You are on page 1of 16

Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol. 8 No.

2 November 2017: 221-236______________________ISSN 2087-4871

POTENSI KECELAKAAN KERJA PADA PERIKANAN BAGAN APUNG DI PPN


PALABUHANRATU, JAWA BARAT

THE POTENTIAL OF WORK ACCIDENT ON THE LIFTNET FISHERIES IN PPN


PALABUHANRATU, WEST JAVA

Muhamad Rizki Riantoro1, Budhi Hascaryo Iskandar2, Fis Purwangka2


1
Perum Perikanan Indonesia, Jakarta
2
Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan,
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor
Korespondensi: fis@psp-ipb.org

ABSTRACT

This study focused on lift net fishery activity on its boat carrier. The activity on this transports is the most dangerous
potential risk. The limited work area on the boat, with a large number of passengers and added weight of the quantity
of goods transported can cause a high chance of accidents. The condition is also exacerbated by the situation on
transports that no passenger uses safety equipment or personal protective equipment (PPE), and also the unavailability
of these equipment in the boat. The study were aimed to identify the potential hazard or risk during operating of the
bagan apung, and to identify the fishermen knowledge in working safety. The method used in this study is a case study
method on the potential for work accident in boat carrier and lift net in Palabuhanratu. Primary data were obtained by
interview through questionnaire. Secondary data were obtained through literature study concerning fishermen safety
occupational. Job Safety Analysis (JSA) was used to examine the working method and the potential hazard at every step
of the boat carrier and the bagan apung fishery activity. The result showed that, (1) based on Job Safety Analysis the
risk arising were categorized into 3 of accident which were not severe (88%), severe (12%) and very severe (0%); (2)
The fishermen having knowledge were categorized as good enough regarding occupational safety and procedures work
on a boat. However, lack of awareness of the relevant agencies and fishermen in the management and implementation
of work safety procedures in PPN Palabuhanratu had not been implemented properly.

Keyword: bagan apung, job safety, Palabuhanratu bay, ship carrier

ABSTRAK

Fokus perhatian pada penelitian ini adalah aktivitas perikanan bagan di atas kapal angkutnya. Aktivitas pada kapal
angkut inilah yang paling banyak memiliki potensi risiko berbahaya. Kecilnya area pada kapal angkut, dengan jumlah
penumpang yang banyak dan ditambah dengan berat jumlah barang yang diangkut tersebut dapat menyebabkan peluang
kecelakaan yang tinggi. Kondisi tersebut juga diperparah dengan situasi di atas kapal angkut yang tidak terdapat seorang
penumpang pun yang menggunakan alat keselamatan dan APD (Alat Perlindungan Diri), dan juga tidak tersedianya alat-
alat tersebut di dalam kapal. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi risiko kerja pada kegiatan perikanan bagan
apung, dan mengidentifikasi pengetahuan nelayan bagan apung terhadap keselamatan kerja.. Metode yang digunakan
dalam penelitian ini adalah metode studi kasus pada potensi kecelakaan kerja di kapal angkut dan bagan apung di
Palabuhanratu. Data primer didapatkan dari hasil pengamatan langsung dan wawancara terhadap beberapa pihak terkait
dengan keselamatan kerja nelayan. Data sekunder diperoleh dari berbagai sumber seperti literatur, dokumen serta arsip
yang ada pada instansi terkait. Pengolahan data dilakukan dengan analisis keselamatan kerja (Job Safety Analysis/JSA).
Hasil penelitian ini menunjukkan, (1) berdasarkan JSA diperoleh bahwa risiko yang timbul terbagi dalam 3 kategori
yakni kategori tidak parah (88%), parah (12%) dan sangat parah (0%); (2) nelayan bagan memiliki pengetahuan yang
dikategorikan cukup baik mengenai keselamatan kerja dan prosedur kerja di kapal.

Kata kunci: bagan apung, kapal angkut, keselamatan kerja, PPN Palabuhanratu

Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan, IPB__________________________ E-mail: jurnalfpik.ipb@gmail.com


PENDAHULUAN Samudera Hindia seperti adanya musim.
Wilayah perairan selatan Jawa tersebut
Latar belakang hempasan gelombangnya cukup kuat dan
tiupan angin pun di perairan tersebut cukup
Perikanan bagan apung merupakan kuat sehingga tinggi gelombang cukup tinggi
salah satu alat tangkap yang dominan dan sulit diduga (Wyrtki 1961).
dan melibatkan banyak nelayan di PPN Data di Indonesia, sepanjang
Palabuhanratu. Nelayan bagan masih belum Desember 2008 – Maret 2009, sebanyak 18
menjadikan aspek keselamatan menjadi kapal tenggelam. Dari tragedi itu, sebanyak
salah satu pertimbangan penting dalam 43 orang meninggal dunia, 386 orang
operasi penangkapan ikan pada perikanan dinyatakan hilang, dan 105 orang selamat
bagan, khususnya di Pelabuhan Perikanan atau menderita luka-luka, baik fisik maupun
Nusantara (PPN) Palabuhanratu, Jawa psikis (Ant 2009). Risiko kecelakaan kerja
Barat. Jumlah nelayan yang bekerja pada yang banyak terjadi adalah pada aktivitas
perikanan bagan umumnya berjumlah 1-2 pengoperasian alat tangkap.Faktor penyebab
orang. Fokus perhatian pada penelitian utama adalah faktor kesalahan manusia
ini adalah aktivitas perikanan bagan di atau nelayan itu sendiri yang disebut
atas kapal angkutnya. Aktivitas pada kapal human error sebesar 43.67% (FAO 2009).
angkut inilah yang paling banyak memiliki Namun dalam meningkatkan faktor kualitas
potensi risiko berbahaya. Kapal angkut nelayan itu sendiri, kecelakaan dapat
yang digunakan dapat mengangkut 10-12 dihindari atau diminimalkan. Adapun cara
orang nelayan bagan, 2 kru kapal, serta untuk meminimalisir terjadinya kecelakaan
terdapat penumpang selain nelayan bagan ialah ketika pengoperasian alat tangkap dan
yang jumlahnya dapat lebih dari 5 orang kapal perlu didukung adanya aturan atau
yang ikut berlayar. Kecilnya area pada SOP (Standar Operation Procedure) terhadap
kapal angkut, dengan jumlah penumpang kerja nelayan ketika melakukan aktivitas
yang banyak dan ditambah dengan berat tersebut.
jumlah barang yang diangkut tersebut dapat Karakteristik pekerjaan di atas
menyebabkan peluang kecelakaan yang kapal angkut dan bagan apung menuntut
tinggi. Kondisi tersebut juga diperparah kepedulian terhadap keselamatan baik oleh
dengan situasi di atas kapal angkut yang awak kapal maupun pemilik kapal dan
tidak terdapat seorang penumpang pun penguasaan kompetensi yang berkaitan
yang menggunakan alat keselamatan dan dengan keselamatan bagi awak kapal.
APD (Alat Perlindungan Diri), dan juga tidak Kesadaran akan keselamatan tersebut
tersedianya alat-alat tersebut di dalam kapal terlihat kurang mendapat respon positif oleh
yang seharusnya dilengkapi apabila hendak nelayan bagan apung maupun pemilik kapal
melakukan aktivitas pelayaran. Begitu pula angkut di PPN Palabuhanratu. Kurangnya
dengan alat tangkap bagan. Bagan yang informasi, ketidaktahuan dan kurangnya
letaknya di tengah perairan dengan personil keterampilan dapat menimbulkan
nelayan yang hanya 1 orang, apabila terjadi risiko hingga kecelakaan dalam bekerja.
kecelakaan kerja atau pun kecelakaan Berdasarkan hal tersebut, perlu adanya
akibat kondisi cuaca dan perairan yang identifikasi mengenai keselamatan kerja
memiliki gelombang laut cukup kuat maka nelayan bagan apung dengan melihat
tidak akan ada yang mampu memberikan seluruh aktivitas penangkapan alat
bantuan karena terbatasnya komunikasi tangkap bagan apung di Palabuhanratu,
dengan nelayan tersebut. Sukabumi. Tujuan dari penelitian ini
Peluang tingkat kecelakaan tersebut adalah 1) mengidentifikasi risiko kerja atau
dapat juga disebabkan oleh sikap, potensi bahaya pada kegiatan perikanan
keterampilan dan pengetahuan nelayan bagan apung di PPN Palabuhanratu dan
yang rendah tentang keselamatan kerja di 2) mengidentifikasi pengetahuan nelayan
laut. Peran aktif pemerintah setempat dalam bagan apung terhadap keselamatan kerja di
penanganan saat kecelakaan maupun PPN Palabuhanratu.
setelah kecelakaan terjadi serta tindakan
pencegahan lainnya dari beberapa kejadian METODE PENELITIAN
kecelakaan nelayan di Palabuhanratu sampai
saat ini belum terlihat (Purwangka 2013). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan
Kondisi perairan Teluk Palabuhanratu, Januari sampai dengan bulan September
dilihat dari sisi lingkungan perairan, lebih 2014. Pengambilan data dilakukan pada
banyak dipengaruhi oleh kondisi oseanografi bulan April 2014 di PPN Palabuhanratu,

222 Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol. 8 No. 2 November 2017: 221-236
ISSN 2087-4871

Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Metode kuesioner yang digunakan. Hasil pengolahan
yang digunakan dalam penelitian ini data ini selanjutnya dijadikan bahan analisis.
adalah metode studi kasus pada potensi Analisis yang digunakan meliputi analisis
kecelakaan kerja di kapal angkut dan deskriptif terhadap unit penangkapan bagan
bagan apung di Palabuhanratu. Metode dan analisis keselamatan kerja (JSA) terkait
ini digunakan karena menurut beberapa keselamatan kerja nelayan bagan.
sumber, tingginya angka kecelakaan di laut
yang terjadi di Palabuhanratu tetapi banyak Analisis keselamatan kerja (Job Safety
yang tidak tercatat oleh instansi setempat Analysis – JSA)
atau tidak dilaporkan. Maka dari itu perlu
adanya sebuah studi secara langsung di JSA adalah suatu cara yang
lapangan untuk mengetahui potensi yang digunakan untuk memeriksa metode kerja
menyebabkan timbulnya kasus tersebut. dan menentukan bahaya yang sebelumnya
Penelitian ini menggunakan dua jenis data, telah diabaikan dalam merencanakan
yaitu data primer dan data sekunder. Data pabrik atau gedung dan di dalam rancang
primer didapatkan dari hasil wawancara bangun mesin-mesin, alat-alat kerja,
menggunakan kuesioner terhadap beberapa material, lingkungan tempat kerja, dan
pihak terkait dengan keselamatan kerja proses aktivitas kerja (Soeripto 1997).
yaitu syahbandar, staf PPN Palabuhanratu, Proses kerja yang diterapkan pada JSA
polisi air, staf unit kesehatan nelayan, serta di dalam penelitian ini yaitu keselamatan
beberapa tokoh nelayan di sekitar PPN kerja nelayan pada aktivitas di atas kapal
Palabuhanratu. Data ini dilengkapi juga angkut dan aktivitas penangkapan pada alat
dengan pengamatan langsung aktivitas di tangkap bagan apung.
atas kapal angkut bagan sebanyak 3 kapal Langkah pekerjaan dicatat di kolom
dan operasi penangkapan ikan bagan apung sebelah kiri, potensi bahaya dituliskan pada
dengan cara mengikuti operasi penangkapan kolom tengah tabel, diberi nomor untuk
sebanyak 3 kali trip. Responden dalam mencocokkan dengan langkah pekerjaan,
penelitian ini adalah 30 orang nelayan bagan seperti disajikan padaTabel 1.
apung yang menggunakan 3 buah kapal Identifikasi risiko bahaya dimulai
angkut. Ketiga kapal tersebut juga menjadi dengan melakukan identifikasi seluruh
objek dalam penelitian ini. Data sekunder sumber bahaya pada area konsekuensi atau
merupakan data penunjang yang diperoleh dampak. Menyusun rutan aktivitas yang
dari berbagai sumber seperti literatur, benar saat melakukan sebuah identifikasi
dokumen serta arsip yang ada pada instansi dibutuhkan untuk memastikan bahwa
terkait. tidak ada area lain yang terlewatkan.
Objek yang digunakan dalam Seluruh aktivitas tersebut akan diperinci
penelitian ini adalah kapal angkut dan kembali dengan mengurutkan seluruh
bagan apung yang beroperasi di wilayah tahapan aktivitas dengan menuliskan
perairan Palabuhanratu, Sukabumi. Alat kegiatan kegiatan yang dilakukan pada
yang digunakan pada penelitian ini antara proses tahapan tersebut. Aktivitas tersebut
lain kuesioner, handycam, kamera digital, dijadikan sebagai dasar untuk menanyakan
perangkat komputer, alat tulis dan peralatan pertanyaan dengan cara yang imajinatif
lainnya yang digunakan dalam membantu tentang apa yang mungkin terjadi dan
pengumpulan data dan pengolahan data. bagaimana hal itu dapat terjadi sesuai
Data yang dikumpulkan diolah dengan kelas yang dibagi dalam kemungkinan dan
tabulasi dan perhitungan persentase konsekuensi dari kecelakaan (Cross 1998).
terhadap hasil jawaban nelayan pada Berikut disajikan dalam Tabel 2 dan Tabel 3.

Tabel 1. Lembar kerja analisis keselamatan kerja


No Urutan kegiatan Potensi bahaya Tindakan pencegahan
1. ... ... ...
2. ... ... ...
3. ... ... ...
... ... ... ...
Sumber : CCOHS (2008)

Potensi Kecelakaan Kerja pada Perikanan......................................................................................(RIANTORO et al.) 223


Tabel 2. Kemungkinan dari kecelakaan
Kelas Peluang Peluang terjadi
A Besar 1 kali dalam 1 tahun
B Sedang 1 kali dalam 10 tahun
C Kecil 1 kali dalam 100 tahun
Sumber : IMO (2017)

Tabel 3. Konsekuensi dari kecelakaan


Kelas Kecelakaan Deskripsi Example
1 Tidak parah Menyebabkan cedera; tidak fatal Kecelakaan yang menimbulkan
cedera tetapi tidak sampai ada
korban jiwa
2 Parah Menyebabkan beberapa cedera/ Kecelakaan yang menyebabkan
luka dan korban jiwa cedera berat, hingga 1 sampai 2
orang korban jiwa dan kerusakan
kapal.
3 Sangat Menyebabkan korban jiwa/ Kecelakaan besar, mengakibatkan
parah meninggal 3 sampai seluruh awak kapal
dapat meninggal dunia atau
hilangnya kapal.
Sumber : IMO (2017)

HASIL DAN PEMBAHASAN kapal dan lainnya yang belum dapat diduga
oleh kemampuan manusia dan akhirnya
Analisis keselamatan kerja (Job Safety menimbulkan gangguan pelayaran dari
Analysis – JSA) kapal.
Gangguan pelayaran pada dasarnya
Kapal, alat tangkap, dan nelayan dapat berupa gangguan yang dapat langsung
merupakan tiga faktor yang mendukung diatasi, bahkan perlu mendapatkan bantuan
keberhasilan suatu operasi penangkapan langsung dari pihak tertentu, atau gangguan
ikan. Aktivitas penangkapan ikan terutama yang mengakibatkan nahkoda dan seluruh
di laut adalah kegiatan yang berisiko tinggi, anak buah kapal harus terlibat baik untuk
sehingga kapal perikanan dapat menjadi mengatasi gangguan tersebut serta harus
lingkungan kerja yang memiliki potensi meninggalkan kapal. Keadaan gangguan
bahaya. Faktor keselamatan kapal maupun pelayaran tersebut sesuai dengan situasi
nelayan harus diperhatikan dan langkah- dapat dikelompokkan menjadi keadaan
langkah pencegahan harus dilakukan darurat yang didasarkan pada jenis kejadian
untuk meminimumkan atau bahkan itu sendiri, sehingga sebuah gangguan dalam
menghilangkan potensi risiko bahaya atau pelayaran secara garis besar dapat disusun
kecelakaan tersebut untuk menunjang menjadi tubrukan, kebakaran/ledakan,
kesuksesan suatu operasi penangkapan kandas, kebocoran/tenggelam, orang jatuh
ikan. Definisi kecelakaan adalah kejadian ke laut, dan pencemaran.
tidak terduga dan tidak diharapkan yang Keadaan darurat di kapal dapat
dapat menimbulkan cedera, cacat, bahkan merugikan nahkoda, anak buah kapal,
kematian sebagai akibat kecelakaan kerja pemilik kapal, dan lingkungan laut. Kondisi
(Suma’mur 1995). keadaan darurat perlu dipahami sebaik
Menurut Adi et al. (2008), kapal laut mungkin. Hal ini dapat ditempuh dengan
sebagai bangunan terapung yang bergerak memiliki kemampuan dasar untuk dapat
menggunakan daya dorong sebuah mesin mengidentifikasi tanda-tanda keadaan
pada kecepatan yang bervariasi untuk darurat agar situasi yang demikian dapat
melintasi berbagai daerah pelayaran diatasi oleh seluruh awak kapal maupun
dalam kurun waktu tertentu. Kapal dapat melakukan kerja sama dengan pihak-pihak
mengalami berbagai permasalahan yang yang terkait.
dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu Kapal angkut bagan apung yang
cuaca, keadaan alur pelayaran, manusia, diteliti melakukan pelayaran dimulai pukul

224 Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol. 8 No. 2 November 2017: 221-236
ISSN 2087-4871

15.00 WIB untuk mengantar nelayan bagan berjumlah 10 orang yang merupakan
menuju bagan apung masing-masing. Waktu langganannya. Aktivitas bagan, secara urut
tempuh pelayaran selama 2-3 jam hingga disampaikan pada Tabel 4.
selesai mengantarkan seluruh nelayan

Tabel 4. Aktivitas bagan apung di Palabuhanratu


No Urutan kegiatan
1 Persiapan di darat
2 Pemindahan (loading) barang ke atas kapal angkut
3 Berlayar menuju daerah penangkapan ikan (navigasi)
4 Pemindahan alat tangkap bagan ke daerah penangkapan ikan (fishing ground) dengan
kapal angkut
5 Pemindahan (loading) barang ke alat tangkap bagan
6 Persiapan alat tangkap
7 Pengoperasian alat tangkap, penurunan jaring (setting) pertama
8 Pengangkatan jaring (hauling) alat tangkap pertama
9 Penanganan hasil tangkapan pertama
10 Penurunan jaring (setting) kedua dan seterusnya
11 Pengangkatan jaring (hauling) alat tangkap kedua dan seterusnya
12 Penanganan hasil tangkapan kedua dan seterusnya
13 Pemindahan (loading) hasil tangkapan dan barang ke atas kapal angkut
14 Berlayar menuju pelabuhan asal (fishing base)
15 Unloading hasil tangkapan dan barang ke dermaga
Sumber : Hasil observasi peneliti

Urutan langkah kerja dalam setiap tersebut.


aktivitas operasi penangkapan ikan akan Penggunaan ember kaleng cat bekas
dikelompokkan dan kemudian dianalisis memiliki keunggulan karena dapat ditutup
potensi bahaya yang mungkin timbul, serta rapat sehingga perlengkapan yang dibawa
memberikan saran dan masukan tentang tidak akan basah apabila terkena air hujan
tindakan apa yang perlu dilakukan untuk ataupun air laut jika terjatuh ke laut. Selain
menghilangkan atau meminimalisir potensi itu ember kaleng cat bekas ini dapat juga
bahaya tersebut. Berikut penguraian berfungsi sebagai pelampung atau alat
analisis keselamatan kerja dalam masing- pelindung diri pengganti dari life jacket
masing tahap pra operasi, tahap operasi, yang digunakan apabila nelayan tercebur
dan tahap pasca operasi. ke laut. Nelayan membawa wadah ember
kaleng cat yang telah lengkap berisi dengan
Tahap pra operasi perbekalan ke dermaga sambil menunggu
pemberangkatan menggunakan kapal
Persiapan di darat angkut menuju fishing ground masing-
masing sekitar pukul 15.00 WIB. Perjalanan
Pemilik kapal angkut beserta menuju fishing ground memiliki waktu
ABK mempersiapkan kebutuhan melaut tempuh selama 2–3 jam.
dan nelayan bagan apung menyiapkan Kategori kecelakaan parah terdapat
kebutuhan perbekalan seperti air tawar, pada kegiatan nomor 3 (tiga) yaitu saat
bahan makanan, solar, oli, lampu, persiapan BBM dan oli samping, dengan
genset dan persiapan lainnya.. Nelayan potensi bahaya terjadi kecelakaan
mempersiapkan perbekalan dirumahnya pada saat pengangkutan BBM dengan
masing-masing. Perbekalan yang sudah menggunakan sepeda motor. Kejadian
dipersiapkan kemudian dimasukkan ke tersebut dapat dicegah dengan solusi
dalam ember kaleng cat bekas sebagai memakai alat angkut yang aman seperti
wadah penyimpanan seluruh perlengkapan gerobak beroda atau keranjang besi khusus

Potensi Kecelakaan Kerja pada Perikanan......................................................................................(RIANTORO et al.) 225


untuk membawa jirigen yang ditempelkan keluar pelabuhan mengenai dinding kolam
pada motor sehingga mengurangi potensi pelabuhan dan menabrak kapal lainnya
terjatuh dan tumpah. Potensi bahaya untuk bisa memposisikan kapal angkut
dengan kemungkinan yang besar terjadi keluar dari pelabuhan. Kondisi seperti ini
pada aktivitas nomor 4 (empat) yaitu saat dapat mengakibatkan kapal terbalik maupun
persiapan dan cek mesin oleh nahkoda. menimbulkan kebocoran pada bagian badan
Potensi bahaya tersebut adalah kunci pas kapal.
dan peralatan lain untuk pengecekan mesin Kategori kecelakaan parah terdapat
mengenai anggota tubuh. Walaupun hal ini pada kegiatan nomor 3 (tiga) yaitu saat
sering terjadi namun kecelakaan tersebut nahkoda mengarahkan kapal keluar dari
masuk ke dalam kategori yang tidak parah. kolam pelabuhan, dengan potensi bahaya
Kejadian tersebut dapat dicegah dengan kapal bocor atau tenggelam akibat terbentur
pemakaian APD oleh nahkoda atau pihak badan kapal yang lain dan kapal hilang
lain yang bertugas untuk melakukan arah saat pelayaran. Kejadian tersebut
persiapan dan cek mesin seperti sarung dapat dicegah dengan solusi melakukan
tangan dan sepatu safety (safety boots). Total pengecekan rutin terhadap kelayakan kapal,
urutan kegiatan pada aktivitas persiapan di dan membawa alat bantu navigasi berupa
darat terdapat 5 kegiatan dengan 9 potensi GPS (Global Positioning System) atau peta
bahaya. Kategori kecelakaannya terbagi atas lokasi. Total urutan kegiatan pada aktivitas
8 kategori kecelakaan tidak parah dan 1 berlayar menuju daerah penangkapan
kategori kecelakaan parah. (navigasi) terdapat 4 kegiatan dengan 15
potensi bahaya. Kategori kecelakaannya
Pemindahan (loading) ke atas kapal angkut terbagi atas 13 kategori kecelakaan tidak
parah dan 2 kategori kecelakaan parah.
Pemindahan perlengkapan ke atas
kapal angkut (loading) menggunakan Pemindahan alat tangkap bagan ke daerah
alat bantu berupa katrol dan tali agar penangkapan ikan (fishing ground) dengan
mempermudah pemindahan barang. kapal angkut
Kategori kecelakaan parah terdapat pada
kegiatan nomor 2 (dua) yaitu saat pemindahan Bagan apung yang dioperasikan oleh
genset dan jirigen berisi peralatan bagan ke nelayan berada di sekitar Teluk Palabuhanratu
atas kapal, dengan potensi bahaya terjadi yang ditempuh dalam 2-3 jam perjalanan
pada saat pemindahan mesin genset dapat atau sekitar ± 25 mil laut dari fishing base
terjatuh dan mengenai anggota tubuh. (PPN Palabuhanratu). Alat tangkap bagan
Kejadian tersebut dapat dicegah dengan apung pada penelitian ini dapat dipindah-
solusi memakai alat pemindahan yang aman pindahkan posisinya. Perpindahan bagan
dan membersihkan jalan yang akan dilalui apung tergantung dari bagan apung
sehingga tidak licin. Total urutan kegiatan lainnya karena nelayan memindahkan alat
pada aktivitas pemindahan (loading) ke atas tangkapnya berdasarkan informasi atau
kapal angkut terdapat 3 kegiatan dengan melihat jumlah hasil tangkapan nelayan
11 potensi bahaya. Kategori kecelakaannya bagan yang lain. Apabila hasil tangkapan
terbagi atas 10 kategori kecelakaan tidak salah satu nelayan banyak, maka nelayan
parah dan 1 kategori kecelakaan parah. bagan tersebut akan memberikan informasi
kepada nelayan lainnya, kemudian nelayan
Berlayar menuju daerah penangkapan ikan bagan yang lain akan mengikuti ke tempat
(navigasi) nelayan yang memperoleh hasil tangkapan
banyak tersebut. Perpindahan bagan
Peralatan dan kebutuhan melaut yang apung tersebut ditarik oleh kapal angkut
telah dipindahkan ke atas kapal kemudian bagan apung, tetapi perpindahannya tidak
dilanjutkan menuju daerah penangkapan akan terlalu jauh pengoperasiannya masih
atau fishing ground. Risiko bahaya pada tetap di sekitar Teluk Palabuhanratu. Alat
aktivitas ini adalah pada saat juru mudi tangkap bagan apung dipindahkan oleh
mengarahkan kapal keluar dari kolam kapal langganannya. Sebelum bagan apung
pelabuhan. Posisi kapal yang sebelumnya dipindahkan, nelayan bagan apung sudah
bersandar pada kolam pelabuhan menghubungi nelayan pemilik bagan apung
terhambat jalur keluarnya dengan kapal- dengan kapal langganannya beberapa
kapal lainnya yang juga sedang bersandar hari sebelumnya untuk mengkonfirmasi
di pelabuhan. Area yang sempit tersebut pemindahan alat tangkapnya.
membuat kapal angkut bagan yang hendak Alat yang digunakan untuk

226 Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol. 8 No. 2 November 2017: 221-236
ISSN 2087-4871

pemindahan bagan apung yaitu berupa tali alat bantu pengangkutan seperti katrol atau
tambat kapal yang berbahan PE berukuran lintasan pemindahan. Total urutan kegiatan
besar yang memiliki diameter sekitar 5 cm. pada aktivitas pemindahan (loading) ke
Tali PE berukuran besar ini berfungsi untuk alat tangkap bagan apung terdapat 2
menaikkan jangkar bagan dan menarik kegiatan dengan 6 potensi bahaya. Kategori
bagan hingga ke daerah penangkapan yang kecelakaannya terbagi atas 5 kategori
sesuai. Daerah penempatan bagan apung kecelakaan tidak parah dan 1 kategori
yang dipindahkan biasanya berdasarkan kecelakaan parah.
pada panjang jangkar yang dimiliki atau
terletak pada perairan dangkal atau di Persentase risiko kerja pada tahap pra
daerah teluk dengan kedalaman rata-rata operasi bagan apung
sekitar 10 m.
Kategori kecelakaan parah terdapat Tahap pra operasi bagan apung
pada kegiatan nomor 4 (empat) yaitu saat terdiri dari aktivitas persiapan di darat,
kapal menarik bagan apung ke daerah pemindahan (loading) barang ke atas
penangkapan. Terdapat dua potensi bahaya kapal angkut, berlayar menuju daerah
yang akan terjadi yakni kapal kehilangan penangkapan ikan (navigasi), pemindahan
arah serta kapal angkut atau bagan apung alat tangkap bagan ke daerah penangkapan
dapat terbalik/ tenggelam. Kejadian tersebut ikan (fishing ground) dengan kapal angkut,
dapat dicegah dengan solusikapal angkut hingga pemindahan (loading) barang ke
dilengkapi dengan GPS (Global Positioning alat tangkap bagan. Berdasarkan analisis
System) atau peta lokasi setempat, serta yang dilakukan dari aktivitas pada tahap
melakukan pemeriksaan rutin terkait pra operasi tersebut memiliki kategori
kondisi kapal angkut dan bagan apung. Total kecelakaan 86% tidak parah, 14% parah dan
urutan kegiatan pada aktivitas pemindahan untuk kategori sangat parah pada tahap ini
alat tangkap bagan ke daerah penangkapan tidak ada (Gambar 1). Hal ini menunjukkan
ikan (fishing ground) dengan kapal angkut bahwa aktivitas-aktivitas pada tahap pra
terdapat 4 kegiatan dengan 15 potensi operasi bagan apung masih dirasa kurang
bahaya. Kategori kecelakaannya terbagi aman, maka dari itu perlu adanya upaya
atas 13 kategori kecelakaan tidak parah dan untuk meningkatkan keselamatan kerja
2 kategori kecelakaan parah. pada aktivitas ini para ABK kapal angkut
bagan seharusnya menggunakan Alat
Pemindahan (loading) barang ke alat tangkap Pelindung Diri (APD) seperti sarung tangan,
bagan apung safety boots, dan lain lain.
Berdasarkan SOLAS (1974) terdapat
Tahap pemindahan perlengkapan peraturan yang mengatur mengenai semua
ke alat tangkap bagan apung merupakan peralatan yang digunakan oleh suatu
kegiatan yang dapat dikatakan berbahaya individu di tempat kerja untuk melindungi
dan sangat minim peralatan keselamatan. individu dari satu atau lebih risiko kesehatan
Nelayan yang telah sampai pada alat dan keselamatan. Peralatan dan bahan yang
tangkapnya akan berpindah ke atas bagan digunakan harus diperhatikan kelayakan
dengan membawa seluruh perlengkapan dan perawatannya, dimana peralatan
yang dibawanya yaitu genset, jirigen BBM, dan bahan yang akan digunakan sebagai
jirigen air tawar dan ember cat bekas yang alat pelindung diri merupakan penunjang
berisi lampu, perbekalan,dan lain-lain. keberhasilan aktivitas bagan apung untuk
Kategori kecelakaan parah terdapat menghasilkan hasil tangkapan yang optimal
pada kegiatan nomor 2 (dua) yaitu saat tanpa adanya risiko kecelakaan. Nelayan
pemindahan genset dan jirigen ke alat sebaiknya melengkapi dirinya dengan
tangkap bagan apung, dengan potensi perlengkapan perlindungan diri yang harus
bahaya mesin genset atau jirigen terjatuh lengkap mulai dari alat perlindungan kepala,
mengenai anggota tubuh. Kejadian tersebut sarung tangan, jas hujan (warepack), life
dapat dicegah dengan solusi menggunakan jacket dan sepatu.

Potensi Kecelakaan Kerja pada Perikanan......................................................................................(RIANTORO et al.) 227


Gambar 1. Pelabelan komposisi habitat bentik Persentase risiko kerja pada tahap pra
operasi bagan apung dari 18 kegiatan

Tahap operasi target akan berkumpul di sekitar lampu.


Sumber energi listrik diperoleh dari mesin
Persiapan alat tangkap genset. Lampu bagan diturunkan mendekati
perairan dengan jarak ±1,5 m antara lampu
Persiapan alat tangkap dilakukan dan air laut, sehingga cahaya lampu akan
ketika nelayan telah sampai di fishing menerangi perairan dan masuk menembus
ground. Nelayan melakukan persiapan kolom perairan. Pada aktivitas pengoperasian
selama ±1,5 jam untuk menyusun letak alat tangkap serta penurunan jaring ini
genset dan keranjang, pengisian bahan memiliki risiko bahaya seperti tangan
bakar pada genset, memasang lampu dapat terluka dan dapat mengakibatkan
bagan, memasang instalasi listrik pada sakit punggung akibat menurunkan jaring
genset untuk menghidupkan lampu bagan. menggunakan roller bambu yang berat.
Risiko bahaya yang timbul pada kegiatan ini Kategori kecelakaan parah tidak
yaitu ABK dapat tercebur kelaut dan dapat terdapat pada aktivitas pengoperasian
tersengat aliran listrik. alat tangkap serta penurunan jaring,
Kategori kecelakaan parah dan namun memiliki potensi bahaya dengan
memiliki kemungkinan terjadi yang besar kemungkinan terjadi yang besar terdapat
terdapat pada aktivitas nomor 5 (lima) yaitu pada kegiatan nomor 1dan 2 yaitu tangan
saat pemasangan 6 buah lampu bagan, terluka pada saat pelepasan jaring dan
dengan potensi bahaya nelayan dapat penurunan bingkai jaring dengan roller.
tersengat aliran listrik. Kejadian tersebut Kejadian tersebut dapat dicegah dengan
dapat dicegah dengan solusi memakai APD solusi memakai APD berupa sarung tangan.
dan alas kaki agar terhindar dari sengatan Total urutan kegiatan pada aktivitas
listrik. Total urutan kegiatan pada aktivitas pengoperasian alat tangkap serta penurunan
pemindahan (loading) ke alat tangkap bagan jaring terdapat 2 kegiatan dengan 6 potensi
apung terdapat 5 kegiatan dengan 11 potensi bahaya. Kategori kecelakaan seluruhnya
bahaya, dalam kategori kecelakaannya termasuk ke dalam kategori kecelakaan
terbagi atas 9 kategori kecelakaan tidak tidak parah.
parah dan 2 kategori kecelakaan parah.
Pengoperasian alat tangkap, penurunan Pengangkatan jaring (hauling) alat tangkap
jaring (setting).
Proses penangkapan ikan dengan Dalam pengoperasiannya nelayan
bagan apung dimulai dengan penurunan alat tangkap bagan hanya menunggu dan
jaring atau setting alat. Penurunan bingkai melakukan pengamatan melalui rumah
bambu beserta jaring dilakukan sebelum bagan untuk melihat adanya tanda-
hari gelap, jaring diturunkan sekitar pukul tanda keberadaanikan di sekitar bagan.
18.00 WIB. Penurunan jaring dilakukan Setelah diperkirakan ikan target telah
dengan mengulur tali pada 4 sisi bingkai banyak berkumpul di sekitar lampu, maka
jaring yang bertumpu pada sebuah roller lampu akan dimatikan satu persatu dan
bambu, kemudian jaring diturunkan menyisakan satu lampu agar ikan terfokus
pada kedalaman tertentu. Lampu bagan berkumpul pada satu lampu saja. Langkah
dinyalakan agar menarik perhatian ikan selanjutnya dilakukan proses pengangkatan
target yang mayoritas merupakan ikan jaring (hauling) dengan memutar roller untuk
yang memiliki sifat fototaksis positif. Ikan menarik bingkai jaring ke permukaan.

228 Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol. 8 No. 2 November 2017: 221-236
ISSN 2087-4871

Proses ini memiliki risiko bahaya seperti tidak parah, 8% parah dan 0% sangat parah
tangan ABK dapat terluka. (Gambar 2). Hal ini menunjukan bahwa
Kategori kecelakaan parah tidak aktivitas-aktivitas pada tahap operasi bagan
terdapat pada aktivitas pengangkatan jaring apung masih memiliki risiko bahaya yang
(hauling), namun memiliki potensi bahaya dapat mengganggu kesehatan nelayan.
dengan kemungkinan terjadi yang besar Aktivitas-aktivitas pada tahap
terdapat pada kegiatan nomor 1 dan 2 yaitu operasi bagan apung dirasa memiliki risiko
tangan terluka pada saat pengangkatan dan potensi bahaya yang tinggi karena
bingkai jaring dengan roller dan pengikatan pengoperasian alat tangkap bagan apung
jaring ke bagan. Kejadian tersebut dapat hanya dilakukan oleh 1-2 orang nelayan.
dicegah dengan solusi memakai APD berupa Penggunaan roller bambu sebagai alat bantu
sarung tangan. Total urutan kegiatan pada untuk menurunkan dan menaikkan bingkai
aktivitas pengangkatan jaring (hauling) jaring memang dapat mempermudah proses
terdapat 2 kegiatan dengan 8 potensi bahaya, penangkapan bagan apung, namun ukuran
dalam kategori kecelakaan seluruhnya roller bambu yang besar serta berat dalam
termasuk ke dalam kategori kecelakaan menarik jaring dapat menimbulkan risiko
tidak parah. sakit punggung serta tangan terluka. Apabila
hal ini terjadi maka nelayan bagan tidak akan
Persentase risiko kerja pada tahap operasi dapat melanjutkan aktivitas penangkapan
bagan apung atau membutuhkan waktu untuk
memulihkan kondisi tubuh untuk kembali
Tahap operasi bagan apung terdiri melanjutkan aktivitas. Penggunaan sarung
dari aktivitas persiapan alat tangkap, tangan sebagai APD dapat meminimumkan
pengoperasian alat tangkap, penurunan bahaya terluka dan memberikan sedikit
jaring (setting) dan pengangkatan jaring waktu istirahat (jeda) saat pengoperasian
(hauling). Berdasarkan analisis yang roller dapat meminimumkan beban pada
dilakukan dari aktivitas tahap operasi punggung.
tersebut memiliki kategori kecelakaan 92%

Gambar 2. Persentase risiko kerja pada tahap operasi bagan apung dari 9 kegiatan

Tahap pasca operasi selama ± 1 jam, setelah itu nelayan akan


melepaskan jaring yang telah diangkat
Penanganan hasil tangkapan (brailing) untuk diturunkan kembali ke perairan dan
mempersiapkan kembali untuk melakukan
Hasil tangkapan yang telah setting selanjutnya.
terkumpul pada jaring diambil dengan alat Kategori kecelakaan parah tidak
bantu serok dan disortir berdasarkan jenis terdapat pada aktivitas penanganan hasil
ikan dan ukuran ikan untuk dimasukkan tangkapan (brailing), namun memiliki potensi
ke dalam keranjang-keranjang bambu bahaya dengan kemungkinan terjadi yang
yang telah dipersiapkan. Masing-masing besar terdapat pada setiap kegiatannya yaitu
nelayan bagan apung telah mempersiapkan tangan terluka, terbentur, dan tergelincir
keranjang-keranjang bambu berjumlah pada saat mengangkat dan mempersempit
30 keranjang/bagan apung, keranjang area jaring untuk mengambil hasil
tersebut akan terisi penuh seluruhnya tangkapan, pengambilan hasil tangkapan
dengan hasil tangkapan apabila sedang menggunakan serok, dan penempatan hasil
dalam musim panen. Penyortiran hasil tangkapan. Kejadian tersebut dapat dicegah
tangkapan biasanya membutuhkan waktu dengan solusi memakai APD berupa sarung

Potensi Kecelakaan Kerja pada Perikanan......................................................................................(RIANTORO et al.) 229


tangan dan membersihkan jalan yang dilalui ditempatkan pada keranjang bambu dari
dari tercecernya hasil tangkapan. Total nelayan-nelayan bagan langganan akan
urutan kegiatan pada aktivitas penanganan ditempatkan pada dek kapal angkut. Aktivitas
hasil tangkapan (handling) terdapat 3 dilanjutkan dengan juru mudi mengarahkan
kegiatan dengan 11 potensi bahaya. Kategori kapal angkut menuju pelabuhan asal atau
kecelakaan seluruhnya termasuk ke dalam fishing base, selama perjalanan risiko bahaya
kategori kecelakaan tidak parah. yang paling menonjol ialah posisi juru mudi
di atas kapal. Potensi bahaya pada posisi
Pemindahan (loading) hasil tangkapan dan ini adalah juru mudi dapat tercebur ke laut
barang ke atas kapal angkut karena posisi kemudi yang berada di sisi kiri
kapal dan juru mudi duduk di sisi badan
Aktivitas dalam pemindahan kapal.
(loading) hasil tangkapan yang telah Kategori kecelakaan parah terdapat
didapatkan nelayan serta perlengkapan dan pada kegiatan nomor 1 dan 3 yaitu saat
barang dalam pengoperasian bagan angkut nahkoda mengarahkan kapal menuju
ke atas kapal angkut memiliki tingkat fishing base, dengan potensi bahaya kapal
risiko bahaya yang tinggi karena minim bocor atau tenggelam akibat terbentur
peralatan keselamatan dan alat bantu. badan kapal yang lain dan kapal hilang arah
Peralatan seperti genset, ember cat bekas saat pelayaran serta saat penataan genset di
berisi perbekalan nelayan, serta seluruh dek kapal. Kejadian tersebut dapat dicegah
hasil tangkapan yang sudah ditempatkan dengan solusi melakukan pengecekan rutin
dalam keranjang-keranjang bambu akan terhadap kelayakan kapal, membawa alat
dipindahkan dari bagan apung ke atas kapal bantu navigasi berupa GPS atau peta lokasi,
angkut oleh nelayan dibantu dengan ABK serta membersihkan dek kapal yang akan
kapal yang lainnya. dilalui. Total urutan kegiatan pada aktivitas
Lantai bagan yang licin dapat berlayar menuju pelabuhan asal (fishing
menyebabkan nelayan dan ABK yang base) terdapat 3 kegiatan dengan 14 potensi
membantu terpeleset atau terjatuh ke laut, bahaya. Kategori kecelakaannya terbagi atas
hal ini disebabkan lantai bagan yang licin 10 kategori kecelakaan tidak parah dan 4
karena basah atau bekas hasil tangkapan kategori kecelakaan parah.
yang tercecer. Begitu juga dengan kapal
angkut yang hendak merapat ke bagan apung Pemindahan (unloading) hasil tangkapan
seringkali menabrak dinding bagan apung dan barang ke dermaga
yang terbuat dari bambu. Hal tersebut dapat
mengakibatkan merusak atau mematahkan Pemindahan atau unloading dari
dinding bagan apung yang berbahan bambu atas kapal angkut bagan apung diutamakan
tersebut. keranjang bambu berisi hasil tangkapan
Kategori kecelakaan parah terdapat yang didahulukan untuk diturunkan, karena
pada kegiatan nomor 2 (dua) yaitu saat di dermaga pelabuhan hasil tangkapan yang
pemindahan genset dan jirigen berisi baru saja diturunkan dari kapal sudah
perlengkapan dari bagan apung ke atas ditunggu oleh pemilik bagan dan pembeli
kapal angkut, dengan potensi bahaya mesin dari hasil tangkapan bagan. Aktivitas ini
genset atau jirigen terjatuh mengenai anggota menimbulkan bahaya, seperti keranjang
tubuh. Kejadian tersebut dapat dicegah hasil tangkapan atau genset jatuh mengenai
dengan solusi menggunakan alat bantu ABK atau nelayan serta keranjang berisi
pengangkutan seperti katrol atau lintasan hasil tangkapan jatuh dan hasil tangkapan
pemindahan sehingga dapat mempermudah dapat berserakan.
pemindahan barang tersebut. Total urutan
kegiatan pada aktivitas pemindahan (loading) Persentase risiko kerja pada tahap pasca
dari bagan apung ke ataskapal angkut operasi bagan apung
terdapat 3 kegiatan dengan 10 potensi
bahaya, dalam kategori kecelakaannya Tahap pasca operasi bagan apung
terbagi atas 9 kategori kecelakaan tidak terdiri dari aktivitas penanganan hasil
parah dan 1 kategori kecelakaan parah. tangkapan, pemindahan (loading) barang
dan hasil tangkapan ke atas kapal angkut,
Berlayar menuju pelabuhan asal (fishing berlayar kembali ke pelabuhan dan
base) sesampainya di pelabuhan melakukan
Operasi penangkapan yang telah bongkar hasil tangkapan serta penurunan
dilakukan dan hasil tangkapan yang telah peralatan melaut. Berdasarkan Gambar

230 Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol. 8 No. 2 November 2017: 221-236
ISSN 2087-4871

3 analisis yang dilakukan dari aktivitas risiko kerjanya yaitu 88% tidak parah, 12 %
pada tahap pasca operasi tersebut memiliki parah dan 0% sangat parah.
kategori kecelakaan 88% tidak parah, Bahaya merupakan segala
12% parah, dan 0% sangat parah. Hal ini sesuatu yang mempunyai kemungkinan
menunjukkan aktivitas-aktivitas pada tahap mengakibatkan kerugian baik pada harta
pasca operasi bagan apung dirasa masih benda, lingkungan, maupun manusia
kurang aman karena memiliki risiko dan (Budiono 2003). Potensi bahaya yang ada
potensi kecelakaan yang membahayakan dalam operasi bagan apung mengarah
bagi nelayan bagan. kepada kecelakaan pribadi seperti tangan
terluka, tersandung, tergelincir dan yang
Total persentase risiko kerja pada aktivitas lainnya merupakan bahaya yang diakibatkan
bagan apung karena properti (barang) atau karena faktor
lingkungan kerja. Oleh karena itu dari
Total persentase risiko kerja pada seluruh potensi risiko bahaya yang ada maka
keseluruhan aktivitas bagan apung memiliki dapat dicegah dan diminimalkan dengan
kategori kecelakaan dari 115 kegiatan tidak penggunaan APD berupa sarung tangan,
parah, 16 kegiatan parah dan tidak ada warepack, life jacket, dan penggunaan
kegiatan yang berkategorikan sangat parah. sepatu atau alas kaki.
Gambar 4 menjelaskan, persentase dari

Gambar 3. Persentase risiko kerja pada tahap pasca operasi bagan apung dari 13 kegiatan

Gambar 4. Persentase total risiko kerja bagan apung dari 40 kegiatan

Potensi Kecelakaan Kerja pada Perikanan......................................................................................(RIANTORO et al.) 231


Analisis keselamatan kerja bagan apung Nelayan bagan merupakan nelayan
tradisional yang dominan mengoperasikan
Berdasarkan hasil JSA yang telah bagan apung. Para nelayan ini berpindah
dilakukan maka di dapatkan aktivitas dan dari bagan tancap yang sebelumnya cukup
kegiatan yang memiliki potensi kecelakaan populer, setelah adanya himbauan dari
kerja pada keseluruhan rangkaian pemerintah mengenai bagan tancap yang
perikanan bagan apung di Palabuhanratu. memberikan dampak negatif bagi sistem
Hasil perhitungan keseluruhan aktivitas pelayaran laut. Selain bagan apung dapat
telah dibagi ke dalam 3 (tiga) tahapan proses mengurangi dampak negatif tersebut, bagan
yaitu pra operasi, operasi, dan pasca operasi. apung juga dinilai lebih efisien jika digunakan
Tahapan yang memiliki potensi kecelakaan oleh nelayan setempat, dikarenakan alat
kerja paling tinggi ialah pada tahap pra tangkap bagan apung dapat dipindah-
operasi. pindahkan lokasinya sesuai dengan daerah
Tahap pra operasi memiliki 5 penangkapan pada musim tertentu serta
aktivitas besar yang diuraikan menjadi 18 keinginan dari nelayan bagan tersebut.
kegiatan, dari 18 kegiatan itu didapatkan 56 Bagan apung dioperasikan di sekitar Teluk
potensi kecelakaan kerja yang selanjutnya Palabuhanratu yang dapat ditempuh dalam
akan dibagi ke dalam 3 kategori kecelakaan. 2-3 jam perjalanan laut atau sekitar ±25 mil
Kategori kecelakaan yang dimaksud laut dari fishing base (PPN Palabuhanratu).
adalah kategori kecelakaan sangat parah, Risiko kecelakaan yang dirasa cukup
parah, dan tidak parah. Tahap pra operasi tinggi pada saat operasi penangkapan ikan
memiliki nilai paling tinggi di dalam kategori pada alat tangkap bagan apung dibagi dalam
kecelakaannya, dibandingkan dengan tahap 3 tahap aktivitas yaitu pra operasi, operasi,
operasi dan pasca operasi. dan pasca operasi. Keseluruhan tahapan
Kategori kecelakaan sangat parah tersebut belum menjadi fokus utama oleh
dalam keseluruhan tahapan memang tidak nelayan, pemilik kapal, ataupun instansi
ditemukan atau memiliki nilai 0 (nol) di pengelola pelabuhan. Nelayan setempat
seluruh tahapan.Dalam hasil pengamatan cenderung berani mengambil keputusan
langsung pada tahapan aktivitas di bagan untuk tidak terlalu memperhatikan risiko
apung, dari keberangkatan di pelabuhan bahaya dan kecelakaan kerja dikarenakan
(fishing base) hingga kembali ke pelabuhan adanya berbagai alasan yang beragam seperti
tidak ditemukan adanya potensi kecelakaan kurangnya kemampuan ekonomi, kurangnya
yang dapat menimbulkan korban jiwa pemahaman mengenai keselamatan kerja
bahkan sampai meninggal dunia. Kategori dan alat keselamatan kerja yang harus
kecelakaan parah pada tahap pra operasi digunakan, dan dalam melakukan aktivitas
memiliki nilai 8, nilai ini merupakan yang penangkapan sehari-hari nelayan hanya
tertinggi dibandingkan dengan nilai pada bertindak berdasarkan pengalaman dan
tahap operasi dan tahap pasca operasi. pemahaman bahwa penggunaan alat
Masing-masing tahapan ini memiliki nilai keselamatan tidaklah penting, sehingga
2 dan 6. Kategori kecelakaan tidak parah hal tersebut menjadi sebuah paradigma
pada tahap pra operasi memiliki nilai 48, bagi nelayan bahwa keselamatan di laut
tahap ini tetap memiliki nilai paling tinggi tergantung kepada pribadi masing-masing
dibandingkan dengan tahap operasi yang orang untuk mempertahankan dirinya
memiliki nilai 23 dan tahap pasca operasi apabila ada bahaya yang mengancam.
yang memiliki nilai 44. Nelayan hanya mengandalkan
Penilaian tersebut menunjukkan pengalamannya untuk melaut berdasarkan
bahwa kegiatan-kegiatan yang terdapat melihat tanda-tanda dari alam sebelum
pada tahap pra operasi seharusnya menjadi berangkat melaut untuk mengantisipasi
perhatian khusus bagi nelayan bagan adanya bahaya yang dapat mengancam
maupun juru kapal agar potensi kecelakaan apabila hendak pergi melaut tanpa
tersebut dapat diminimalkan. Hal ini melengkapi alat keselamatan yang sesuai
dikarenakan keseluruhan kegiatan dalam dengan kondisi dan pekerjaannya.
tahap ini hanya berisikan tentang kegiatan Sistem peringatan dini yang ada di PPN
di darat pada saat persiapan sebelum Palabuhanratu berupa papan informasi
berangkat melaut. angin, kecepatan angin, dan cuaca serta
peringatan dini untuk tsunami pun kurang
Pengetahuan nelayan bagan apung dapat dimanfaatkan dengan baik oleh
tentang keselamatan kerja nelayan. Hal ini disebabkan kurangnya
pemahaman nelayan untuk memanfaatkan

232 Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol. 8 No. 2 November 2017: 221-236
ISSN 2087-4871

informasi dan adanya keterbatasan yang mesin kapal mati atau rusak akibat tidak
disampaikan oleh sistem peringatan dini adanya pengecekan mesin kapal secara
tersebut, seperti kurangnya kemampuan rutin. Selanjutnya potensi yang sering terjadi
nelayan untuk membaca informasi yang adalah tenggelam dan tubrukan. Kecelakaan
diberikan oleh papan informasi tersebut, kerja juga dikatakan memiliki potensi
kurangnya kepedulian nelayan untuk kecelakaan kerja yang tinggi karena seluruh
mendapatkan informasi tentang kondisi awak kapal termasuk juru mudi, ABK, serta
perairan dan cuaca, serta minimnya nelayan bagan yang ikut dalam pelayaran
informasi yang ditampilkan oleh papan kapal tidak melengkapi dirinya dengan APD
informasi tersebut karena terkadang berupa life jacket dan kapal angkut juga
informasi yang diberikan kurang akurat dan tidak dilengkapi dengan alat keselamatan
tidak selalu diperbaharui dengan kondisi yang seharusnya wajib dimiliki oleh kapal
terbaru. Alat keselamatan yang dibawa yang melakukan operasi di laut. Peralatan
oleh nelayan bagan apung hanyalah ember yang termasuk dalam safety equipment
kaleng cat bekas berisi perbekalan dan pada kapal yang di kemukakan oleh
peralatan melaut yang sekaligus berfungsi IMO (International Maritime Organization)
sebagai alat pelampung apabila terjadi pada tahun 1960 adalah dokumen
kecelakaan sehingga menyebabkan nelayan (documentation), peralatan navigasi (safety
tercebur ke laut. Selanjutnya hanya telepon of navigation), perlengkapan penyelamat jiwa
genggam yang digunakan sebagai alat (life saving appliances), pompa pemadam,
komunikasi utama karena jarak melaut hidran, selang dan alat pemadamm (fire
yang dirasa masih relatif dekat dan sinyal pumps, hydrants, hoses, and extinguishers),
telepon genggam masih menjangkau daerah perlengkapan pemadam kebakaran untuk
operasi bagan apung tersebut. ruang muat (fire appliances in cargo space),
Jenis kecelakaan yang pernah terjadi serta perlengkapan pemadam lain (other fire
di atas kapal angkut dan alat tangkap bagan appliances). Peralatan keselamatan yang
apung pada saat melaut di dominasi dengan digunakan nelayan adalah jirigen dan ban
kapal tenggelam, terbalik, hanyut, serta bekas yang digunakan sebagai pelampung
kecelakaan kerja. Kejadian kebakaran dan apabila terjadi kecelakaan pada kapal
tubrukan sangat jarang terjadi pada kapal angkut bagan.
angkut di sekitar Teluk Palabuhanratu. Menurut PP RI No.50 Th.2012 tentang
Gambar 5 menunjukkan hasil wawancara Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan
kuesioner terhadap nelayan bagan apung di dan Kesehatan Kerja, K3 adalah segala
PPN Palabuhanratu, serta Gambar 6 sebagai kegiatan yang menjamin keselamatan
hasil wawancara terhadap juru mudi dan dan kesehatan tenaga kerja melalui
ABK kapal angkut bagan seputar jenis upaya pencegahan kecelakaan kerja dan
kecelakaan yang sering terjadi di atas alat penyakit akibat kerja. Menciptakan sistem
tangkap bagan apung dan kapal angkut. keselamatan kerja tentunya harus didukung
Berdasarkan Gambar 5 terlihat oleh keterampilan dan pengetahuan yang
bahwa dari 30 responden nelayan terkait wajib dimiliki orang-orang yang terkait di
kecelakaan yang sering terjadi di bagan dalamnya. Gambar 7 menunjukkan hasil
apung di dapatkan kasus kecelakaan yang wawancara terhadap nelayan bagan apung di
sering terjadi ialah hanyutnya bagan apung PPN Palabuhanratu mengenai pengetahuan
yang disebabkan oleh putusnya tali jangkar tentang keselamatan kerja, pengetahuan
dan terkena badai saat musim barat. mengenai aturan keselamatan kerja,
Selanjutnya potensi kecelakaan yang sering pengetahuan akan pentingnya prosedur
terjadi adalah bagan tenggelam dikarenakan kerja di atas kapal, dan kesadaran nelayan
pelampung yang rusak atau kerangka akan keselamatan kerja.
bangunan bagan yang berbahan bambu Hasil wawancara yang disajikan
sudah mengalami pelapukan atau sudah pada Gambar 7 menunjukkan bahwa
melewati umur teknisnya. Kecelakaan nelayan yang memiliki pengetahuan
kerja pada saat pengoperasian bagan juga mengenai keselamatan kerja hanya sebesar
sering terjadi akibat kelalaian nelayan 30%, 37% nelayan sedikit mengetahui
yang tidak melengkapi dirinya dengan tentang keselamatan kerja dan 33% tidak
APD yang seharusnya digunakan untuk mengetahui mengenai keselamatan kerja.
meminimalkan risiko bahaya saat kerja. Adanya aturan mengenai keselamatan kerja
Berdasarkan Gambar 6 menunjukkan hanya diketahui oleh 16% nelayan dan 27%
bahwa potensi kecelakaan yang sering sedikit tahu tentang aturan tersebut yang
terjadi adalah hanyut yang disebabkan oleh hanya sebatas mengetahui tetapi tidak

Potensi Kecelakaan Kerja pada Perikanan......................................................................................(RIANTORO et al.) 233


dapat menyebutkan aturan yang berlaku, kerja yang seharusnya mereka pahami
namun yang menjadi permasalahan adalah dan diterapkan dalam melakukan operasi
57% nelayan sama sekali tidak mengetahui penangkapan.
adanya aturan mengenai keselamatan

Gambar 5. Hasil wawancara terhadap nelayan terkait kecelakaan yang sering terjadi di
alat tangkap bagan apung (Sumber: Hasil Wawancara terhadap Nelayan)

Gambar 6. Hasil wawancara terhadap juru mudi dan ABK kapal terkait kecelakaan yang
sering terjadi di kapal angkut bagan (Sumber: Hasil Wawancara terhadap Juru
Mudi dan ABK Kapal Angkut (diolah))

Gambar 7. Pengetahuan dan kesadaran terkait keselamatan kerja (Sumber: Hasil


wawancara terhadap nelayan (diolah))

234 Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol. 8 No. 2 November 2017: 221-236
ISSN 2087-4871

Mayoritas nelayan banyak yang jawab atas terciptanya kesehatan dan


tidak mengetahui dan kurang memahami keselamatan kerja serta menunjang
mengenai peraturan keselamatan kerja keamanan laut, diperlukan sebuah
di laut dan prosedur kerja yang ada. komite keamanan laut yang di dalamnya
Prosedur kerja yang ada seharusnya merupakan instansi dan organisasi yang
ditaati oleh pekerja di atas kapal. Menurut berperan aktif dalam langkah mencegah
BAKORKAMLA (2009) dalam buku pedoman kecelakaan di laut. Instansi-instansi yang
khusus keselamatan dan keamanan berwenang dalam hal ini yakni Ditpolair,
pelayaran adalah sebagai berikut, nahkoda Syahbandar/Dinas Perhubungan Laut,
bertanggung jawab terhadap keselamatan Pemerintah Daerah, Dinas kelautan dan
pelayaran kapal yang dipimpin/ditangani, Perikanan, Badan Meteorologi, Klimatologi,
pada saat tugas jaga, Mualim I (Chief Officer) dan Geofisika (BMKG), Kesatuan Penjaga
bertanggung jawab terhadap pelayaran yang Laut dan Pantai (KPLP), Komite Nasional
aman. Mualim I harus membantu Nahkoda Keselamatan Transportasi (KNKT), serta
sebagai pimpinan di atas kapal, nahkoda dan dinas kesehatan.
Mualim I diperlengkapi dengan peralatan Walaupun pengetahuan nelayan
alat bantu navigasi untuk membantu seputar keselamatan kerja dirasa sangat
memastikan pelayaran kapal yang aman. minim, namun 100% nelayan sangat
Alat bantu tersebut tidak akan efektif dan sadar akan pentingnya keselamatan
bahkan bisa menimbulkan bahaya kalau kerja. Hal tersebut dibuktikan dengan
tidak digunakan dengan benar sesuai dengan adanya beberapa aplikasi mengenai alat
kemampuan dengan keterbatasannya. keselamatan yang tanpa disadari telah
Sedapatnya bila memungkinkan posisi kapal disiapkan dan dilengkapi oleh nelayan
yang didapat dengan satu cara, harus selalu setempat, walau alat keselamatan tersebut
diperiksa dengan cara yang lain. Pelampung- hanyalah peralatan pengganti atau alternatif
pelampung (buoys) bisa bergeser dari dari alat keselamatan yang terdapat pada
posisinya dan tidak bisa dijadikan sebagai peraturan nasional maupun internasional.
patokan penentu posisi kapal, adalah
bahaya menggunakan petunjuk otomatis KESIMPULAN DAN SARAN
(automatic pilot) pada perairan yang padat
dengan daratan dan perjalanan pendek. Kesimpulan
Jadi alat tersebut tidak perlu digunakan,
peraturan internasional tentang pencegahan Pengoperasian bagan apung di
tubrukan di laut harus selalu dipatuhi, Palabuharatu, Sukabumi terdiri dari 15
nahkoda harus menulis perintah berjalan aktivitas, yang dikelompokkan ke dalam
(standing order) dengan jelas dan tepat dan 3 tahapan (pra operasi, operasi, dan
ditandatangani, serta diberi tanggal yang pasca operasi.). Hasil pengamatan dari
disediakan Mualim I dan semua personel keseluruhan aktivitas bagan apung di atas
kapal harus beristirahat dengan cukup teridentifikasi memiliki potensi bahaya
sebelum melakukan tugas jaga. Tugas jaga di setiap kegiatannya. Hasil analisis
tidak harus diserahterimakan kalau petugas keselamatan kerja atau JSA menunjukkan
jaga pengganti kurang sehat secara medis. bahwa risiko yang timbul terbagi dalam 3
Prosedur tersebut seharusnya kategori kecelakaan yakni kategori tidak
dijalankan demi terciptanya keselamatan parah memiliki presentase 88% potensi
dan keamanan. Namun kenyataannya di bahaya, kategori parah memiliki presentase
lapangan hanya 13% nelayan yang tahu dan 12% potensi bahaya, dan kategori sangat
menjalankan beberapa prosedur dengan parah bernilai 0% potensi bahaya dan
baik, dan 30% nelayan yang sedikit tahu nelayan memiliki pengetahuan yang
serta 57% nelayan yang tidak mengetahui sudah dikategorikan cukup baik mengenai
sehingga dapat disimpulkan bahwa nelayan keselamatan kerja dan prosedur kerja di
yang menjalankan prosedur di atas kapal kapal.
masih sangat minim. Prosedur yang ditulis
dalam buku pedoman tersebut sangat sulit Saran
diimplementasikan oleh kapal angkut bagan
di PPN Palabuhanratu, karena awak kapal Saran yang dapat dikemukakan
yang berjumlah dua orang sehingga prosedur penulis untuk perbaikan penelitian ini, yaitu
tersebut tidak dapat diaplikasikan dalam sosialisasi tentang penerapan keselamatan
pelayaran di lapangan. Menurut instansi kerja di atas kapal yang sudah atau belum
pemerintah setempat yang bertanggung berjalan oleh PPN Palabuhanratu disarankan

Potensi Kecelakaan Kerja pada Perikanan......................................................................................(RIANTORO et al.) 235


lebih tepat sasaran, salah satunya kepada (UK).
nelayan bagan apung serta awak kapal Effendi I. 2002. Pengaruh Penggunaan
angkut bagan dan perlu dilaksanakan Rumpon pada Bagan Apung Terhadap
sosialisasi dan pelatihan keselamatan kerja Hasil Tangkapan. [skripsi]. Bogor (ID)
oleh pihak pemerintah dan instansi terkait, : Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan
atau berupa papan-papan himbauan FPIK IPB.
serta spanduk tentang K3 (Kesehatan dan [FAO] Food and Agriculture Organization.
Keselamatan Kerja), sehingga nelayan 2009. The State of World Fisheries and
memiliki kompetensi kerja yang memadai Aquaculture 2008. Rome, Italy (IT).
dalam melakukan operasi penangkapan [IMO] International Maritime Organization.
ikan. 1960. International Convention for the
Safety of Life at Sea. London (UK).
DAFTAR PUSTAKA [IMO] International Maritime Organization.
2007. Safety of Fishing Vessel. London
Adi B S, Djaya I K. 2008. Nautika Kapal (UK).
Penangkap Ikan Untuk SMK Jilid 2. Pemerintah Republik Indonesia. 2012.
Jakarta (ID): Direktorat Pembinaan Peraturan Pemerintah Republik
Sekolah Menengah Kejuruan, Indonesia. Nomor 50 Tahun 2012
Direktorat Jenderal Manajemen Tentang Penerapan Sistem Manajemen
Pendidikan Dasar dan Menengah, Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
Depatemen Pendidikan Nasional. Jakarta (ID): Sekretariat Negara.
Ant. Senin, 23 Maret 2009. Pemerintah Purwangka F. 2013. Keselamatan Kerja
Mesti Memperhatikan Nasib Nelayan Nelayan Pada Operasi Penangkapan
Tradisional. Bali (ID): Bali Post. Hal 17 Ikan Menggunakan Payang di
Kolom 5. Palabuhanratu, Jawa Barat.[disertasi].
[BAKORKAMLA] Badan Koordinasi Kemanan Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Laut. 2009. Pedoman Khusus 132 hlm.
Keselamatan dan Keamanan Pelayaran. Soeripto IR. 1997. Job Safety Analysis.
Jakarta (ID): BAKORKAMLA. Hiperkes dan Keselamatan Kerja.
Budiono, S. A. M. 2003. Manajemen Risiko Volume 31(1). Jakarta (ID).
dalam Hiperkes dan Keselamatan Subani, Barus. 1989. Alat Penangkapan
Kerja Bungan Rampai Hiperkes & Ikan dan Udang Laut di Indonesia.
KK Edisi Kedua. Semarang (ID) : Jurnal Perikanan Laut Nomor: 50
Universitas Diponegoro. www.ccohs. Th. 1988/1989 edisi khusus. Jakarta
ca/oshanswers/hsprograms/job-haz. (ID): Departemen Pertanian, Balai
html Penelitian Perikanan Laut. 248 hlm.
[CCOHS] Canadian Centre for Occupational Suma’mur. 1995. Hygiene Perusahaan dan
Health and Safety. 2008. Job Safety Kesehatan Kerja. Jakarta (ID): Gunung
Analysis [internet]. www.ccohs.ca/ Agung.
oshanswers/hsprograms/job-haz. Wyrtki, Klaus. 1961. The thermohaline
html circulation in relation to thr general
Cross, J. 1998. Study Notes SESC9211 “Risk circulation in the oceans. Deep-Sea
Management”. Departemen of Safety Research, 1961, Vol. 8. Pergamon
Science University of New South Wales Press Ltd. London.

236 Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol. 8 No. 2 November 2017: 221-236