You are on page 1of 7

Bab 6

Rancangan Penelitian

PENDAHULUAN
Bab ini akan membahas tentang rancangan penelitian yang sering digunakan pada
penelitian ilmu keperawatan. Pembahasan akan difokuskan pada rancangan deskriptif
dan eksperimen. Rancangan penelitian deskriptif dimaksudkan untuk mengkaji suatu
fenomena berdasarkan fakta empiris di lapangan. Sedangkan rancangan eksperimen lebih
ditekankan pada pembuktian dan pengembangan model penerapan ilmu keperawatan
di lapangan melalui suatu intervensi keperawatan dan observasi dari intervensi yang
diberikan.
Rancangan atau rancangan penelitian adalah sesuatu yang sangat penting dalam
penelitian, memungkinkan pengontrolan maksimal beberapa faktor yang dapat
memengaruhi akurasi suatu hasil. Istilah rancangan penelitian digunakan dalam
dua hal; pertama, rancangan penelitian merupakan suatu strategi penelitian dalam
mengidentifikasi permasalahan sebelum perencanaan akhir pengumpulan data; dan
kedua, rancangan penelitian digunakan untuk mendefinisikan struktur penelitian yang
akan dilaksanakan.
Rancangan juga dapat digunakan peneliti sebagai petunjuk dalam perencanaan dan
pelaksanaan penelitian untuk mencapai suatu tujuan atau menjawab suatu pertanyaan
penelitian. Oleh karena itu, kemampuan dalam menyeleksi dan mengimplementasikan
rancangan penelitian sangat penting untuk meningkatkan kualitas penelitian dan hasilnya
akan dapat dimanfaatkan.
Rancangan penelitian merupakan hasil akhir dari suatu tahap keputusan yang
dibuat oleh peneliti berhubungan dengan bagaimana suatu penelitian bisa diterapkan.
Rancangan sangat erat dengan kerangka konsep sebagai petunjuk perencanaan pelaksanaan
suatu penelitian. Sebagai “blueprint”, rancangan adalah suatu pola atau petunjuk secara
umum yang dapat diaplikasikan pada beberapa penelitian. Dengan adanya permasalahan
penelitian yang jelas, kerangka konsep, dan definisi variabel yang jelas, suatu rancangan
dapat digunakan sebagai gambaran tentang perencanaan penelitian secara rinci dalam hal
pengumpulan dan analisis data.
158 Bagian 3: Metodologi Penelitian

Pada tahap ini, peneliti harus mempertimbangkan beberapa keputusan sehubungan


dengan metode yang akan digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian dan harus
secara cermat merencanakan pengumpulan data. Peneliti harus menyadari bahwa setiap
metode yang digunakan mempunyai dampak terhadap kualitas, kesatuan, dan interpretasi
dari suatu hasil. Oleh karena itu, peneliti harus dapat mengevaluasi keputusan untuk
menentukan berapa banyak kebenaran yang akan disajikan pada hasil penelitian.
Menurut Buns & Groves (1999) ada beberapa pertanyaan yang perlu dikaji pada
bagian penentuan rancangan penelitian, seperti berikut ini:

• Apakah tujuan utama penelitian untuk menjelaskan variabel dan kelompok


berdasarkan situasi penelitian, menguji suatu hubungan, atau menguji sebab akibat
pada situasi tertentu?
• Apakah akan menggunakan suatu perlakuan (treatment)?
• Jika ya, apakah perlakuan akan dikontrol oleh peneliti?
• Apakah akan dilakukan pra-tes pada sampel perlakuan?
• Apakah sampel akan diseleksi secara acak (random)?
• Apakah sampel akan diteliti sebagai satu kelompok atau dibagi menjadi beberapa
kelompok?
• Berapa besar kelompok yang akan diteliti?
• Berapa jumlah masing-masing kelompok?
• Apakah tiap kelompok akan dikontrol?
• Apakah tiap kelompok akan diberi tanda secara acak?
• Apakah pengukuran variabelnya akan diulang?
• Apakah menggunakan pengumpulan data cross-sectional atau cross-time?
• Apakah variabel sudah diidentifikasi?
• Apakah data yang sedang dikumpulkan memiliki banyak variabel?
• Strategi apakah yang digunakan untuk mengontrol variabel yang bervariasi?
• Strategi apakah yang digunakan untuk membandingkan suatu variabel atau
kelompok?
• Apakah suatu variabel akan dikumpulkan secara singkat atau bertingkat (multiple)?

Penyusunan rancangan penelitian memerlukan suatu pertimbangan yang matang


dan rinci sebagaimana tersebut di atas. Semakin hati-hati dalam berpikir secara rinci,
rancangan penelitian akan semakin kuat.

PEMILIHAN RANCANGAN PENELITIAN


Pemilihan dan penetapan rancangan penelitian dilakukan setelah perumusan hipotesis
penelitian. Hal ini penting karena rancangan penelitian pada dasarnya merupakan
strategi untuk mendapatkan data yang dibutuhkan untuk keperluan pengujian hipotesis
atau untuk menjawab pertanyaan penelitian serta sebagai alat untuk mengontrol atau
mengendalikan pelbagai variabel yang berpengaruh dalam penelitian. Dengan demikian,
rancangan penelitian pada hakikatnya merupakan suatu strategi untuk mencapai tujuan
penelitian yang telah ditetapkan dan berperan sebagai pedoman atau penuntun peneliti
pada seluruh proses penelitian.
Bab 6  •  Rancangan Penelitian 159

Apakah ada intervensi/rekayasa dari peneliti?

Tidak Ya

Deskriptif, analitik, hubungan,


Eksperimen
komparasi

Apakah semua memiliki:


Apakah tujuan utama mencari (1) Kelompok Kontrol, (2)
hubungan? Randomisasi, (3) Pengendalian
Ketat pada Variabel

Tidak
Tidak Ya (hanya 2 saja Ya

Desain Desain
deskriptif studi deskriptif studi Quesi- True-
kasus dan kasus dan Experimental Experimental
survei survei

Tidak Ya Random atau Kelompok Kontrol

Pra-experimental
Desain cross-sectional
-  One-shot case study
Komparatif
-  One group pre-post test design
(cohort & case kontrol)
-  Static group comparasion

Gambar 6.1 Diagram alur penetapan rancangan penelitian ilmu keperawatan

Unsur-unsur yang terpenting dalam menentukan rancangan penelitian mencakup:


(1) ada/tidaknya pengobatan, (2) jumlah sampel dalam populasi, (3) frekuensi dan waktu
pengukuran, (4) metode sampling, (5) instrumen untuk pengumpulan data, dan (6) kontrol
yang dipilih untuk mengendalikan variabel-variabel perancu.
Pertanyaan-pertanyaan berikut ini penting saat menyusun suatu rancangan
penelitian:

(1) Apakah akan ada suatu intervensi keperawatan yang perlu dilakukan kepada
responsden?
(2) Perbandingan tipe apakah yang akan digunakan?
(3) Prosedur apakah yang akan digunakan untuk mengontrol variabel?
(4) Kapan dan berapa kali data akan dikumpulkan dari responsden?
(5) Dalam situasi yang bagaimanakah penelitian akan dilaksanakan, di klinik, di rumah
atau di tempat yang lainnya?
(6) Berapakah jumlah responsden untuk setiap kelompok?
(7) Apakah setiap kelompok akan diseleksi secara random?
(8) Apakah data dikumpulkan secara cross-sectional dan cross-time?
160 Bagian 3: Metodologi Penelitian

JENIS RANCANGAN PENELITIAN


Jenis rancangan penelitian keperawatan dibedakan menjadi empat (Nursalam, 2008),
yaitu:

1. Deskriptif. Penelitian bertujuan untuk menjelaskan, memberi suatu nama, situasi,


atau fenomena dalam menemukan ide baru.
2. Faktor yang berhubungan (relationship). Penelitian ini dilaksanakan untuk
mengembangkan hubungan antarvariabel dan menjelaskan hubungan yang
ditemukan. Penelitian ini disebut juga penelitian tahap kedua setelah suatu fenomena
ditemukan.
Hubungan tersebut tidak selalu memiliki mekanisme yang menjelaskan (secara
ko-insiden/kebetulan timbul bersamaan). Rancangan yang sering digunakan adalah
cross sectional.
3. Faktor yang berhubungan (asosiasi). Penelitian ini disebut juga explanatory atau
correlational, bertujuan untuk menentukan faktor apakah yang terjadi sebelum
atau bersama-sama tanpa adanya suatu intervensi dari peneliti. Rancangan yang
dipergunakan bisa menggunakan cross-sectional atau jenis rancangan lainnya (kohort,
case control)
4. Pengaruh (causal). Penelitian ini ditujukan untuk menguji pengaruh variabel
independen terhadap variabel dependen.
Karakteristik rancangan pengaruh (causal) adalah sebagai berikut:
• Intensitas variabel independen menentukan intensitas variabel dependen (VD)
misalnya dosis
• Dapat dijelaskan mekanisme perubahannya
• (Tetapi) bukan sebagai penyebab (causation)
• Jenis rancangan yang dipergunakan adalah eksperimental. Jenis rancangan
eksperimental adalah:
(1) True experimental (satu kelompok tidak dilakukan intervensi)
(2) Quasy experimental (satu kelompok dilakukan intervensi sesuai dengan
metode yang dikehendaki, kelompok lainnya dilakukan seperti biasanya)
(3) Pre-experimental: post only atau pre-post. Satu kelompok dilakukan intervensi
X dan kelompok lainnya dilakukan intervensi Y

Secara umum, penelitian dapat diklasifikasikan menjadi (1) non-eksperimental


dan (2) eksperimental. Penjelasan berikut ini akan menguraikan mengenai dua kategori
rancangan yang sering digunakan dalam penelitian keperawatan.

Rancangan Penelitian Non–Eksperimen


a. Rancangan penelitian deskriptif
Penelitian deskriptif bertujuan untuk mendeskripsikan (memaparkan) peristiwa-peristiwa
penting yang terjadi pada masa kini. Deskripsi peristiwa dilakukan secara sistematis
dan lebih menekankan pada data faktual daripada penyimpulan. Fenomena disajikan
Bab 6  •  Rancangan Penelitian 161

secara apa adanya tanpa manipulasi dan peneliti tidak mencoba menganalisis bagaimana
dan mengapa fenomena tersebut bisa terjadi, oleh karena itu penelitian jenis ini tidak
memerlukan adanya suatu hipotesis. Hasil penelitian deskriptif sering digunakan atau
dilanjutkan dengan melakukan penelitian analitik.
Hubungan antarvariabel diidentifikasi untuk menggambarkan secara keseluruhan
suatu peristiwa yang sedang diteliti, tetapi pengujian mengenai tipe dan tingkat hubungan
bukan merupakan tujuan utama dari suatu penelitian deskriptif. Cara menghindari
bias dalam suatu penulisan dilakukan dengan: (1) menghubungkan antara konsep dan
operasional definisi variabel, (2) seleksi sampel dan besarnya sampel, (3) instrumen
yang valid dan reliabel, dan (4) prosedur pengambilan data dengan adanya suatu kontrol
lingkungan.
Rancangan ini digunakan untuk menguji suatu karakteristik dari sampel (Polit &
Back (2012):

Klarifikasi Pengukuran Deskripsi


Interpretasi variabel 1 deskripsi
variabel 1
Interpretasi variabel 2 deskripsi
variabel 2
Makna/Arti Peristiwa variabel 3 deskripsi
variabel 3
Menyusun hipotesis variabel 4 deskripsi
variabel 4

Rancangan penelitian meliputi identifikasi suatu peristiwa, identifikasi variabel, serta


mengembangkan teori dan operasional definisi dari variabel. Deskripsi variabel mampu
menginterpretasi makna suatu teori yang ditemukan dan populasi yang dapat digunakan
untuk penelitian selanjutnya. Jenis rancangan penelitian deskriptif adalah:

1) Rancangan penelitian studi kasus


Studi kasus merupakan rancangan penelitian yang mencakup pengkajian satu unit
penelitian secara intensif misalnya satu klien, keluarga, kelompok, komunitas, atau
institusi. Meskipun jumlah subjek cenderung sedikit namun jumlah variabel yang
diteliti sangat luas. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengetahui semua variabel
yang berhubungan dengan masalah penelitian.
Rancangan dari suatu studi kasus bergantung pada keadaan kasus namun tetap
mempertimbangkan faktor penelitian waktu. Riwayat dan pola perilaku sebelumnya
biasanya dikaji secara rinci. Keuntungan yang paling besar dari rancangan ini adalah
pengkajian secara rinci meskipun jumlah responsdennya sedikit, sehingga akan
didapatkan gambaran satu unit subjek secara jelas. Misalnya, studi kasus tentang
asuhan keperawatan klien dengan infark miokard akut pada hari pertama serangan
di RS. Peneliti akan mengkaji variabel yang sangat luas dari kasus di atas mulai dari
menemukan masalah bio-psiko-sosio-spiritual.
162 Bagian 3: Metodologi Penelitian

2) Rancangan penelitian survei


Survei adalah suatu rancangan yang digunakan untuk menyediakan informasi yang
berhubungan dengan prevalensi, distribusi, dan hubungan antarvariabel dalam
suatu populasi. Pada survei, tidak ada intervensi. Survei mengumpulkan informasi
dari tindakan seseorang, pengetahuan, kemauan, pendapat, perilaku, dan nilai.
Terdapat tiga metode yang sering digunakan dalam mengumpulkan data survei: (1)
wawancara melalui telepon, (2) wawancara langsung—tatap muka, dan (3) tanya
jawab dengan penyebaran kuesioner melalui surat. Keuntungan survei adalah dapat
menjaring responsden secara luas dan dapat memperoleh berbagai informasi serta
hasil informasi dapat dipergunakan untuk tujuan lain. Akan tetapi informasi yang
didapat dari survei seringkali cenderung bersifat superfisial. Oleh karena itu, pada
penelitian survei akan lebih baik jika dilaksanakan analisis secara bertahap.

b. Rancangan penelitian korelasional (hubungan/asosiasi)


Penelitian korelasional mengkaji hubungan antara variabel. Peneliti dapat mencari,
menjelaskan suatu hubungan, memperkirakan, dan menguji berdasarkan teori yang ada.
Sampel perlu mewakili seluruh rentang nilai yang ada. Penelitian korelasional bertujuan
mengungkapkan hubungan korelatif antarvariabel. Hubungan korelatif mengacu pada
kecenderungan bahwa variasi suatu variabel diikuti oleh variasi variabel yang lain. Dengan
demikian, pada rancangan penelitian korelasional peneliti melibatkan minimal dua
variabel. Contoh penelitian deskriptif korelasional dalam keperawatan meneliti tentang
hubungan antara dukungan sosial dan kecemasan klien kanker serviks yang menjalani
radioterapi. “Tujuan penelitian ini adalah untuk menyelidiki hubungan antara dukungan
sosial dan kecemasan klien kanker serviks yang menjalani radioterapi”.

Skema Penelitian Deskriptif Korelasional

Pengukuran

Variabel Deskripsi
1 variabel

Uji Interpretasi
Hubungan    makna/arti

Variabel Deskripsi
2 variabel

Penelitian korelasional biasanya dilakukan bila variabel-variabel yang diteliti dapat


diukur secara serentak dari suatu kelompok subjek. Hubungan antarvariabel ditunjukkan
dengan koefisien korelasi yang bergerak dari –1 sampai dengan +1. Korelasi –1 berarti
korelasi negatif sempurna, sedangkan korelasi +1 berarti positif sempurna. Variabel
dikatakan berkorelasi positif apabila variasi suatu variabel diikuti sejajar oleh variabel
yang lain. Pada contoh kasus di atas, makin tua usia pemberi perawatan, maka makin
tinggi risiko merasa jenuh. Bila variasi suatu variabel diikuti terbalik oleh variasi variabel
lainnya, maka kedua variabel tersebut berkorelasi negatif.
Bab 6  •  Rancangan Penelitian 163

Cross Sectional (Hubungan dan Asosiasi)


Penelitian cross-sectional adalah jenis penelitian yang menekankan waktu pengukuran/
observasi data variabel independen dan dependen hanya satu kali pada satu saat. Pada
jenis ini, variabel independen dan dependen dinilai secara simultan pada suatu saat, jadi
tidak ada tindak lanjut. Tentunya tidak semua subjek penelitian harus diobservasi pada
hari atau pada waktu yang sama, akan tetapi baik variabel independen maupun variabel
dependen dinilai hanya satu kali saja. Dengan studi ini, akan diperoleh prevalensi atau efek
suatu fenomena (variabel dependen) dihubungkan dengan penyebab (variabel dependen).
Misalnya, peneliti ingin mempelajari hubungan antara sikap perawat dan tingkat kecemasan
klien infark miokard akut yang dirawat di ruang UGD. Peneliti pada saat itu menilai atau
menanyakan sikap perawat (sebagai variabel independen) kemudian menilai tentang
kecemasan klien pada saat itu juga, misalnya dengan menggunakan instrumen kecemasan
dari Hamilto Anxiety Rating Scale (HARS) (Nursalam, 2008).

c. Rancangan penelitian komparatif


Istilah rancangan penelitian non-eksperimen: komparatif dalam ilmu keperawatan sering
digunakan pada penelitian klinis maupun komunitas. Jenis rancangan ini mempunyai
makna yang hampir sama dengan yang dilakukan dalam epidemiologi, yang dikenal
dengan istilah kohort dan kasus kontrol. Rancangan ini difokuskan untuk mengkaji
perbandingan terhadap pengaruh (efek) pada kelompok subjek tanpa adanya suatu
perlakuan dari peneliti.

1) Kohort
Menurut Sastroasmoro & Ismail (1995) istilah kohort berasal dari Romawi kuno yang
berarti sekelompok tentara yang maju berbaris ke medan perang. Jenis penelitian
ini merupakan penelitian epidemiologik noneksperimental yang mengkaji antara
variabel independen (faktor risiko) dan variabel dependen (efek/kejadian penyakit).
Pendekatan yang digunakan pada rancangan penelitian kohort adalah pendekatan
waktu secara longitudinal atau time period approach. Sehingga jenis penelitian ini
disebut juga penelitian prospektif. Menurut Sastroasmoro & Ismail (1995) peneliti
mengobservasi variabel independen terlebih dahulu (faktor risiko), kemudian subjek
diikuti sampai waktu tertentu untuk melihat terjadinya pengaruh pada variabel
dependen (efek atau penyakit yang diteliti).
Pada Gambar 7.2, pembagian antara variabel risiko dan nonrisiko terbagi secara
alamiah tanpa adanya suatu intervensi dari peneliti. Kemudian peneliti mengikuti
secara prospektif terhadap efek yang ditimbulkan. Misalnya, peneliti ingin menilai
bayi yang secara alamiah diberi susu buatan dan ASI. Peneliti mengikuti sampai batas
waktu tertentu (misalnya 1 tahun), kemudian mengobservasi kejadian asma bronkial
pada kedua kelompok tersebut. Ternyata ditemukan bahwa angka kejadian asma
bronkial pada kelompok subjek yang diberi susu buatan lebih tinggi dibandingkan
pada bayi berusia kurang dari 1 tahun yang mendapatkan ASI.