You are on page 1of 9

DAMPAK PENDIDIKAN DAN PELATIHAN LESSON STUDY TERHADAP

GURU-GURU
Drs.Slamet Mulyana, MPd

Widyaiswara LPMP Jawa Barat

Tujuan penelitian ini adalah ingin mengetahui seberapa besar dampak pendidikan dan pelatihan
lesson study terhadap guru-guru Bahasa Indonesia SMP di Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat
dalam menyusun RPP dan pelaksanaan pembelajaran dalam kegiatan lesson study pada MGMP.
Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif studi tindak lanjut. Teknik
pengumpulan data yang digunakan adalah studi kepustakaan untuk memperoleh data tentang
pelaksanaan dan laporan hasil pendidikan dan pelatihan lesson study, wawancara digunakan untuk
memperoleh data tentang RPP sebelum, dalam, dan setelah pelaksanaan Diklat, dan observasi
digunakan untuk memperoleh data pembelajaran dalam kegiatan MGMP. Teknik pengolahan data
yang digunakan adalah teknik kualitatif model interaktif.

A. Pendahuluan

1. Latar Belakang Masalah

Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 40, ayat 2
yang menuntut guru untuk mampu menciptakan suasana pendidikan yang bermakna,
menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis. Tetapi hasil Program Pelayanan Peningkatan Mutu
Pendidikan (PPPMP) LPMP Provinsi Jawa Barat tahun 2007 disimpulkan bahwa proses
pembelajaran guru-guru IPA, IPS, matematika, bahasa Inggris, dan bahasa Indonesia SMP di
kabupaten Cirebon, provinsi Jawa Barat lebih banyak berceramah di hadapan siswanya,
sementara siswanya hanya mendengarkan. Para guru berparadigma bahwa pembelajaran
merupakan proses mentransfer pengetahuan guru atau dari buku kepada siswanya.

2. Masalah dan Rencana Pemecahan Masalah

Kedua suasana pembelajaran yang dijelaskan di atas terdapat kesenjangan.

Kesenjangan tersebut akan menjadi masalah yang besar bagi dunia pendidikan di kabupaten
Cirebon. Dinas Pendidikan Kabupaten Cirebon dan Bidang Pendidikan Dasarmengatasi masalah
tersebut dengan melaksanakan pendidikan dan pelatihan (Diklat) lesson study terhadap guru-
guru tersebut. Lesson study merupakan model pembinaan profesi pendidik dan tenaga
kependidikan melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan
prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar,
(Hendayana,2006:10). Selanjutnya, dijelaskan bahwa lesson study merupakan kegiatan
penerapan model pembelajaran yang sesuai dengan situasi, kondisi, dan permasalahan yang
dihadapi guru.

Dalam Diklat lesson study guru bahasa Indonesia dilatih memahami tahapan-tahapan lesson
study yaitu tahap perencanaan pembelajaran (plan), pelaksanaan pembelajaran (do), dan refleksi
pembelajaran (see). Dalam tahap perencanaan pembelajaran (plan), (Hendayana,2006:10), guru
dilatih menyusun rancangan kegiatan pembelajaran yang meliputi rancangan kegiatan
pendahuluan, rancangan kegiatan inti, dan rancangan kegiatan penutup.

Dalam merancang kegiatan pendahuluan guru dilatih tentang bagaimana cara memberikan
motivasi belajar agar siswa terdorong untuk menguasai kompetensi dasar. Guru dilatih mencari
cara bagaimana memotivasi siswa agar pada diri siswa muncul perasaan membutuhkan
kemampuan yang tertulis pada kompetensi dasar yang akan dicapainya melalui pembelajaran
sebagai bekal hidup pada masa kini dan atau yang akan datang, (Depdiknas,2003: 13)

Dalam merancang kegiatan inti guru dilatih menyusun rancangan-rancangan kegiatan siswa
berikut. 1). Guru dilatih menyusun rancangan kegiatan belajar yang akan dilakukan oleh siswa
dan bagaimana melakukannya dengan menerapkan model pembelajaran yang relevan dengan
kompetensi dasar yang akan dicapai dan relevan dengan visi, misi, dan tujuan sekolah yang
dirumuskan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Dengan cara demikian, maka
pembelajaran yang dirancang oleh guru bermakna bagi siswa, karena telah diuji kebenarannya.
2). Guru dilatih menyusun rancangan bahan ajar yang sesuai dengan pengalaman nyata siswa.
Dengan cara demikian, maka siswa belajar dimulai atau dari pengalamannya sendiri. 3). Guru
dilatih menyusun rancangan setting pembelajaran yang sesuai dengan kompetensi dasar dan
kondisi dunia nyata. Dengan demikian, maka siswa belajar dengan mengadopsi situasi dan
kondisi nyata di masyarakat menjadi situasi dan kondisi pembelajaran di sekolah. 4). Guru dilatih
menyusun rancangan evaluasi proses dan hasil belajar. Dengan demikian, maka evaluasi yang
dilakukan guru, bukan semata-mata mengevaluasi pengetahuan, melainkan guru mengevaluasi
proses tentang apa yang dilakukan siswa dan bagaimana siswa tersebut melakukan
pembelajaran. Itu berarti guru mengevaluasi kompetensi siswa yang sebenarnya.

Dalam merancang kegiatan penutup, guru dilatih menyusun rancangan tentang tugas-tugas apa
yang akan dilakukan oleh siswa agar siswa mampu menerapkan hasil belajarnya dalam kehidupan
nyata, sebagai bekal hidup pada masa sekarang dan yang akan datang.

Rancangan-rancangan yang dilatihkan kepada guru dilakukan secara cermat dan berlandaskan
sebuah teori untuk menciptakan suasana pembelajaran yang bermakna, menyenangkan, kreatif,
dinamis, dan dialogis. Selanjutnya, rancangan tersebut disusun menjadi Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP). Dengan demikian, sebelum melaksanakan pembelajaran guru telah memiliki
kesiapan yang mantap dengan RPP yang representatif.

Dengan berbekal kesiapan yang mantap dan RPP yang representatif, guru melaksanakan
pembelajaran (do) yang diamati oleh sejumlah pengamat yang berlatar belakang mata pelajaran
yang bervariasi. Selanjutnya, guru beserta seluruh peserta lesson study melakukan refleksi (see).

Dalam kegiatan refleksi (see) guru dilatih untuk menjelaskan kegiatan pembelajaran yang
dilakukannya yang didasari dengan teori-teori pembelajaran yang telah dikuasainya. Selain itu,
guru dilatih menerima masukan dari para pengamat untuk meningkatkan mutu proses
pembelajarannya. Masukan-masukan tersebut dijadikan dasar bagi guru untuk memperbaiki atau
meningkatkan mutu RPP dan pelaksanaan pembelajarannya.

Dengan demikian, maka kemampuan guru-guru bahasa Indonesia SMP kabupaten Cirebon,
provinsi Jawa Barat dalam menciptakan suasana pembelajaran yang bermakna, menyenangkan,
kreatif, dinamis, dan dialogis dapat meningkat.

3. Tujuan Penelitian dan Harapan

Tujuan penelitian ini adalah ingin mengetahui seberapa besar dampak pendidikan dan pelatihan
lesson study terhadap guru-guru Bahasa Indonesia SMP di Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa
Barat dalam menyusun RPP dan pelaksanaan pembelajaran dalam kegiatan lesson study pada
MGMP.

Harapan yang ingin dicapai dari hasil penelitian ini adalah agar hasil penelitian ini dapat dijadikan
pedoman bagi kepala LPMP, kepala dinas, kepala sekolah, dan ketua KKG/MGMP dalam
mengambil kebijakan tentang cara melakukan pembinaan guru-guru melalui pendidikan dan
pelatihan lesson study sebagai upaya untuk meningkatkan mutu proses pembelajaran yang
berdampak pada tercapainya pendidikan yang bermutu.

B. Metode Penelitian

Dalam penelitian ini digunakan metode penelitian deskriptif kualitatif studi tindak lanjut. Furchan,
(1982:427) menjelaskan bahwa penelitian deskriptif kualitatif studi tindak lanjut adalah jenis
penelitian yang meneliti perkembangan subjek yang telah diberikan perlakuan tertentu. Setelah
beberapa waktu subjek penelitian tersebut diteliti kembali. Tujuannya adalah untuk menilai
keberhasilan program tertentu.

Berdasarkan pendapat di atas peneliti melakukan penelitian terhadap perkembangan subjek yaitu
4 orang guru bahasa Indonesia yang pada tanggal 14 sampai dengan tanggal 18 Januari 2008
telah diberikan Diklat lesson study bersama dengan 16 orang guru lainnya dari mata pelajaran
IPA, IPS, matematika, dan bahasa Inggris (subyek/sasaran penelitian).

Sejak tanggal 1 Februari sampai 20 Mei 2008 peneliti secara simultan melakukan penelitian
terhadap guru-guru bahasa Indonesia tentang dampak Diklat lesson study .Untuk memperoleh
data tentang dampak diklat lesson study, maka yang menjadi sumber datanya adalah kepala
bidang pendidikan dasar, guru-guru bahasa Indonesia peserta diklat , dan anggota MGMP Bahasa
Indonesia SMP.

Peneliti datang sendiri ke lapangan dan bertindak sebagai instrumen (human instrument). Dalam
pelaksanaan pengumpulan data berpedoman pada guide yang disusun sebelumnya. Metode
pengumpulan data adalah wawancara, studi kepustakaan, dan observasi. Wawancara dilakukan
dengan kepala bidang untuk memperoleh data tentang pelaksanaan pendidikan dan pelatihan,
buku laporan pelaksanaan diklat lesson study, dan izin untuk mengikuti kegiatan-kegiatan MGMP
Bahasa Indonesia dalam mengimplementasikan hasil diklat.

Wawancara dengan guru-guru bahasa Indonesia peserta diklat untuk memperoleh data RPP yang
dibuat sebelum, waktu pelaksanaan, dan setelah pendidikan dan pelatihan (dalam kegiatan
MGMP) serta informasi-informasi lain yang diperlukan. Keabsahan data dilakukan dengan
triangulasi sumber, yaitu anggota MGMP Bahasa Indonesia SMP. Jenis wawancara yang dilakukan
adalah wawancara informal yaitu wawancara yang dilakukan dalam suasana yang wajar
sebagaimana dalam kehidupan sehari-hari. Dengan cara demikan, penulis memperoleh data yang
sesuai dengan tujuan penelitian.

Studi kepustakaan digunakan untuk mempelajari Laporan Pelaksanaan Pendidikan dan Pelatihan
Lesson Study dan RPP yang disusun sebelum, waktu pelaksanaan, dan setelah pelaksanaan diklat
serta mempelajari buku-buku teori dan penunjang yang diperlukan. Observasi digunakan untuk
mengamati kegiatan lesson study dalam merencanakan pembelajaran (plan), melaksanakan
pembelajaran (do), dan melakukan refleksi (see) dalam kegiatan MGMP.

Data yang diperoleh dari penelitian tersebut adalah berupa kata-kata, karena itu teknik analisis
data yang digunakannya adalah teknik kualitatif dengan model interaktif. Dalam analisis ini tiga
alur kegiatan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi, dilakukan
secara berurutan sebagai rangkaian analisis data (Miles. Matthew B, and Huberman. Michael.A,
1992, 20).

Dalam penelitian ini peneliti melakukan perpanjangan keikutsertaan sejak sebelum pelaksanaan
pendidikan dan pelatihan. Sebelum pelaksanaan pendidikan dan pelatihan Kepala Bidang
Pendidikan Dasar minta bantuan kepada peneliti untuk menyusun struktur program dan jadwal
pendidikan dan pelatihan di Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Cirebon. Selama pelaksanaan
pendidikan dan pelatihan peneliti sebagai penyaji mata diklat model pembelajaran, konsep lesson
study, dan pelaksanaan lesson study di Hotel Triyas. Setelah pendidikan dan pelatihan peneliti
beberapa kali mengikuti kegiatan MGMP bahasa Indonesia SMPN 1 Sumber, sebagai tempat
kegiatan MGMP Bahasa Indonesia SMP. Dengan demikian, maka peneliti menyatakan bahwa
perpanjangan keikutsertaan peneliti dilakukan sejak sebelum pelaksanaan, dalam pelaksanaan,
dan setelah pelaksanaan pendidikan dan pelatihan, dalam kegiatan MGMP. Dengan demikian,
maka keikutsertaan peneliti dalam mencari keabsahan data telah terpenuhi.

C. Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil penelitian melalui pengumpulan data di lapangan, secara menyeluruh dapat
dijelaskan sebagai berikut. Pertama, kemampuan peserta dalam menyusun RPP sebelum
mengikuti pendidikan dan pelatihan sangat rendah. Tetapi pada waktu diklat lesson study
berlangsung terjadi peningkatan kemampuan peserta dalam menyusun RPP dengan menerapkan
model pembelajaran yang relevan dengan kompetensi dasar yang hendak dicapainya dan visi,
misi, dan tujuan sekolah. Apalagi, setelah pendidikan dan pelatihan lesson study (dalam kegiatan
MGMP) peserta mampu membimbing anggota MGMP Bahasa Indonesia dalam merencanakan dan
melaksanakan lesson study dan melakukan refleksi. Kedua, telah terjadi peningkatan kemampuan
anggota MGMP Bahasa Indonesia dalam menyusun RPP dengan menerapkan model pembelajaran
yang relevan dengan kompetensi dasar yang hendak dicapainya dan visi, misi, dan tujuan
sekolah. Ketiga, telah terjadi peningkatan kemampuan anggota MGMP Bahasa Indonesia dalam
melaksanakan pembelajaran dengan berpedoman pada RPP yang dibuatnya.
Struktur program pendidikan dan pelatihan mampu mencapai tujuan pendidikan dan pelatihan.
Hal itu dibuktikan dengan peserta pendidikan dan pelatihan mampu membimbing anggota MGMP
Bahasa Indonesia dalam kegiatan lesson study dengan hasil yang sangat memuaskan.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan dan pelatihan lesson study yang
diberikan kepada guru-guru SMP di Kabupaten Cirebon Provinsi Jawa Barat telah memberikan
dampak yang sangat besar.

Pembahasan

Berdasarkan uraian pada bagian hasil penelitian tersebut pada bagian sebelumnya dapat
disimpulkan: Pertama, telah terjadi peningkatan motivasi belajar dan daya nalar yang tinggi
ketika anggota MGMP Bahasa Indonesia diberi kesempatan untuk mengemukakan masalah
pembelajaran yang dialaminya. Kedua, telah terjadi peningkatan keaktifan berpikir ketika
anggota MGMP Bahasa Indonesia melakukan kerjasama dalam mencari dan menemukan solusi
untuk mengatasi masalah pembelajarannya sesuai dengan pengalaman dan teori yang
dimilikinya. Ketiga, telah terjadi peningkatan kemampuan berbahasa lisan yang tinggi ketika
anggota MGMP Bahasa Indonesia dipersilakan menyampaikan gagasan untuk mengatasi masalah
pembelajaran sesuai dengan pengalaman dan teori yang dimilikinya. Kempat, telah terjadi
peningkatan kesadaran eksistensi dan potensi diri setelah anggota MGMP Bahasa Indonesia
mampu menemukan solusinya. Untuk lebih memperjelas temuan tersebut berikut ini disampaikan
pembahasannya.

a. Pembahasan Temuan Pertama

Temuan pertama adalah telah terjadi peningkatan motivasi belajar dan daya nalar yang tinggi
ketika anggota MGMP Bahasa Indonesia diberi kesempatan untuk mengemukakan masalah
pembelajaran yang dialaminya. Dalam temuan tersebut ada dua hal yang terlu dijelaskan yaitu
peningkatan motivasi belajar dan peningkatan daya nalar.

Motivasi belajar meningkat ketika anggota MGMP Bahasa Indonesia diberi kesempatan untuk
mengemukakan masalah pembelajaran yang dialaminya, hal itu sesuai dengan pendapat
Depdiknas (2002b:5-7) yang menyatakan bahwa setiap siswa (baca guru) memiliki rasa ingin
tahu dan keyakinan akan kemampuan diri. Keduanya merupakan faktor yang penting dalam
membangkitkan motivasi belajar secara efektif.

Motivasi belajar siswa (dibaca guru) akan meningkat karena materi yang dipelajari dan kegiatan
yang dilakukannya dirasakan bermakna bagi dirinya, (Depdiknas, 2002b:12). Kesempatan untuk
mengemukakan masalah pembelajaran yang dialaminya menumbuhkan motivasi pada diri
anggota MGMP Bahasa Indonesia. Sebab, dalam kegiatan tersebut mereka berbagi pengalaman
dan saling belajar sehingga terbentuk kegiatan saling belajar, (Hendayana, S. dkk. 2006:14).
Motivasi belajar akan meningkat apabila materi yang dipelajari dan kegiatan pembelajarannya
dirasakan bermakna bagi dirinya. Kebermaknaan ini lazimnya terkait dengan bakat, minat,
pengetahuan, dan tata nilai, (Depdiknas, 2002b:5). Motivasi belajar merupakan faktor yang
sangat berarti dalam peningkatan prestasi belajar, bila dibandingkan dengan hasil belajar yang
diperoleh pada akhir pembelajaran.

Daya nalar anggota MGMP Bahasa Indonesia meningkat ketika diberi kesempatan untuk
mengemukakan masalah pembelajaran yang dialaminya. Kegiatan tersebut merupakan kegiatan
kelompok.Kelompok merupakan kumpulan individu yang bekerjasama dalam satu kesatuan
kelompok dan mempunyai hubungan tertentu untuk mencapai tujuan bersama. Lewin (1958)
dalam Munir (2001:5) menjelaskan, “Kelompok adalah kumpulan individu yang mempunyai
hubungan tertentu yang saling ketergantungan dalam ukuran-ukuran yang bermakna.” Sukamta
(1980) dalam Munir (2001:6) menjelaskan kualifikasi sebuah kelompok adalah “Terjadinya
interaksi tatap muka dengan frekuensi yang sangat tinggi dan menyebabkan terjalinnya
hubungan psikologis yang nyata, seperti saling rasa memiliki, rasa solidaritas, saling
ketergantungan, adanya norma kelompok, dan terbentuknya struktur kelompok.”

Hasil kerja kelompok merupakan hasil sharing antar guru dalam satu kelompok atau antar
kelompok. Guru yang memahami masalah pembelajaran yang sedang dibahas, memberikan
penjelasan tentang hal tersebut kepada yang belum tahu. Guru yang cepat memahami mengajari
yang lamban, yang mempunyai gagasan segera memberi usul, dan sebagainya. Dengan kondisi
yang demikian, maka tidak mustahil bila terjadi peningkatan daya nalar.

Kelompok akan menjadi masyarakat belajar apabila setiap anggotanya saling ketergantungan,
saling belajar dari sesamanya baik dalam kelompok kecil atau kelompok besar. Mereka tidak ada
yang merasa paling tahu atau tidak tahu. Setiap anggota harus merasa bahwa setiap anggota lain
memiliki pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan yang berbeda dan perlu dipelajarinya. Bila
setiap anggota merasa membutuhkan dan mau belajar dari anggota lain, maka setiap anggota
dapat menjadi sumber belajar. Bila setiap anggota dapat menjadi sumber belajar, maka antar
anggota akan terjalin hubungan kerjasama dan komunikasi yang harmonis yang berdampak pada
meningkatnya penalaran.

Kondisi masyarakat belajar dapat menumbuhkan kesadaran menjadi warga negara yang baik,
mengembangkan kemampuan sosial dan semangat berkompetisi secara sehat dengan tidak
melupakan semangat bekerjasama yang disertai dengan komunikasi secara empati, dan sikap
solidaritas yang tinggi, Depdiknas (2002d:5). Kondisi tersebut sangat diperlukan untuk
meningkatkan daya nalar, sebagai bekal mengatasi masalah hidup dan kehidupan pada masa
sekarang maupun masa yang akan datang.

b. Pembahasan Temuan Kedua

Temuan kedua adalah telah terjadi peningkatan keaktifan berpikir ketika anggota MGMP Bahasa
Indonesia melakukan kerjasama dalam mencari dan menemukan solusi untuk mengatasi masalah
pembelajarannya sesuai dengan pengalaman dan teori yang dimilikinya. Dalam pernyataan di
atas terdapat dua hal yang perlu dijelaskan yaitu bekerjasama dapat meningkatkan keaktifan
berpikir dan keaktifan berpikir mampu menemukan solusi.

Kegiatan bekerjasama di atas adalah kegiatan bekerjasama untuk mencapai satu tujuan yaitu
ditemukannya solusi. kerjasama merupakan kegiatan memberikan kesempatan yang seluas-
luasnya dan kebebasan terhadap setiap siswa (dibaca guru) untuk berpikir secara proaktif dan
kreatif mengembangkan potensinya. Kerjasama yang dijalin itu pasti disertai dengan keaktifan
berpikir untuk menemukan solusi. Tanpa keaktifan berpikir, maka solusi tidak mungkin diperoleh.

Depdiknas (2003b:28) menjelaskan, bahwa studi mutakhir menunjukkan kemampuan


bekerjasama sangat diperlukan untuk membangun semangat komunitas yang harmonis. Kegiatan
kerjasama yang disertai dengan komunikasi secara empati sangat diperlukan oleh siswa (dibaca
guru) dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat dan sebagai dasar untuk belajar sepanjang
hayat. Kecakapan bekerjasama dan berkomunikasi diperlukan oleh siapa saja, baik yang sudah
bekerja, yang belum bekerja, atau masih mengikuti pendidikan dan menyebutnya sebagai
kecakapan dasar dalam belajar. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kegiatan
bekerjasama dapat meningkatkan keaktifan berpikir.

Kegiatan kerjasama yang disertai dengan komunikasi secara empati akan memberikan
kesempatan pada guru untuk mengembangkan keaktifan berpikir dengan semangat berkompetisi
secara sehat, dan disertai dengan solidaritas yang tinggi untuk menemukan solusi terhadap
masalah pembelajaran yang dihadapinya. Kegiatan tersebut mendorong dan melatih guru agar
mampu mengidentifikasi masalah, memecahkan masalah, dan menemukan solusinya.

3. Pembahasan Temuan Ketiga

Temuan ketiga adalah telah terjadi peningkatan kemampuan berbahasa lisan yang tinggi ketika
anggota MGMP Bahasa Indonesia dipersilakan menyampaikan gagasan untuk mengatasi masalah
pembelajaran sesuai dengan pengalaman dan teori yang dimilikinya. Kegiatan menyampaikan
gagasan untuk mengatasi masalah pembelajaran merupakan kegiatan berbahasa lisan.

Kemampuan berbahasa lisan dapat meningkatkan kemampuan berpikir dan bernalar serta
kemampuan memperluas wawasan. Dalam kegiatan tersebut guru memiliki kesempatan yang
seluas-luasnya untuk meningkatkan komptensi pedagogik, kepribadian, profesional, dan sosial,
(PPRI No.19 tahun 2005: SPN 2005). Kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola
pembelajaran yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan
pembelajaran, evaluasi pembelajaran, dan pengembangan peserta didik untuk
mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

Kompetensi kepribadian adalah memiliki kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan
berwibawa menjadi teladan bagi peserta didik dan berakhlak mulia. Kompetensi profesional
adalah kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang
memungkinkannya membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi. Kompetensi sosial
adalah kemampuan berkomunikasi secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga
kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar. Keempat kompetensi guru
tersebut dapat berkembang secara maksimal apabila guru memiliki kemampuan berbahasa lisan.

4. Pembahasan Temuan Keempat

Temuan keempat adalah telah terjadi peningkatan kesadaran eksistensi dan potensi diri setelah
anggota MGMP Bahasa Indonesia mampu menemukan solusinya. Kemampuan menemukan solusi
terjadi karena guru menyadari bahwa dalam dirinya memiliki kesadaran eksistensi diri.
Kesadaran eksistensi diri adalah kesadaran untuk menggali, memelihara, mengembangkan, dan
memanfaatkan potensi yang dikaruniakan Tuhan baik berupa fisik maupun psikologik,
(Depdiknas,2003:21). Dengan kesadaran tersebut guru berusaha untuk memanfaatkan
potensinya untuk menemukan solusinya. Jadi, sangatlah wajar apabila guru yang secara sadar
berusaha untuk menggali, memelihara, mengembangkan, dan memanfaatkan potensi untuk
menemukan solusi terhadap masalah pembelajaran yang selama ini sulit untuk dipecahkan.

Kesadaran potensi diri akan berkembang bila kita terus-menerus belajar. Dengan demikian, maka
akan terwujud prinsip belajar sepanjang hayat. Kesadaran tersebut akan menumbuhkan
kepercayaan diri. Guru yang telah menemukan solusi terhadap masalah pembelajaran yang
selama ini sulit dipecahkan, akan menyadari bahwa dirinya memiliki potensi yang sangat besar.
Hanya selama ini potensi besar itu belum pernah dipergunakan.

Secara umum temuan dan penafsiran di atas mengarah kepada “peningkatan kehidupan
intelektual bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya,” (Rencana Aksi
Nasional:Pendidikan Indonesia untuk Semua, 2003 dalam DBE 3:33). Guru telah mendapatkan
amanat untuk mengembangkan “ potensi siswa guna menjadi manusia yang percaya dan taqwa
kepada Tuhan YME, memiliki karakter terpuji, sehat, berpengetahuan, mampu, dan kreatif,
mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab,” (Undang-undang
Guru, pasal4).

Simpulan dan Saran

a. Simpulan

Berdasarkan hasil pembahasan data dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Pada waktu pendidikan dan pelatihan lesson study berlangsung terjadi peningkatan
kemampuan peserta dalam menyusun RPP dengan menerapkan model pembelajaran yang
relevan dengan kompetensi dasar yang hendak dicapainya dan visi, misi, dan tujuan
sekolah.
2. Setelah pendidikan dan pelatihan lesson study peserta mampu membimbing anggota
MGMP Bahasa Indonesia dalam merencanakan dan melaksanakan lesson study, dan
melakukan refleksi.
3. Telah terjadi peningkatan kemampuan anggota MGMP Bahasa Indonesia dalam menyusun
RPP dengan menerapkan model pembelajaran yang relevan dengan kompetensi dasar
yang hendak dicapainya dan visi, misi, dan tujuan sekolah.
4. Telah terjadi peningkatan kemampuan anggota MGMP Bahasa Indonesia dalam
melaksanakan pembelajaran dengan berpedoman pada RPP yang dibuatnya.

Struktur program pendidikan dan pelatihan mampu mencapai tujuan pendidikan dan pelatihan.
Hal itu dibuktikan dengan peserta pendidikan dan pelatihan mampu membimbing anggota MGMP
Bahasa Indonesia dalam kegiatan lesson study dengan hasil yang sangat memuaskan.

b. Saran

Berdasarkan temuan di atas disarankan agar para pimpinan lembaga kependidikan (kepala LPMP,
kepala bidang pendidikan dasar dan menengah, kepala sekolah, pengawas sekolah) dalam upaya
meningkatkan kemampuan proses pembelajaran, para guru dapat dilaksanakan melalui
pendidikan dan pelatihan lesson study agar berdampak pada meningkatnya mutu pendidikan.

Daftar Rujukan

Departemen Pendidikan Nasional. 2002a. Kurikulum dan Hasil Belajar. Penenerbit Balitbang
Depdiknas. Jakarta.51.
Departemen Pendidikan Nasional. 2002b. Penjelasan Umum Kurikulum Berbasis Kompetensi.
Penenerbit Direktorat PLP. Jakarta.34.
Departemen Pendidikan Nasional. 2003. Konsep Pendidikan Kecakapan Hidup. Penerbit
Dikmenjur. Jakarta. 65.
Furchan, A. 1982. Pengantar Penelitian Pendidikan. Penerbit Usaha Nasional.Surabaya.511.
Hendayana, S. Suryadi, Didi. Karim, Muchtar, A. 2006. Lesson Study. Suatu Strategi untuk
meningkatkan Keprofesionalan Pendidik. Penerbit IMSTEP- JICA. Bandung.140.
Miles. Matthew B, Huberman Michael A, 1992. Analisis Data Kualitatif. (terjemahan), Universitas
Indonesia, Jakarta.
Munir, B. 2001. Dinamika Kelompok. Penerbit Universitas Sriwijaya. Jakarta.330.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia, Nomor 19, Tahun 2005: Standar Pendidikan Nasional,
2005
Sukardi, 2003. Metodologi Penelitian Pendidikan (Kompetensi dan Prakteknya), Bumi Aksara,
Jakarta.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Penerbit Depdiknas. Jakarta. 30.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen. Penerbit
Depdiknas. Jakarta