggunakan peta topografi batas-batas proyek
(kompleks industri, prasarana jalan dan perumahan) dan survei lapangan, dapat
diidentifikasi jenis penggunaan lahan yang akan terkena proyek. Dari langkah-
langkah tersebut dapat dihitung produksi pertanian pada waktu t0, pada waktu ti “tanpa
proyek”, dan pada waktu ti “dengan proyek” melalui formula berikut ini.

n
Pr0 =  lj Prj
J=1

n
Prtp =  ltpj Prtpj
J=1
n
Pro =  (ltpj – lind j) Prdp j
J=1

dimana:
l = luas lahan pertanian
Pr = produksi (Rp/ha)
Ltp dan Prtp = berturut-turut luas & produksi pada waktu t j tanpa
proyek
lind = luas lahan pertanian yang terkena proyek
Prdp = produksi dengan proyek pada waktu tj
j = jenis tanaman

Produksi pertanian pada waktu tj diprakirakan tidak sama dengan pada waktu
penelitian to, oleh karena adanya intensifikasi pertanian. Dampak industri terhadap
produksi pertanian dengan demikian dapat diukur sebagai berikut:
D Pr = Prdp - Prtp
Aplikasi Contoh 3
 Perhitungan Besar Bampak
Hasil survei menunjukkan, daerah pertanian di sekitar proyek mencapai luas 800 ha.
Sekitar 400 ha merupakan lahan berpengairan teknis sehingga dapat ditanami dengan
padi dua kali setahun. Sekitar 200 ha sawah tadah hujan, dengan pola tanam padi
pada musim hujan dan jagung pada musim kemarau. Sisanya, 200 ha lahan kering,
ditanami singkong sekali setahun. Di desa tersebut terdapat pula 100 ha pekarangan.
Produktivitas padi pada tahun 1985 mencapai 3 ton/ha, jagung 1,5 ton/ha dan
singkong 9 ton/ha. Dengan adanya intensifikasi padi, produksi padi antara 1975-1985
meningkat sebesar 3% per tahun. Produksi jagung dan singkong menunjukkan
keadaan yang statis. Data statistik tentang produksi pekarangan tidak ada dan
dianggap produksinya tidak meningkat.
Dengan menumpang-tindihkan peta desa dan peta proyek diketahui, industri dengan
prasarananya mencapai luas total 150 ha, akan menempati lahan sawah dengan
pengairan teknis 100 ha, sawah tadah hujan 25 ha, lahan pertanian kering 15 ha dan
pekarangan 10 ha.
Berdasarkan data tersebut dilakukan perhitungan besar dampak pada tahun 1995
sebagai berikut:
a) Produksi padi
Tahun 1985 = Pr (400 x 2 + 200)ha x 3 ton/ha = 3000 ton
Tahun 1995 = Prtp = 3000 x (1+0,03)10 ton = 4032 ton
Prdp = [1000 - (2x100+25)] ha x 3 x 1,0310 ton/ha
= 3125 ton
Dampak industri terhadap produksi padi ialah:
Prdp - Prtp = (3125 – 4032) ton = (907) ton
Harga padi di tingkat desa adalah Rp. 150/kg sehingga bila dihitung secara
moneter dampak yang akan terjadi adalah:
(907000) x Rp. 150 = (Rp. 136.050.000)
Tampak bahwa akibat beroperasinya industri pada tahun 1995 produksi padi di
desa sekitar proyek turun sebesar 907 ton/tahun atau Rp. 136.050.000,-/tahun
b) Produksi jagung
Tahun 1985 = Pr = 200 ha x 1,5 ton/ha = 300 ton
Tahun 1995 = Prtp = 200 ha x 1,5 ton/ha = 300 ton
Prdp = (200 – 25)ha x 1,5 ton/ha = 262,5 ton
Dampak industri terhadap produksi jagung ialah:
Prdp - Prtp = (262,5 – 300) ton = (37,5 ton)
Harga jagung di tingkat desa adalah Rp. 120/kg sehingga secara moneter dampak
yang terjadi: (37500) x Rp. 120 = - Rp. 4.500.000,-
Terlihat bahwa akibat beroperasinya industri pada tahun 1995 produksi jagung di
desa menurun sebesar 37,5 ton/tahun atau bila dihitung secara moneter
sebesar Rp. 4.500.000,-/tahun

c) Produksi singkong
Tahun 1985 = Pr = 200 ha x 9 ton/ha = 1800 ton
Tahun 1995 = Prtp = 200 ha x 9 ton/ha = 1800 ton
Prdp = (200 – 15)ha x 9 ton/ha = 1665 ton
Dampak industri terhadap produksi singkong ialah:
Prdp - Prtp = (1665 – 1800) ton = (135 ton)
Harga jagung di tingkat desa ialah Rp. 40/kg sehingga dihitung secara moneter
dampaknya sebesar: - 135000 x Rp. 40 = - Rp. 5.400.000,-
Berdirinya industri pada tahun 1995 mengakibatkan produksi singkong desa turun
sebesar 135 ton/tahun atau Rp. 5.400.000,-/tahun.

d) Produksi pekarangan
Pekarangan ialah lahan di sekitar rumah yang ditanami dengan berbagai jenis
tanaman. Untuk memudahkan perhitungan tidak dihitung produksi masing-
masing tanaman, melainkan produksi per satuan luas lahan dalam rupiah.
Wawancara dengan penduduk menunjukkan hasil bersih rata-rata pekarangan
ialah Rp. 45/m2/ha.
Produksi pekarangan ialah:
Tahun 1985 = 100 ha x Rp. 45/m2/tahun = Rp. 45.000.000,-/tahun
Tahun 1995 = Prtp = 100 ha x Rp. 45/m2/th = Rp. 45.000.000,-/tahun
Prdp = 90 ha x Rp. 45/m2/th = Rp. 40.500.000,-/tahun
Dampak industri terhadap produksi pekarangan ialah:
Prdp - Prtp = Rp (40.500.000 – 45.000.000)= (Rp. 5.500.000,-/tahun)
Sehingga dampak industri terhadap produksi pertanian secara total adalah
penurunan sebesar: = Rp. (136.050.000 + 4.500.000 + 5.400.000 + 5.500.000)
= Rp. 151.450.000,-/tahun
 Sifat Penting Dampak
Dampak bersifat penting dari segi intensitas dan tak terbalikkan.
Model prakiraan dampak sosial yang lain adalah model empiris (black box). Dalam
model ini hubungan sebab akibat ditetapkan berdasarkan hasil pengamatan secara
empirik atas obyek yang diteliti. "Besar" dampak lingkungan diperoleh berdasarkan hasil
pengamatan secara empiris. Model ini dibangun dengan tidak memperhatikan perilaku
prosesor pengubah input menjadi output (black box).
Sebagai contoh adalah model penggandaan basis. Model ini dapat digunakan untuk
memprakirakan dampak suatu rencana kegiatan terhadap penyerapan tenaga kerja.
Formulanya dirumuskan sebagai berikut :

Et
K= –
Eb

dimana,
K = Penggandaan basis (multiplier effect)
Et = Total tenaga kerja (total employment)
Eb = Tenaga kerja sektor basis (basis employment)
Nilai Et dan Eb diperoleh berdasarkan hasil pengamatan secara empiris. Dengan
diperolehnya nilai K akan diketahui berapa besar tenaga kerja yang akan diserap oleh
kegiatan perekonomian secara keseluruhan, sebagai akibat adanya penambahan 1 tenaga
kerja di sektor basis. Sehingga bila proyek diteliti tergolong sebagai sektor basis, akan
dapat dihitung besar tenaga kerja yang dapat diserap oleh sektor non-basis sebagai akibat
beroperasinya sektor basis tersebut.

Metode ini didasarkan pada model peramalan kecenderungan dan umumnya banyak
digunakan untuk aspek demografi. Beberapa pakar memadukan metode ini dengan
teknik analogi dalam mana para ahli mengestimasi masa depan dengan menarik
pengalaman tentang pembangunan sejenis di tempat lain. Para pakar ini berpendapat
bahwa masyarakat yang terkena dampak (affected community) merupakan sumber
informasi yang penting untuk memprakirakan apa yang akan terjadi dan apa yang mereka
harapkan untuk terjadi.

Ad. b. Metoda Non Formal

Pada situasi tertentu seringkali dijumpai hambatan untuk memprakirakan dampak sosial
secara formal, baik melalui model statistik maupun matematik. Hal ini dapat terjadi
karena:
a. Tidak adanya metode formal yang secara representatif dapat menggambarkan
dinamika sistem yang diteliti;
b. Metode yang tersedia mensyaratkan kebutuhan data dan informasi tertentu yang
tidak dapat dipenuhi oleh peneliti yang bersangkutan.
Jalan keluar untuk mengatasi hal ini adalah menggunakan metode yang bersifat non-
formal. Beberapa metode non-formal yang dapat digunakan antara lain adalah:
a. Penilaian profesional dari pakar (professional judgement),
b. Metode ad-hoc
c. Komparatif antar budaya (cross cultural)
d. Teknik analogi
e. Metoda delphi

Melalui teknik ini prakiraan dampak lingkungan didasarkan pada penilaian para ahli.
Penilaian yang dilakukan oleh seorang ahli dapat dikatakan merupakan pendekatan yang
paling bersifat non-formal. Secara bertahap penilaian para ahli dapat bersifat semakin
formal bila ditempuh hal-hal sebagai berikut:
a. Meminta kepada "(seorang) ahli" yang bersangkutan agar
melakukan justifikasi atas ungkapan atau deskripsi matematis yang
dikembangkan-nya, dengan mengacu pada fakta-fakta historis yang didukung
oleh bukti-bukti ilmiah.
b. Meminta kepada "lebih dari seorang ahli" (sebagai contoh
grup para ahli di bidang tertentu), bagaimana pendapat mereka masing-masing
secara individual, dan selanjutnya berdasarkan pendapat para ahli ini dirumuskan
kesimpulan.
c. Meminta kepada grup para ahli untuk menyepakati
pandangan-pandangan mereka atas dampak yang akan terjadi. Cara ini misalnya
dapat ditempuh melalui lokakarya atau seminar.
d. Meminta kepada grup para ahli untuk secara formal
menyepakati konsensus yang telah dicapai (sebagai contoh dengan menggunakan
metode Delphi), dan menyetujui pandangan-pandangan tentang prakiraan dampak
yang akan terjadi.
Model ad-hoc yang digunakan untuk analisis dampak sosial umumnya diterapkan dengan
cara menganalisis hubungan sebab-akibat yang timbul secara verbal. Dalam upaya
memprakirakan respon atau perubahan lingkungan yang akan terjadi, metode analisis
verbal ini digunakan dengan memanfaatkan pengalaman-pengalaman empiris, kejadian-
kejadian historis, fakta-fakta ilmiah, serta kekuatan intuisi dari peneliti yang
bersangkutan. Dapat dikatakan metode deskritif-verbal ini banyak digunakan oleh para
penyusun ANDAL di Indonesia. Salah satu faktor penyebabnya adalah terbatasnya data
dan informasi yang tersedia yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan penerapan
metode-metode yang bersifat formal.

Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk memprakirakan (besar) dampak
sosial adalah dengan penggunaan teknik analogi. Melalui metode ini masalah-masalah
lingkungan yang muncul sebagai akibat adanya aktivitas sejenis di daerah lain, dikaji
guna dijadikan basis dan atau bahan pertimbangan untuk memprakirakan dampak
lingkungan yang akan timbul di daerah studi. Sudah barang tentu diperlukan
kewaspadaan dalam memilih aktivitas yang sejenis yang digunakan sebagai analogi bagi
rencana kegiatan yang diteliti, mengingat adanya perbedaan ruang, waktu dan kondisi
lingkungan sosial.
Melalui pendekatan ini besar dampak suatu rencana usaha atau kegiatan (disimbolkan P)
terhadap suatu kelompok masyarakat (disimbolkan Xp), diukur dengan cara mengukur
dampak yang telah terjadi pada kelompok masyarakat yang berciri sama dengan
masyarakat Xp (disimbolkan sebagai masyarakat Xp*), yang terkena proyek serupa
(disimbolkan P*) yang telah beroperasi di lokasi lain. Besar dampak proyek P* terhadap
masyarakat Xp* digunakan sebagai dasar analogi bagi penyusun ANDAL untuk
memprakirakan dampak proyek P terhadap masyarakat Xp. Ilustrasi berikut memperjelas
hal dimasud.

Proyek P*
Masyarakat Xp* saat Masyarakat Xp* dengan
tanpa proyek P* proyek P*

Selisih Xp - Xp*= Prakiraan


Dasar Prakiraan Dampak
Dampak
Masyarakat Xp saat Masyarakat Xp tanpa Masyarakat Xp
tanpa proyek P proyek P, di lokasi ANDAL dengan proyek P

WAKTU

Saat Lalu Saat Studi ANDAL Saat mendatang


dilakukan

Gambar 1. Model Pendekatan Analogi

BAB VI
EVALUASI DAMPAK

6.1. PENGERTIAN
Evaluasi dampak lingkungan merupakan tahap terakhir proses analisis dampak
lingkungan yang bertujuan untuk mengevaluasi secara holistik (komprehensif) berbagai
komponen lingkungan yang diprakirakan mengalami perubahan mendasar (dampak
penting); sebagai dasar untuk menilai kelayakan lingkungan dari rencana kegiatan/usaha.
Secara normatif, kriteria kelayakan lingkungan suatu rencana kegiatan/usaha telah
ditetapkan dalam ayat 1 Pasal 22 PP Nomor 27 Tahun 1999 tentang AMDAL, yakni:

”Apabila hasil penilaian komisi penilai menyimpulkan bahwa:


a) dampak besar dan penting negatif yang akan ditimbulkan oleh usaha
dan/atau kegiatan yang bersangkutan tidak dapat ditanggulangi oleh
teknologi yang tersedia, atau
b) biaya penanggulangan dampak besar dan penting negatif lebih besar dari
pada manfaat dampak besar dan penting positif yang akan ditimbulkan
oleh usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan,maka instansi yang
bertanggung jawab memberikan keputusan bahwa rencana usaha
dan/atau kegiatan yang bersangkutan tidak layak lingkungan”

Tampak bahwa ayat 1 Pasal 22 PP Nomor 27 Tahun 1999 tersebut dapat


diimplementasikan dengan benar jika dan hanya jika dokumen ANDAL yang disusun
dapat digunakan sebagai bahan masukan untuk pengambilan keputusan atas kelayakan
lingkungan rencana usaha dan/atau kegiatan. Implikasi lebih lanjut dari hal ini adalah
bahwa penyusun ANDAL harus mengembangkan dan menyusun laporan ANDAL yang
bersifat analitis, sistematis dan akuntabel sebagai pertanggung-jawaban terhadap hasil
analisis yang dilakukan.

Hal lain yang tersirat dari ayat 1 Pasal 22 PP Nomor 27 Tahun 1999 tersebut adalah
bahwa kriteria penolakan rencana usaha dan/atau kegiatan yang tergolong wajib AMDAL
ternyata sangat longgar. Dapat dikatakan nyaris hampir tidak ada rencana usaha dan/atau
kegiatan yang berstatus wajib AMDAL yang akan ditolak di Indonesia. Barangkali
hanya proyek Pembangunan Listrik Tenaga Nuklir yang kemungkinan dapat ditolak
berdasarkan kriteria Pasal 22 PP No. 27 Tahun 1999.
Sehubungan dengan hal tersebut maka timbul pertanyaan: masih relevankah dilakukan
pengkajian kelayakan lingkungan dari rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan
dibangun? Jawabannya, masih relevan. Sebab yang dikaji kini adalah manakah diantara
alternatif rencana usaha/kegiatan yang ada yang lebih layak lingkungan. Alternatif
rencana usaha/kegiatan yang dimaksud adalah alternatif lokasi proyek, alternatif bahan
baku yang akan digunakan, atau alternatif teknologi proses yang akan digunakan.
Informasi tentang alternatif rencana usaha/kegiatan ini umumnya tersedia pada tahap
studi kelayakan. Bila penyusunan AMDAL dilakukan setelah proyek melewati tahap
studi kelayakan, maka penyusun AMDAL kehilangan momentum penting untuk
mengambil keputusan atas rencana kegiatan/usaha yang paling layak dari segi
lingkungan.

Environmental Resource Limited (1981) mengemukakan bahwa evaluasi dampak


bertujuan untuk menentukan apakah dampak suatu alternatif kegiatan lebih mendasar
dibanding alternatif lainnya (untuk proyek yang sama). Sebagai misal, dampak suatu
rencana kegiatan terhadap ekosistem sawah (alternatif 1) mencapai luas 100 ha; sedang
pada alternatif 2, dampak penting yang ditimbulkan mencapai luas 200 ha; maka menilik
hal ini tampak bahwa alternatif 1 merupakan alternatif yang lebih layak untuk dipilih.

Namun pada kenyataannya persoalan yang dihadapi tidak semudah seperti yang
diilustrasikan, untuk menilai suatu alternatif kegiatan lebih layak dibandingkan lainnya
terkadang banyak digunakan pertimbangan pakar (value judgement). Agar evaluasi
kelayakan lingkungan dapat dilakukan secara sistematis dan lebih akuntabel, maka
dikembangkan berbagai metode evaluasi kelayakan lingkungan atau yang dikenal sebagai
merode evaluasi dampak.

Metode evaluasi dampak ini juga dapat membantu menentukan besarnya biaya-manfaat
yang harus ditanggung oleh masyarakat yang terkena dampak, dan besarnya populasi
(masyarakat) yang terkena dampak.
Dalam proses AMDAL di Indonesia, evaluasi dampak terhadap aspek sosial tidak
dianalisis secara terpisah dengan komponen aspek fisik-kimia dan biologi. Aspek sosial
yang terkena dampak penting dianalisis secara integral sebagai satu kesatuan yang tidak
terpisahkan dengan aspek fisik-kimia dan biologi yang juga terkena dampak penting.
Oleh karena evaluasi yang dilakukan bersifat holistik/komprehensif, maka tidak ada
metode khusus untuk evaluasi kelayakan lingkungan dari sudut sosial.
Dari uraian tersebut tampak bahwa evaluasi dampak yang tepat dan dapat dipertanggung-
jawabkan secara ilmiah (akuntabel), akan sangat menentukan apakah keputusan yang
diambil oleh para pengambil keputusan tepat atau tidak. Disamping sudah barang tentu
berperan besar terhadap kualitas dokumen ANDAL yang dihasilkan.
Sehingga menjadi penting artinya untuk mengetahui metode evaluasi dampak macam apa
sajakah yang dapat digunakan untuk mengevaluasi kelayakan lingkungan dari alternatif
rencana usaha dan/atau kegiatan?

6.2. MACAM DAN METODE EVALUASI DAMPAK


Sejak pertama kalinya ANDAL diterapkan dunia (di Amerika Serikat pada 1
Januari 1970) telah berkembang beragam jenis metode evaluasi dampak. Namun demi-
kian secara umum dapat dikatakan bahwa beragam metode evalusi dampak yang telah
dikembangkan tersebut merupakan variasi dari 4 metode dasar, yaitu (Bisset, 1984,
Suratmo, 1989) :
1. Metode penampalan (overlays)
2. Metode daftar uji berskala (scaled checklist)
3. Metode matrik
4. Metode bagan alir (network).
Banyaknya metode ANDAL yang telah dikembangkan tersebut, masing-masing
dengan kekuatan dan kelemahannya, seringkali menimbulkan kesulitan dalam memilih
metode manakah yang dipandang paling tepat untuk digunakan dan dapat di
pertanggung-jawabkan hasilnya. Terlebih kalau mengingat beberapa metode ada khusus
dikembangkan untuk mengevaluasi jenis proyek tertentu (misal untuk proyek-proyek
pengairan).
Berdasarkan hasil kajian atas berbagai metode evaluasi dampak yang digunakan dalam
beragam studi ANDAL, serta sifat analisis yang harus dilakukan dalam evaluasi dampak,
berikut ini dikemukakan beberapa pedoman umum untuk memilih metode evalusi
dampak yang dapat dipertanggung-jawabkan, yaitu:
1. Analitis serta memenuhi syarat pendekatan secara ilmiah.
2. Holistik atau komprehensif, yakni mampu menggambarkan fenomena dampak
penting lingkungan yang terjadi dalam suatu sistem lingkungan hidup berikut
dengan interaksi-interaksi yang terjadi di dalam sistem tersebut sebagai akibat dari
suatu rencana usaha atau kegiatan.
3. Fleksibel, dalam arti bahwa metode yang digunakan dapat dipakai untuk
mengevaluasi dampak lingkungan dari berbagai aspek yang satu sama lain memiliki
ukuran atau unit satuan yang berbeda-beda, dan karakteristik dampak yang
berbeda-beda pula.
4. Dinamis : dapat menampung "input" dari berbagai bidang keahlian yang terkait dan
mengintegrasikannya secara keseluruhan dalam satu kesatuan analisis.
5. Dapat memberikan arahan bagi pengambilan keputusan. Dalam hal ini metode yang
dipilih harus mampu memberi telaahan terhadap:
a. Evaluasi terhadap alternatif rencana kegiatan atau proyek
yang diusulkan.
b. Usaha-usaha yang perlu ditempuh untuk mencegah atau
menanggulangi dampak penting negatif.
c. Efektivitas usulan penanggulangan dampak.
6. Bila metode yang dipilih menggunakan skala dan/atau bobot, maka perlu
diperhatikan hal-hal berikut ini :
a. Prosedur amalgamasi, yakni "peleburan" berbagai nilai satuan yang
berbeda (misal ppm, ppb, rupiah, kg/ha/thn), dilakukan melalui prosedur
yang benar.
b. Ukuran verbal (A, B, C,.... Z) relatif lebih baik dibandingkan ukuran
numerik (1, 2, 3,...... n), karena beberapa alasan, (Environmental Resource
Limited, 1981) :
(1) Ukuran dapat menyebabkan salah tafsir mengenai keakuratan dan obyektivitas
evaluasi, padahal sebenarnya angka-angka tersebut hanya konversi dari
pertimbangan obyektif para pakar.
(2) Ukuran numerik dapat mendorong penyusun untuk melakukan operasi matematik,
misalnya: menjumlah atau menghitung. Ini merupakan kesalahan fatal, karena
masing-masing skala mempunyai unit satuan (yang sali) yang berbeda-beda.
(3) Ukuran numerik mendorong penyusun untuk menghitung skala dampak menjadi
suatu totalitas dampak melalui pembobotan.

6.2.1. Metode Penampalan (overlays)

Metode penampalan dikembangkan oleh McHarg, I.L (1969). Teknik ini pertama kali
digunakan oleh McHarg guna memilih rute jalan raya. McHarg mengidentifikasi faktor-
faktor yang penting dalam kontruksi jalan raya, baik faktor fisik yang secara tradisional
selalu dipehitungkan oleh para insinyur sipil, maupun faktor biologi dan sosial ekonomi,
misalnya: kemiringan lereng, drainage permukaan, kepekatan terhadap erosi, nilai tanah,
nilai sejarah, nilai rekreasi dan nilai pemukiman.
Menurut McHarg faktor lingkungan yang kurang sesuai untuk rencana kegiatan akan
menaikan biaya kontruksi jalan. Disamping itu, faktor sosial, ekonomi dan biologi yang
tidak sesuai dengan rencana kegiatan, juga akan merupakan biaya sosial yang harus
diperhitungkan disaat konstruksi jalan. Berdasarkan pola pikir ini, untuk menentukan
rute jalan raya yang biayanya terendah digunakan peta-peta tematik yang masing-masing
menggambarkan kualitas faktor-faktor lingkungan tertentu yang digambar pada bahan
transparan (tembus cahaya). Setiap peta memberikan informasi mengenai tiga zona,
yakni:
1. Zona 1 (warna tua) : zona dengan "nilai sosial" tertinggi
2. Zona 2 (warna muda) : zona dengan "nilai sosial" sedang
3. Zona 3 (warna putih): zona dengan "nilai sosial" terendah

Peta-peta tematik dari berbagai komponen lingkungan tersebut selanjutnya ditumpang


tindihkan, sehingga diperoleh agregat informasi tentang daerah-daerah dengan "nilai
sosial" tertentu. Rute jalan raya ditetapkan di daerah yang mempunyai agregat nilai
sosial terendah (lihat Gambar 1).
Keuntungan metode ini adalah aplikasinya mudah, baik dari segi penilaian dampak
kegiatan terhadap komponen lingkungan tertentu (yang bersifat parsial), maupun mampu
menelaah dampak kegiatan secara agregat/totalitas terhadap berbagai komponen lingkun-
gan. Disamping itu, metode ini sangat baik untuk menggambarkan penyebaran dampak
secara parsial.
Kelemahan metode ini ialah apabila komponen lingkungan yang digunakan terlalu
banyak (lebih dari 12 peta) maka hasil penampalan dari peta-peta menjadi gelap dan
potensi dampak lingkungan menjadi tidak terlihat. Kelemahan ini sekarang dapat diatasi
dengan menggunakan bantuan komputer, dengan menggunakan perangkat sistem
informasi geografi.
Metode ini biasanya digunakan untuk proyek-proyek pembangunan yang secara fisik
berpola linear, seperti pembangunan jalan, pipa transmisi, pelabuhan udara, dan lain
sebagainya.

6.2.2. Metode Daftar Uji Berskala


Metode daftar uji yang dapat digunakan untuk evaluasi dampak adalah daftar uji berskala
(scaled checklist) dan daftar uji berskala terbobot (scalling weighted-scale checklist).
Berikut hanya diutarakan metode daftar uji berskala.
Metode ini dikembangkan oleh Adkins dan Burke untuk melakukan evaluasi dampak
lingkungan dari proyek-proyek transportasi. Dalam metode ini Adkins dan Burke
menggunakan ukuran dampak mulai dari minus 5 (- 5) sampai positif 5 (+ 5).
Komponen lingkungan yang digunakan oleh Adkins dan Burke dikelompokan menjadi
parameter sebagai berikut:
(1) Transportasi
(2) Lingkungan
(3) Sosiologi
(4) Ekonomi.
1. Peta tematik kemiringan lereng 2. Peta tematik nilai lahan

3. Peta tematik nilai margasatwa 4. Peta tematik nilai sejarah

Tabel 1 merupakan contoh metode Adkins dan Burke dalam studi ANDAL. Dua
alternatif rute jalan dievaluasi berdasarkan ukuran (ordinal) -5 sampai +5. Ringkasan
penilaian yang dipaparkan pada Tabel 1 merupakan rata-rata dampak relatif dari kedua
alternatif tersebut, yang ditunjukkan oleh nisbah antara skala positif dan skala negatif.
Nisbah ini dihitung berdasarkan perhitungan aritmatik.
A

5. Peta tematik nilai bentang lahan 6. Peta kkomposit tumpang tindih


pada no 1 s/d 5

Gambar 1. Rangkaian prosedur penerapan teknik penampalan dalam kasus proyek pembangunan jalan
raya. Rute jalan yang dipilih adalah yang memberikan dampak lingkungan terkecil. Peta 1
sampai 5 adalah peta tematik, sedangkan Peta 6 adalah hasil tumpang tindih Peta 1 sampai
5. Garis menunjukkan rute jalan yang dipilih (Soemarwoto, 1983)
Tabel 2 menunjukkan gabungan hasil analisis daftar uji keempat kelompok komponen
(transportasi, lingkungan, sosiologi dan ekonomi) terhadap alternatif-alternatif proyek
yang disusun menjadi nilai komprehensif dampak. Dalam perhitungan ini juga
dipergunakan operasi aritmatik.
Keuntungan metode ini dampak berbagai alternatif kegiatan dapat dibandingkan secara
mudah, sehingga sangat membantu pengambilan keputusan. Namun metode ini juga
memiliki kelemahan, yakni: ukuran bersifat subyektif dan asumsi bahwa segenap dampak
sama pentingnya.

6.2.3. Metode Matrik

Istilah matrik dalam tulisan ini mengacu pada metode yang menampilkan interaksi antara
jenis kegiatan proyek (umumnya di kolom), dengan jenis komponen lingkungan
(umumnya di baris). Berikut dikemukakan beberapa contoh evaluasi dampak dengan
matrik.

a. Matrik Leopold

Metoda Leopold dikenal juga sebagai matriks Leopold atau matriks interaksi
Leopold. Metode matrik ini mulai diperkenalkan oleh Leopold, Clarke, Hanshaw dan
Balsley tahun 1971 dengan mengambil kasus penambangan phosphat. Matrik yang
diperkenalkan merupakan matrik interaksi dari 100 jenis aktivitas proyek dengan 88
jenis komponen lingkungan (matrik berdimensi 100 x 88).
Seratus jenis aktivitas proyek tersebut merupakan penjabaran dari 11 kelompok
kegiatan proyek, yang terdiri atas :

(1) Modifikasi areal (13 aktivitas)


(2) Perubahan lahan dan pembuatan lingkungan fisik (10
aktivitas)
(3) Ektraksi sumberdaya (7 aktivitas)
(4) Pemrosesan (15 aktivitas)
(5) Perubahan lahan (6 aktivitas)
(6) Pembaharuan sumberdaya (5 aktivitas)
(7) Perubahan lalulintas (11 aktivitas)
(8) Penempatan dan pengolahan limbah (14 aktivitas)
(9) Pengolahan bahan kimia (5 aktivitas)
(10) Kecelakaan (3 aktivitas)
(11) Lain-lain

Tabel 1. Metode Evaluasi Dampak Menurut Adkins dan Burke Untuk Proyek
Jalan.

Nilai tiap
No. Komponen Lingkungan Definisi atau Penjelasan Alternatif Keterangan
1 2

A. Masyarakat (Lokal)
1. Kebisingan Hubungan dengan keadaan
sekarang kebijakan dan
prosedur memorandum 20-8
(PPM 20-6).
a. Dekat dengan jalan -2 -1 Lalu lintas jalan
Darat akan menutup kerugian.
b. Areal keseluruhan +3 +1 Keuntungan karena
adanya lalu lintas jalan.

2. Pencemaran udara PPM 20 - 8


a. Dekat dengan jalan +2 +1 Adanya lalu lintas
Besar jalan.
b. Areal keseluruhan +5 +2 Adanya lalu lintas jalan.

3. Drainase Pengaruh pada perubahan


banjir genangan dan lain-lain
a. Dekat dengan jalan +1 0 Jalan akan memotong
besar sedikit.
b. Areal keseluruhan 0 0

4. Penyediaan Air
a. Pencemaran air PPM 20 - 8 0 0 Kalaupun ada kecil.
b. Kualitas air Bercampur dengan pergerak- 0 0 Kalaupun ada kecil.
an dan level air bumi.

5. Buangan Sampah PPM 20-8 akibat pencemaran, 0 0 Kalaupun ada kecil.


dll.

6. Pengaruh pada flora NEPA dan PPM 20-8 0 0 Kalaupun ada kecil.

7. Pengaruh pada fauna NEPA dan PPM, tempat 0 0 Kalaupun ada kecil.
berkembang biak atau
bersarang, dll.
8. Taman dst. +5 +2 dst.
9. Tempat piknik/bermain dst. +5 0 dst.

10. Tempat purbakala dst. 0 0 dst.

11. Tempat bersejarah dst. +2 +1 dst.

12. Tempat terbuka dst. +3 +1 dst.

13. Aspek pemandangan


a. Di dekat jalan besar dst. +3 +1 dst.
b. Areal keseluruhan dst. +2 0 dst.

14. Keselamatan
a. Lalu lintas dst. +3 +1 dst.
b. Penyeberangan dst. +5 +1 dst.
c. Lain-lain dst. - - dst.

Lanjutan Tabel 1.

Nilai tiap
No. Komponen Lingkungan Definisi atau Penjelasan Alternatif Keterangan
1 2

15. Pengalaman pengendara


di jalan besar
a. Pemandangan di jalan +3 -1 Alternatif ke 1 lebih
besar terang & indah
b. Pemandangan areal 0 +1 Alternatif ke-2
keseluruhan memberikan pandangan
khusus ke belokan.
c. Panorama +1 +3 Alternatif ke-2 bagus,
alternatif ke-1 masuk
pusat kota.
d. Daerah berbahaya +1 -1 Alternatif ke-1akan
menghindarkan bahaya,
alternatif ke-2 pengen-
dara akan terkena asap

Checklist Ringkasan Aspek Komponen Lingkungan

Ringkasan Penilaian
Nilai Alternatif Alternatif
1 2 1 2

Jumlah Nilai + 15 12
Jumlah Nilai Seluruhnya 44 14
Jumlah Nilai - 1 2
Ratio Nilai + 0,94 0,86
Rata-rata Nilai 2.75 1.00

Tabel 2. Perbandingan Nilai Komprehensif Dampak Alternatif 1 & 2

Jumlah Jumlah Total Jumlah Ratio Nilai Nilai


No Kelompok Komponen
Nilai + Nilai - Nilai Nilai + Rata-rata Rata-rata

1. Transportasi
1.1 Lokasi
Alt – 1 7 6 13 18 0.54 1.38
Alt - 2 6 2 6 1 0.67 0.17
1.2 Metropolitan
Alt – 1 8 0 8 34 1.00 4.25
Alt - 2 6 1 7 7 0.86 1.00

2. Lingkungan
Alt – 1 15 1 16 44 0.94 2.75
Alt - 2 12 2 14 14 0.86 1.00

3. Sosiologi
3.1 Pedesaan
Alt – 1 9 2 11 27 0.82 2.46
Alt - 2 6 3 9 -1 0.67 -0.11
3.2 Kota besar
Alt – 1 9 0 9 31 1.00 3.44
Alt - 2 6 1 7 7 0.86 1.00

4. Ekonomi
Alt – 1 15 14 29 27 0.52 0.93
Alt - 2 14 14 28 -11 0.50 -0.39

Jumlah Penilaian
Alt – 1 63 23 86 188 0.73 2.10
Alt - 2 48 23 71 17 0.68 0.24

Sedang 88 jenis komponen lingkungan yang terdapat dalam matrik merupakan


penjabaran dari 5 kelompok komponen lingkungan sebagai berikut:
(1) Fisik dan Kimia
i. Bumi (6 parameter)
ii. Air (7 parameter)
iii. Atmosfir (3 parameter)
iv. Proses alamiah (9 parameter)
(2) Keadaan biologi
i. Flora (9 parameter)
ii. Fauna (9 parameter)
(3) Sosial-budaya
i. Tata guna tanah (9 parameter)
ii. Rekreasi (7 parameter)
iii. Estetika dan minat masyarakat (10 parameter)
iv. Status budaya (4 parameter)
v. Fasilitas dan aktivitas buatan manusia (6 parameter)
(4) Interaksi Ekologi (7 parameter)

(5) Lain-lain komponen

Langkah pertama adalah melakukan identifikasi dampak lingkungan, dengan cara


mengidentifikasi jenis aktivitas tertentu dari proyek (kolom), yang berpotensi
menimbulkan dampak pada jenis komponen lingkungan tertentu (baris). Apabila suatu
aktivitas proyek berpotensi menimbulkan dampak pada komponen lingkungan tertentu,
maka pada "kotak" pertemuan lajur tertentu dan baris tertentu dari matrik diberi tanda
diagonal.
Langkah kedua adalah menentukan besar (magnitude) dan tingkat kepentingan
(importance) dampak, dengan cara mencantumkan nilai besar dan penting dampak pada
"kotak" yang memiliki tanda diagonal. Besar dampak dicantumkan pada bagian atas garis
diagonal, sedangkan nilai tingkat penting dampak dicantumkan pada bagian bawah dari
diagonal (lihat Tabel 3).
Besar dampak dinyatakan dalam ukuran ordinal dengan nilai terendah satu (1) dan
tertinggi sepuluh (10). Nilai 1 menunjukkan (besar) dampak yang ditimbulkan oleh suatu
aktivitas proyek tergolong sangat kecil atau rendah; nilai 5 menunjukkan (besar) dampak
tergolong sedang; sedangkan nilai 10 menunjukkan (besar) dampak tergolong sangat
besar atau tinggi. Menurut Leopold, ukuran terhadap besar dampak hendaknya
ditetapkan berdasarkan evaluasi secara obyektif atas fakta yang diperoleh. Selain itu
Leopold menyarankan pula, bila dipandang perlu, dicantumkan arah dampak yang
timbul. Bila dampak yang timbul diprakirakan bersifat negatif, maka pada bagian atas
diagonal dapat dicantumkan tanda "-", sedang bila sebaliknya cantumkan tanda "+".
Langkah ketiga adalah penetapan tingkat penting dampak (importance of impacts).
Tingkat penting dampak juga ditetapkan dengan ukuran ordinal dengan nilai numerik
terendah bernilai satu (1) dan tertinggi sepuluh (10). Nilai 10 menunjukkan bahwa
dampak yang timbul tergolong sangat penting atau sangat mendasar; sedangkan nilai 1
menunjukkan dampak tergolong tidak penting. Dalam tingkat penting dampak tidak
dicantumkan tanda negatif atau positif. Untuk menentukan tingkat penting dampak
digunakan pertimbangan para pakar yang tergabung dalam tim studi ANDAL.
Beberapa kelemahan pokok dari matrik Leopold ini adalah: (1) tidak adanya kejelasan
tentang kriteria besar dan pentingnya dampak; (2) para pengguna matrik Leopold (atau
yang telah dimodifikasi) cenderung untuk melakukan operasi aritmatik pada ukuran
ordinal (tambah, kurang, kali, bagi), yang sesungguhnya tidak dapat dibenarkan.

Tabel 3. Matrik Evaluasi Dampak menurut Leopold

Aktivitas
Proyek
(100)
Komponen 1 2 3 4 25 75 100
Lingkungan
(88)
5
1
2
-1 -6
2
3 7

+1 +2
4
5 3
2
5
7

M
88
1
M = Magnitude of impact (besar dampak)
I = Importance of impact (penting dampak)

Metode matrik Leopold ini relatif cukup banyak digunakan dalam berbagai studi
ANDAL, dan sering dimodifikasi atau diubah oleh tim penyusun ANDAL. Pengubahan
ini umumnya dilakukan dengan cara mengurangi jumlah dan mengubah jenis kegiatan
proyek, dan atau mengurangi jumlah dan jenis komponen lingkungan yang terkena
dampak. Selain itu modifikasi matrik Leopold juga dilakukan dengan cara memperkecil
ukuran ordinal yang digunakan. Ukuran ordinal untuk besar dan pentingnya dampak
diperkecil menjadi nilai 1 sampai 3 atau 5.

Metode Matrik Fisher dan Davies

Matrik yang dikembangkan oleh Fisher dan Davies (1973) terdiri atas tiga (tahap) matrik,
yakni:
(1) Tahap pertama : Matriks evaluasi rona lingkungan hidup (Environmental
baseline evaluation)
(2) Tahap kedua : Matriks dampak lingkungan (Environmental Compatibility
matrix)
(3) Tahap ketiga : Matriks keputusan (Decision matrix).

Pada tahap pertama dilakukan : (1) identifikasi komponen lingkungan yang dipandang
penting dan saat ini masih terdapat di daerah studi; (2) evaluasi terhadap kondisi
komponen (penting) lingkungan tersebut; (3) evaluasi atas kepekaan komponen (penting)
lingkungan tersebut. Pada matrik tahap pertama (lihat Tabel 4) dicantumkan ukuran
ordinal 1 sampai 5, dengan nilai 1 menunjukkan hierarki yang terendah dan nilai 5
merupakan hierarki yang tertinggi. Hanya komponen lingkungan yang memperoleh nilai
4 dan 5 saja yang akan dianalisis dalam matrik selanjutnya (tahap kedua).

Pada tahap kedua disusun matrik dampak lingkungan yang menggambarkan interaksi
antara jenis kegiatan proyek (kolom), dan jenis komponen lingkungan yang terkena
dampak (baris). Jumlah jenis kegiatan proyek dan jenis komponen lingkungan yang
terkena dampak pada matrik Fisher dan Davis ini tidak sebanyak seperti matrik Leopold.

Dampak lingkungan dievaluasi dengan cara: (1) tetapkan arah dampak: (+) untuk
manfaat atau dampak positif, dan (-) untuk biaya atau dampak negatif; (2) tetapkan besar
dampak dengan ukuran ordinal 1 (rendah) sampai 5 (tertinggi); (3) tetapkan lama waktu
berlangsungnya dampak dengan memberi S (Short) untuk dampak yang berlangsung
singkat, dan tanda L (long) untuk dampak yang berlangsung lama (lihat Tabel 5).
Komponen lingkungan yang terkena dampak dengan derajat nilai 4 dan 5 dianalisis lebih
lanjut ke matrik tahap tiga.

Tabel 4. Matrik Tahap Pertama Fisher dan Davis

Evaluasi Skala Keadaan Skala Kepekaan


Skala Kepentingan
Sekarang Terhadap Pengelolaan
Komponen
1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5
Lingkungan
BIOTA
1.
2.
3.
FISIK & KIMIA
1.
2.
3.
BUDAYA
1.
2.
3.

Tabel 5. Matrik Tahap Kedua Fisher dan Davis

Evaluasi Proyek Perda- Pemu- Trans- Kons-


Pabrik Pertanian Energi
Komponen gangan kiman portasi truksi
Lingkungan
BIOTA
1.
2.
3.

FISIK & KIMIA


1.
2.
3.

BUDAYA
1.
2.
3.
Dampak lingkungan dievaluasi dengan cara: (1) tetapkan arah dampak: (+) untuk
manfaat atau dampak positif, dan (-) untuk biaya atau dampak negatif; (2) tetapkan besar
dampak dengan ukuran ordinal 1 (rendah) sampai 5 (tertinggi); (3) tetapkan lama waktu
berlangsungnya dampak dengan memberi S (Short) untuk dampak yang berlangsung
singkat, dan tanda L (long) untuk dampak yang berlangsung lama (lihat Tabel 5).
Komponen lingkungan yang terkena dampak dengan derajat nilai 4 dan 5 dianalisis lebih
lanjut ke matrik tahap tiga.

Pada tahap ketiga disusun matrik keputusan. Pada matrik keputusan ini diintegrasikan
hasil penilaian dari tahap pertama dan kedua, dengan cara memasukkan segenap
komponen lingkungan yang berukuran 4 dan 5 baik dari matrik tahap pertama maupun
tahap kedua (lihat Tabel 6). Komponen lingkungan dari tahap pertama, yang bernilai 4
dan 5, diklasifisikan sebagai kondisi tanpa proyek (without project). Sedang komponen
lingkungan dari tahap kedua, yang bernilai 4 dan 5, diklasifikasikan sebagai kondisi
dengan proyek (without project). Melalui cara ini diharapkan dapat diambil keputusan
atas kelayakan lingkungan proyek pembangunan.
Pada metode ini tidak ada upaya amalgamasi dari seluruh nilai skore dampak. Agaknya
Fisher dan Davis menyadari bahwa amalgamasi dari skor dampak, yang berukuran
ordinal, secara ilmiah tidak dapat dibenarkan. Pengambilan keputusan atau evaluasi
kelayakan lingkungan dari proyek, ditempuh dengan cara membandingkan perbedaan
skor with and without project (dengan dan tanpa proyek).
Tabel 6. Matrik Tahap Ketiga Fisher dan Davis

Tanpa proyek
Dengan proyek
Kriteria Keputusan
BIOTA
1.
2.
3.
FISIK & KIMIA
1.
2.
3.
BUDAYA
1.
2.
3.

Metode Matrik Adiwibowo


Metode yang menggunakan matrik untuk keperluan evaluasi dampak ling-kungan
dikembangkan oleh Adiwibowo pada tahun 1988 dengan mengambil Kasus
Pengembangan Lapangan Minyak di Riau. Prosedur analisis matrik Adiwibowo adalah
sebagai berikut:
(1) Komponen atau parameter lingkungan yang bersifat penting (berdasarkan hasil
analisis) dicantumkan pada bagian kolom dari matrik.
(2) Faktor penentu atau sifat dampak penting dicantumkan pada bagian baris dari ma-
trik, dan diletakkan pada sisi kanan matrik. Faktor penentu dampak penting yang
digunakan dalam matrik mengacu pada PP 27 Tahun 1999, yakni meliputi :
a. Jumlah manusia yang akan terkena dampak
b. Luas wilayah persebaran dampak
c. Intensitas dan lamanya dampak berlangsung
d. Banyaknya komponen lingkungan lain yang terkena
dampak
e. Sifat kumulatif dampak
f. Berbalik atau tidak berbaliknya dampak.
(3) Sumber dampak lingkungan (proyek) dikelompokkan menjadi tiga bagian yakni
pra-konstruksi, konstruksi, dan operasi. Sumber dampak diletakkan terpisah dari tubuh
matrik.
(4) Pada kolom matrik cantumkan pentingnya dampak menurut sifat dan ukurannya
dengan mengacu pada Pedoman Ukuran Dampak Penting (Keputusan Kepala BAPEDAL
Nomor 056 Tahun 1994). Evaluasi sifat penting dampak disimbolkan dalam ukuran
sebagai berikut :
1: Dampak Penting
0 : Dampak Tidak Penting
Sifat dan ukuran penting dampak yang dicantumkan pada matrik pada dasarnya diperoleh
dari hasil telaahan sebelumnya yakni pada evaluasi sifat penting dampak (Tabel 7)

. Metode Bagan Alir (Networks)


Metode ini selain digunakan untuk keperluan identifikasi dampak, juga dapat digunakan
untuk evaluasi dampak lingkungan. Dalam metode ini evaluasi dampak ditempuh
dengan cara menganalisis jalinan hubungan sebab-akibat yang membentuk suatu bagan
alir. Untuk menyusun bagan alir ini harus diterapkan pendekatan ekologi sehingga dapat
dikembangkan hubungan sebab-akibat sejak dari sumber dampak (proyek) hingga
dampak primer, sekunder, tersier, dan seterusnya.
Bagan alir yang dikembangkan oleh Sorenson (1971) (Gambar 2) dalam rangka ANDAL
proyek pengerukan dasar laut, merupakan salah satu bentuk bagan alir yang dapat digu-
nakan untuk evaluasi dampak. Bentuk lain dapat dilihat pula pada bagan alir yang
dikembangkan oleh Adiwibowo (lihat butir 5).
Kelemahan dari metode ini adalah tidak adanya evaluasi yang bersifat kuantitatif
terhadap besar dan pentingnya dampak. Namun keunggulannya terletak pada: (1) mudah
dipahami oleh pengambil keputusan; (2) upaya pengelolaan dan pemantauan lingkungan
dapat dirumuskan dengan lebih terarah; (3) merupakan alat koordinasi dan integrasi yang
efektif bagi berbagai disiplin ilmu yang terlibat dalam tim studi.
Kombinasi Metode Matrik dan Bagan Alir

Metode yang menggunakan matrik dan bagan alir untuk keperluan evaluasi dampak
lingkungan dikembangkan oleh Adiwibowo pada tahun 1988 dengan mengambil Kasus
Pengembangan Lapangan Minyak di Riau. Prosedur analisis matrik Adiwibowo adalah
sebagai berikut:
(1) Komponen atau parameter lingkungan yang bersifat penting (berdasarkan hasil
analisis) dicantumkan pada bagian kolom dari matrik.
(2) Faktor penentu atau sifat dampak penting dicantumkan pada bagian baris dari ma-
trik, dan diletakkan pada sisi kanan matrik. Faktor penentu dampak penting yang
digunakan dalam matrik mengacu pada PP 27 Tahun 1999, yakni meliputi:
Tabel 7. Contoh Matrik Evaluasi Dampak (Kasus Pengembangan Lapangan Minyak )

UDA- FAKTOR
TANAH AIR BIOTA SOSIAL
RA
PENENTU

DAMPAK
1 2 3 1 2 3 4 5 6 7 1 2 1 2 3 4 5 6 7 8 1 2 3 4 5 6 7 KOMPONEN
LINGKUNGAN

Tahap Konstruksi
o Sumur lap Kurau x o o Jumlah pend. terkena dampak
o Fasilitas Pem. Minyak X x x o o o O o o o o o x x x x x x x x o x x Luas persebaran dampak
o Lap. Padang Selatan di X x x x x o O o o o x o x x x x x x o x o x o x Lama berlangsungnya dampak
P. Padang dan Selat o o x o o o O o o o o o x x x x x o o x x o x x Intensitas dampak
Panjang (MSN) x x o o o o x x x x x o x Banyaknya komponen dampak
o O o o o o o x x Sifat kumulatif dampak
X x x o o O o o o o o x x x x x Berbalik/Tidaknya dampak

Tahap Operasi o Jumlah pend. terkena dampak


Pemeliharaan O x o x o o o o o o o x x Luas persebaran dampak
o Sumur lap Kurau O x o x x x x x o x x x x Lama berlangsungnya dampak
o Fasilitas Pem. Minyak O o o o x o o o o x x Intensitas dampak
o Lap. Padang Selatan di o o x o o o o Banyaknya komponen dampak
P. Padang dan Selat O x o x x x o x x Sifat kumulatif dampak
Panjang (MSN) O o o o x o x x o Berbalik/Tidaknya dampak

Keterangan : Tanah Air Biota Sosial


o = Tidak Penting 1 = Keamblesan Tanah 1 = Pola Drainase 1 = Potensi Vegetasi 1 = Tenaga Kerja
x = Penting 2 = Fisik Kimia Tanah 2 = Debit Sungai/Saluran 2 = Struktur & Komp. Vegetasi 2 = Peluang Usaha
3. = Kebakaran Gambut 3 = Muka Air Tanah 3 = Habitat Mamalia 3 = Gerak Penduduk
4 = Sifat Fisik Air Permukaan 4 = Habitat Burung Darat 4 = Land Use
Udara 5 = Sifat Fisik Air Selat Panjang 5 = Habitat Burung Air 5 = Aksesibilitas
1 = Iklim Mikro 6 = Sifat Kimia Air Permukaan 6 = Kebakaran Hutan 6 = Sikap
2 = Kualitas Udara 7 = Sifat Kimia Air Selat Panjang 7 = Potensi Ikan
8 = Kualitas Ikan
Hewan
Perubahan Bercangkang
Tempat Hewan Komersial
Bercangkang
Meningkatkan Merusak Kualitas Umum
Pemindahan Memindahkan Lumpur Hewan Habitat Ikan
Material Dasar Endapan & Bercangkang
Lumpur
Olah Raga &
Mengurangi Menghentikan Perik. Komersial
Pencemaran Pertumbuhan &
Endapan Nutrisi Gangguan
Kualitas Umum
Navigasi Meningkatkan Menghalangi
Kedalaman Air Pertumbuhan
Rumput Laut Merubah
Tambang Salinitas Rumput Laut

Merubah To- Membentuk Memperbaiki


Rumput Laut Penggalian
pografi Dasar Saluran Baru Navigasi
Kualitas Umum
Mengurangi
Kualitas Air Memperbaiki Pencemaran
Lubang/Celah Sirkulasi Air
di Dasar Industri Laut
Pemeliharaan
Pantai Meningkatkan
Lahan Organik Merusak Lahan
yang Busuk Basah Kualitas Umum

Limbah yang
Mengganggu Menimbulkan Fasilitas Rekreasi
Penimbunan Bau yang
Lahan Merangsang
Material Hasil Pembuangan Perikanan
Penggalian Limbah Padat Membentuk
Pembuangan Lahan Pantai
Air Kualitas Umum

Pasir & Kerikil Menutup Habitat


Diperdagangkan Kerang
Perdagangan
Gambar 2. BAGAN ALIR DAMPAK KEGIATAN PENGERUKAN DI LAUT (SORENSON,1971)
a. Jumlah manusia yang akan terkena dampak
b. Luas wilayah persebaran dampak
c. Intensitas dan lamanya dampak berlangsung
d. Banyaknya komponen lingkungan lain yang terkena dampak
e. Sifat kumulatif dampak
f. Berbalik atau tidak berbaliknya dampak.

(3) Sumber dampak lingkungan (proyek) dikelompokkan menjadi tiga


bagian yakni pra-konstruksi, konstruksi, dan operasi. Sumber
dampak diletakkan terpisah dari tubuh matrik.

(4) Pada kolom matrik cantumkan pentingnya dampak menurut sifat dan
ukurannya dengan mengacu pada Pedoman Ukuran Dampak Penting
(Keputusan Kepala BAPEDAL Nomor 056 Tahun 1994). Evaluasi sifat
penting dampak disimbolkan dalam ukuran sebagai berikut:
1 : Dampak Penting
0 : Dampak Tidak Penting

Sifat dan ukuran penting dampak yang dicantumkan pada matrik


pada dasarnya diperoleh dari hasil telaahan sebelumnya yakni pada
evaluasi sifat penting dampak.

Bagan alir dikembangkan dengan ketentuan (lihat Gambar 3):


(1) Segenap komponen dampak penting lingkungan yang terdapat dalam
matrik evaluasi dampak, disusun dalam bentuk jalinan dampak
primer, sekunder, dan tersier.
(2) Bagan alir tidak dilengkapi dengan nilai atau besaran tentang sifat
dampak. Bila dipandang perlu, dalam bagan alir dapat diberikan
tanda "+" yang menunjukan dampak positif, atau tanda "-" yang
menunjukan dampak negatif.

Berdasarkan matrik dan bagan alir yang telah disusun, selanjutnya


dianalisis secara holistik kecenderungan timbulnya berbagai perubahan
yang bersifat mendasar, baik yang bersifat positif maupun negatif.
Kegiatan
Kegiatan Lapangan
Lapangan Minyak
Minyak

Kualitas Air Potensi Pola Drainase Penyerapan Dampak


Permukaan Vegetasi & Debit Tenaga Kerja primer

Kualitas Struktur & Iklim Muka Sifat Fisik Peluang Dampak


Air Selat Komposisi Mikro Air Tanah Kimia Tanah Berusaha sekunder
Panjang Jenis Veg.

Gerak Dampak
Potensi & Habitat Kualitas Keterbukaan tersier
Kualitas Ikan Mamalia Udara Wilayah Penduduk &
Migrasi

Dampak
Habitat Subsidensi Penggunaan kuarter
Burung Tanah Lahan
Perairan

Potensi Keba- Nilai


karan Hutan dan Lahan
atau Gambut

Sikap
Terhadap
Proyek
- Limbah akibat kegiatan konstruksi
dan produksi MSN (offhore) Iklim
- Kualitas air permukaan wilayah
Tebing Tinggi
Gambar 3. Contoh Bagan Alir Dampak Pengembangan Lapangan Minyak, Kasus Sumatra (Hudbay Oil, 1990)
DAFTAR PUSTAKA

1. PP Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak


Lingkungan.
2. Keputusan Kepala Bapedal Nomor 09 Tahun 2000 tentang
Pedoman Penyusunan AMDAL
3. Keputusan Kepala Bapedal Nomor 299 Tahun 1996 tentang
Pedoman Teknis Kajian Aspek Sosial dalam AMDAL.
Literatur yang berkaitan dengan Kajian Aspek Sosial AMDAL
a. Armour, Audrey, 1989. Note Taking of Lecture on Social Impact Assessment on
September 29, 1989.
b. Burdge, Rabel. 1999. A Community Guide to Social Impact Assessment. Middleton,
Wisconsin: Social Ecology Press
c. Burdge, Rabel. 1998. A Conceptual Approach to Social Impact Assesment. Collection
of Writings by Rabel Burdge and Colleagues. Middleton, Wisconsin: Social
Ecology Press.
d. Chambers, R., 1985. Shortcut methods in social information gathering for rural
development projects. Dalam: Cernea, M. M., ed., Putting people first, hal. 399-
415. Oxford Univ. Press.
e. Finterbusch, Kurt et.al., 1983. Social Impact Assessment Methods. Beverly Hills:
Sage Publications.
f. Finterbusch, Kurt and Wolf, C.P (eds),. 1977. Methodology of Social Impact
Assessment. Strounburg, PA: Downden, Huchitson and Ross Inc.
g. Finterbusch, Kurt, 1980. Understanding Social Impacts. Beverley Hill, California:
Sage Publication.
h. Gale, Richard, 1981. Social Assessment Reference Notebook. Washington, D.C:
U.S. Department of Agriculture.
i. Hadi, Sudharto. 1995. Aspek Sosial AMDAL: Sejarah, Teori dan Metode:
Yogyakarta: Gadjahmada University Press.
j. Institute of Environmental Research Inc., 1988. Social Impact Assessment of
Hazardous Waste Management Facility in the Township of West Lincoln.
Toronto: Ontario Waste Management Corporation.
k. Lang-Armour Associates, 1980. The Assesement and Review of Social Impact.
Ottawa: Federal Environmental Assessment Review Office.
2. Literatur yang berkaitan dengan Metode Ilmu-Ilmu Sosial
a) Hadi, Sutrisno, 1982. Metodologi Research. Yogyakarta: Yayasan Penerbit Fakultas
Psikologi UGM.
b) Singarimbun, Irawati, 1978. Wawancara. Yogyakarta: Lembaga Kependudukan
UGM.
3. Literatur yang disarankan untuk dibaca berkaitan dengan Analisa Kualitatif
dan Kuantitatif
a) Daniel, Wayne W. Applied Non Parametric Statistic. Second edition. PWS Kent.
London.
b) Dey, Ian. 1993. Qualitative Data Analysis: A User Friendly Guide for Social Science.
Routledge. London.
c) Creswell, John W. 1994. Research Design: Qualitative and Qualitative Approach.
Sage Publication. London.
d) Marshall, C., and GB. Rossman. 1989. Designing Qualitative Research. Sage
Publication. London.
e) Miles, Matthew B., and A. Michael Uberman. 1992. Analisis Data Kualitatif.
Terjemahan. UI Press. Jakarta
f) Siegel, Sidney. 1997. Statistik Non Parametrik untuk Ilmu-Ilmu Sosial. Terjemahan
dari Non Parametric Statistic for The Behavioral Science. Gramedia. Jakarta.
g) Sitorus, Felix MT. 1998. Penelitian Kualitatif: Suatu Perkenalan. Dokumentasi
Ilmu-ilmu Sosial (DOKIS) Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian IPB. Bogo

You might also like