You are on page 1of 17

BADAN PENYELENGGARA

JAMINAN SOSIAL
Kelompok 6
FILOSOFI PENYELENGGARAAN
JAMINAN SOSIAL

Banyak pejabat yang berpandangan Mengapa harus diwajibkan


dan mengapa harus ke Jamsostek atau Askes atau kini ke BPJS?
Biarkan saja perusahaan atau penduduk memilih mau membeli asuransi
yang sesuai pilihan mereka. Hal itu terjadi karena filosofi dan praktik
jaminan sosial lazim di berbagai negara tidak dipahami. Pada umumnya
manusia tidak bisa melihat jauh ke depan, akan risiko yang akan
menimpanya beberapa tahun sampai puluhan tahun kemudian.
Organisasi Internasional seperti ILO dan WHO mendorong
terselenggaranya jaminan sosial untuk semua orang (universal
coverage).
Program-program bagi dhuafa atau orang miskin bukanlah
program universal, yang melindungi semua penduduk. Yang dimaksud
program universal adalah program jaminan sosial yang berlaku untuk
semua orang.
Anggaran Kesehatan dalam

Belanja publik untuk


Negara Maju kesehatan (yang dikeluarkan
>10% PDB oleh pemerintah atau asuransi
sosial/nasional) di negara
maju mencapai rata-rata 70%
Negara Menengah
PDB

dari total belanja kesehatan.


x 5,8% PDB Artinya, pendanaan kesehatan
di negara maju merupakan
tanggung jawab sektor publik,
Negara Miskin bukan tanggung jawab
5,3% PDB perorangan atau sektor
swasta.
LAHIRNYA KONSEP PERUSAHAAN
DAN BADAN PENYELENGGARA

Pelaku Pasar adalah pihak-pihak yang memiliki kebebasan untuk bertransaksi jual-beli.
Jumlah pelaku pasar yang banyak memungkinkan terjadinya persaingan (sehat) yang
meningkatkan kualitas barang/produk/jasa dan menurunkan harga barang barang/jasa.
Atas dasar kepentingan bersama, untuk mendapatkan laba, sekelompok orang
bergabung dan setuju membagi laba secara proporsional sesuai besar sahamnya.
Sebuah Perusahaan dibentuk untuk bekerja dan berfungsi dalam mekanisme
pasar dengan tujuan mendapatkan laba bagi pemegang saham. Perusahaan sama
sekali tidak dibentuk untuk menjamin semua orang memenuhi kebutuhan dasar
hidupnya atau membeli produk atau jasa yang dihasilkannya.
Sebuah PT (Persero) seperti PT (Persero) Asuransi Kesehatan Indonesia (Askes) dan
PT (Persero) Jamsostek secara hukum adalah Perseroan Terbatas sebagaimana diatur
dalam UU nomor 40/2007. hanya saja, saham atau pemilik PT (Persero) tersebut adalah
Pemerintah. Tujuannya tetap untuk mencari laba, bukan menjamin kebutuhan dasar
rakyat atau melindungi seluruh rakyat.
Sayangnya tidak semua orang bisa mengenali kebutuhan dirinya.,
khususnya dalam bidang asuransi, dan kebutuhan jaminan sosial sebagaimana
yang diatur dalam UU SJSN. Tidak ada perusahaan yang akan menolong semua
orang yang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasarnya. Memang bukan
tugasnya. Jadi jika semua hal diserahkan ke mekanisme pasar, pasti ada orang
yang tidak bisa hidup normal, bahkan mungkin tidak hidup. Itulah salah satu
contoh kegagalan pasar (market failure).
Pasang surut kehidupan merupakan hukum alam. Ada saat lapar, ada
saat kenyang. Ada yang kaya dan ada yang miskin. Ada yang miskin lalu kaya
dan ada yang kaya lalu miskin. Itulah siklus kehidupan. Sebuah sistem jaminan
sosial dirancang untuk mampu menjaga agar siklus kehidupan tersebut tidak
menyebabkan seseorang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasarnya.
Kita bisa menghimbau orang harus menabung ketika sehat dan
menggunakan tabungan ketika sakit. Tetapi manusia umumnya berpikiran
pendek sehingga mekanisme swasta atau mekanisme pasar tidak mampu
mengatasi masalah sosial seperti itu.
Karena mekanisme pasar gagal, maka mekanisme wajib harus mengambil
alih. Awalnya asuransi bersifat sukarela. Sayangnya, tidak semua orang mau dan
mampu membeli asuransi.
Bukti kegagalan asuransi kesehatan dapat dipelajari dari sistem asuransi
kesehatan di Amerika, satu-satunya negara maju dimana hampir 50 juta
penduduknya tidak memiliki jaminan kesehatan. Sampai Obama bertarung
meloloskan Obama Care, yang juga sampai tahun 2014 masih mengganjal. Di
tahun 2012 Amerika menghabiskan USD 2,8 trilliun atau USD 8.915 per orang per
tahun, tetapi banyak orang Amerika tidak bisa membeli asuransi kesehatan yang
memadai. Literatur ekonomi telah mebuktikan bahwa layanan kesehatan (health
care) bukanlah komoditas pasar normal. Lobi politik dan bisnis di Amerika
menggagalkan upaya JKN bagi seluruh penduduk Amerika. Padahal, Amerika telah
memulai memperkenalkan asuransi kesehatan lebih dari 150 tahun yang lalu. Tetapi
keadilan sosial, cakupan semesta (universal health coverage) di Amerika tidak
terjadi. Kini Obama berhasil menghasilkan sebuah UU untuk mencapai cakupan
universal, tetapi masih bertumpu pada mekanisme pasar. Karenanya, Obama Care
masih mengalami banyak kendala.
KEGAGALAN BUMN INDONESIA

Di Indonesia kita mencoba tampil beda. Atas dasar harapan dan


pola pikir BUMN milik pemerintah, layanan jaminan sosial dikelola oleh
BUMN. Tetapi hal ini menjadi tidak sesuai dengan tujuan, filosofi dan jenis
produk dari jaminan sosial. Keempat BUMN-BUMN penyelenggara
jaminan sosial (PT ASABRI, PT AsKes Indonesia, PT JAMSOSTEK, dan
PT TASPEN) diperlakukan sama dengan BUMN lain di mana kinerjanya
diukur dengan indikator laba dan indikator finansial lain. Akibatnya ,tujuan
jaminan sosial yaitu memaksimalisasi manfaat atau perlindungan peserta
tidak tercapai.Jaminan sosial adalah program kewajiban negara,bukan
program dagang negara.Itulah kekeliruan terbesar dalam sejarah jaminan
sosial Indonesia dan menyebabkan pembentukan UU BPJS sebagai
komplemen UU SJSN menjadi sangat sulit.
PRINSIP SJSN DAN TUGAS BPJS
Sistem Jaminan Sosial Nasional telah menetapkan prinsip-prinsip
yang sangat berbeda dengan prinsip pasar dan yang menjadi tugas BPJS.
Prinsip-prinsip tersebut dirumuskan dengan mengambil pelajaran dari praktik
lazim di negara lain
Prinsip Kegotongroyongan : Prinsip ini mewujudkan keadilan sosial bagi
seluruh rakyat Indonesia dengan kewajiban membayar iuran. Pemerintah dan
BPJS harus menjamin terlaksananya kegotongroyongan luas secara nasional.
Prinsip Nirlaba : Prinsip ini adalah konsekuensi transaksi wajib dan yang
terkumpul dari transaksi wajib disebut Dana Amanat yang akan digunakan
untuk membayar biaya berobat peserta yang sakit.Indikator Kinerja BPJS
harus diukur dengan seberapa baik peserta mendapat perlindungan
Prinsip Pertabilitas : Prinsip ini berlaku bagi jaminan,manfaat (benefit) baik
berepa uang atau layanan yang menjadi hak peserta,prinsipnya peserta harus
selalu terjamin atau terlidungi kapan dan di manapun dia berada di
dalamyurisdiksi Indonesia.BPJS tidak boleh membatasi jaminan pada suatu
wilayah tertentu.
BADAN HUKUM PUBLIK VERSUS BUMN

Mandegnya penyelenggaraan UU SJSN hingga 2014 dipengaruhi oleh


bentuk dan kinerja BUMN. Hambatan besar dan resistensi datang dari kantor
Meneg BUMN tidak ingin mengybah keempat BUMN penyelenggara jaminan
sosial menjadi Badan Hukum Publik. Menteri Negara Kementerian BUMN
secara eksplisit ketidaksetujuannya dengan RUU BPJS. Sebelumnya para ahli
telah lama meminta PT Jamsostek berubah menjadi badan Majelis Wali
Amanat.Tetapi Lambock Naliattan, Deputi Sekneg Bidang Hukum ketika itu
yang kemudian menjadi Wakil Menteri Sekab, menganjurkan bentuk BUMN
Khusus. Alasannya, Indonesia belum memiliki dasar hukum yang mengatur
sebuah badan hukum selain Perseroan dan Yayasan.
Para penyusun konsep awal (Tahun 2011) mengusulkan konsep
penyatuan seluruh badan penyelenggara menjadi satu Badan atau Lembaga
Nasional. Tetapi karena penyelenggaraan jaminan sosial di Indonesia telah
dipecah menjadi empat BUMN, maka konsep badan penyelenggaraan tidak
tuntas
Lambannya penyelesaian RUU SJSN ketika disusun tahun 2002-
2003 disebabkan karena alotnya pembahasan tentang badan penyelenggara.
Akhirnya Presiden Mengawati menugaskan Yusuf Kalla, Menko Kesra
ketika itu, untuk menyelesaikan dengan melakukan beberapa kali
pendekatan.
Meskipun belum disatukan untuk mengoreksi kekeliruan di masa
lalu, keempat BUMN tetap harus berubah menjadi BPJS.Perubahan
memang menimbulkan harapan bagi sebagian dan ketakutan bagi sebagian
lain. Tetapi setelah Presiden dan DPR dinyatakan lalai di Pengadilan Negeri
Jakarta Pusat dan KAJS terus melakukan tekanan beberapa tahun
lamanya,akhirnya disepakati UU BPJS dengan dua Badan Penyelenggara
yaitu BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan.
KELEMBAGAAN DAN DJSN

Amandemen UUD 45 tahun 2002 menuntut penyelenggara negara


memperluas jaminan sosial untuk seluruh rakyat bukan hanya untuk
pegawai negeri. Karena alotnya pembahasan, maka pasal 5 dan pasal 52 UU
SJSN yang mengatur badan penyelenggara dirumuskan paling akhir. Kunci
tuntutan perubahan badan hukum ada dalam pasal 5 dan ayat 1 yang
menyatakan bahwa badan penyelenggara jaminan sosial dibentuk dengan
undang-undang. Sedangkan dalam pasal 1 ayat 6 merumuskan BPJS
sebagai badan penyelenggara jaminan sosial adalah badan hukum yang
dibentuk untuk menyelenggarakan program jaminan sosial jelas bahwa
BUMN tidak dibentuk dengan UU BUMN. Sedangkan BPJS dibentuk
dengan UU. Ketika UU SJSN di uji di materi untuk pertama kali, MK
menetapkan bahwa pasal tersebut tidak bertentangan dengan UUD 45.
itulah kekuatan hukum BPJS sebagai badan hukum dengan undang-undang,
sebagai pemerintah, pemerintah daerah, dan bank indonesia.
Dalam proses pembentukan UU BPJS banyak pejabat meneg
BUMN Direksi, dan komisaris PT (persero) jamsostek mempertahankan
BPJS agar tetap berbadan BUMN dengan alasan telah teruji kinerjanya.
Fakta dilapangan menunjukkan bahwa BUMN berkinerja ditak sebagus
pesaingnya PT yang sepenuhnya milik swasta. Bentuk badan hukum yang
bangkrut akibat berkinerja buruk mencapai ribuan. Di dunia tidak ada
badan penyelenggara jaminan sosial yang bangkrut. Tampaknya yang tidak
setuju perubahan ingin mempertahankan status penyelenggara jaminan
sosial tetap berbentuk BUMN.
KETERBUKAAN/TRANSPARANSI

Transparansi merupakan syarat terpenting pejabat publik BPJS. Publik


(rakyat) harus tahu berbagai aspek penting dalam manajemen/pengelolahan
SJSN (termasuk JKN) oleh BPJS, termasuk proses seleksi pejabat BPJS. Dalam
BUMN dan badan hukum PT, transparansi hanya terbatas pada pemegang
saham. Transparansi juga mencakup sistem dan besaran gaji, insentif,
tunjangan, fasilitas dan berbagai aspek penyelenggaraan manajemen. Jika
pejabat BPJS telah mendapat imbalan yang layak (seharusnya begitu), mereka
tidak bpleh menerima honor apapun dari publik atau pihak lain, misalnya honor
pembicara, honor rapat, dan lain-lain yang biasa diberikan dalam budaya
indonesia.
Prestasi direksi dan dewas dapat menerima penghargaan tambahan atas
prestasinya dari efisiensi penyelenggaraan, tingginya hasil pengembangan
tertimbangdengan resiko panjang, dan tingginya mencapai indikator
perlindungan peserta. Pengelolahan aset telah diatur dalam peraturan
pemerintah nomor 87/2013. publik berhak bersuara dan mendapatkan informasi
sesuai dengan yang di atur dalam UU Nomor 14/2008 tentang keterbukaan
informasi publik dan UU nomor 25/2009 tentang pelayananpublik.
dalam konsep SJSN dan BPJS, semua peserta adalah pemilik dana
atau pemegang saham, mirip konsep asuransi usaha bersama
(Mutual). Bedanya hanya pada sifat transaksi. Dalam jaminan sosial,
transaksi (membayar iuran) bersifat wajib. Oleh karenanya, semua
keputusan strategis harus disetujui pemilik (peserta) melalui sistem
perwakilan yang dipercaya.
Fungsi majelis wali amanat dalam SJSN diwujudkan dalam DJSN
dan dewan pengawas BPJS. Mereka yang duduk dalam organ wali
amanat harus mengambil keputusan atau persetujuan atas dasar
manfaat terbesar bagi peserta. Maka harus dikawal agar wakil-wakil
atau wali peserta didalam SJSN dan dewas dipilih oleh publik secara
terbuka dan menjamin orang yang memiliki integritas tinggi dan
kompetensi yang cukup. Tahun 2015 akan menjadi tahun penting
dalam pemilihan direksi dan dewas sesuai dengan UU BPJS.
PENYATUAN BPJS

Penyatuan BPJS menjadi isu yang sensitif dan menimbulkan


resistensi oleh sebagian direksi dan karyawan empat BUMN yang
mengelolah program jaminan sosial. Seorang ahli dari universitas Harvard
di amerika (shieber, 2007) menyatakan bahwa penyatuan badan
penyelenggara ditingkat nasional meningkatkan kinerja penyelenggaraan.
Penyatuan dari beberapa atau banyak badan penyelenggara telah dilakukan
di filipina, Taiwan dan korea. Di taiwan dan filipina , badan penyelenggara
jaminan kesehatan digabungkan di tahun 1995 dan 1997. di filipina badan
penyelenggara jaminan kesehatan pegawai negeri (GGS, seperti akses) dan
pegawai swasta (SSS, seperti jamsostek) menjadi bahan hukum publik
bernama philHealth corporation (sama dengan BPJS kesehatan). Di taiwan,
penggabungan dikelola oleh organ pemerintah di depertemen kesehatan
Taiwan yang otonom (semacam BLU di indonesia) dengan nama Bureau of
National Health Insurance Administration (BNHIA).
Di Amerika, jaminan sosial memang dikelola oleh organ
pemerintah social security administrasi ditingkat federal dan inggris
jaminan sosial dikelola oleh departement of social security juga ditingkat
federal. Di indonesia reformasi jaminan sosial dan transformasi BPJS
menjadi ajang politik dengan sedikit bahasan indikator objekktif. Semua
argumen dan berpihak kepada kepentingan seni diri atau kelompok tertentu.
THANK YOU