You are on page 1of 2

Analis Hukum Terhadap Kasus Narkoba Matthew Thomas

Kasus penyelewengan narkoba sedang marak terjadi di Indonesia, terutama di kalangan pekerja seni
(artis) di tanah air. Kasus narkoba yang sedang ramai diperbincangkan di tanah air adalah, kasus yang
menimpa anak dari pasangan aktor kondang Jeremy Thomas dan Inna Thomas. Penetapan tersangka
dilakukan setelah penyidik Satuan Narkoba Polres Bandara Soekarno-Hatta melakukan gelar perkara.
Kasus ini sangat viral di media sosial karena pada awalnya orang tua dari Axel merasa bahwa anaknya
diperlakukan tidak adil. Mereka beranggapan bahwa anaknya tidak melakukan konsumsi zat adiktif
tersebut, dan setelah dilakukan pengecekan ternyata memang negatif narkoba. Adanya tindak kekerasan
pemukulan dan juga penyekapan di dalam kamar hotel di mana Axel diciduk, oleh pihak kepolisian
menjadikan kasus ini semakin panas. Beberapa oknum polisi melakukan kekerasan terhadap Axel Thomas,
sehingga mengakibatkan luka dan lebam di beberapa bagian tubuh dari Axel Thomas, seperti wajah dan
badan. Ternyata, setelah dilakukan penyelidikan Axel Thomas memang tidak melakukan konsumsi
narkoba, namun melakukan transaksi pembelian narkoba berjenis Happy Five (H5). Perkembangan
terbaru Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwoni menyampaikan Axel ditangkap berdasarkan
pengembangan kasus pengungkapan penyelundupan narkotika jenis happy five asal Malaysia.
Sebelumnya ditemukan penyelundupan zat adiktif jenis Happy Five dari Malaysia. Berdasarkan laporan
bea cukai ditemukan 1.118 happy five yang dimasukkan dalam kotak panadol dari Kuala Lumpur. Dalam
essay ini yang akan dianalisis adalah mengenai transaksi narkoba.

Narkotika sendiri diatur dalam UU no 35 Tahun 2009 mengenai Narkotika. Menurut Pasal 1 angka 1 UU
No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika (“UU 35/2009”), adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman
atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semisintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau
perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat
menimbulkan ketergantungan, yang dibedakan ke dalam golongan-golongan sebagaimana terlampir
dalam Undang-Undang ini. Sedangkan, menurut Pasal 1 angka 1 UU No. 5 Tahun 1997 tentang
Psikotropika (“UU 5/1997”), pengertian psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis
bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang
menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.

Pasal yang dapat disangkakan pada Axel Thomas adalah Pasal 62 sub Pasal 60 ayat 3 jo Pasal 71 ayat 1 UU
RI No 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika, di mana Pasal 62 berbunyi, "barangsiapa secara tanpa hak,
memiliki, menyimpan dan/atau membawa psikotropika dipidana dengan pidana penjara paling lama 5
(lima) tahun dan pidana denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah)." Sementara Pasal
60 ayat 3 berbunyi, "barangsiapa menerima penyaluran psikotropika selain yang ditetapkan dalam Pasal
12 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan pidana denda paling banyak Rp
60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah)." Adapun Pasal 71 ayat 1 berbunyi, "barangsiapa bersekongkol
atau bersepakat untuk melakukan, melaksanakan, membantu, menyuruh turut melakukan, menganjurkan
atau mengorganisasikan suatu tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60, Pasal 61, Pasal 62,
atau Pasal 63 dipidana sebagai permufakatan jahat."

Daftar pustaka:

http://jabar.bnn.go.id/perundang-undangan/undang-undang-no-35-th-2009-tentang-narkotika

www.hukumonline.com

http://megapolitan.kompas.com/read/2017/07/18/12253141/polisi-tetapkan-putra-jeremy-thomas-
tersangka-kasus-narkoba