You are on page 1of 17

BAHAN AJAR (AH 43256)

TEKNIK BUDIDAYA TANAMAN KAKAO

PENYUSUN :

Ir. I Nengah Artha,SU.

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS UDAYANA
2017
KATA PENGANTAR

Bahan ajar tentang “Teknik Budidaya Tanaman Kakao” sebagai bagian dari materi pokok

dalam mata kuliah Produksi Tanaman Industri (sandi mata kuliah : AH 43256) sebagaimana

yang termuat dalam kurikulum , disusun untuk membantu para mahasiswa agar lebih mudah

dapat memahami segala hal yang berkaitan dengan pembudidayaan tanaman kakao, dimulai

dari penyediaan bahan tanam (bibit), penyiapan lahan dimana bibit kakao akan ditanam,

penanaman, pemeliharaan, panen, dan penanganan pasca panen kakao.

Bahan ajar ini sebagai review dari berbagai sumber / referensi yang tentunya akan terus

direvisi untuk penyempurnaannya. Diskusi-diskusi kelompok dalam tatap muka di kelas

tentunya akan sangat berarti sebagai masukan disamping masukan dari berbagai pihak.

Mudah-mudahan bahan ajar yang sangat sederhana ini dapat bermanfaat banyak bagi

para mahasiswa khususnya, dan terima kasih atas segala dorongan dan bantuan dari kawan-

kawan sehingga bahan ajar ini bias diselesaikan penyusunannya.

Denpasar, Pebruari 2017

Penyusun

I Nengah Artha

NIP. 195401131980031004
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

I. PENDAHULUAN ………………………………………………………………………………………………………… 1

II. TEKNIK BUDIDAYA TANAMAN KAKAO ……………………………………………………………………….. 2

2.1. Persiapan Bahan Tanam ………………………………………………………………………………………. 2

2.2. Persiapan Lahan …………………………………………………………………………………………………… 3

2.3. Penanaman …………………………………………………………………………………………………………. 5

2.4. Pemeliharaan ………………………………………………………………………………………………………. 6

2.5. Panen dan Penanganan Pasca Panen …………………………………………………………………… 13

III. PENUTUP ………………………………………………………………………………………………………………….. 14

DAFTAR PUSTAKA
I. PENDAHULUAN

Kompetensi Dasar
 Mahasiswa memahami teknologi budidaya tanaman Kakao

 Mahasiswa dapat mendiskripsikan langkah-langkah kegiatan yang mesti dilakukan dalam

pembudidayaan tanaman Kakao di lapang

Indikator Pencapaian

 Mahasiswa dapat menguraikan dan memberikan argumentasi pada setiap langkah dalam

membudidayakan tanaman Kakao di lapang

Tanaman Kakao (Theobroma cacao L.) merupakan salah satu komuditas perkebunan

yang memiliki peranan penting dalam meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani di

Indonesia, khususnya di sentra-sentra pengembangan Kakao.

Kakao merupakan tanaman tahunan yang dapat mulai berbuah pada umur 4 tahun, dan

apabila dikelola secara tepat maka masa produksinya dapat bertahan lebih dari 25 tahun. Dalam

skala perkebunan penanaman Kakao di Indonesia dimulai pada tahun 1780 di Minahasa

selanjutnya pada tahun 1858 dikembangkan di Ambon serta Seram kepulauan Maluku. Di Jawa

penanaman Kakao berkembang secara pesat pada awal abad 19 sebagai tanaman pengganti

kopi yang rusak oleh serangan penyakit karat daun. Berkembangnya pengusahaan Kakao di

pulau Jawa kemudian menyebar ke Bali. Di Bali produktivitas Kakao rata-rata 777 kg biji kering
per hektar, sementara itu potensi produksinya sebesar 1.100 kg biji kering per hektar. Sampai

saat ini komuditas Kakao tersebut masih memiliki prospek pasar yang baik.

Seperti halnya tanaman perekebunan yang lain, tanaman Kakao memerlukan

persyaratan tumbuh dan teknologi budidaya yang memadai agar mampu memberikan hasil

yang optimal. Teknologi budidaya yang dimaksud antara lain : persiapan bahan tanam,

persiapan lahan, penanaman, pemeliharaan tanaman, dan panen.

II. TEKNIK BUDIDAYA TANAMAN KAKAO

2.1. PERSIAPAN BAHAN TANAM (BIBIT)

Tinggi rendahnya hasil tanaman Kakao disamping sangat dipengaruhi oleh faktor iklim

dan tanah juga sangat dipengaruhi oleh bahan tanam (bibit) yang digunakan. Bibit itu sendiri

mempunyai potensi berproduksi (potensi genetis) sedangkan iklim dan kesuburan tanah sebagai

faktor lingkungan akan memberikan kesempatan bagi bibit untuk mencapai potensinya.

Bibit yang akan ditanam dapat berupa : (1) bibit kakao asal benih atau tanaman semai,

yaitu bibit yang dihasilkan dari penyemaian benih unggul yang sudah teruji potensinya seperti

misalnya benih Hibrida F1, (2) bibit kakao klonal yang diperoleh melalui okulasi , sambung

pucuk, stek, dan cangkokan. Perbanyakan bibit melalui stek dan cangkokan sangat jarang

dilakukan sedangkan yang umum dilakukan untuk mendapatkan bahan tanam yang mudah dan

cepat adalah dengan sambung pucuk.

Bibit Kakao asal benih maupun bibit Kakao klonal dari sambung pucuk maupun okulasi

sudah siap ditanam di kebun setelah berumur 6 – 7 bulan.


2.2. PERSIAPAN LAHAN

Dalam mempersiapkan lahan untuk penanaman Kakao, sangat penting diperhatikan hal-

hal yang menyangkut : (a) kandungan humus (bahan organik) yang ada di lahan yang

dipersiapkan untuk kebun kakao agar diusahakan tidak banyak yang hilang, (b) erosi atau

hanyutnya tanah bagian permukaan akibat air hujan hendaknya ditekan sekecil-kecilnya,

misalnya dengan membuat sengkedan / teras bagi lahan yang secara fisiografis miring, (c) cara-

cara pembuangan air yang berlebihan pada saat musim hujan sehingga tidak menggenangi

tanaman, (d) penguapan air dari permukaan tanah di musim kemarau dapat ditekan, misalnya

dengan pemakaian mulsa, penanaman tanaman penutup tanah dan lain sebagainya,(e)

membersihkan lahan dari rumput-rumput pengganggu tanaman, seperti alang-alang misalnya,

dan pula membersihkan lahan dari sisa-sisa akar tanaman , misalnya karena dilakukan

penggantian tanaman.

Disamping hal-hal seperti yang disebutkan di atas sangat penting pula diperhatikan dan

dipersiapkan dengan sebaik-baiknya, yaitu :

(1) Tanaman penaung

Berdasar fungsinya ada dua jenis tanaman penanung, yaitu penaung sementara dan

penanung tetap.

a. Penanung sementara, hanya berfungsi selama penaung tetap belum berfungsi

dengan baik. Penanung sementara ini dapat berupa “bahan tanaman” seperti

misalnya dibuat dari daun kelapa, daun lontar, alang-alang disamping juga dapat
menggunakan plastik pelindung cahaya matahari. Selain berupa bahan tanaman,

penaung sementara juga dapat berupa “tanaman penaung”, yaitu tanaman yang

sengaja ditanam untuk menaungi tanaman Kakao yang akan ditanam, seperti

misalnya pisang.

b. Penaung tetap, bersifat permanen yang berfungsi sebagai penaung selama

pertumbuhan tanaman Kakao. Bilamana tidak menggunakan penaung sementara

maka tanaman penanung tetap ini hendaknya sudah ditanam jauh-jauh hari, 8 – 12

bulan sebelum penanaman bibit Kakao. Jenis penaung tetap yang biasa dipakai,

seperti : pohon Dadap, Gamal, Lamtoro, Albizia. Jarak tanam penaung tetap dapat

dibuat sama dengan jarak tanam tanaman Kakao. Syarat tanaman penaung tetap,

yaitu : 1). Tajuk lebih tinggi dari tanaman Kakao, 2). Pertumbuhan tanaman

cepat,namun tahan dipangkas atau diatur tajuknya, 3) Tidak mudah roboh atau

patah baik batang maupun cabangnya, dan 4) Dapat meneruskan sinar matahari,

baik secara langsung maupun difus.

(2) Lobang tanam

Pekerjaan terakhir dalam menyiapkan lahan untuk dijadikan kebun Kakao adalah pembuatan

lobang-lobang tanam. Penggalian lobang tanam ini dapat dilakukan bersamaan dengan

penanaman tanaman penaung tetap atau 1-2 bulan sebelum penanaman bibit Kakao.

Penggalian lobang tanam lebih awal dimaksudkan agar penyakit yang ada dalam lobang

menjadi hilang disamping ada cukup waktu untuk mengisi lubang-lubang tanam dengan

sisa-sisa tanaman , bahan-bahan organic sehingga pada saat menanam bibit Kakao, lobang

tanam sudah penuh berisi campuran tanah dan bahan organik yang sudah matang.
Pada tanah yang cukup subur, lobang tanam digali dengan ukuran sedikitnya 60 cm x 60 cm

x 60 cm, namun apabila lahan yang dipakai bekas kebun, maka ukuran lobang tanam

hendaknya diperbesar. Diusahakan agar lokasi tanaman di dalam barisan dan antar barisan

teratur, dimaksudkan untuk menghindari kompetisi antar tanaman disamping memudahkan

dalam pemeliharaan tanaman.

2.3. PENANAMAN

Apabila tanaman penaung diperkirakan sudah akan dapat menaungi bibit Kakao muda

yang akan ditanam dengan baik, maka pekerjaan berikutnya adalah penanaman. Hal-hal yang

mesti dilakukan dalam kegiatan ini adalah :

 Lobang tanam yang telah penuh berisi campuran tanah galian dan bahan organic perlu

diberi pupuk dasar NPK sebanyak 100 gram per lubang, kira-kira 2 minggu sebelum

penanaman.

 Bibit yang akan ditanam tentunya yang subur dan tumbuh seragam hendaknya disiram

sebelum dibawa ke kebun, diangkat secara hati-hati supaya keadaan bibit dan tanah

dalam polybag tidak terganggu.

 Bilamana lokasi kebun jauh dari tempat pembibitan, bibit hendaknya dilindungi dari

terpaan angin dan cahaya matahari langsung selama dalam perjalanan pengangkutan.

 Pada saat hendak menanam bibit, bagian bawah polybag dipotong dengan pisau tajam

kemudian polybag ditarik dengan hati-hati, diusahakan tidak ada akar terputus, dan

tanah dalam polybag tidak pecah-pecah apalagi hancur.


 Bibit yang sudah dimasukkan ke lobang tanam kemudian ditimbun sepenuhnya dan

pangkal batang bibit dibiarkan lebih tinggi 2 – 3 cm dari permukaan tanah kebun

 Untuk menegakkan pohon bibit dan memudahkan dalam pemeliharaan, hendaknya

setiap pohon bibit diikatkan pada kayu pancang atau bilah-bilah bambu yang kuat.

 Penanaman hendaknya dilakukan pada musim penghujan. Dalam keadaan musim

berlangsung normal, penanaman sebaiknya dilakukan akhir bulan Nopember sampai

Desember.

2.4. PEMELIHARAAN TANAMAN

Bibit Kakao yang telah ditanam sesuai langkah-langkah seperti disebutkan di atas

diharapkan dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, dan pada akhirnya potensi

produksinya dapat dicapai. Hal ini baru akan terjadi jika selama tanaman tumbuh di lapangan

dilakukan kegiatan pemelihraan tanaman secara terus menerus ,penuh kesabaran dan tekun

berupa hal-hal sebagai berikut :

1. Penyiangan

Rumput-rumput liar yang tumbuh di sekitar tanaman Kakao muda hendaknya dibersihkan

secara berkala untuk menghindari terjadinya persaingan hara maupun cahaya matahari.

Rumput-rumput / tanaman liar yang tumbuh agak jauh dari tanaman Kakao sepanjang tidak

menaungi, sebaiknya dibiarkan saja tumbuh. Namun setelah pertumbuhan tanaman liar ini

maksimum, ditandai dengan mulai berbunga baru kemudian dirabas dan sisa-sisa tanaman

liar ini dijadikan mulsa.

2. Pemupukan
Pemupukan ini dimaksudkan menambah unusur-unsur (hara) yang ada dalam tanah sebagai

akibat telah berkurangnya hara tanah karena dipakai selama pertumbuhan tanaman Kakao

atau hara tanah hilang karena hanyut terbawa air hujan. Pemupukan sebaiknya dilakukan

setiap 3 bulan sekali selama tanah masih cukup lembab menggunakan pupuk N, P, dan K

atau dapat pula menggunakan pupuk organic. Namun apabila tanah tidak cukup lembab

terutama selama musim-musim kemarau maka sebaiknya pemupukan dilakukan 2 kali

setahun, yaitu pada pemulaan musim penghujan dan pada akhir musim penghujan. Dosis

pemupukan disesuaikan dengan umur tanaman. Berikut adalah dosis pemupukan sesuai

dengan perkembangan umur tanaman, lihat Tabel 1.

Umur Tanaman Jenis Pupuk dan Dosis Pemupukan


(Tahun)

Pupuk ZA (nitrogen) Pupuk TSP /DS Pupuk KCl (kalium)


(fosfor)
1 2 x 25 gram 2 x 12,5 gram 2 x 12,5 gram
2 2 x 50 gram 2 x 25 gram 2 x 25 gram
3 2 x 100 gram 2 x 50 gram 2 x 50 gram
4 2 x 200 gram 2 x 100 gram 2 x 100 gram
5 2 x 250 gram 2 x 125 gram 2 x 125 gram
Umur 6 tahun dan seterusnya dosis pemupukan sama dengan umur tanaman 5 tahun

3. Pemangkasan

Pada garis besarnya maksud dan tujuan pemangkasan tanaman Kakao adalah untuk :

 Membentuk kerangka dasar pohon yang baik, kuat menyanggah cabang / ranting /

daun, agar diperoleh percabangan yang seimbang sehingga distribusi cahaya

matahari merata ke seluruh bagian tanaman


 Menghilangkan cabang-cabang yang tidak perlu atau yang tidak dikehendaki, seperti

misalnya tunas-tunas air, cabang mati, cabang rusak, cabang sakit, dll.

 Mendorong tanaman membentuk daun-daun baru yang kemampuannya berasimilasi

lebih tinggi

 Menjamin sirkulasi udara di sekitar pertanaman lebih lancar sehingga kondisi kebun

tidak lembab dan tanaman tercukupi kebutuhannya terhadap karbondioksida

 Meningkatkan kemampuan tanaman untuk membentuk bunga dan buah

 Mempermudah melakukan kegiatan atau perlakuan terhadap tanaman , misalnya :

pemupukan, pengendalian organism pengganggu tanaman, panen, dll.

Dari uraian di atas pemangkasan yang dimaksudkan dengan tujuan untuk meningkatkan

kemampuan tanaman untuk membentuk bunga dan buah adalah merupakan perlakuan

pokok pada pemangkasan karena perlakuan ini akan berpengaruh langsung terhadap

hasil yang diperoleh. Secara rinci hal-hal yang dilakukan agar kemampuan tanaman

membentuk bunga dan buah meningkat melalui pemangkasan, adalah sebagai berikut :

a. Menghilangkan / memangkas semua tunas air

b. Menghilangkan cabang-cabang balik, yaitu cabang yang tumbuhnya mengarah atau

masuk ke dalam tajuk

c. Memotong cabang-cabang yang menggantung dan tidak produktif. Sedangkan yang

produktif dipotong sebagian pada bagian lengkungan sehingga pertumbuhan cabang

bisa diarahkan ke atas.


d. Menghilangkan semua cabang-cabang cacing, yaitu cabang kecil yang tumbuhnya

kerdil

e. Memangkas cabang-cabang yang terlalu rapat atau sangat berdekatan satu sama lain

f. Memangkas cabang yang saling tindih, baik di dalam individu tanaman itu sendiri

maupun dengan cabang dari tanaman lain disekitarnya

g. Menghilangkan cabang-cabang yang rusak, baik karena serangan hama dan penyakit

maupun karena penyebab lainnya

h. Memotong puncak tajuk yang diperkirakan akan menyebabkan ketinggian tajuk

dapat melebihi 4 meter.

Dalam melakukan kegiatan pemangkasan, beberapa hal penting yang sangat perlu

diperhatikan adalah sebagai berikut :

 Dianjurkan melakukan pemangkasan sering-sering, namun dengan intensitas ringan (

2-3 bulan sekali)

 Tidak melakukan pemangkasan pada musim kemarau, kecuali jika tersedia air tanah

yang cukup dari air irigasi

 Tidak melakukan pemangkasan dengan intensitas berat (banyak cabang dengan

diameter 2,5 cm atau lebih) dipotong bersamaan, kecuali jika terpaksa misalnya

karena tanaman tersebut tidak pernah dipangkas dalam waktu yang cukup lama
 Sebelum pemangkasan Kakao, sebaiknya pohon penaung dipangkas terlebih dahulu

kira-kira 1-2 bulan sebelum pemangkasan Kakao. Perlu ada jarak antara tajuk

tertinggi dari tanaman Kakao dengan tajuk terendah dari tanaman penaung.

 Kebun Kakao yang terpelihara dengan baik melalui pemangkasan tanaman Kakao

maupun tanaman penaung yang benar akan ditandai oleh masuknya cahaya

matahari (bunga-bunga cahaya) secara merata di bawah tajuk tanaman Kakao.

4. Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman

Organisme pengganggu tanaman yang terdiri dari hama maupun penyakit adalah salah satu

factor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman serta hasil

Kakao yang dibudidayakan. Bila organisme pengaganggu ini tidak dikendalikan

perkembangan dan penyebarannya niscaya akan terjadi penurunan hasil dan bahkan akan

terjadi gagal panen. Beberapa hama utama dan penyakit penting yang perlu mendapatkan

penanganan adalah :

a. Penggerek buah kakao (Conopomorpha cramerella snellen), biasa disebut PBK. Hama

ini menyerang buah kakao dengan gejala serangan : terdapatnya bekas lubang pada

permukaan kulit buah; buah akan masak sebelum waktunya; perkembangan buah

tidak normal; buah susah dibelah, dan biji-biji saling berdempet. Cara pengendalian

yang dianjurkan terhadap hama ini adalah : budidaya tanaman sehat;

pengembangan musuh alami, seperti semut hitam, jamur entomopatogen;

sarungisasi atau penyelubungan buah sejak masih muda; dan penggunaan


insektisida piretroid sintetik seperti misalnya deltametrin, Fipronil, Lamda

sihalotrin, betasiflutrin, alfa sipermetrin dengan konsentrasi formulasi 0,00 – 0,12 %.

b. Kepik penghisap buah Kakao (Helopeltis sp.). Kepik muda dan dewasa menyerang

buah kakao dengan cara mencucuk dan menghisap cairan sel buah. Akibatnya timbul

bercak-bercak cekung berwarna coklat kehitaman sampai buah muda menjadi layu

dan kering. Pada tingkat serangan berat, daun-daun layu kemudian gugur dan

ranting-ranting layu mengeras. Pengendalian hama kepik ini efektif bila : dilakukan

pemangkasan teratur; penyemprotan dengan menggunakan pestisida; dan

menggunakan musuh-musuh alami seperti semut hitam (Dolichoderus thoracicus)

c. Penggerek batang (Squamura sp. ). Ulat (larva) hama ini merusak batang / cabang

dengan menggerek menuju empelur (xylem), dengan gerakan membelok ke atas.

Pada permukaan lubang gerekan akan terdapat campuran kotoran dengan serpihan

jaringan tanaman. Akibat gerekan ulat ini, bagian tanaman di atas lubang gerekan

akan merana, layu, kering dan akhirnya mati. Pengendalian terhadap ulat ini adalah :

secara mekanik dengan memotong cabang / batang yang digerek dengan jarak

pemotongan sekitar 10 cm ke arah pangkal dari lubang gerekan, kemudian ulat

dimatikan; secara kimiawi dengan menggunakan insektisida.

d. Penyakit busuk buah (Phytophthora palmivora Butl,(Butl.). Penyakit ini disebabkan

oleh jamur yang namanya Phytophthora palmivora Butl,(Butl.), menyerang buah

yang masih muda sampai buah dewasa. Buah yang terinfeksi menunjukkan gejala

terjadinya pembusukan disertai percak cokelat kehitaman dengan batas yang tegas.

Perkembangan percak cokelat cukup cepat dan dalam waktu yang singkat seluruh
permukaan buah menjadi busuk, basah dan berwarna cokelat kehitaman. Dalam

kondisi lembab pada permukaan buah akan muncul serbuk berwarna putih yang tak

lain adalah spora P. palmivora yang sering kali bercampur dengan jamur sekunder

(jamur lain). Serangan penyakit ini bisa ditangani dengan cara sanitasi dan

pemakaian fungisida racun kontak. Sanitasi yaitu memetik semua buah busuk yang

dilakukan bersamaan kemudian dibenamkan ke dalam tanah. Aplikasi fungisida

racun kontak dilakukan dengan cara disemprotkan pada buah sehat setelah

dilakukan sanitasi. Jenis fungisida yang bisa dipakai adalah fungisida yang berbahan

aktif tembaga, seperti misalnya Copper Sandoz, Nordox, Cupravit, Vitigran Blue

dengan konsentrasi 0,3 % interval waktu 2 minggu . Penyemprotan hendaknya

dilakukan terhadap buah-buah yang telah berumur rata-rata 3 bulan atau panjang

buah 10 cm. Pengendalian serangan penyakit ini dapat pula dilakukan dengan

menanam klon-klon (bibit kakao) tahan, seperti DRC 16 dll.

e. Penyakit Kanker batang (Phytophthora palmivora Butl,(Butl.).Gejala serangan terlihat

pada kulit batang, yaitu bercak-bercak berwarna gelap atau kehitaman dan agak

berlekuk. Pada bercak hitam ini sering ditemukan cairan kemerahan yang lama

kelamaan menjadi seperti lapisan karat. Apabila kulit batang yang terserang dikupas

akan terlihat di bawahnya membusuk dan berwarna merah anggur. Pada batang kecil

yang terserang dapat dilakukan pengendalian dengan mengupas kulit batang atau

cabang yang membusuk sampai batas kulit yang sehat, kemudian diolesi bahan

penutup luka seperti ter, TB 192 atau fungisida berbahan aktif tembaga dengan

konsentrasi 5 – 10 %. Apabila tingkat serangannya berat, batang yang terserang


kerusakannya sampai mengelilingi batang, sebaiknya tanaman tersebut dipotong dan

dibakar.

f. Penyakit Akar merah (Ganoderma pseudoforeum (Wakef) Ov.Et.Stein. Penyakit ini

menampakkan gejala daun menguning kemudian layu dan akhirnya gugur diikuti

oleh kematian tanaman. Tanaman yang terserang penyakit ini harus dibongkar

beserta akar-akarnya sampai bersih, kemudian akar-akar tersebut dibakar.

Kemudian pada lobang bongkaran ditaburi belerang sebanyak 600 gram. Untuk bias

ditanami lagi , hendaknya lobang tersebut dibiarkan terbuka sampai 1 tahun. Agar

penyebarannya tidak meluas, perlu dibuatkan parit isolasi sedalam 80 cm pada

daerah satu baris di luar tanaman yang mati.

2.5. PANEN

Panen Kakao dimulai setelah buahnya masak yang ditandai oleh adanya perubahan

warna kulit buah. Buah yang waktu muda berwarna hijau setelah masak akan menjadi berwarna

kuning sedangkan buah yang saat mudanya berwarna merah setelah masak akan berubah

menjadi berwarna orange. Dari saat pembuahan samp;ai buah siap panen diperlukan waktu

rata-rata 6 bulan.

Pemetikan buah Kakao dilakukan dengan memotong tangkai buah menggunakan pisau

tajam agar tempat tangkai buah yang menempel dengan batang / cabang tidak terkelupas atau

rusak. Buah yang dipetik hendaknya buah yang sudah masak sebab buah yang kurang masak

kandungan gula pada pulpnya kurang, dan ini berakibat terhadap kurang baiknya hasil

permentasi biji coklat. Buah yang sudah dipetik kemudian dikumpulkan untuk dipecah dan
dipisahkan antara biji dengan kulit buah. Biji-biji hasil pemisahan dengan kulit buah kemudian

dapat diproses lebih lanjut untuk kemudian dijemur di bawah terik matahari sampai kering

dengan kadar air lebih kurang 12 % selanjutnya disimpan dalam gudang penyimpanan.

III. PENUTUP

Tanaman Kakao sebagai salah satu tanaman yang prospektif untuk dikembangkan di Indonesia,

namun menuntut teknologi budidaya yang sesuai untuk setiap klon (varietas) dan lingkungan

spesifik tertentu.

Ada hal yang perlu kita renungkan, bukankah tanaman-tanaman termasuk Kakao sesungguhnya

adalah makhluk hidup ciptaanNYA juga, maka peliharalah mereka dengan sebaik-baiknya

dengan tulus dan penuh kasih, niscaya akan memberikan manfaat bagi kita semua.

Terima kasih atas dukungan semua pihak sehingga bahan ajar sederhana ini bisa disusun,

mudah-mudahan bermanfaat bagi para mahasiswa dan kita pada umumnya.

DAFTAR PUSTAKA