You are on page 1of 12

MANAJEMEN AGRIBISNIS TANAMAN PANGAN

“Teknologi Budidaya dan Agribisnis Tanaman Ubi Kayu”

Oleh :

Kelompok VI

Inayatul Lutfi (20110210047)

Program Studi Agroteknologi

Fakultas Pertanian

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

2013 / 2014
I. PENDAHULUAN

Ubi kayu merupakan tanaman pangan berupa perdu dengan nama lain ketela pohon,
singkong atau kasape. Ketela pohon berasal dari benua Amerika, tepatnya dari negara Brazil.
Penyebarannya hampir ke seluruh dunia, antara lain Afrika, Madagaskar, India, Tiongkok. Ubi
kayu berkembang di negara-negara yang terkenal wilayah pertaniannya dan masuk ke Indonesia
pada tahun 1852. Tanaman ubi kayu tersebar di seluruh propinsi di Indonesia, namun
penyebarannya terbanyak di pulau Jawa dan Sumatra, masing-masing 50% dan 32% dari total
luas panen ubi kayu di Indonesia.

Ubi kayu merupakan komoditi tanaman pangan yang penting di Indonesia setelah padi,
jagung, kedelai, kacang tanah dan kacang hijau, yaitu sebagai bahan pangan, pakan dan bahan
baku industri baik hulu maupun hilir. Komoditi ubi kayu selain berperan untuk memenuhi
kebutuhan sumber karbohidrat untuk substitusi beras, juga sebagai bahan untuk diversifikasi
pangan. Ubi kayu juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan, bahan baku industri dan bahan
baku bioetanol. Selain itu, komoditi tersebut merupakan tanaman dengan daya adaptasi yang
luas, mudah disimpan, mempunyai rasa enak sehingga dapat membuka lapangan pekerjaan dan
meningkatkan pendapatan petani.

Upaya peningkatan produktivitas dan produksi ubi kayu pada tahun 2011 terfokus pada
pengembangan melalui dem area (pengelolaan tanaman terpadu) dengan luasan yang terbatas
612 ha di 11 Kabupaten/kota sentra produksi) diharapkan salah satu pemicu peningkatan
produktivitas ubikayu sebesar 5 %. Berdasarkan kebijakan kementerian melalui Direktorat
Jenderal Tanaman Pangan fokus kegiatan utama adalah komoditas padi, jagung, kedelai, oleh
karena itu pada tahun 2012 fokus peningkatan produktivitas dan produksi ubikayu 2.106.886 ton.
Dengan demikian perlu dilakukan budidaya sekaligus perencanaan agribisnis untuk peningkatan
dan pengembangan tanaman ubi kayu di Indonesia.
II. ISI
A. Syarat Tumbuh Ubi Kayu

Pada umumnya tanaman ubi kayu ditanam di daerah yang relatif kering. Tapi sebenarnya
o 0
tanaman ubi kayu ini dapat tumbuh di daerah antara 30 lintang selatan dan 30 lintang utara,
sinar matahari yang dibutuhkan bagi tanaman ubi kayu sekitar 10 jam/hari, terutama untuk
0
kesuburan daun dan perkembangan umbinya. Suhu udara rata-rata lebih dari 18 C dengan curah
hujan di atas 500 mm/tahun. Curah hujan yang sesuai untuk tanaman ubi kayu antara 1.500 –
2.500 mm/tahun. Kelembaban udara optimal untuk tanaman ubi kayu antara 60-65%, dengan
o o
suhu udara minimal bagi tumbuhnya sekitar 10 C. Jika suhunya dibawah 10 C, pertumbuhan
tanaman akan sedikit terhambat. Selain itu, tanaman menjadi kerdil karena pertumbuhan bunga
yang kurang sempurna.

Tanaman ubi kayu dapat tumbuh pada ketinggian 2.000 m diatas permukaan laut (dpl).
Pada daerah dengan ketinggian tempat sampai 300 m dpl tanaman ini dapat menghasilkan umbi
dengan kualitas yang baik, tapi tidak dapat berbunga. Ketinggian tempat yang baik dan ideal
untuk tanaman ubi kayu antara 10-700 m dpl. Apabila tanaman ini ditanam pada ketinggian
tempat 800 m dpl, maka tanaman ini akan menghasilkan bunga dan biji.

Tanah yang paling sesuai untuk ubi kayu adalah tanah yang berstruktur remah, gembur,
tidak terlalu liat dan tidak terlalu poros, serta kaya bahan organik. Tanah dengan struktur remah
mempunyai tata udara yang baik, unsur hara lebih mudah tersedia, dan mudah diolah. Jenis tanah
yang sesuai untuk tanaman ubi kayu adalah jenis aluvial, latosol, podsolik merah kuning,
mediteran, grumosol, dan andosol. Derajat kemasaman (pH) tanah yang sesuai untuk budidaya
ubi kayu berkisar antara 4,5–8,0 dengan pH ideal 5,8. Pada tanah ber-pH rendah (asam), yaitu
berkisar 4,0–5,5 tanaman ubi kayu ini pun dapat tumbuh dan cukup subur bagi pertumbuhannya.

B. Teknologi Budidaya Ubi Kayu


1. Pembibitan
a. Persyaratan bibit

Bibit yang baik untuk bertanam ketela pohon harus memenuhi syarat sebagai berikut:

a) Ketela pohon berasal dari tanaman induk yang cukup tua (10-12 bulan).
b) Ketela pohon harus dengan pertumbuhannya yang normal dan sehat serta seragam.

c) Batangnya telah berkayu dan berdiameter + 2,5 cm lurus.

d) Belum tumbuh tunas-tunas baru.

b. Penyiapan bibit

Penyiapan bibit ketela pohon meliputi hal-hal sebagai berikut:

a) Bibit berupa stek batang.

b) Sebagai stek pilih batang bagian bawah sampai tengah.

c) Setelah stek terpilih kemudian diikat, masing-masing ikatan berjumlah antara

25–30 batang stek.

d) Semua ikatan stek yang dibutuhkan, kemudian diangkut ke lokasi penanaman.

2. Pengolahan tanah

Pada saat akan dilakukan penanaman, tanah harus disiapkan. Tanah yang baik untuk
budi daya ubi kayu adalah yang memiliki struktur remah atau gembur, sejak fase awal
pertumbuhan tanaman hingga panen. Pengolahan tanah ini berfungsi dalam menekan
pertumbuhan gulma. Selain itu bertujuan untuk menerapkan sistem konservasi tanah untuk
memperkecil peluang terjadinya erosi.

Pada prinsipnya pengolahan tanah untuk budidaya ubi kayu menggunakan


pengolahan minimum tillage. Pengolahan tersebut dilakukan dengan mencangkul bagian
tanah yang akan ditanami ubi kayu. Peralatan yang digunakan dalam proses pengolahan
minimum tillage yaitu cangkul.

3. Penanaman
a. Penentuan pola tanam

Pola tanaman harus memperhatikan musim dan curah hujan. Pada lahan tegalan/kering,
waktu tanam yang paling baik adalah awal musim hujan atau setelah penanaman padi. Jarak
tanam yang umum digunakan pada pola monokultur ada beberapa alternatif, yaitu 100 x 100
cm, 100 x 60 cm atau 100 x 40 cm. Bila pola tanam dengan sistem tumpang sari bisa dengan
jarak tanam 150 x 100 cm atau 300 x 150 cm.

b. Cara penanaman

Cara penanaman dilakukan dengan meruncingkan ujung bawah stek ketela pohon
kemudian tanamkan sedalam 5-10 cm atau kurang lebih sepertiga bagian stek tertimbun
tanah. Bila tanahnya keras/berat dan berair/lembab, stek ditanam dangkal saja. Untuk
kedalaman tanam disarankan 15 cm, agar kelembaban cukup dan kesegaran stek terjaga baik.
Disarankan menanam dalam keadaan tanah gembur dan lembab sehingga terjamin kelancaran

sirkulasi O2 dan CO2 serta meningkatkan aktivitas mikrobia tanah yang akhirnya akan
meningkatkan hasil panen.

4. Pemeliharaan
a. Penyulaman

Untuk bibit yang mati/abnormal segera dilakukan penyulaman, yakni dengan cara
mencabut dan diganti dengan bibit yang baru/cadangan. Bibit sulaman yang baik seharusnya
juga merupakan tanaman yang sehat dan tepat waktu untuk ditanam. Penyulaman dilakukan
pada pagi hari atau sore hari, saat cuaca tidak terlalu panas. Waktu penyulaman adalah
minggu pertama dan minggu kedua setelah penanaman. Saat penyulaman yang melewati
minggu ketiga setelah penanaman mengakibatkan perbedaan pertumbuhan.

b. Penyiangan

Penyiangan bertujuan untuk membuang semua jenis rumput/ tanaman liar/pengganggu


(gulma) yang hidup di sekitar tanaman. Dalam satu musim penanaman minimal dilakukan 2
(dua) kali penyiangan.

c. Pembumbunan

Cara pembubunan dilakukan dengan menggemburkan tanah di sekitar tanaman dan


setelah itu dibuat seperti guludan. Waktu pembubunan dapat bersamaan dengan waktu
penyiangan, hal ini dapat menghemat biaya. Pembumbunan berfungsi untuk memperbaiki
aerasi tanah sehingga terjadi srikulasi udara yang baik bagi ubi kayu.

d. Perempelan atau pemangkasan

Pada tanaman ubi kayu perlu dilakukan pemangkasan/pembuangan tunas karena minimal
setiap pohon harus mempunyai cabang 2 atau 3 cabang. Hal ini agar batang pohon tersebut
bisa digunakan sebagai bibit lagi di musim tanam mendatang.

e. Pemupukan

Pemupukan dilakukan dengan sistem pemupukan berimbang antara N, P, K dengan dosis


Urea=133–200 kg; TSP=60–100 kg dan KCl=120–200 kg. Pupuk tersebut diberikan pada
saat tanam dengan dosis N:P:K= 1/3 : 1 : 1/3 (pemupukan dasar) dan pada saat tanaman
berumur 2-3 bulan yaitu sisanya dengan dosis N:P:K= 2/3 : 0 : 2/3. Pemupukan dasar dapat
juga dilakukan dengan menggunakan pupuk kandang.

f. Penyiraman atau pengairan

Ubi kayu merupakan tanaman yang dalam pertumbuhannya tidak memerlukan banyak
air, sehingga penyiraman tidak dilakukan secara intensif. Kondisi lahan ubi kayu dari awal
tanam sampai umur 4 – 5 bulan hendaknya selalu dalam keadaan lembab. Pada tanah yang
kering perlu dilakukan penyiraman dari sumber air yang terdekat. Penyiraman dilakukan
pada saat musim kering dengan cara menyiram langsung akan tetapi cara ini dapat merusak
tanah. Sistem yang baik digunakan adalah sistem genangan sehingga air dapat sampai ke
daerah perakaran secara resapan. Pengairan dengan sistem genangan dapat dilakukan dua
minggu sekali dan untuk seterusnya diberikan berdasarkan kebutuhan.

g. Pengendalian OPT

Jenis dan dosis pestisida disesuaikan dengan jenis hama ataupun penyakit yang
menyerang tanaman ubi kayu. Penyemprotan pestisida paling baik dilakukan pada pagi hari
setelah embun hilang atau pada sore hari. Selain itu, penyemprotan juga memperhatikan arah
angin yaitu harus berlawanan dengan arah angin.
Hama utama ubi kayu adalah tungau merah (Tetranychus urticae). Hama ini menyerang
hanya pada musim kemarau dan menyebabkan rontoknya daun. Penyakit utama tanaman ubi
kayu adalah bakteri layu (Xanthomonas campestris pv. manihotis) dan hawar daun (Cassava
bacterial Blight/CBB). Untuk menanggulangi hama tersebut dapat dilakukan dengan
penyemprotan dengan pestisida sintetis, akan tetapi lebih baik menggunakan pestisida
organik karena tidak meninggalkan residu dan tidak membahayakan organisme lain.
Sedangkan untuk menanggulangi penyakit dapat dilakukan dengan pemilihan varietas yang
tahan terhadap penyakit tersebut, seperti varietas Adira-4, Malang-6, UJ-3, dan UJ-5.

5. Panen

Kriteria ubi kayu yang optimal adalah pada saaat kadar pati optimal. Yakni ketika
tanaman itu berumur 6-9 bulan apabila untuk konsumsi. Untuk pembuatan produk seperti
tepung sebaiknya ubi kayu dipanen pada umur lebih dari 10 bulan, dan itu juga tergantung
akan varietas yang ditanam. Ciri saat panen adalah warna daun menguning dan banya yang
rontok.

Cara pemanenan dilakukan dengan membuat atau memangkas batang ubi kayu terlebih
dahulu dengan tetap meninggalkan batang sekitar 15 cm untuk mempermudah pencabutan.
Batang dicabut dengan tangan atau alat pengungkit dari batang kayu atau linggis. Hindari
pemakaian cangkul, karena permukaannya yang lebar yang tanpa disadari dapat memotong
ubi.

Umbi yang baik setelah panen hanya berumu 1-3 hari tergantung penyimpanan. Setelah
itu umbi sudah melakukan banyak perombakan kalori. Bahkan, kadang umbi berwarna
kebiruan apabila kandungan HCNnya tinggi. Dan munculnya warna ini sangat
mempengaruhi kualitas tepung

6. Pasca Panen

Secara umum pengolahan pasca panen ubikayu digunakan untuk membuat tepung
tapioka, tepung kasava, kue, mie, dan lain-lain. Selain itul, ubi kayu dapat digunakan sebagai
bahan baku untuk pembuatan bioethanol.
C. Prospek Agribisnis Ubi Kayu

Ubi kayu merupakan tanaman serbaguna dan memiliki prospek yang baik dalam bidang industri. Batang,
daun dan umbinya dapat dimanfaatkan untuk berbagai industri. Batang ubi kayu dapat dimanfaatkan untuk
bibit, papan partikel, kerajinan, briket dan arang (Soekartawi, 2000). Daunnya untuk makanan, farmasi dan
industri pakan ternak (Soekartawi, 2000). Biji ubi kayu berpotensi sebagai penghasil minyak (Popoola dan
Yangomodou, 2006). Kulit umbinya dapat digunakan sebagai pakan ternak, dan daging umbinya dapat diolah
menjadi berbagai produk seperti makanan, tapioka, gaplek, tepung ubi kayu, dekstrin, perekat, bioetanol, dan
lain-lain. Pemanfaatan ubi kayu secara lengkap dapat dilihat pada gambar berikut.
BIBIT

PAPAN

BATANG KERAJINAN

BRIKET

ARANG

MAKANAN

DAUN FARMASI

UBI PAKAN

BIJI MINYAK

PAKAN
KULIT GLUKOSA

TAPIOKA FRUKTOSA

ALKOHOL
DEKSTRIN
TAPIOKA ASAM
MALTOSA
UMBI
PEREKAT SORBITOL

SENYAWA
KIMIA LAIN
BAHAN
MAKANAN
GAPLEK

PELLET PAKAN
DAGING

TEPUNG UBI BAHAN


KAYU MAKANAN

PAKAN

ONGGOK

ASAM/Ca

MAKANAN
RINGAN
D. Analisis Usaha Tani Ubi Kayu

Perkiraan analisis budidaya singkong seluas 1 hektar pola monokultur dalam satu
musim tanam (8 bulan), dengan jarak tanam 100 x 100 cm (populasi + 10.000 tanaman) adalah:

1. Biaya produksi
a. Sewa lahan per musim (lahan kering) Rp. 4.000.000,-
b. Bibit 11.000 stek @ Rp 500,- Rp. 550.000,-
2. Pupuk

a. Urea: 200 kg @ Rp 2500,- Rp. 500.000,-


b. TSP: 100 kg @ Rp 3000 ,- Rp. 300.000,-
c. KCl: 200 kg @ Rp 3000,- Rp. 600.000,-
d. Rodentisida 3 pack @ Rp 30.000,- Rp. 90.000,-
e. Pestisida 2 liter @ 60.000.- (hama Tungau dan Aphis) Rp. 120.000-
3. Peralatan (Sabit, Cangkul, Keranjang, Sewa Traktor) Rp. 500.000,-

4. Tenaga kerja
a. Pengolahan lahan 70 HKP @ Rp. 30.000,- Rp. 2.100.000,
b. Penanaman 10 HKP @ Rp. 30.000,- + 20 HKW @ Rp. 25.000,- Rp. 800.000,-
c. Pemupukan 10 HKP @ Rp. 30.000,- + 15 HKW @ Rp. 25.000,- Rp. 675.000,-
d. Penyiangan dan pembubunan
20 HKP @ Rp. 30.000,- + 20 HKW @ Rp. 25.000,- Rp. 1.100.000,-
5. Panen dan pascapanen Rp. 2.000.000,-
6. Transportasi Rp. 2.000.000,-
Jumlah biaya produksi Rp. 15.335.000,-
Pendapatan 30.000 kg @ Rp 1.500,- Rp.45.000.000,-
Pendapatan lain – lain
a. Batang untuk bibit @ Rp. 1.000 Rp. 4.000.000,-
b. Daun singkong segar* 2000 kg @ Rp 2.000,- Rp. 4.000.000,-
Total Pendapatan Rp. 53.000.000,-
Keuntungan Rp. 37.665.000,-
Keterangan (*) = daun singkong hanya dipanen satu kali saat pencabutan singkong
E. Analisis Kelayakan Usaha
1. Return of investment (ROI)
Return of investment merupakan ukuran perbandingan antara keuntungan dengan total
biaya produksi. Cara ini digunakan untuk mengetahui tingkat efisiensi penggunaan modal
atau mengukur keuntungan usaha tani dalam kaitannya dengan jumlah modal yang di
investasikan perhitungan (ROI) dilakukan dengan rumus sebagi berikut.
ROI = Total pendapatan / Total biaya produksi
= 53.000.000 / 15.335.000
ROI = 3,46
Nilai ROI untuk usaha tani singkong sebesar 3,46. Hal ini berarti bahwa setiap modal
Rp.1,- yang dikeluarkan untuk usaha tani singkong akan menghasilkan keuntungan
sebesar Rp. 3,46,-. Dengan demikian usaha tani singkong tersebut dinilai efisisen dalam
penggunaan modal.
2. Benefit cost ratio (B/C rasio)
Benefit cost ratio (B/C rasio) merupakan suatu ukuran perbandingan antara keuntungan
bersih dengan total biaya produksi sehingga dapat diketahui kelayakan uaha taninya. Bila
nilai B/C rasio lebih besar dari 1 , bearti usaha tani tersebut layak untuk dilaksanakan dan
sebaliknya.
Perhitungan B/Crasio usaha tani singkong dilakukan dengan rumus sebagi
berikut: B/C rasio = Keuntungan / Total biaya produksi
= 37.665.000 / 15.335.000
B/C rasio = 2,46
Artinya setiap satuan biaya yang dikeluarkan akan diperoleh hasil penjualan sebesar 2,46
kali lipat. Hasil ini menujukkan bahwa usaha tani singkong layak untuk dikembangkan.

III. PENUTUP

Ubi kayu merupakan salah satu komoditi pangan yang tekniki budidayanya tergolong
mudah karena tidak diperlukan perawatan secara intensif. Selain itu, prospek budidaya ubi kayu
termasuk dalam kategori yang menguntungkan, sehingga perlu dikembangkan untuk
meningkatkan pendapatan petani dan devisa negara karena berpotensi sebagai komoditi ekspor.
Daftar Pustaka

Arjun. 2013. Pascapanen ubi kayu. http://gudangfarm.blogspot.com/2013/05/pasca-panen-ubi-


kayu.html. Diakses tanggal 4 desember 2013.

Anonim. 2013. Tahapan budidaya ubi kayu. http://indocassava.wordpress.com/tahapan-


budidaya-ubi-kayu/. Diaksestanggal 4desember 2013.

Nasa. 2013. Cara budidaya tanaman ubi kayu (singkong).


http://nasa88.wordpress.com/2013/08/17/cara-budidaya-tanaman-ubi-kayu-singkong/.
Diakses tanggal 3 desember 2013.

Kementrian pertanian.2013. analisis usaha taniubi kayu.


http://cybex.deptan.go.id/penyuluhan/analisis-usahatani-ubi-kayu. Diakses tanggal 4
desember 2013.