You are on page 1of 16

Judul

Pendahuluan

Puasa merupakan amalan-amalan ibadah yang tidak hanya oleh umat


sekarang tetapi juga dijalankan pada masa umat-umat terdahulu bagi orang yang
beriman ibadah puasa merupakan salah satu sarana penting untuk mencapai takwa,
dan salah satu sebab untuk mendapatkan ampunan dosa-dosa, pelipatgandaan
pahala kebaikan,dan pengangkatan derajat. Allah telah menjadikan ibadah puasa
khusus untuk diri-Nya diantara amal-amal ibadah lainnya. Puasa difungsikan
sebagai benteng yang kukuh yang dapat menjaga manusia dari bujuk rayu setan.
Dengan puasa syahwat yang bersemayam dalam diri manusia akan terkekang
sehingga manusia tidak lagi menjadi budak nafsu tetapi manusia akan menjadi
majikannya.

Puasa adalah sebuah ibadah yang ghoiru ma’qulatil ma’na yang terikat
waktu, rukun, serta syarat-syaratnya. Perintah puasa secara akal tidak bisa diterima,
maksud apa yang dikehendaki Tuhan dengan mewajibkan puasa kepada hambaNya.
Tentunya mengesampingkan fadlilah-fadlilahnya yang ditemukan dikemudian hari
oleh para pakar ilmu pengetahuan baik kesehatan maupun psikologi. Puasa juga
sebuah ibadah yang terikat waktu, mulai dari kapan awal dan akhir bulan puasa
ditentukan, kapan mulai menahan tidak makan dan minum serta kapan mulai berbuka.
Maka, apapun yang terjadi dan bagaimanapun keadaannya, petunjuk umumnya adalah
syarat serta rukun berpuasa harus dipenuhi.

Pada tahun 2017, berdasarkan data dari laporan terbaru dari Badan Kependudukan
PBB, ada sekitar 7,5 miliar manusia di bumi.1 Menurut data yang ditampilkan dalam Pew
Research Center, menunjukkan bahwa jumlah umat islam di dunia mencapai 1,6 miliar.2
Mereka itu tersebar di semua belahan bumi, di dataran Eropa terdapat 43.470.000 jiwa, di
Amerika Utara 3.480.000 jiwa. Mereka di negara masing-masing semestinya tetap
menjalankan syariat agama Islam, diantaranya puasa, shalat zakat, haji dan lainnya.
Negara-negara Eropa atau Amerika utara yang terdapat dalam lintang 40◦ akan mengalami
perbedaan panjang waktu siang dan malam disetiap perjalanan sepanjang tahunnya.

1
https://www.unfpa.org/data/world-population-dashboard
2
http://www.pewresearch.org/fact-tank/2017/01/31/worlds-muslim-population-more-widespread-than-you-might-
think/
Adakalanya siang yang panjang dengan malam yang sangat pendek, ataupun sebaliknya.
Bahkan pada bulan-bulan tertentu akan terjadi siang secara terus menerus atau malam
secara terus menerus.

Berangkat dari itu, timbul beberapa persoalan yang sering menjadi perdebatan dan
dipertanyakan oleh banyak orang Islam yaitu berhubungan dengan pelaksanaan ibadat salat
dan puasa di daerah yang letaknya jauh dari khatulistiwa atau tempat turunnya syariat.
Untuk orang yang tinggal di sekitar khatulistiwa pelaksanaan ibadat salat dan puasa tidak
terjadi masalah, karena di daerah sekitar khatulistiwa pergantian waktu siang dan malam
hampir sama panjangnya, masing-masing sekitar 12 jam. Lain halnya dengan daerah sekitar
kutub, Persoalan tersebut menjadi masalah karena tidak ada satu pun keterangan al-Quran
dan hadis nabi yang menjelaskan tata cara salat dan berpuasa di daerah sekitar kutub.3

WAKTU PUASA

Puasa adalah terjemahan dari Ash-Shiyam. Menurut istilah bahasa berarti menahan
diri dari sesuatu dalam pengertian tidak terbatas. Arti ini sesuai dengan firman Allah dalam
surat Maryam ayat 26:

.‫ص ْو ًما‬
َ ‫من‬ َّ ‫ِإنِي نَذَ ْرتُ ِل‬
ِ ‫لر ْح‬

“sesungguhnya aku bernazar shaum ( bernazar menahan diri dan berbiacara ).”

“Saumu” (puasa), menurut bahasa Arab adalah “menahan dari segala sesuatu”,
seperti makan, minum, nafsu, menahan berbicara yang tidak bermanfaat dan sebagainya.4

Menurut istilah agama Islam yaitu “menahan diri dari sesuatu yang
membatalkannya, satu hari lamanya, mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari
dengan niat dan beberapa syarat.”5

Al-Qur’an menjelaskan melalui FirmanNya Surat Al-Baqarah ayat 178 :

3
Mahmud Syaltout, Fatwa-Fatwa, Jilid I, Terj. Fatawa, Jakarta : Bulan Bintang, 1972, hlm. 165
4
H.M Djamil Latif, S.H, Puasa dan Ibadah Bulan Puasa, ( Cet. IV/4; Jl. Pramuka Raya 4 Jakarta 13140: Ghalia
Indonesia, 1421 H/2001 M), h. 22.
5
H. Sulaiman Rasjid, Fiqh Islam, ( Cet. LV/55; Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2012), h. 220.
‫ُض ِمنَ ْال َخي ِْط ْاْلَْس َْو ِِد ِمنَ ْالَفَ ْج ِر‬ ُ ‫َو ُكلُوا َوا ْش َربُوا َحت َّ ٰى َيت َ َبيَّنَ لَ ُك ُم ْال َخ ْي‬
ُ ‫ط ْاْل َ ْب َي‬
“Dan makan minumlah sehingga terang kepadamu benang putih dari benang hitam
yaitu fajar” (Al-Baqarah : 187)6

Inilah rahmat yang dicurahkan oleh Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang kepada hamba-hamba-Nya yang berkata : “Kami mendengar dan kami taat
wahai Rabb kami, ampunilah dosa kami dan kepada-Mu lah kami kembali” (yakni) dengan
memberikan batasan waktu puasa : dimulainya puasa dan waktu berakhirnya. (Puasa)
dimulai dari terbitnya fajar hingga hilangnya siang dengan datangnya malam, dengan kata
lain hilangnya bundaran matahari di ufuk.

Ketika turun ayat tersebut sebagian sahabat Nabi Shalallalahu ‘alaihi wa sallam
sengaja mengambil iqal7 hitam dan putih kemudian mereka letakkan di bawah bantal-
bantal mereka, atau merka ikatkan di kaki mereka. Dan mereka terus makan dan minum
hingga jelas dalam melihat kedua iqal tersebut (yakni dapat membedakan antara yan putih
dari yang hitam). Dari Adi bin Hatim Radhiyallahu’anhu berkata : Ketika turun ayat.
“Sehingga terang kepadamu benang putih dari benang hitam yaitu fajar” (Al-Baqarah :
187). Aku mengambil iqal hitam digabungkan dengan iqal putih, aku letakkan di bawah
bantalku, kalau malam aku terus melihatnya hingga jelas bagiku, pagi harinya aku pergi
menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kuceritakan padanya perbuatanku
tersebut. Baliaupun bersabda. “Maksud ayat tersebut adalah hitamnya malam dan
putihnya siang”8.

Dari Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Ketika turun ayat. “Makan
dan minumlah hingga jelas bagi kalian benang putih dari benang hitam”. Ada seorang
pria jika ingin puasa, ia mengikatkan benang hitam dan putih di kakinya, dia terus makan
dan minum hingga jelas dalam melihat kedua benang tersebut. Kemudian Allah

6
Al-Qur’an Terjemahan Departemen Agama
7
Iqal yaitu tali yang dipakai untuk mengikat unta, Mashabih 2/422
8
Hadits Riwayat Bukhari 4/113 dan Muslim 1090, dhahir ayat ini bahwa Adi dulunya hadir ketika turun ayat ini,
berarti telah Islam, tetapi tidak demikian, karena diwajibkannya puasa tahun kedua dari hijrah, Adi masuk Islam tahun
sembilan atau kesepuluh, adapun tafsir Adi ketika turun : yakni ketika aku masuk Islam dan dibacakan surat ini kepadaku,
inilah yang rajih sebagaimana riwayat Ahmad 4/377 : “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari shalat dan puasa,
beliau berkata : “Shalatlah begini dan begini dan puasalah, jika terbenam matahri makan dan minumlah hingga jelas bagimu
benang putih dan benang hitam, puasalah tiga puluh hari, kecuali kalau engkau melihat hilal sebelum itu, aku mengambil dua
benang dari rambut hitam dan putih….hadits”.
menurunkan ayat : “(Karena) terbitnya fajar” , mereka akhirnya tahu yang dimaksud adalah
hitam (gelapnya) malam dan terang (putihnya) siang.9

Setelah penjelasan ini sungguh telah diterangkan oleh Rasulullah Shallallahu


‘alaihi wa sallam kepada sahabatnya batasan (untuk membedakan) serta sifat-sifat tertentu,
hingga tidak ada lagi ruang untuk ragu atau tidak mengetahuinya. Diantara hukum yang
dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan penjelasan yang rinci,
bahwasanya fajar itu ada dua.

a. Fajar Kadzib : Tidak dibolehkan ketika itu shalat shubuh dan belum
diharamkan bagi yang berpuasa untuk makan dan minum.
b. Fajar Shadiq : Yang mengharamkan makan bagi yang puasa, dan sudah boleh
melaksanakan shalat shubuh.

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam


bersabda.

‫ َوأ َ َّما‬،ُ‫َّصَالَة‬
َّ ‫ َوَالَ ي َُِحُّل ال‬،‫اُم‬ ِ ‫ا َ ْلَفَ ْج ُر فَ ْج َر‬
َّ ‫ فََأ َ َّما ْاْل َ َّو ُُل فَِإِنَُّهُ َالَيُ ََح ِر ُُم‬: ‫ان‬
َ ‫الَّط ََع‬
ُ ‫َّصَالَة‬
َّ ‫ وي َُِحُّل ال‬،‫اُم‬ َّ ‫ فَِإِنَُّهُ يُ ََح ِر ُُم‬،‫الثَّانِي‬
َ َ‫الَّطَع‬
“Fajar itu ada dua : Yang pertama tidak mengharamkan makan (bagi yang
puasa), tidak halal shalat ketika itu, yang kedua mengharamkan makan dan telah
dibolehkan shalat ketika terbit fajar tersebut”. 10

Dilihat dari kenampakan fajar maka bisa kita bedakan :

a. Fajar Kadzib adalah warna putih yang memancar panjang yang menjulang
seperti ekor binatang gembalaan.
b. Fajar Shadiq adalah warna yang memerah yang bersinar dan tampak di atas
puncak bukit dan gunung-gunung, dan tersebar di jalanan dan di jalan raya
serta di atap-atap rumah. Fajar inilah yang berkaitan dengan hukum-hukum
puasa dan shalat.

Dari Samurah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam


bersabda.

9
Bukhari 4/114 dan Muslim 1091
10
Hadits Riwayat Ibnu Khuzaimah 3/210, Al-Hakim 1/191
ُ ‫ان ِبَالَ ٍُل َوَالَ َهذَا ْال َب َي‬
‫اض ِل ََع ُم ْو ِِد الَّصبْحِ َحتَّى َيست َ َِّطي َْر‬ ُ َ‫َالَيُغ ََّر نَّ ُك ْم أَذ‬
“Janganlah kalian tertipu oleh adzannya Bilal dan jangan pula tertipu oleh
warna putih yang memancar ke atas sampai melintang”.11

Dari Thalq bin Ali, (bahwasanya) Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

‫ض لَ ُك ْم‬ َ ‫اط ُع ْال ُم‬


ُ ‫ َو ُكلُ ْوا َوا ْش َربُوا َحتَّى َي َْعت َ ِر‬،ُ ‫َّصَعَّد‬ ِ ‫س‬َّ ‫ُكلُ ْوا َوا ْش َرب ُْوا َوَالَ َيغُ َّر َن ُك ُم ال‬
‫ْاْل َ ْح َم ُر‬
“Makan dan minumlah, jangan kalian tertipu oleh fajar yang memancar ke atas.
Makan dan minumlah sampai warna merah membentang”. 12

Dari hadits diatas cahaya fajar jika membentang di ufuk atas lembah dan gunung-
ghunung akan tampak seperti benang putih, dan akan tampak di atasnya benang hitam yakni
sisa-sisa kegelapan malam yang pergi menghilang.

Sedangkan hadis yang berkaitan dengan waktu berbuka, dari Umar Radhiyallahu
‘anhu, ia berkata Rasullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

َ ‫ُس فََقَ ْد أ َ ْف‬


‫َّط َر‬ َّ ‫ِت ال‬
ُ ‫َّش ْم‬ ُ ‫ َوأ َ ِْد َب َر النَّ َه‬،‫ِإذَا أ َ ْق َب َُّل اللَّ ْي ُُّل ِم ْن هَا ُهنَا‬
ِ ‫ َوَغ ََر َب‬،‫ار ِم ْن هَا ُهنَا‬
‫َّصائِ ُم‬ َّ ‫ال‬
“Jika malam datang dari sini, siang menghilang dari sini dan terbenam matahari, telah
berbukalah orang yang puasa”.13

Hal ini terwujud setelah terbenamnya matahari, walaupun sinarnya masih ada.
Termasuk petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika beliau puasa menyuruh
seseorang untuk naik ke satu ketinggian, jika orang itu berkata : “Matahari telah
terbenam”, Beliaupun berbuka.14 Sebagian orang menyangka malam itu tidak terwujud
langsung setelah terbenamnya matahari, tapi masuknya malam setelah kegelapan menyebar
di timur dan di barat. Sangkaan seperti ini pernah terjadi pada sahabat Rasulullah

11
Hadits Riwayat Muslim 1094
12
Hadits Riwayat Tirmidzi 3/76
13
Hadits Riwayat Bukhari 4/171, Muslim 1100. Perkataannya : “Telah berbuka orang yang puasa” yakni dari sisi
hukum bukan kenyataan karena telah masuk puasa.
14
Hadits Riwayat Al-Hakim 1/434, Ibnu Khuzaimah 2061, di SHAHIH kan oleh Al-Hakim menurut syarat
Bukhari-Muslim. Perkataan Aufa : Yakni naik atau melihat.
Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian mereka diberi pemahaman bahwa cukup dengan
adanya awal gelap dari timur setelah hilangnya bundaran matahari.15

Dari Abdullah bin Abi Aufa Radhiyallahu ‘anhu : “Kami pernah bersama
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam suatu safar (perjalanan), ketika itu kami
sedang berpuasa (di bulan Ramadhan). Ketika terbenam matahari, Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda kepada sebagian kaum : “Wahai Fulan (dalam riwayat Abu
Daud : Wahai Bilal) berdirilah, ambilkan kami air”. Orang itu berkata, “Wahai Rasulullah,
kalau engkau tunggu hingga sore”, dalam riwayat lain : matahari). Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Turun, ambilkan air”. Bilal pun turun, kemudian Nabi minum.
Beliau bersabda, “Kalau kalian melihatnya niscaya akan kalian lihat dari atas onta, yakni
matahari”. Kemudian beliau melemparkan (dalam riwayat lain : berisyarat dengan
tanganya) (Dalam riwayat Bukhari- Muslim : berisyarat degan telunjuknya ke arah kiblat)
kemudian berkata : “Jika kalian melihat malam telah datang dari sini maka telah berbuka
orang yang puasa.16

PERBEDAAN SIANG MALAM

Setiap hari kita mengalami perputaran siang dan malam dan seringkali kita hanya
menjalani aktivitas kita tanpa pernah ingin tahu bagaimana prosesnya. Perputaran waktu
bagi manusia adalah bagian dari perjalanan hidup manusia di Bumi.Tapi bagaimana siang
dan malam bisa terjadi, sederhananya mungkin kita akan menjawab, siang terjadi kala
Matahari terbit dan malam menjelang ketika sang surya masuk ke peraduannya. Tapi apa
yang menyebabkan demikian? Rotasi Bumi!

15
Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid, “Sifatu Shaum Nabi fi Ramadhan”, PDF e-
book.
16
Hadits Riwayat Bukhari 4/199, Muslim 1101, Ahmad 4/381, Abu Daud 2352. Tambahan pertama dalam riwayat
Muslim 1101. Tambahan kedua dalam riwayat Abdur Razaq 4/226. Perkataan beliau : “Ambilkan segelas air” yakni :
siapkan untuk kami minuman dan makanan. Ashal Jadh : (mengaduk) menggerakkan tepung atau susu dengan air dengan
menggunakan tongkat (kayu).
Gb.1 Rotasi Bumi

Perputaran Bumi pada porosnyalah yang menyebabkan terjadinya siang dan


malam. Bagaimana bisa? Bumi kita adalah salah satu planet yang mengitari Matahari dan
ia juga mengitari dirinya sendiri. Bumi membutuhkan waktu 24 jam untuk menyelesaikan
perputaran pada porosnya, dan inilah yang dikenal sebagai 1 hari bagi manusia. Selama 24
jam waktu Bumi berputar mengitari porosnya, ada kalanya sebagian wajah Bumi
berhadapan dengan Matahari dan inilah area yang mengalami siang. Dan kemudian seiring
dengan perputaran Bumi, wajah yang tadinya berhadapan dengan Matahari kemudian
berputar dan membelakangi Matahari sehingga sisi wajah Bumi yang tidak disinari
Matahari ini mengalami malam hari.

Bagi sebagian orang, mungkin akan berpikir mataharilah yang tampak bergerak di
langit sehingga terbit di timur dan tenggelam di barat. Pada kenyataannya ini disebabkan
oleh perputaran Bumi. Matahari tampak terbit di Timur karena Bumi bergerak ke arah
timur dan menuju ke barat ketika Matahari tampak terbenam. Kalau dilihat dari Kutub
Utara, maka perputaran Bumi ini tampak berlawanan arah jarum jam dan kita akan melihat
kalau siang dan malam menyapu bola Bumi dari Timur ke Barat.

Bagi kita yang hidup di ekuator Bumi, panjang siang dan malam bisa dikatakan
hampir sama yakni rata-rata 12 jam. Dan berbagai lokasi di bumi juga “mengalami” rata –
rata disinari Matahari 12 jam per harinya. Tapi, panjang siang hari yang dialami di lokasi-
lokasi tertentu pada waktu tertentu di sepanjang tahun sebenarnya berbeda. Ada kalanya
suatu lokasi di utara / selatan mengalami siang / malam yang panjang.
Gb.2 Kemiringan poros Bumi 23,5º

Kita tahu bahwa Bumi berputar pada porosnya dan perputaran itu menyebabkan
terjadinya siang dan malam. Tapi, poros atau sumbu Bumi ini ternyata memiliki kemiringan
23,5º. Sudut kemiringan tersebut dihitung dari perpotongan bidang ekuatorial Bumi dan
bidang orbit Bumi terhadap Matahari. Kemiringan poros Bumi ini juga memberi pengaruh
pada musim di Bumi dan menyebabkan terjadinya perubahan musim (panas, dingin, gugur
dan semi).

Ketika Bumi bergerak mengelilingi Matahari, porosnya ini akan mengarah ke titik
yang sama di angkasa. Di bola langit, titik itu berada dekat dengan Polaris si Bintang Utara.
Artinya akan ada saat dimana salah satu belahan Bumi yang 23,5º lebih dekat ke Matahari
atau lebih jauh dari Matahari selama Bumi mengitari sang Surya selama 365,25 hari atau 1
tahun.
Gb. 4 Perubahan musim dan lamanya siang dan malam.

Ada saatnya ketika kutub utara Bumi kemiringannya lebih dekat ke Matahari dan
pada saat ini bumi belahan utara lebih banyak mendapat sinar Matahari. Tanggal 20 atau
21 Juni merupakan titik balik musim panas atau summer solstice yang menandai awal
musim panas di Belahan Bumi Utara sekaligus siang terpanjang di belahan utara atau titik
musim dingin bagi belahan selatan. Sementara di kutub selatan, kemiringan poros Bumi
menempatkannya menjauh dari Matahari sehingga di area ini mengalami musim dingin
dengan siang yang lebih pendek. (lihat gambar.4)

Pada bulan Desember, kemiringan kutub utara justru menjauh dari Matahari dan
kali ini giliran kutub selatan yang lebih dekat ke Matahari sehingga area belahan selatan
mengalami musim panas dan mengalami siang yang panjang. Sedangkan di Utara
mengalami sebaliknya yakni musim dingin dengan panjang siang yang pendek. Titik balik
musim dingin atau winter solstice bagi Bumi belahan utara biasanya terjadi tanggal 21 atau
22 Desember yang sekaligus juga menjadi titik balik musim panas bagi belahan selatan.

Dua kali dalam setahun, 21 Maret dan 23 September, saat Matahari di Ekuinoks
(perpotongan dua garis ekliptika dan ekuator langit), maka lamanya siang dan malam akan
sama yaitu masing-masing 12 jam. Ketika di ekuinoks, poros Bumi tidak mengarah ke
Matahari. Titik balik musim semi atau vernal equinox di Bulan Maret juga merupakan
penanda transisi dari malam selama 24 jam ke siang selama 24 jam di kutub Utara. Dan
titik balik musim gugur atau autumnal equinox di bulan September menjadi penanda kutub
utara akan memasuki malam yang panjang ketika Matahari tidak pernah terbit sedangkan
di kutub selatan akan mengalami masa sebaliknya yakni ketika Matahari tidak pernah
tenggelam.

WAKTU SHALAT DI KUTUB

Permasalahan waktu shalat di daerah beriklim ekstrem ini memang belum banyak
dikaji oleh ulama klasik, tetapi beberapa ulama kontemporer telah mengkaji dan membahas
permasalahan tersebut. Salah satu di antaranya adalah Saadoe’ddin Djambek yang disebut-
sebut sebagai tokoh pembaharu hisab di Indonesia. Konsep Saadoe’ddin Djambek tentang
waktu shalat di daerah kutub secara astronomis lebih jelasnya dapat dilihat dari tabel jadwal
waktu shalatnya yang memuat Lintang di seluruh dunia. Adapun yang ditinjau adalah
tanggal 1 Januari saat deklinasi Mataharinya 23° Selatan. Waktu itu adalah pertengahan
musim dingin di belahan Bumi Utara dan pertengahan musim panas di belahan Bumi
Selatan. Waktu yang digunakan ialah waktu Surya, di mana Matahari berkulminasi atas
tepat pukul 12.00 dan berkulminasi bawah tepat pukul. 24.00.17

Lintang-lintang yang perlu diperhatikan adalah daerah yang berlintang 87° LU


(hanya 3° dari kutub Utara) sampai yang berlintang 83° LS (7° dari kutub Selatan). Tempat-
tempat yang berlintang di antara 44° LU dan 44° LS tidak dimasukkan tabel ikhtisar waktu
shalat, karena yang dituju adalah perkembangan waktu-waktu shalat di daerah yang
letaknya lebih dari 45° baik LU maupun LS.27 Hal demikian dikarenakan bagian Bumi di
bawah Lintang 44° baik LU maupun LS waktu shalatnya masih teridentifikasi. Berikut data
waktu shalat sedunia tanggal 1 Januari :

17
Saadoe’ddin Djambek, Shalat dan Puasa di daerah Kutub, hlm.19
Waktu Shalat Sedunia Bagian Selatan
(Tanggal 1 Januari, Deklinasi matahari : 23° Selatan)18

Adapun Kondisi daerah musim panas (kutub Selatan) yaitu:19

1. Siang lebih panjang dari pada malam.


2. Lintang 66°, Matahari tidak terbit dan tidak terbenam, siang hari berlangsung
24 jam penuh.
3. Lintang 83°, tidak ada waktu Asar karena lingkaran edar Matahari hampir
benar-benar sejajar dengan lingkaran ufuk.
4. Yang bertahan sampai di kutub Selatan hanya waktu Zuhur, karena dekat
sekali dengan kutub, sebenarnya sulit menentukan posisi Matahari pada waktu
Zuhur. Karena Matahari terlihat berputar di sekeliling lingkarang ufuk.

18
Saadoe’ddin Djambek, Shalat dan Puasa di daerah Kutub, hlm. 15.
19
Saadoe’ddin Djambek, Shalat dan Puasa di daerah Kutub, hlm. 21.
Waktu Shalat Sedunia Bagian Utara
(Tanggal 1 Januari, Deklinasi matahari : 23° Selatan)20

Adapun Kondisi daerah musim panas (kutub Utara) yaitu:21

1. Malam lebih panjang dari pada siang, semakin ke Utara semakin pendek
siangnya dan malam semakin panjang.
2. Lintang 68°, Matahari tidak terbit dan tidak terbenam, tidak ada waktu Zuhur,
Asar dan Maghrib. Malam hari panjangnya 24 jam.
3. Pada lintang lebih dari 68°, awal fajar ada namun Matahari tidak pernah terbit
dan tidak pernah terbenam

IJTIHAD WAKTU PUASA DI KUTUB

Maka Ulama’ Fiqih berbeda pendapat mengenai pelaksanaan puasa di daerah kutub.
Berangkat dari sebuah hadis tentang datangnya Dajjal :
‫وى مسلم من حديث النواس بن ْسمَعان رضي هللا عنُه ْسؤاُل الَّصَحابة لرْسوُل هللا صلى هللا‬
‫ أربَعون‬: ‫ وما لبثُه في اْلرض ؟ قاُل‬: ‫ عن مدة مكث الدجاُل في اْلرض فَقالوا‬، ‫عليُه وْسلم‬
: ‫ يا رْسوُل هللا‬: ‫ قلنا‬. ‫ وْسائر أيامُه كَأيامكم‬، ‫ ويوُم كجمَعة‬، ‫ ويوُم كَّشهر‬، ‫ يوُم كسنة‬، ‫يوما‬
‫ " اقدروا لُه قدره‬، ‫ َال‬: ‫فذاك اليوُم الذي كسنة أتكَفينا فيُه صَالة يوُم ؟ قاُل‬

20
Saadoe’ddin Djambek, Shalat dan Puasa di daerah Kutub, hlm. 15.
21
Saadoe’ddin Djambek, Shalat dan Puasa di daerah Kutub, hlm. 20-23.
‫?‪Artinya : “Kami bertanya, wahai Rasulullah berapa hari dia (Dajjal) tinggal di Bumi‬‬
‫‪Rasulullah saw. menjawab, empat puluh hari. Satu hari seperti setahun, satu hari seperti‬‬
‫‪sebulan, satu hari seperti sepekan, dan hari-hari lainnya seperti hari-hari kalian. Kami‬‬
‫‪bertanya lagi, wahai Rasulullah tentang satu hari seperti setahun itu, apakah cukup bagi‬‬
‫)‪kami salat sehari? Beliau menjawab, tidak, tapi perkirakanlah kadarnya.” (HR. Muslim‬‬
‫رواه مسلم في كتاب الَفتن ‪ ،‬باب ذكر الدجاُل ( ‪ ) 65 \ 18‬بَّشرح النووي‬

‫يولي مركز الَفلك الدولي أهمية كبرى لَحساب مواقيِت الَّصَالة ْسواء في المناطق المَعتدلة‬
‫أو في مناطق خَّطوط الَعرض الَعليا‪ ،‬ونظرا لخَّصوصية المسَألة في المناطق التي تختَفي‬
‫فيها الَعَالمات أو فيها مَّشَقة في المواقيِت‪ ،‬فَقد قاُم المركز بتدارس الموضوع مع الَعديد من‬
‫الجاليات المسلمة في أوروبا إضافة لمناقَّشتُه مع الَفَقهاء الباحثين في هذا الَّشَأن‪ ،‬ومن‬
‫الجدير بالذكر بَأن الَعديد من التَقاويم المنتَّشرة بين الجالية المسلمة في أوروبا تَّشوبها‬
‫بَعُض اْلخَّطاء وبَعُض الَفرضيات َغير المَقبولة شرعا‪ ،‬فالَعديد من التَقاويم المنتَّشرة يَقوُم‬
‫باْستبداُل مواقيِت الَّصَالة بمواقيِت أخرى حتى عند وجوِد الَعَالمة بوقِت مناْسب َال مَّشَقة‬
‫فيُه‪ ،‬ومما زاِد الموضوع تَعَقيدا أن أصَحاب هذه التَقاويم لم يبينوا هذه الَحَقيَقية‬
‫للمستخدمين‪ ،‬مما خلق لدى مستخدمي هذه التَقاويم انَّطباعات وآراء مغلوطة‪ ،‬نظرا‬
‫َالعتَقاِدهم بَأن هذه المواقيِت هي مواقيِت حَقيَقية وليسِت تَقديرية‪ ،‬وأِدى هذا اْلمر إلثارة‬
‫بَعُض الجدُل والخَالف بين المَقيمين في أوروبا‪ .‬ومن هنا حرص المركز في حساباتُه‬
‫المبينة تاليا في هذه الَّصَفَحة على إظهار موعد الَّصَالة الَحَقيَقي طالما وجد‪ ،‬وعندما تَّصبح‬
‫هناك مَّشَقة في موعد الَّصَالة فيتم اقتراح وقِت بديُّل‪ ،‬مع إظهار الوقِت الَحَقيَقي للَّصَالة‬
‫بين قوْسين‪ ،‬مما يترك الَفسَحة لكُّل شخص لألخذ بالرخَّصة أو اَاللتزاُم بموعد الَّصَالة‬
‫الَحَقيَقي بَحسب ظروف كُّل شخص‪.‬‬

‫وفيما يلي بَعُض الزيارات واللَقاءات والمؤتمرات التي شارك فيها المركز وتم خَاللها‬
‫مناقَّشة موضوع مواقيِت الَّصَالة عند اختَفاء الَعَالمة أو مَّشَقتها‪:‬‬

‫ندوة مواقيِت الَّصَالة التي نظمتها لجنة مَّشتركة تضم الَعديد من الجمَعيات‬ ‫‪‬‬
‫والمؤْسسات اإلْسَالمية من مختلف مناطق السويد‪ ،‬وذلك خَالُل الَفترة ‪31–30‬‬
‫مارس ‪ُ2018‬م في مدينتي ْستوكهولم وماشتا‪.‬‬
‫ندوة نظمتها الهيئة الَعلمية للبَحوث في مدينة أوِدينسا في الدنمارك خَالُل الَفترة‬ ‫‪‬‬
‫‪ 25–24‬فبراير ‪ُ2018‬م وذلك لمناقَّشة موضوع حساب مواقيِت الَّصَالة في‬
‫الدنمارك عند اختَفاء الَعَالمة أو تَأخره‪.‬‬
‫لَقاء نظمتُه تنسيَقية المساجد ببرابانِت وزيَالند في مدينة تيلبورخ في هولندا خَالُل‬ ‫‪‬‬
‫الَفترة ‪ 12–11‬مايو ‪ُ2017‬م وذلك لمناقَّشة مواقيِت الَّصَالة في هولندا‪.‬‬
‫الندوة الَعلمية الثالثة لمناقَّشة مواقيِت الَّصَالة وتَحديد اْلهلة التي نظمتها الجمَعية‬ ‫‪‬‬
‫اإلْسَالمية اإليَّطالية لألئمة والمرشدين‪ ،‬وذلك خَالُل الَفترة ‪ 31-30‬مايو ‪ُ2015‬م‬
‫في مدينة بولونيا في إيَّطاليا‪.‬‬
‫الندوة اْلوروبية حوُل التَقويم اإلْسَالمي التي نظمها اتَحاِد المنظمات اإلْسَالمية في‬ ‫‪‬‬
‫فرنسا باَالشتراك والتَعاون مع المجلُس اْلوروبي لإلفتاء والبَحوث واتَحاِد‬
‫المنظمات اإلْسَالمية في أوروبا‪ ،‬وذلك في مدينة باريُس بَفرنسا يومي السبِت‬
‫واْلحد بتاريخ ‪ 4‬و ‪ 5‬فبراير ‪ُ2012‬م‪.‬‬
‫مؤتمر مواقيِت الَّصَالة الذي نظمتُه رابَّطة الَعالم اإلْسَالمي في مدينة بروكسُّل في‬ ‫‪‬‬
‫بلجيكا يومي ‪ 25‬و ‪ 26‬مايو ‪ ،2009‬والذي حضره الَعديد من ممثلي الجاليات‬
‫اإلْسَالمية في أوروبا‪.‬‬
‫اجتماعات لجنة حساب مواقيِت الَّصَالة في أوروبا التي شكلتها رابَّطة الَعالم‬ ‫‪‬‬
‫اإلْسَالمي‪ ،‬والتي عَقدت عدة اجتماعات في مدينة مكة المكرمة ومدينة الرياض‬
‫خَالُل اْلعواُم ‪ 2008‬و ‪ُ2009‬م‪.‬‬

‫أوال‪ :‬طريقة الحساب عند المشقة وعند اختفاء العالمة‪:‬‬

‫الَفجر (الخيار اْلوُل)‪ :‬عند اضَّطراب أو اختَفاء عَالمة الَفجر يتم تثبيِت وقِت آخر‬ ‫‪‬‬
‫يوُم ظهر فيُه وقِت الَفجر بدون اضَّطراب‪ .‬وعند اختَفاء الَعَالمة يوضع بين‬
‫قوْسين أنُه َال يوجد موعد حَقيَقي للَفجر في ذلك اليوُم‪ ،‬وأما عند اضَّطراب الَعَالمة‬
‫يوضع بين قوْسين الموعد الَحَقيَقي للَفجر لمن َال يجد مَّشَقة في ذلك الوقِت‪.‬‬
‫الَفجر (الخيار الثاني)‪ :‬يَحسب بنَفُس طريَقة الخيار اْلوُل للَفجر‪ ،‬ولكن عندما‬ ‫‪‬‬
‫تَّصبح مدة الَّصياُم أكبر من حدوِد المَّشَقة المبينة َالحَقا‪ ،‬يتم حساب وقِت الَفجر‬
‫البديُّل بَحيث يساوي موعد المغرب المَحسوب في ذلك اليوُم مَّطروحا منُه ‪19‬‬
‫ْساعة‪ .‬وحيث أن الخيار اْلوُل والخيار الثاني عبارة عن اجتهاِدات‪ ،‬فيترك لكُّل‬
‫شخص اختيار الوقِت الذي َال يَّشكُّل مَّشَقة لُه‪.‬‬
‫المغرب‪ :‬عندما يَّصبح وقِت المغرب فيُه مَّشَقة‪ ،‬يتم وضع وقِت بديُّل للمغرب‪،‬‬ ‫‪‬‬
‫ويوضع بين قوْسين الموعد الَحَقيَقي للمغرب لمن َال يجد مَّشَقة في ذلك الوقِت‪.‬‬
‫وعندما َال يوجد َغروب للَّشمُس يتم تثبيِت وقِت آخر يوُم فيُه وقِت للمغرب بدون‬
‫مَّشَقة ويوضع بين قوْسين أنُه َال يوجد َغروب للَّشمُس في ذلك اليوُم‪.‬‬
‫الَعَّشاء‪ :‬عندما يَّصبح وقِت الَعَّشاء فيُه مَّشَقة‪ ،‬يتم وضع اقتراح بجمع الَعَّشاء مع‬ ‫‪‬‬
‫المغرب‪ ،‬ويوضع بين قوْسين الموعد الَحَقيَقي للَعَّشاء لمن َال يجد مَّشَقة في ذلك‬
‫الوقِت‪ .‬وعندما تختَفي عَالمة الَعَّشاء يتم وضع اقتراح بجمع الَعَّشاء مع المغرب‪،‬‬
‫ويوضع بين قوْسين أنُه َال يوجد موعد حَقيَقي للَعَّشاء في ذلك اليوُم‪.‬‬

‫ثانيا‪ :‬حدود المشقة ‪:‬‬


‫اعتماِدا على الَفتوى الَقائلة بَأنُه عد اختَفاء أو اضَّطراب الَعَالمة‪ ،‬فِإنُه يتم تَقدير المواقيِت‬
‫حسب أقرب منَّطَقة تتمايز فيها الَعَالمات بَّشكُّل مَعتدُل‪ ،‬فتاليا هي المواعيد والَحدوِد التي‬
‫اعتمدناها لتَحَقيق هذه الَفتوى‪:‬‬

‫يَعتبر وقِت الَفجر مضَّطربا إذا كان الَفرق بين وقِت الَفجر في يوُم ما وبين وقِت‬ ‫‪‬‬
‫الَفجر في اليوُم السابق أكبر من ‪ِ 10‬دقائق‪.‬‬
‫يَعتبر وقِت المغرب فيُه مَّشَقة عندما يَّصبح وقِت المغرب في الساعة التاْسَعة‬ ‫‪‬‬
‫والنَّصف مساء أو أكثر‪.‬‬
‫يَعتبر وقِت الَعَّشاء فيُه مَّشَقة عندما يَّصبح وقِت الَعَّشاء في الساعة الَعاشرة مساء‬ ‫‪‬‬
‫أو أكثر‪.‬‬
‫تَعتبر مدة الَّصياُم فيها مَّشَقة إذا زاِدت مدة الَّصياُم عن ‪ْ 19‬ساعة‪.‬‬ ‫‪‬‬

‫ثالثا‪ :‬طريقة الحساب عند وجود العالمة واعتدال المواقيت‪:‬‬

‫الَفجر‪ :‬بداية انتَّشار إضاءة الَفجر الَّصاِدق المَعترضة أفَقيا في جهة الَّشرق بَعد‬ ‫‪‬‬
‫ظهور الَفجر الكاذب‪ ،‬وهذا يوافق انخَفاض مركز الَّشمُس تَحِت اْلفق الَّشرقي‬
‫بمَقدار ‪ِ 18‬درجة‪.‬‬
‫الَّشروق‪ :‬شروق الَحافة الَعليا لَقرص الَّشمُس من خلف اْلفق‪ ،‬مع اْلخذ بَعين‬ ‫‪‬‬
‫اَالعتبار اَالرتَفاع عن مستوى ْسَّطح البَحر‪ .‬ويكون ِدائما أقُّل بَعدة ِدقائق من‬
‫الَّشروق بالنسبة لسَّطح البَحر‪.‬‬
‫الظهر‪ :‬زواُل الَّشمُس عن وْسط السماء‪.‬‬ ‫‪‬‬
‫الَعَّصر‪ :‬عندما يكون ظُّل الَّشاخص مساو لَّطولُه مضافا لُه فيء الزواُل‪.‬‬ ‫‪‬‬
‫المغرب‪َ :‬غروب الَحافة الَعليا لَقرص الَّشمُس خلف اْلفق‪ ،‬مع اْلخذ بَعين‬ ‫‪‬‬
‫اَالعتبار اَالرتَفاع عن مستوى ْسَّطح البَحر‪ .‬ويكون ِدائما بَعد عدة ِدقائق من‬
‫الغروب بالنسبة لسَّطح البَحر‪.‬‬
‫الَعَّشاء‪ :‬اختَفاء إضاءة الَّشَفق اْلحمر من جهة الغرب‪ ،‬وهذا يوافق انخَفاض مركز‬ ‫‪‬‬
‫الَّشمُس تَحِت اْلفق الغربي بمَقدار ‪ِ 17‬درجة‪.‬‬

‫مميزات التَقويم المَقترح‬


‫يبين التَقويم موعد الَّصَالة الَحَقيَقي ِدائما‪ ،‬وَال يَقوُم باْستبدالُه ِدون إعَالُم المستخدُم‪،‬‬ ‫‪‬‬
‫فَعند اقتراح وقِت بديُّل للَّصَالة عند وجوِد المَّشَقة يتم وضع الوقِت الَحَقيَقي بين‬
‫قوْسين‪ ،‬وهذا يَحَقق أمران‪ ،‬اْلوُل إعَالُم المستخدُم بوجوِد وقِت حَقيَقي للَّصَالة‬
‫طالما وجد‪ ،‬ومن جهة أخرى فِإن هذا يَفسح المجاُل للمستخدُم لَاللتزاُم بالوقِت‬
‫الَحَقيَقي للَّصَالة أو اْلخذ بالوقِت البديُّل المَقترح إذا وجدت المَّشَقة‪.‬‬
‫يَقترح التَقويم خيارين لوقِت صَالة الَفجر عند اختَفاء الَعَالمة أو عند وجوِد‬ ‫‪‬‬
‫المَّشَقة‪ ،‬وكَالهما مبني على أراء فَقهية‪ ،‬وبالتالي يمكن اختيار اَالجتهاِد اْلنسب‬
‫حسب طبيَعة اْلوقات والمَّشَقة في تلك المنَّطَقة‪.‬‬
‫عند اختَفاء الَعَالمة أو عند تَحَقق المَّشَقة‪ ،‬حاوُل التَقويم قدر اإلمكان التوفيق بين‬ ‫‪‬‬
‫تَقدير حلوُل وأوقات مناْسبة وبين اعتماِد آراء فَقهية مَعتبرة‪.‬‬
‫حيث أن التَقويم يبَقي على وقِت الَّصَالة الَحَقيَقي حتى عند اقتراح المواقيِت‬ ‫‪‬‬
‫البديلة‪ ،‬فهذا يترك المجاُل لمستخدمي التَقويم أفراِدا أو مؤْسسات َالْستخداُم نَفُس‬
‫التَقويم بَعد تَعديلُه حسب ما يناْسبهم‪ .‬فَقد ترى إحدى المؤْسسات أن بدء رخَّصة‬
‫وقِت المغرب البديُّل من الساعة ‪ 09:30‬مبكرا‪ ،‬فتَقرر اَاللتزاُم بالوقِت الَحَقيَقي‬
‫حتى الساعة ‪ 10:30‬مثَال‪ ،‬والكَالُم نَفسُه ينَّطبق على صَالة الَعَّشاء أيضا‪.‬‬
‫عند اختَفاء الَعَالمة أو تَحَقق المَّشَقة حسب التَعاريف المَعتمدة‪ ،‬فِإن التَقويم يلتزُم‬ ‫‪‬‬
‫ِدائما بنَفُس قواعد الَعمُّل لجميع المناطق بغُض النظر عن الَفرق بين الوقِت‬
‫الَحَقيَقي والوقِت البديُّل‪ ،‬وبالتالي قد يكون الوقِت البديُّل أحيانا قريبا من الوقِت‬
‫الَحَقيَقي‪ ،‬وعليُه قد يَفضُّل في بَعُض اْلياُم وفي بَعُض المناطق اَاللتزاُم بالوقِت‬
‫الَحَقيَقي للَّصَالة بدَال من الوقِت التَقديري إن كان الوقِت التَقديري قريبا من الوقِت‬
‫الَحَقيَقي‪ ،‬وينَّطبق هذا بَّشكُّل أكبر على صَالة المغرب‪ ،‬خاصة وقِت الَّصياُم‪.‬‬